Mengenal Kitab Hadis Syiah Biharul Anwar

Imam Muhammad al-Baqir berkata: Rasulullah saaw bersabda kepada Amirul Mukminin Ali as, ‘catatlah apa-apa yang kukatakan kepadamu’. Dan Imam Ali sendiri mengatakan “ikatlah ilmu” (dengan menuliskannya), yang diulangnya sampai dua kali (al-Baghdadi,Taqyid al-Ilmi, 1974: 89).

Sedangkan Imam Hasan putera Ali as memberikan nasehat : “…Pelajarilah ilmu! dan siapapun di antara kamu yang tak sanggup menghapal ilmu (yaitu hadis), catatlah dan peliharalah hadis itu di rumahmu”.

Berikutnya, Imam Ja’far Shadiq as berkata :”Tulis dan sebarkan ilmumu di antara saudaramu. Jika kamu mati, maka anak–anakmu akan mewarisi kitab–kitabmu. Kelak, akan tiba suatu masa yang di dalamnya terjadi kekacuan dan orang-orang tidak lagi memiliki sahabat yang melindungi dan tak ada penolong kecuali buku-buku.”

Beliau juga menyatakan: “peliharalah buku–bukumu,karena suatu saat kalian akan membutuhkannya” (Al-Majlisi, Bihar Al-Anwar jilid 2, 1983: 152). Riwayat-riwayat ini menunjukkan perhatian yang luar biasa dari Nabi saaw, Imam Ali as dan keturunannya untuk menjaga hadis-hadis mereka dalam bentuk kitab-kitab dan tulisan, bukan sekedar menghapalnya.

Allamah Syaikh al-Islam Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi al-Majlisi (1027-1110 H) menyambut seruan Nabi dan Imamnya tersebut, yakni menulis dan mengikat ilmu menjadi kitab yang berharga serta menjaganya. Untuk itu ia berusaha keras selama mengumpulkan khazanah keilmuan Ahlul Bait yang tersampaikan melalui pesan-pesan manusia suci yang kemudian beliau tulis dengan tekun selama bertahun-tahun sehingga menghasilkan suatu tumpukan kitab yang sangat tebal yang diberi judul Bihar al-Anwar al-Jami’atu li Durari Akhbar al-Aimmati al-Athhar, yang biasa disingkat dengan nama Bihar al-Anwar.

Sebagaimana judulnya, Bihar al-Anwar, maka kitab ini menjadi lautan ilmu para pencarinya yang disusun dan dikumpulkan berdasarkan riwayat-riwayat para maksumin. Perlu diketahui bahwa makna hadist dalam terminologi syiah secara umum adalah segala sesuatu, baik perkataan, perbuatan, persetujuan, sifat fisik dan kepribadian, atau sirah, yang dinisbatkan kepada 14 manusia maksum tersebut yakni Nabi Muhammad saaw, Sayidah Fatimah Zahra as dan dua belas imam syiah (yang dikenal juga dengan sebutan ahlul bait Nabi saaw).

Seperti disebutkan di dalam Muqaddimah  kitab tersebut bahwa Allamah Al-Majlisi melakukan kerja keras untuk menyusun kitab ini karena dimotivasi untuk menghidupkan peninggalan khazanah keilmuan ahlul bait agar dapat diwarisi oleh umat manusia sepanjang zaman. Beliau menjelaskan bahwa dimasanya banyak terdapat buku-buku para ulama syiah yang sangat berharga, dan beliau merasa khawatir serta prihatin dengan karya-karya agung ulama syiah tersebut akan hilang karena berbagai sebab, maka beliau pun bertekad mengumpulkan berbagai karya-karya ulama syiah dan menjaga transkrip-transkripnya serta menggandakannya.

Setelah terkumpul cukup banyak, maka beliau mulai berpikir untuk mempermudah pencarian hadis-hadis tersebut, beliau berkeinginan menyusun indeks tentang hadis-hadis tersebut, sehingga para pengkaji dan peneliti mendapatkan hikmah yang luar biasa dari karya-karya tersebut. Maka mulailah beliau menyusun indeks kitab-kitab hadis yang terkenal sampai sepuluh jilid. Tapi kemudian beliau menyadari bahwa penulisan indeks tidak bermanfaat tanpa memiliki karya-karya secara lengkap yang dibuat indeksnya tersebut. Karena setiap orang yang hendak menggunakan indeks tersebut, ia harus seperti beliau dalam menyiapkan sebuah transkrip dari kitab-kitab syiah dengan rangkaian nomor bab-bab dan hadis-hadisnya untuk dapat mengambil manfaat dari indeks tersebut.

Selain itu, muncul kekhawatiran di benak beliau, bisa saja setelah masanya, kitab-kitab karya agung ulama-ulama syiah tersebut yang telah dikumpulkannya akan lenyap, terbakar, atau musnah karena berbagai hal. Untuk itu, beliau pun berpikir untuk menyusun sebuah kitab yang menghimpun secara utuh isi dan riwayat-riwayat dari karya-karya ulama syiah tersebut.

Berdasarkan pemikiran itu, akhirnya beliau memutuskan untuk menyusun sebuah kitab ensiklopedi (jami’) dengan nama Bihar al-Anwar sebagai ganti dari penulisan indeks dan penomoran hadis. Dalam kitabnya ini beliau menyusun tema-tema besar disertai bab-bab yang di dalamnya tercantum hadis-hadis yang berkenaan dengan tema tersebut yang diambil dari berbagai karya-karya ulama syiah tersebut. Diantara kitab-kitab yang dikumpulkannya dan dijadikan rujukan oleh beliau adalah kitab-kitab karya Syaikh Shaduq seperti Uyun Akhbar al-Ridha, Ilal as-Sara’iy, Ikmaluddin wa Itmam an-Ni’mah, at-Tauhid, al-Khisal, al-Amali, Tsawab al-A’mal, Ma’ani al-Akhbar, al-Hidayah, Risalah al-Aqaid, Shifat as-Syiah, Fadhail as-Syiah.

Begitu juga beliau merujuk kitab-kitab Syaikh Mufid seperti al-Irsyad, al-Majalis, an-Nushush, al-Ikhtishash, al-Muqni’ah, al-Uyun wa al-Mahasin, Ajwibah al-Masail as-Sarwiyah al-Akbariyah, Syarah Aqaid as-Shaduq. Beliau juga merujuk pada karya-karya Syaikh Thusi diantaranya al-Ghaibah, al-Majalis atau al-Amali, al-Mishbah al-Kabir, al-Misbah as-Shaghir, al-Khilaf, al-Mabsuth, an-Nihayah, al-Fihrist, al-Rijal, Tafsir at-Tibyan, Talkhis as-Syafi, al-Idah fi ushul Fiqh, al-Iqtishad.

Selain itu beliau juga merujuk kitab karya-karya ulama  besar syiah lainnya seperti Kitab al-Imamah wa at-Tabshirah karya Syaikh Ali bin Hasain Babawaih al-Qummi, Kitab Bashair ad-Darajat karya Muhammad bin Hasan as-Shaffar, Kitab Kamil az-Ziarah karya al-Qawlawih, Kitab al-Mahasin wa al-Adab karya Ahmad al-Barqi, Kitab Tafsir Iyyasi, Kitab Tafsir al-Qummi, Tafsir Imam Hasan Askari, Kitab al-Raudhah al-Waidzin karya Syaikh Muhammad bin Ali al-Farisi, Tafsir Majma al-Bayan karya at-Thabarsyi, Kitab al-Manaqib, kitab Ma’alim Ulama, Bayan wa Tanzil, dan Risalah Mutasyabah al-Quran semuanya karya  Ali bin Syahr Asyub, Kitab Tuhaf al-Uqul karya Hasan bin Ali bin Syu’bah, dan puluhan kitab-kitab lainnya karya ulama-ulama syiah yang tidak mungkin disebukan satu persatu di sini (lengkapnya lihat Bihar al-Anwar jilid 1 hal. 6-25).

Meskipun menjadikan karya-karya ulama syiah sebagai standar penulisan, bukan berarti Allamah Al-Majlisi tidak merujuk kepada karya-karya selainnya. Pada bagian sejarah kita bisa saksikan bagaimana Al-Majlisi membawakan hadis-hadis yang diambil dari kitab-kitab ahlussunnah. Begitu pula, pada bagian i’tiqadat (akidah), khususnya bagian imamah, juga banyak mengutip perkataan-perkataan kelompok non syiah yang menentangnya dan Al-Majlisi pun memberikan tanggapan dan membawakan berbagai jawaban dari para ulama syiah. Selain itu pada bagian al-Sama wa al-‘Alamtelah disebutkan perkataan para hukama (filosof) dan para tabib juga aplikasi berbagai pendapat mereka dengan riwayat.

Berdasarkan keterangan Allamah al-Majlisi, Bihar al-Anwar terdiri dari 25 jilid kitab sebagai berikut (lihat Bihar al-Anwar jilid 0 : 41-44 dan jilid 1 : 80) :

  1. Kitab al-Aql wa al-Ilm wa al-Jahl di dalamnya terdapat 40 bab
  2. Kitab Tauhiddi dalamnya terdapat 31 bab
  3. Kitab al-Adl wa al-Ma’addi dalamnya terdapat 59 bab
  4. Kitab al-Ihtijajat wa al-Munazharat wa Jawami’ al-Ulumdi dalamnya terdapat 83 bab
  5. Kitab Qashash al-Anbiya 83 bab
  6. Kitab Tarikh Nabiyina wa Ahwalihi saawdi dalamnya terdapat 72 bab
  7. Kitab al-Imamah wa Fihi Jawami’ Ahwalihim as di dalamnya terdapat 150 bab
  8. Kitab al-Fitan wa Fihi Ma Jara Ba’da al-Nabiyi saaw min Ghashb al-Khilafati wa Ghazawati Amir al-Mukminin asdi dalamnya terdapat 62 bab
  9. Kitab Tarikh Amir al-Mukminin as wa Fadhailihi wa Ahwalihi128 bab
  10. Kitab Tarikh Fathimah wa al-Hasan wa al-Husain sa wa Fadhailihim wa Mu’jizatihimdi dalamnya terdapat 50 bab
  11. Kitab Tarikh Ali bin al-Husain wa Muhammad ibn Ali al-Baqir wa Ja’far ibn Muhammad al-Shadiq wa Musa ibn Ja’far al-Kadzim sa wa Fadhailihim wa Mu’jizatihimdi dalamnya terdapat 46 bab
  12. Kitab Tarikh Ali ibn Musa al-Ridha wa Muhammad ibn Ali al-Jawad wa Ali ibn Muhammad al-Hadi wa al-Hsan ibn Ali al-Askari wa Ahwalihim wa Mu’jizatihim sadi dalamnya terdapat 34 bab
  13. Kitab al-Ghaibah wa Ahwal al-Hujjah al-Qaim sa di dalamnya terdapat 34 bab
  14. Kitab al-Sama’ wa al-‘Alam wa Huwa Yasytamilu ‘ala Ahwal al-‘Arsyi wa al-Kursyi wa al-Aflaki wa al-Anashiri wa al-Mawalidi wa al-Malaikati wa al-Jinni wa al-Insi wa al-Wuhusyi wa al-Thuyuri wa sair al-Hayawanati wa Fihi Abwab al-Shaid wa al-Dzibahah wa Abwab al-Thibb di dalamnya terdapat 210 bab
  15. Kitab al-Imani wa al-Kufri wa al-Makarim al-Akhlak di dalamnya terdapat 180 bab
  16. Kitab al-Adabi wa al-Sunani wa al-Awamiri wa al-Nawahi wa al-Kabairi wa al-Ma’ashi wa Fihi Abwab al-Hudud 107 bab
  17. Kitab al-Rudhati wa Fihi al-Mawaizhu wa al-Hikamu wa al-Khutab di dalamnya terdapat 73 bab
  18. Kitab al-Thaharah wa al-Shalahdi dalamnya terdapat 221 bab
  19. Kitab al-Qur’an wa al-Du’adi dalamnya terdapat 261 bab
  20. Kitab al-Zakah wa al-Shaum wa fihi A’mal al-Sanati di dalamnya terdapat 122 bab
  21. Kitab al-Hajj di dalamnya terdapat 84 bab
  22. Kitab al-Mazar di dalamnya terdapat 64 bab
  23. Kitab al-Uqud wa al-Iqa’at di dalamnya terdapat 130 bab
  24. Kitab al-Ahkam di dalamnya terdapat 48 bab
  25. Kitab al-Ijazat.

Sebagaimana terlihat dalam judul bab-bab di atas, maka Bihar al-Anwar mencakup hadis-hadis di bidang ilmu dan agama seperti akidah, tarikh, adab, fikih, tafsir, hikmah, irfan, falsafah, akhlak, zikir, doa, perlindungan, pengobatan, azimat, hiriz, dan wirid-wirid. Pada sebagian jilidnya terdapat penjelasan seputar riwayat-riwayat yang musykil dan mempertemukan hadis-hadis yang kontradiktif. Pada bagian ini terlihat kepiawaian beliau dalam bidang sastra, tafsir, hikmah dan kalam.

Oleh karena itu, perlu diketahui, kitab Bihar al-Anwar bukan kitab hadis semata, sekalipun materi pokoknya adalah hadis dan riwayat. Akan tetapi, sebagaimana yang telah disebutkan, Allamah al-Majlisi, dalam kitab besarnya itu juga mengungkapkan berbagai perkataan ulama di bidang tarikh, kalam, hikmah, kedokteran, dan lainya.

Kitab ini beberapa kali di cetak dan diterbitkan. Dulu diterbitkan dalam 25 jilid besar, tetapi karena terlalu tebal dan besar sehingga tentu saja menyulitkan penyimpanan dan membawanya pada saat ini, maka belakangan kitab ini diterbitkan dengan cetakan lebih kecil dan membagi-baginya sehingga menjadi 110 jilid ditambah dengan jilid 0 (jilid shifr) yang menjelaskan tentang keadaan kitab tersebut. Selain itu, cetakan belakangan ini telah disertai dengan tahkik, muqabalah, tashih,dan taklikat yang sangat bermanfaat oleh sekelompok ulama seperti Sayid Ibrahim Miyanji, Sayid Muhammad Mahdi Musawi Khurasani, Sayid Hidayatullah Mustarhimi, Ali Akbar Ghaffari, dan Muhammad Baqir Bahbudi.

Seperti halnya dalam ahlussunnah, di dalam perspektif syi’ah, hadits juga dibagi menjadi dua jenis, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahadHadist mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang atau banyak perawi pada setiap tingkatan yang mana tidak mungkin mereka seluruhnya sengaja berbohong dan salah. Hadist mutawatir merupakan hujjah dan landasan yang kuat dalam ajaran Islam.

Sedangkan hadist ahad adalah hadist yang tidak mencapai derajat mutawatir, yang diriwayatkan oleh satu orang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat periwayatan berurutan oleh orang banyak. Syiah menyatakan bahwa selama para perawi khabar wahid adil dan jujur semuanya, maka hadits yang mereka riwayatkan itu dapat digunakan sebagai hujjah. Hal ini telah sesuai dengan al-Quran, sunnah, ijma’ dan akal.

Adapun pembagian hadits berdasarkan pada kualitas perawinya, maka di bagi pada empat bagian.

  1. Shahih, yaitu hadist yang diriwayatkan oleh seorang penganut syi’ah Imamiah yang telah diakui keadilannya dan dengan jalan yang shahih.
  2. Hasan, yaitu jika rawi yang meriwayatkannya adalah seorang syi’ah Imamiah yang terpuji, tidak ada seorangpun yang jelas mengecamnya atau secara jelas mengakui keadilannya.
  3. Muwatsaq, yaitu jika rawi yang meriwayatkannya adalah bukan syiah, tetapi diakui sebagai orang yangtsiqatdan terpercaya dalam periwayatan.
  4. Dha’if, yaitu hadis yang tidak mempunyai kriteria-kriteria tiga kelompok hadis di atas, seperti misalnya sang rawi tidak menyebutkan seluruh rawi yang meriwayatkan hadist kepadanya. (Ada juga yang menyabutkan lima bagian yaitu shahihhasanmuwatsaqqawi(kuat), dan dhaif)

Hadist shahih, hasan, dan muwatsaq dengan syarat-syaratnya adalah hujjah menurut mayoritas kesepakatan ulama syi’ah. Sedangkan hadist dhaif, tidak dapat dijadikan hujjah (al-Ghuraify, Qawa’id al-Hadist, hal. 22-30)

Hal yang perlu dicermati adalah bahwa karena sejak awalnya tujuan Allamah Al-Majlisi dalam menyusun kitab Bihar al-Anwar ini hanyalah untuk mengumpulkan hadis-hadis dan menjaga kitab-kitab karya para ulama syiah dari kepunahan dan untuk mempermudah para pengkaji untuk mencari hadis-hadisnya, maka kitab ini tidak disertai dengan penilaian kualitas hadis. Artinya, Allamah Al-Majlisi dalam hal ini, hanya kembali menuliskan saja apa yang tertulis di kitab-kitab karya ulama syiah tersebut tanpa melakukan penilaian apakah hadis itu shahih, hasan, muwatsaq, atau dhaif. Karena itu bisa dipastikan, di dalam kitab Bihar al-Anwar ini terdapat hadis-hadis yang berkualitas shahih, hasan, muwatsaq dan juga dhaif di berbagai babnya. Jadi, Allamah al-Majlisi sendiri sebagai pengarang kitab tersebut dan ulama-ulama syiah lainnya tidak memandang hadis-hadis di dalam kitab Bihar al-Anwar ini sahih semuanya dan dapat dijadikan hujjah. Ulama-ulama syiah belakangan telah menguji dan mengoreksi hadis-hadisnya, sehingga mereka mengetahui mana yang shahih dan mana yang dhaif, mana yang dapat dijadikan hujjah dan mana yang tidak.

Karena itu, menggunakan kitab Bihar al-Anwar sebagai hujjah haruslah memperhatikan penilaian kualitas hadisnya, sehingga tidak sembarangan digunakan dengan alasan tercatat di kitab tersebut, sebagaimana dilakukan sekelompok orang yang suka menyesatkan atau mengkafirkan syiah (kelompok takfiri) dalam berbagai publikasi tulisan maupun dalam seminar-seminar atau diskusi-diskusi yang mereka lakukan.

Dengan serampangan, mereka mudah melontarkan label sesat atau kafir kepada syiah, hanya karena membaca beberapa hadis di dalam kitab Bihar al-Anwar yang mereka anggap berisi ajaran-ajaran sesat tanpa melakukan penelitian yang memadai atas hadis-hadis bahkan tanpa memahami dengan baik maksud dan maknanya. Cara-cara seperti itu adalah cara-cara yang jauh dari sikap ilmiyah dan tentu saja bisa menjadi fitnah karena melakukan penyesatan informasi.

Dengan mengetahui hal ini, mudah-mudahan kita tidak terjebak dalam propaganda kaum takfiri yang ingin memecah umat persatuan Islam dengan menggunakan cara-cara yang manipulatif dan disinformatif. Semoga! (cr/liputanislam.com)

 

Iklan

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: