Syiah dan Al-Quran

Menurut Sayid Hasyim Maruf al-Hasani, salah seorang ulama di Lebanon, bahwa Syiah sangat mengagungkan dan mensucikan Al-Quran. Dijadikannya Al-Quran sebagai rujukan utama dalam pengambilan ajaran agama, baik dalam bidang ushul maupun furu. Syiah tidak sedikit pun meragukannya sebagai kitab suci yang diturunkan kepada penutup para Nabi, Muhammad Saw.

Al-Quran yang berada di tangan seluruh umat Islam sekarang ini adalah seperti apa diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, terbebas dari segala bentuk perubahan, baik berupa mengurangan ataupun penambahan dengan jaminan Allah Swt.

Siapa saja umat Islam yang menisbahkan kepada Syi’ah selain keyakinan tersebut, berarti telah membuat fitnah keji terhadap mereka. Demikian pendapat salah seorang ulama Syi’ah terkemuka berkenaan dengan keyakinan mereka tentang kitab suci Al-Quran.

Gencarnya fitnah yang dialamatkan kepada Syi’ah, berkaitan dengan adanya tahrîf al-qur‘ân benar-benar mengundang keprihatinan siapa saja yang mendambakan persatuan dan kejayaan umat Islam.

 

 

Lebih memprihatinkan lagi bila fitnah seperti itu dilancarkan oleh mereka-mereka yang merasa dirinya sebagai aktivis dakwah Islamiyah, merasa hanya diri dan kelompoknya saja yang memegang teguh kemurnian Islam. Fitnah semacam itu sebenarnya tidak perlu keluar dari mereka, kalau saja mereka mau jujur dan benar-benar memperjuangkan kejayaan Islam dengan ikhlas dan bukan karena motivasi duniawi.

Bukankah sudah banyak ulama Syi’ah yang diakui kredibilitasnya telah sering menerangkan hakikat keyakinan mereka tentang Al-Quran? Adanya riwayat yang dinisbahkan kepada Ahlulbait yang sepertinya mengandung pengertian tahrîf, menurut para ulamanya, harus ditakwilkan dan tidak mengandung adanya tahrîf.

Di antara mereka yang telah menangkis gerakan penyesatan ini adalah Muhammad bin Babwaih al-Qummi, yang bergelar as-Shadûq, penulis kitab Man la Yahdhuruh al-Faqîh, satu dari empat kitab induk Syi’ah; juga Sayid Syarif al-Murtadha beserta muridnya, Syaikh ath-Thusi, penulis kitab Tibyân; serta syaikh mufassir Syi’ah Ja’fariyah, Abu Ali al-Fadhl ibn Hasan ath-Thabrasi.

Sayid al-Murtadha, sebagaimana dinukil oleh Ath- Thabrasi dalam tafsirnya, berkata, “Bahwa Al-Quran adalah mu’jizat Nabi Muhammad Saw.

Al-Quran merupakan sumber segala ilmu syari’ah dan pijakan utama syarit Islam. Kaum muslimin sendiri telah turut berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikannya dengan ketelitian yang teramat sangat.

Sedemikian rupa sehingga bila ada i’rab, huruf, ayat, ataupun bacaannya yang menyimpang, dapat mereka kenali. Lalu, bagaimana mungkin kitab yang telah dijaga sedemikian rupa dapat berceceran dan diubah dengan mudah?”

Berdasarkan pada beberapa riwayat yang ditemukan, beliau menambahkan, “Bahwa semenjak zaman Nabi Saw Al-Quran telah tersusun rapi dalam bentuk yang sempurna, sebagaimana yang ada sekarang.”

Al-Quran sejak semula telah dihafalkan dan dipelajari seluruhnya. Bahkan tidak jarang Nabi Muhammad Saw menentukan sekelompok sahabat untuk menghafalkan Al-Quran dan mereka mengkhatamkannya berulang-ulang di hadapan beliau.

Sekelompok sahabat seperti Abdullah bin Mas‘ud, Ubai bin Ka‘ab, dan yang lainnya, telah berulangkali mengkhatamkan Al-Quran di hadapan Rasulullah Saw. Itu semua membuktikan bahwa Al-Quran telah tersusun rapi, tiada sedikit pun tambahan dan pengurangan.

Pendapat yang dilontarkan oleh sebagian yang mengaku Syi’ah Imamiyah yang menolak kenyataan ini tidak perlu dianggap sebagai pendapat Syi’ah. Ulama Syi’ah yang lain, Muhammad Husein Kasyif al-Ghitha’, berpendapat, “Sesungguhnya kitab yang berada di tengah umat Islam sekarang ini adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai mukjizat kenabian, untuk menerangkan hukum-hukum Islam, membedakan yang halal dari yang haram, serta tiada sedikit pun pengurangan maupun penambahan.”

Itulah sedikit dari banyaknya pendapat ulama Syi’ah yang sudah menjadi ijma‘ mereka tentang Al-Quran. Adapun terkait dengan adanya riwayat penyelewengan Al-Quran, baik yang dibawakan oleh sebagian kalangan Syi’ah maupun Ahlussunnah, adalah lemah, syâdzdz (ganjil) dan merupakan khabar âhâd; ia tidak membawa konsekuensi ilmu maupun amalan, serta lebih baik dijauhkan.

Adanya riwayat yang mengandung arti adanya penyelewengan dalam Al-Quran sangat bertentangan dengan jaminan Allah Swt yang telah berjanji untuk menjaganya dari tangan-tangan jahil yang akan merusak kesucian Al-Quran.

Demikian itu ijma‘ kaum Syi’ah tentang Al-Quran yang harus dianggap sebagai keyakinan mazhab Syi’ah. Selain keyakinan sebagaimana diterangkan tersebut, tentu saja hanyalah keyakinan pribadi yang sama sekali tidak bisa dianggap sebagai keyakinan mazhab Syi’ah.

Bila kita perhatikan pendapat Sayid Murtadha di atas, maka tidak ada alasan untuk menisbahkan tahrîf al-qur’ân kepada Syi’ah. Perlu diketahui bahwa riwayat proses pengumpulan Al-Quran erat kaitannya dengan klaim keaslian Al-Quran.

Oleh karena itu, pendapat Syi’ah yang mengatakan Al-Quran telah tersusun rapi di masa Rasulullah dengan pengawasan langsung oleh pihak pertama yang kepadanya Al-Quran diturunkan memustahilkan terjadinya tahrîf atau pengurangan ayat yang diduga bagian dari Al-Quran namun bukan bagian darinya. Sebagaimana yang ada dalam riwayat Imam Muslim.

Kalau riwayat pengumpulan Al-Quran baru dimulai oleh Abu Bakar, kita anggap sebagai kebenaran, kemudian kita teliti dan membandingkannya dengan riwayat lain yang terdapat dalam beberapa kitab Ahlussunnah. Hal itu akan mengarah kepada sebuah kesimpulan bahwa proses pengumpulan yang demikian itu tidak aman dari terjadinya penyimpangan, baik dalam bentuk pengurangan maupun penambahan.

Ada satu keganjilan dalam diri mereka yang senantiasa memfitnah Syi’ah telah menyelewengkan Al-Quran, yaitu terlewatnya riwayat Imam Muslim yang berkenaan dengan ayat rajm yang dianggap telah diselewengkan. Mungkin ada sanggahan bahwa rasm (tulisannya) telah dinasakh, dan hukumnya tetap berlaku.

Memang, menurut sebagian ulama, ada rasm dan hukumnya yang dinasakh—walau penulis sulit menerima pendapat seperti ini. Namun, berkenaan dengan rasm yang dinasakh dengan hukum yang tetap berlaku adalah pendapat yang sulit diterima oleh akal sehat. Bila rasm dinasakh, mengapa hukumnya tidak? Padahal seluruh kandungan Al-Quran menyatakan bahwa apa-apa yang di-nasakh hukumnya, rasm-nya tetap tertulis.

Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa semua riwayat, baik yang datang melalui jalur Syiah mapun Sunnah, haruslah terlebih dahulu dihadapkan pada nash Al-Quran sebagai sumber terpercaya dengan jaminan dari Allah Swt. Bila bertentangan dengannya, maka tidak patut untuk diperhatikan.

(SUMBER: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

 

sumber : Misykat

%d blogger menyukai ini: