Perang Khandaq: Hal Min Mubariz?

Dalam Perang Khandaq, ketika serdadu Kufar Quraisy berserta kabilah-kabilahnya yang lain berhasil mengepung kaum Muslimin, sekitar 10.000 kaum muslimin benar-benar tidak berdaya kekuatan yang begitu dahsyat.

Mental pasukan Islam di Madinah yang telah diboikot dan dikepung itu sudah sangat lemah, ditambah dengan persedian makanan dan minuman yang setiap hari semakin menipis. Kekalahan sepertinya tidak dapat lagi dielakkan. Hanya parit yang jauh hari yang sudah mereka gali, yang bisa sedikit menahan gerak langkah musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dari mereka.

Panglima perang Laskar kafir yang bernama Amr bin Abdi wud bersama orang-orang pilihannya, dengan teliti mengitari parit yang digali oleh pasukan kaum Muslimin hingga akhirnya menemukan satu titik yang bisa dijangkau oleh lompatan kuda-kuda perang mereka.

Mereka terus maju dan maju hingga benar-benar berhadapan langssung dengan pasukan kaum Muslimin. Amr bin Abdi Wud, berkali-kali berteriak dengan suara lantang mencari orang yang mau berduel atau bertarung hidup- mati dengan dirinya dari kalangan Muslimin, sambil mengucapkan kalimat: hal min mubariz?’ (adakah petarung yang berani melawanku?).

Pasukan Muslimin benar-benar dicekam rasa takut yang luar biasa, hingga tidak terdengar lagi ada yang berani  bercakap-cakap diantara mereka. Suasa seketika menjadi sunyi dan senyap, sehingga suara sang penantang semakin keras menerpa telinga dan menggetarkan jantung mereka. Mereka sangat mengenal siapa Amr bin Abdi wud. dia adalah petarung satu lawan satu yang sudah Masyhur(terkenal Banget) dan pedangnya telah banyak mengantar orang ke liang kubur. Maju berhadapan dengannya sama halnya dengan orang yang didatangi oleh Izrail, Sang pencabut nyawa.

Ali bin Abi Thalib as yang usianya belum genap 20 tahun, bangkit dari tempat duduknya dan langsung meminta restu kepada Rasulullah saw untuk menghadapi tantangan Amr.

 

Beliau berkata, “Ya Rasulullah, izinkan daku untuk menghadapinya.” Rasul saw menjawab, ” Duduklah engkau wahai Ali!” Rasul menanti siapa dari sahabat-sahabat lain yang siap mempertaruhkan jiwnya dalam keadaan genting seperti itu. Amr bin Abdi Wud, lagi-lagi mengajak kudanya berputar-putar sambil berteriak-teriak mencari penantang. Rasul berkata, “Adakah Laki-laki yang berani menghadapinya?”

Tak seorang pun dari sahabat beliau yang menyambut seruannya. Hingga kedua kalinya, Ali as meminta izin kepada Rasul untuk melawannya. Rasul belum mengizinkan Ali. Amr bin Abdi Wud, tiba-tiba melantunkan sebuah syair yang mengHina dan membakar hati kaum Muslimin hingga menembus ketulan-tulang mereka. Terakhir Dia berkata, “Sedemikian Lama Aku  berteriak-teriak mencari penantang, namun rupanya diantara kalian tidak ada seorang laki-laki.

Dengan penuh sombong, dia melanjutkan ejekannya, “Hai orang-orang Islam, bukankah kalian sering mendakwahkan bahwa jika kalian gugur dijalan Allah, Maka kalian akan masuk surga, dan jika kami yang mati, maka kami akan digiring keNeraka?! Lalu mengapa tak seorang pun dari kalian berani maju berhadapan dengan ku, untuk membunuh ku agar aku masuk neraka atau terbunuh agar dia masuk kedalam surga?”

Ali bin Abi Thalib as tidak lagi dapat menahan ocehan si Kafir yang semakin kurang ajar dihadapan rasul saw. Setelah mendapat restu dari Rasul, diapun segera bangkit menjemput tantangan seraya berkata,: “Tak usah keburu nafsu, karna saat ini telah datang pembeli tantanganmu yang mempunyai kekuatan untuk merobohkanmu.”

Umar bin Khaththab tiba-tiba mendatangi Rasul saw dan berkata, “Ya Rasulullah! Aku berharap engkau dapat memaklumi mengapa tak satupun dari kami yang berani melawannya. Sungguh dia (Amr bin Abdi Wud) seorang diri, setara denga seribu orang. Semua yang bertarung dengannya pasti mampus.”

Pertarungan sengit antara Ali as dan Amr bin Abdi Wud, disifati oleh Rasul saw sebagai: pertarungan antara keseluruhan Islam melawan keseluruhan kufr (kekafiran).

Tak lama terdengar gema takbir kemenangan membahana menandakan robohnya tonggak kekufuran yang disambut oleh seyum Rasul dan kegembiraan pasukan Islam. Ali as telah mampu mengalahkan Amr bin Abdi Wud dalam waktu yang singkat.

Oleh sebab itu, jika kemudian dikatakan bahwa pedang Ali as sangat berjasa untuk Islam, artinya bukan Ali memaksa orang untuk memeluk agama Islam dengan pedangnya. Namun, pedang Ali as selalu siap untuk menjaga agama Islam dari berbagai macam dan bentuk ancaman musuh-musuhnya.

Islam memang agama pedang, tetapi pedangnya hanya dipergunakan untuk melindungi jiwa, tanah, (orang-orang mazhlum) dan Tauhid, bukan untuk menzahlimi yang lain.

 

(http://www.facebook.com/?ref=home#!/notes/sunan-mahakam/pedang-islam/466233132462)

dikutip dari : Misykat

%d blogger menyukai ini: