Nikah Mut’ah (1)

Nikah mut’ah adalah salah satu fikih yang paling kontroversial di dalam Islam. Ada dua mazhab dalam menyikapi masalah ini: yang membolehkan dan yang mengharamkan. Kedua pendapat merujuk kepada dalil masing-masing. Yang membolehkan mengatakan bahwa Nabi Saw tidak pernah melarang nikah mut’ah sampai wafatnya, dan yang melarang adalah Umar bin Khattab. Yang mengharamkan mengatakan bahwa Rasulullah Saw melarang nikah mut’ah sebelum wafatnya. Namun demikian, kedua mazhab sepakat bahwa nikah mut’ah pernah dibolehkan oleh Allah dan RasulNya. Kita telusuri dalil-dalilnya di dalam Kutubussittah. Penomoran disini mengikuti Lidwa Software.

Nikah Mut’ah Tidak Pernah Dilarang oleh Rasulullah Saw, Yang Melarang adalah Umar bin Khattab
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَنِي مُطَرِّفٌ عَنْ عِمْرَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
تَمَتَّعْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَ الْقُرْآنُ قَالَ رَجُلٌ بِرَأْيِهِ مَا شَاءَ
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah berkata,, telah menceritakan kepada saya Muthrrif dari ‘Imran radliallahu ‘anhu berkata: “Kami melakukan tamattu’ pada masa hidup Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, Maka turunlah ayat Al Qur’an (tentang mut’ah tersebut). Dia (‘Imran) berkata: “(Tapi) seseorang (yang melarangnya) telah berpendapat sesuai kehendaknya sendiri”. Sahih Bukhari Hadis No. 1469 
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ
سُئِلَ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَرَخَّصَ فَقَالَ لَهُ مَوْلًى لَهُ إِنَّمَا ذَلِكَ فِي الْحَالِ الشَّدِيدِ وَفِي النِّسَاءِ قِلَّةٌ أَوْ نَحْوَهُ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ نَعَمْ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar Telah menceritakan kepada kami Ghundar Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Jamrah ia berkata; Aku mendengar Ibnu Abbas ketika ia ditanya mengenai nikah Mut’ah, lalu ia memberi rukhshah. Maka bekas budaknya pun berkata, “Sesungguhnya yang demikiannya itu hanya boleh pada saat seseorang memang berada dalam keadaan yang sangat memperihatinkan dan ketika wanita sangat sedikit.” Maka Ibnu Abbas berkata, “Ya, benar.” Sahih Bukhari Hadis no. 4724
حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا عِمْرَانُ الْقَصِيرُ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ
نَزَلَتْ آيَةُ الْمُتْعَةِ فِي كِتَابِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَعَمِلْنَا بِهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَنْزِلْ آيَةٌ تَنْسَخُهَا وَلَمْ يَنْهَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى مَاتَ
Telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami ‘Imran bin Qashir, telah menceritakan kepada kami Abu Raja’ dari ‘Imran bin Hushain dia berkata; “Telah turun ayat tentang tamattu’ dalam kitabullah Tabaraka wa Ta’ala, kami pun melakukannya sedang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di tengah-tengah kami, sementara tidak ada satu ayat pun yang turun menghapusnya dan melarangnya hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat.” Musnad Ahmad, hadis no. 19060
و حَدَّثَنَا الْحَسَنُ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ قَالَ عَطَاءٌ
قَدِمَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ مُعْتَمِرًا فَجِئْنَاهُ فِي مَنْزِلِهِ فَسَأَلَهُ الْقَوْمُ عَنْ أَشْيَاءَ ثُمَّ ذَكَرُوا الْمُتْعَةَ فَقَالَ نَعَمْ اسْتَمْتَعْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ
Dan Telah menceritakan kepada kami Al Hasan Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata, Atha` berkata; Jabir bin Abdullah kembali dari menunaikan Umrah, lalu kami pun menemuinya di rumahnya, dan orang-orang pun bertanya kepadanya tentang berbagai persoalan. Kemudian mereka pun menyebutkan tentang nikah mut’ah, maka Jabir menjawab; “Ya, kami pernah melakukan nikah mut’ah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar.” Sahih Muslim, Hadis no. 2496
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا
كُنَّا نَسْتَمْتِعُ بِالْقَبْضَةِ مِنْ التَّمْرِ وَالدَّقِيقِ الْأَيَّامَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ حَتَّى نَهَى عَنْهُ عُمَرُ فِي شَأْنِ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair ia berkata, saya mendengar Jabir bin Abdullah berkata; “Kami pernah melakukan nikah mut’ah selama beberapa hari dengan mas kawin beberapa genggam kurma dan tepung, pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar radliallahu ‘anhu sampai Umar melarang nikat mut’ah dalam kasus Amru bin Huraits.” Sahih Muslim, Hadis no. 2497
حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ عُمَرَ الْبَكْرَاوِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ يَعْنِي ابْنَ زِيَادٍ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ قَالَ
كُنْتُ عِنْدَ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فَأَتَاهُ آتٍ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ الزُّبَيْرِ اخْتَلَفَا فِي الْمُتْعَتَيْنِ فَقَالَ جَابِرٌ فَعَلْنَاهُمَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَهَانَا عَنْهُمَا عُمَرُ فَلَمْ نَعُدْ لَهُمَا
Telah menceritakan kepada kami Hamid bin Umar Al Bakrawi telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid yakni Ibnu Ziyad, dari Ashim dari Abu Nadlrah ia berkata; Aku pernah berada di dekat Jabir bin Abdullah, lalu ia didatangi oleh seseorang dan berkata; Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair berselisih pendapat mengenai Mut’atain (yaitu nikah mut’ah dan haji tamattu’), maka Jabir pun berkata, “Kami pernah melakukan keduanya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Umar melarang kami untuk melakukan keduanya dan kami tidak pernah lagi melakukannya lagi.” Sahih Muslim, Hadis no. 2498
Komentar

Semua riwayat yang dikutipkan di atas, dari Sahih Bukhari, Sahih Muslim dan Musnad Ahmad, tak ada satu riwayat yang mengkonfirmasi bahwa pelarangan nikah mut’ah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Justru, dari hadis-hadis itu saja, didapatkan informasi bahwa yang melarang nikah mut’ah tersebut adalah Umar bin Khattab.

Kesimpulan

  1. Allah tidak pernah melarang nikah mut’ah di dalam Alquran
  2. Rasulullah Saw tidak pernah melarang nikah mut’ah sampai beliau Saw wafat
  3. Nikah mut’ah pernah dilakukan para sahabat di zaman Rasulullah Saw, zaman Abu Bakar, dan sebagian di masa Umar bin Khattab.
  4. Yang melarang nikah mut’ah adalah Umar bin Khattab karena kasus Amru.

Sumber : LPPI Makasar Net

%d blogger menyukai ini: