Syiah dan Aisyah

Aisyah binti Abu Bakar termasuk dari generasi sahabat yang banyak meriwayatkan hadis Rasulullah Saw. Jika ada yang mengingkari ‘adalah-nya (keadilannya), dengan sendirinya, banyak hadis yang diriwayatkan olehnya menjadi gugur. Oleh sebab itu, sebagian ulama berusaha dengan segala cara untuk membelanya, walaupun untuk itu mereka harus menyalahi nash qath’i yang kesahihannya telah disepakati oleh seluruh umat Islam.

Meski Syiah mengakui kedudukan beliau sebagai istri Rasulullah Saw, tetapi Aisyah binti Abu Bakar ra bukanlah istri Nabi yang paling mulia. Dalam mengambil ajaran Islam, Syiah memandang kritis riwayat darinya. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya:

 

 

 

Pertama, Aisyah mengingkari adanya wasiat Nabi untuk Imam Ali Kw, dengan membuat riwayat bohong bekenaan dengan hal ini, bahwa Rasulullah Saw meninggal dipangkuan Aisyah dan sama sekali tidak berwasiat apa-apa. Pengingkaran ini bertentangan dengan riwayat mutawatir yang datang melalui jalur Ahlulbait, bahwa embusan nafas terakhir Rasulullah Saw di saat kepalanya bersandar di pangkuan Ali Kw dan kemudian dimandikan olehnya.

Kedua, sikap permusuhan kepada Imam Ali Kw dan kepada anak cucu beliau yang ditunjukkan oleh Aisyah Ra di saat dalam perjalanan pulang dari Makkah mendengar khalifah Utsman telah terbunuh. Beliau merasa sangat senang sekali. Namun ketika mengetahui kaum muslimin telah sepakat membaiat Imam Ali Kw, dengan sangat marah beliau berujar, “Aku lebih suka melihat langit runtuh ke bumi sebelum putra Abi Thalib memegang jabatan khilafah.”

Setelah itu beliau mulai menyalakan api pemberontakan terhadap khalifah yang sah, Khalifah Ali Kw, yang namanya tidak mau beliau sebut bila meriwayatkan hadis Rasulullah Saw, sebagaimana direkam dalam sejarah.

Saat menceritakan hari-hari terakhir Rasulullah Saw, Aisyah Ra bercerita bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw keluar dari rumahnya dengan dipapah oleh dua orang, yaitu Ibnu Abbas—yakni Al-Fadl (beliau sebut nama-nya)—dan orang lain (tidak disebut namanya). Ubaidillah berkata, “Kemudian aku kabarkan kepada Ibnu Abbas yang dikatakan oleh Aisyah Ra.”

Ibnu Abbas berkata, “Tahukah kamu siapa orang lain yang tidak sebut namanya?”

Aku menjawab, “Tidak.”

Ibnu Abbas berkata, “Dialah Ali putra Abi Thalib.”

Teks haditsnya sebagai berikut: karena tulisan ini bukanlah membahas sejarah Ummul Mu’minin Aisyah Ra secara khusus, dokumentasi sejarah di atas mudah-mudahan dapat menjadi bahan perenungan bagi siapa saja yang berakal sehat dan senang mencari kebenaran sejati.

Ada satu hal yang dapat disimpulkan dari pembahasan di atas bahwa dokumentasi sejarah dengan sangat jelas mendukung sikap Syiah terhadap sebagian sahabat Rasulullah Saw yang menurut mereka, banyak dari kalangan sahabat yang enggan melaksanakan perintah Rasulullah Saw. Gerakan Ummul Mu’minin Aisyah Ra dengan mengobarkan perang melawan khalifah yang sah, adalah bukti yang sangat jelas mendukung sikap Syiah. Oleh sebab itu, Ammar bin Yasir berkata: Sesungguhnya Aisyah telah pergi menuju Basrah. Demi Allah, dia memang istri Nabi di dunia dan akhirat. Akan tetapi, Allah menguji kalian agar mengetahui apakah kalian menaati Allah atau dia (Aisyah Ra).

Di atas hanyalah sekelumit dari beberapa bukti yang dijadikan dalil oleh Syi’ah dalam menolak  ‘adalah  sahabat. Syi’ah juga menolak alasan ijtihad atas segala akibat buruk yang diakibatkan oleh tindakan sebagian sahabat.

Menurut Syiah, pembunuhan orang-orang yang tak berdosa yang dilakukan oleh Muawiyah, pemimpin kaum pembrontak, bukanlah suatu ijtihad. Demikian pula perbuatan meracuni Imam Hasan, serta masih banyak lagi kejahatan-kejahatan dan dosa-dosa Muawiyah yang hanya Allah saja yang dapat menghitungnya.

Menanggapi konflik yang  terjadi di antara sahabat, seperti dalam perang Shiffin, misalnya, muncul pertanyaan, manakah yang benar di antara dua kelompok yang bertikai tersebut?

Pertanyaan ini hanya mempunyai satu jawaban saja. Apakah Imam Ali kw beserta para pengikutnya yang benar, ataukah Muawiyah dan kelompoknya? Tidak ada jawaban lain. Dalam peristiwa tersebut mustahil keduanya berada dalam posisi yang sama-sama benar.

Juga dalam sengketa yang terjadi antara Abu Bakar dengan Fathimah. Apakah Abu Bakar yang benar, atau Fathimah? Dalih ijtihad yang dipakai untuk membenarkan sikap keduanya; sehingga yang benar mendapat pahala dua dan yang salah hanya mendapat satu pahala, sulit diterima oleh akal sehat.

Dalam kedua contoh peristiwa di atas, menyamaratakan ‘adalah  seluruh sahabat tanpa terkecuali merupakan perkara aneh yang tidak logis. Ini hanyalah sedikit contoh dari perbuatan para sahabat yang dengan sendirinya menggugurkan sifat ‘adalah mereka.

Apabila kita mau menggali lebih dalam lagi apa-apa yang terkandung dalam dokumentasi sejarah yang ditulis oleh para ahli sejarah terkemuka kita dari golongan Ahlussunah, kita akan menemukan banyak contoh perbuatan yang tiada terhitung jumlahnya. Kesemuanya mendukung sikap Syiah dan meruntuhkan fitnah para penentangnya.

Dengan syarat, secara ikhlas kita mau menimbangnya dengan akal sehat kita dan dengan timbangan syariah yang betul, bukan dengan keyakinan nenek moyang dan ta‘ashub mazhab.

(Sumber buku: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

 

sumber : misykat

%d blogger menyukai ini: