Sahabat dan Perdamaian Hudaibiyah

Pada tahun keenam Hijriah, Rasulullah Saw bersama 1400 sahabatnya, keluar dari Madinah menuju Makkah dengan tujuan umrah. Para sahabat yang menyertai beliau diperintahkan untuk menyarungkan pedangnya masing-masing.

Lantas mereka berihram di Dzil-Khulaifah sambil membawa hewan kurban, agar orang-orang Quraisy Makkah mengetahui bahwa mereka datang untuk Umrah dan bukan untuk perang. Karena sifat angkuhnya, orang-orang Quraisy tidak ingin kelak ada penduduk Arab mendengar bahwa Muhammad Saw telah masuk Makkah dan menghancurkan benteng mereka.

Untuk itu mereka mengutus serombongan delegasi dan meminta Nabi kembali ke tempat asalnya, Madinah; tahun depan mereka diizinkan untuk Umrah. Selain itu orang-orang Quraisy juga membuat persyaratan yang sangat berat yang diterima oleh Rasulullah Saw berdasarkan kemaslahatan yang beliau lihat.

 

 

Namun, sebagian sahabat beliau tidak menerima sikap Nabi tersebut. Bahkan mereka menentang dengan sangat keras sekali. Di antara yang paling keras menentang Rasulullah Saw adalah Umar bin Khathab yang mendatangi Nabi dan berkata, “Apakah Anda benar-benar Nabi Allah yang sesungguhnya?”

“Ya,” jawab Rasulullah Saw.

“Bukankah kita yang benar dan musuh kita salah?” tambah Umar.

“Ya,”  sahut Nabi.

“Lalu mengapa kita hinakan agama kita?” desak Umar.

“Aku adalah Rasulullah. Dan aku tidak akan melanggar perintah-Nya, Dialah penolongku,” jawab Nabi.

Tidak puas dengan jawaban Rasulullah Saw, Umar mendatangi Abu Bakar dan menanyakan pertanyaan yang serupa kepadanya. “Wahai Abu Bakar! benarkah dia (Muham-mad) seorang Nabi?”

“Ya,” jawab Abu Bakar.

Kemudian Umar menghujaninya dengan pertanyaan yang dia ajukan pada Rasululullah Saw. Dan dijawab oleh Abu Bakar dengan jawaban yang sama pula. Akhirnya Abu Bakar memotong sikap keras kepala Umar.

“Wahai Saudara!” sergah Abu Bakar pada Umar. “Beliau adalah Utusan Allah yang sesungguhnya, beliau tidak melanggar perintah-Nya, Dia-lah penolongnya, maka percayalah padanya.”

Usai Nabi menulis piagam perdamaian, beliau berseru kepada sahabat-sahabatnya, “Hendaklah kalian sembelih binatang-binatang kurban yang kalian bawa, dan cukurlah rambut kalian.”

Demi Allah, tidak satu pun sahabat berdiri mematuhi perintah itu sampai Nabi mengucapkannya sebanyak tiga kali. Ketika dilihatnya mereka tidak mematuhi perintahnya, Rasulullah Saw masuk ke dalam kemahnya dan keluar kembali tanpa berbicara dengan siapapun. Beliau menyembelih sendiri hewan kurbanya, kemudian memanggil tukang cukurnya lalu bercukur. Melihat itu, para sahabat kemudian menyembelih kurban mereka. Kemudian saling bercukur sehingga hampir-hampir mereka saling berbunuhan.

Berdasarkan pada riwayat yang dibawakan oleh tokoh terkemuka Ahlussunah di atas, Syiah menolak pendapat yang mengatakan sahabat selalu menaati perintah Rasulullah Saw. Menyikapi sikap sahabat seperti yang di atas, siapa saja yang berakal sehat akan mempertanyakan keikhlasan mereka.

Mereka telah hidup bertahun-tahun menemani Rasulullah Saw, menyaksikan mukjizat beliau dengan mata kepala mereka sendiri. Al-Quran juga telah mengajarkan pada mereka bagaimana harus bersikap sopan terhadap beliau.

Menurut pandangan Syiah, sikap mereka yang seperti itu bukan hal yang sepele, bahwa sikap tersebut tidak bisa dimaafkan berdasarkan firman Allah Swt: Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Yang dibawakan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya hanyalah sedikit contoh dari perbuatan sekelompok orang yang disebut dengan sahabat, yang dalam pandangan Syiah adalah sebagai sikap pembangkangan mereka terhadap perintah Rasulullah Saw.

Buku-buku sejarah yang ditulis sejarawan Sunni justru mendukung sikap Syiah terhadap sahabat. Seperti sahabat dalam tragedi hari Kamis dan sahabat dalam sariyah Usamah, serta dalam peristiwa lainnya yang menunjukkan keengganan sahabat menjalankan perintah Rasulullah Saw.

Melihat sikap sahabat yang seperti itu bukan merupakan cela bagi Syi’ah bila meragukan ‘adalah (keadilan) banyak sahabat dalam periwayatan hadis. Agar kita dapat menilai sikap Syi’ah secara obyektif, adalah bijaksana bila kita melihat sejarah ringkas kehidupan mereka yang tergolong orang yang banyak meriwayatkan hadis Rasululullah Saw berdasarkan pada bukti yang ditulis oleh para tokoh, baik mereka yang Syiah ataupun tokoh Ahlussunah yang bersebrangan dengan Syiah.

(Sumber buku: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

 

sumber:misykat

%d blogger menyukai ini: