Studi Kritis Kyai NU Membedah Pemikiran Syiah: Kata Pengantar (1)

Kritikan dan Bantahan dalam dunia ilmiah adalah perkara yang biasa. Hanya saja yang berbeda-beda itu adalah cara melakukannya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kecenderungan seseorang terhadap mazhab yang dianutnya.Tidak ada yang bisa kita perbuat dengan kecenderungan seseorang karena itu perkara halus yang ada dalam hatinya.Hal yang bisa kita lakukan adalah melakukan penilaian objektif berdasarkan bukti-bukti yang shahih kemudian menarik kesimpulan secara logis dari bukti-bukti tersebut.

KH Alawi Nurul Alam Albantani membuat bantahan terhadap tulisan Ustad Jalal, Tim ABI dan Ustad Babul Ulum. Beliau menyajikan bantahan tersebut dalam bukunya yang berjudul: Kyai NU Membedah Pemikiran Syi’ah. Kami tidak terlalu mengenal Tim ABI dan Ustad Babul Ulum, tetapi secara pribadi kami menghormati mereka semua terutama KH Alawi dan Ustad Jalal.

 

Insya Allah disini kami akan berusaha meluruskan atau mengkritisi hal-hal yang menurut kami layak untuk diberikan catatan dalam buku KH Alawi tersebut. Semoga hal ini bisa dipahami sebagai tambahan informasi tanpa mengurangi sedikitpun keutamaan dan keilmuan KH Alawi.Kami bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan KH Alawi dan kami menghormati Beliau yang walaupun mengkritik dan membantah Syi’ah, Beliau tetap membela Syi’ah dari orang-orang yang mengkafirkannya.

Dalam kata pengantar buku tersebut KH Alawi menyindir Ustad Jalal yang dalam bukunya “Misteri Wasiat Nabi” menyerang empat orang tokoh yang sangat dihormati Ahlus Sunnah yaitu Abu Bakar [radiallahu ‘anhu], Umar [radiallahu ‘anhu], Aisyah [radiallahu ‘anha] dan Imam Bukhariy. Kami belum membaca buku “Misteri Wasiat Nabi”, tetapi Guru kami yang baik hati telah memberikan kepada kami Buku yang berjudul “Asal Usul Sunah Sahabat” oleh Ustad Jalal yang merupakan disertasi gelar Doktor Beliau. Jadi kami berasumsi bahwa isinya sama dengan buku “Misteri Wasiat Nabi” yang dimaksud.

Ide pokok yang diusung Ustad Jalal dalam bukunya adalah Sunnah Sahabat yang diantaranya ada yang menggantikan Sunnah Nabi atau bertentangan dengan Sunnah Nabi. Ustad Jalal mencontohkan apa yang dilakukan Umar [radiallahu ‘anhu] dan perkara inilah yang dianggap KH Alawi sebagai serangan kepada khalifah Umar. Oleh karena itu KH Alawi memfokuskan pada kata pengantarnya untuk membicarakan khalifah Umar mengenai keutamaannya, jasanya dalam Islam dan kebaikan pemerintahan Umar.Bagi kami telah jelas bahwa khalifah Umar [radiallahu ‘anhu] memang memiliki keutamaan dan begitu pula kebaikan dalam pemerintahannya tetapi semua itu tidaklah menafikan apa-apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar sebagaimana disebutkan Ustad Jalal.Khalifah Umar dengan segala keutamaan yang dimilikinya tetap pernah melakukan kesalahan. Oleh karena itu, patut diperhatikan kaidah sederhana dalam membicarakan para sahabat.

Pertama, keutamaan para sahabat tidaklah menafikan kesalahan yang mereka buat sebagaimana kesalahan tersebut tidaklah menghapus keutamaan mereka.

Kedua, keutamaan dan kesalahan sahabat harus ditetapkan dengan bukti shahih dan jangan memasukkan asumsi pribadi kedalamnya tetapi biarkan bukti tersebut yang berbicara.

Kami melihat bahwa pembahasan KH Alawi justru tidak masuk kedalam ide pokok yang dibicarakan Ustad Jalal.Beliau lebih bersemangat melakukan pembelaan atas khalifah Umar dan terkadang memperbanyak hujjah yang tidak perlu bahkan justru menunjukkan kelemahan.Kelemahan yang kami maksud adalah KH Alawi bermudah-mudahan dalam berhujjah dengan hadis dhaif.

Dalam kata pengantar bukunya KH Alawi mengutip berbagai hadis dan atsar yang menunjukkan keutamaan atau pujian terhadap Khalifah Umar [radiallahu ‘anhu]. Hanya satu saja yang shahih yaitu hadis Shahih Bukhariy berikut:

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah dari Yuunus dari Az Zuhriy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ibnu Musayyab yang mendengar Abu Hurairah [radiallahu ‘anhu] berkata aku mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Ketika aku tidur, aku bermimpi berada di sebuah sumur dan diatasnya ada sebuah timba, maka aku menariknya sebagaimana yang Allah SWT kehendaki. Kemudian Ibnu Abu Quhafah mengambilnya, dan menarik timba atau dua timba dan dalam tarikannya terlihat ada kelemahan, Allah mengampuni kelemahannya. Kemudian timba itu berubah menjadi besar dan Umar bin Khattab mengambilnya, tidak pernah aku melihat seorang yang pandai menarik seperti tarikan Umar bin Al Khaththab, sehingga  orang-orang dapat memberi minum unta-unta mereka [Shahih Bukhariy no 3664]

Hadis ini shahih sanadnya dan matannya dijelaskan oleh ulama ahlus sunnah mengisyaratkan tentang pemerintahan khalifah Abu Bakar dan Umar setelah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. KH Alawi sangat jelas berpegang pada penafsiran ulama ahlus sunnah tentang hadis ini.

Tafsiran seperti ini bisa benar dan bisa pula salah karena tidak ada bukti objektif yang mengukuhkan bahwa hadis tersebut tertuju pada kekhalifahan.Pemahaman yang objektif atas hadis ini adalah Abu Bakar dan Umar membantu Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dimana Abu Bakar terdapat kelemahan dalam usahanya sedangkan Umar lebih utama dalam usahanya dibanding Abu Bakar.Hadis ini adalah bukti keutamaan Umar [radiallahu ‘anhu] tetapi tidak jelas penunjukkan matannya sebagai petunjuk kekhalifahan Umar.

Kami tidak akan menyalahkan para ulama ahlus sunnah yang menafsirkan hadis di atas sebagai isyarat khalifah bagi Abu Bakar dan Umar. Hal itu kami lihat sebagai kecenderungan mereka sebagai penganut mazhab Ahlus Sunnah. Ukuran kebenaran itu objektif dan bukti objektif dalam memahami hadis terletak pada lafaz hadisnya. (bersambung)

 Sumber : Misykat
%d blogger menyukai ini: