Studi Kritis Kyai NU Membedah Pemikiran Syiah: Kata Pengantar (2)

Ada pun hadis dan atsar pujian terhadap Umar [radiallahu ‘anhu] yang dikutip KH Alawi selain hadis Shahih Bukhariy dalam “kata pengantar” bukunya tersebut semuanya dhaif. Misalnya KH Alawi menukil dari Ibnu Asakir mengenai pujian Imam Aliy kepada Umar.

وَأَنَّ فِي الْقُرْآنِ لَرَأْيًا مِنْ رَأْيِ عُمَرَ

Sesungguhnya di dalam Al Qur’an ada ketetapan yang berasal dari ketetapan Umar

KH Alawi tidak menyebutkan sumber lengkapnya dari kitab Tarikh Ibnu Asakir [Beliau menukilnya dari kitab lain] tetapi kami menemukannya dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir 44/95 dimana sanad lengkapnya adalah sebagai berikut:

أَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ السَّمَرْقَنْدِيِّ أنا أَبُو الْحُسَيْنِ ابْنُ النَّقُّورِ أنا أَبُو طَاهِرٍ الْمُخَلِّصُ أنا أَبُو بَكْرِ بْنُ سَيْفٍ أنا السَّرِيُّ بْنُ يَحْيَى أنا شُعَيْبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أنا سَيْفُ بْنُ عُمَرَ عَنِ الْمُجَالِدِ عَنِ الشَّعْبِيِّ

Telah mengabarkan kepada kami Abul Qaasim bin As Samarqandiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Husain bin Naquur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Thaahir Mukhallash yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Saif yang berkata telah menceritakan kepada kami As Sariy bin Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Ibrahim yang berkata telah menceritakan kepada kami Saif bin Umar dari Mujalid dari Asy Sya’biy yang berkata… [Tarikh Ibnu Asakir 44/95]

 

Riwayat Imam Aliy tersebut kedudukannya dhaif jiddan karena kelemahan pada sanadnya di antaranya yaitu:

Pertama, Syu’aib bin Ibrahim dikatakan Ibnu Hajar bahwa ia tidak dikenal. Ibnu Adiy mengatakan bahwa ia tidak dikenal, ia memiliki hadis dan kabar yang sebagiannya terdapat hal-hal mungkar. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Lisan Al Mizan Ibnu Hajar 4/247 no 3797]

Kedua, Saif bin Umar At Tamiimiy. Yahya bin Ma’in, Nasa’iy dan Daruquthniy berkata “dhaif”. Abu Hatim berkata “matruk”. Abu Dawud berkata “tidak ada apa-apanya”. Ibnu Hibbaan berkata “ia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari para perawi tsabit”. Al Hakim dan Ibnu Hibban menyatakan ia zhindiq [Tahdziib At Tahdziib Ibnu Hajar 3/123-124 no 3190]

Ketiga, Mujalid bin Sa’iid Al Hamdaniy. Yahya bin Sa’id melemahkannya. Ahmad bin Hanbal mengatakan tidak ada apa-apanya. Yahya bin Ma’in berkata “dhaif”. Abu Hatim mengatakan tidak bisa dijadikan hujjah. Nasa’iy terkadang berkata “tidak kuat” dan terkadang berkata “tsiqat”. Yaqub bin Sufyan berkata “orang-orang membicarakannya dan dia shaduq”. Ibnu Sa’ad berkata “dhaif dalam hadis”[Tahdziib At Tahdziib Ibnu Hajar 6/172-174 no 7658]. Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa ia tidak kuat dan hafalannya berubah di akhir umurnya [Taqriib At Tahdziib no 6520]

Keempat, Asy Sya’biy tidak mendengar dari Aliy seperti yang dikatakan Al Hakim [Ma’rifat Ulumul Hadiits hal 354].

KH Alawi juga mengutip perkataan Imam Aliy di atas dengan lafaz yang berbeda yaitu riwayat Abu Nu’aim:

إِنَّ فِي الْقُرْآنِ مِنْ كَلامِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَثِيرًا

Sesungguhnya di dalam Al Qur’an terdapat perkataan Umar [radiallahu ‘anhu] yang banyak

Sumber riwayat Abu Nu’aim ini adalah kitab Tatsbiit Al Imamah Wa Tartib Al Khilafah no 96 dan kitab Al Imamah Wa Rad ‘Ala Rafidhah hal. 296-297, no 98.
حَدَّثَنَاهُ أَبُو حَامِدٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدَةُ بْنُ الأَسْوَدِ الْهَمْدَانِيُّ عَنْ مُجَالِدٍ عَنْ عَامِرٍ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Haamid Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaaq Ats Tsaqafiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umair yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidah bin Al Aswaad Al Hamdzaaniy dari Mujaalid dari ‘Aamir dari ‘Aliy [radiallahu ‘anhu]…[Al Imamah Wa Rad ‘Ala Rafidhah Abu Nu’aim hal 296-297 no 98]

Atsar Imam Aliy ini juga dhaif karena kelemahan Mujaalid bin Sa’iid seorang yang diperbincangkan dan pendapat yang rajih hadisnya dhaif jika menyendiri dan bisa terangkat menjadi hasan jika ada penguat. Dalam atsar ini ia tidak memiliki penguat maka riwayatnya dhaif. Kemudian atsar ini juga lemah karena ‘Aamir yaitu Asy Sya’biy tidak mendengar dari ‘Aliy.Hal ini sebagaimana yang sudah dibahas pada riwayat sebelumnya.

KH Alawi mengutip hadis marfu’ dari Ummu Salamah [radiallahu ‘anha] yaitu riwayat Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 23/315-316 no 715 dimana KH Alawi mengatakan derajat hadis shahih.

حدثنا محمد بن علي الصائغ ثنا بشر بن عبيس حدثني النضر بن عربي عن خارجة بن عبد الله عن عبد الله بن أبي سفيان عن أبيه عن أم سلمة أن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن في السماء ملكين أحدهما يأمر بالشدة والآخر يأمر باللين وكل مصيب جبريل وميكائيل ونبيان أحدهما يأمر باللين والآخر يأمر بالشدة وكل مصيب وذكر إبراهيم ونوحا ولي صاحبان أحدهما يأمر باللين والآخر بالشدة وكل مصيب وذكر أبا بكر و عمر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy Ash Shaaigh yang berkata telah menceritakan kepada kami Bisyr bin ‘Iisa yang berkata telah menceritakan kepadaku Nadhr bin ‘Arabiy dari Kharijah bin ‘Abdullah dari ‘Abdullah bin Abi Sufyaan dari Ayahnya dari Ummu Salamah bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya di langit ada dua malaikat, yang satu memerintah dengan keras dan yang lain memerintah dengan lembut, keduanya benar yaitu Jibril dan Mika’iil. Ada dua orang Nabi, yang satu memerintah dengan lembut dan yang lain memerintah dengan keras, keduanya benar, Beliau menyebutkan Ibrahim dan Nuh. Dan aku memiliki dua sahabat, yang satu memerintah dengan lembut dan yang satunya memerintah dengan keras, semuanya benar, Beliau menyebutkan Abu Bakar dan Umar” [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 23/315-316 no 715]

Hadis ini kedudukannya dhaif karena kelemahan Kharijah bin ‘Abdullah. Ahmad bin Hanbal berkata “dhaif”. Yahya bin Ma’in berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim berkata “syaikh hadisnya shalih”. Abu Dawud berkata “syaikh”. Ibnu Adiy berkata “tidak ada masalah dengan riwayatnya di sisiku”. [Tahdziib At Tahdziib Ibnu Hajar 3/256 no 1905]. Daruquthniy menyatakan “dhaif” [Adh Dhu’afa Daruquthniy hal 202 no 207]. Yahya bin Ma’in di saat lain melemahkannya dengan berkata “tidak ada apa-apanya” [Mausu’ah Aqwaal Yahya bin Ma’in no 949]. Pendapat yang rajih tentang Kharijah bin ‘Abdullah adalah ia perawi yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar atau tidak bisa dijadikan hujjah jika menyendiri.

Hadis ini dimasukkan Syaikh Al Albaniy dalam kitabnya Silsilah Al Ahaadiits Adh Dhaiifah 9/20-21 no 4015.

Dimana Syaikh Al Albaniy berkata “sanad ini dhaif, Abdullah bin Abi Sufyaan dikatakan Ibnu Qaththaan tidak dikenal keadaannya” kemudian Syaikh menukil Adz Dzahabiy yang mengatakan tidak mengetahui siapa Abdullah bin Abi Sufyaan. Syaikh Al Albaniy menyimpulkan bahwa Abdullah bin Abi Sufyan seorang yang majhul hal.

KH Alawi terakhir membawakan hadis marfu’ dari riwayat Abdullah bin Mas’ud [radiallahu ‘anhu] dalam kitab Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 10/94 no 1008 dan KH Alawi mengatakan “derajat hadis hasan”.

حدثنا عبد العزيز بن محمد بن عبد الله بن عبيدة بن عقيل المقرئ ثنا أبي ثنا عبد الرحيم بن حماد عن الأعمش عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : إن لكل نبي خاصة من أصحابه وإن خاصتي من أصحابي أبو بكر وعمر رضي الله عنهما

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Aziiz bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ubaidah bin ‘Aqiil Al Muqriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahiim bin Hammaad dari Al A’masy dari Ibrahiim dari ‘Alqamah dari ‘Abdullah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Sesungguhnya setiap Nabi memiliki orang-orang khusus dari kalangan sahabatnya dan sesungguhnya orang-orang khususku dari sahabatku adalah Abu Bakar dan Umar radiallahu ‘anhuma [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 10/94 no 1008]

Hadis ini kedudukannya dhaif karena ‘Abdul Aziiz bin Muhammad Al Muqriy gurunya Ath Thabraniy tidak dikenal kredibilitasnya atau majhul hal [Irsyaad Al Qaashiy Wad Daaniy Ilaa Tarajum Syuyuukh Ath Thabraniy hal 361 no 548]. Selain itu ‘Abdurrahiim bin Hammaad Ats Tsaqafiy dimasukkan Al Uqailiy dalam kitabnya Adh Dhu’afa dan berkata “ia memiliki riwayat-riwayat mungkar dari Al A’masy yang tidak ada asalnya dari hadis Al A’masy” [Adh Dhu’afa Al Kabiir Al Uqailiy 2/835 no 1052].

Al Haitsamiy menyebutkan hadis ini dalam kitab Majma’ Az Zawaaid 9/19 no 14350.

رواه الطبراني وفيه عبد الرحيم بن حماد الثقفي وهو ضعيف

Al Haitsamiy berkata “riwayat Ath Thabraniy dan di dalamnya ada ‘Abdurrahiim bin Hammaad Ats Tsaqafiy dan dia dhaif”

Dalam pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa KH Alawi sering tasahul [bermudah-mudahan] dalam berhujjah dengan hadis lemah. Hal ini cukup membingungkan bagi kami karena tidak sedikit hadis keutamaan Umar [radiallahu ‘anhu] yang shahih dalam kitab hadis ahlus sunnah maka mengapa perlu menukil hadis-hadis lemah. Apalagi KH Alawi terkadang dengan jelas menyatakan derajat hadis shahih atau derajat hadis hasan padahal kenyataannya tidak demikian.

 

Sumber : Misykat

%d blogger menyukai ini: