Mengapa Non-Muslim Disebut Kafir oleh Orang Islam?

Mengapa Non-Muslim Disebut Kafir oleh Orang Islam?

Oleh : Ustd. Miftah Fauzi Rahmat

Ada lagu lama yang bila didengarkan kembali memberi kebahagiaan tersendiri. Saya tidak tahu apakah perkara natalan termasuk lagu lama itu. Saya bayangkan saudara saya sebangsa yang beragama Nasrani memperhatikan kami kaum Muslimin. Tersenyumkah mereka, memaklumi, atau muncul sebersit tanya? Setiap tahun mengucapkan ‘Selamat Natal’ dan tidak selalu jadi kontroversi. Ibarat lagu lama, ia mengiang mengingatkan. Sayang, saya belum pernah membaca bagaimana perasaan dan komentar mereka tentang lagu lama itu.

Tahun ini, saya jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan perkakas di kota Bandung. Seingat saya, biasanya para pramuniaga mengenakan topi Santa di kepala. Kali ini tidak. Konon beredar larangan memakainya. Dasarnya? Nanti anak-anak lebih kenal tradisi agama lain daripada tradisi sendiri. Pengelola pusat perbelanjaan itu tampaknya memahami. Mereka memilih tidak ambil resiko. Tak ada satu topi pun dikenakan kini.

Dulu, sekitar lima-enam tahun yang lalu, saya ajak anak saya ke tempat yang sama. Apa pasal? Ia minta dibelikan pohon natal. Barangkali, karena film yang dilihatnya di televisi. Ia memang bertanya sebelumnya ”Can we celebrate Christmas?” Saya jawab, ”Natal dirayakan oleh umat Kristiani.” Kemudian ia susul dengan pertanyaan, ”Bolehkah aku punya pohon Natal?”

Saya menjawabnya dengan mengajaknya jalan-jalan ke pusat perkakas itu. Di sana dijual pohon Natal berwarna-warni, sintetis tentu saja, kebanyakan mungkin dari Tiongkok, diproduksi oleh mereka yang bukan umat Kristiani. Kabarnya, di Makkah pun sama. Banyak oleh-oleh haji dan umrah bukan produksi Saudi, tapi Tiongkok sana. Dalilnya, ya…cari ilmu ke negeri Cina itu.

Begitu anak saya melihat-lihat pohon natal, ia menjawab cepat, ”Aku mau PS2 saja Bi…pohon natal mahal-mahal.” Saya tersenyum mendengarnya.

Saya tidak tahu kapan saat yang tepat mengajarkan toleransi. Kapan membombardir pikiran jernih anak-anak dengan kata-kata ”Sesat, salah, kafir, musyrik, murtad dan sejenisnya.” Mereka tahu ada perbedaan, tapi bagaimana mengelola perbedaan itu. Beberapa kawan yang saya ceritakan jalan-jalan saya dengan anak saya itu terkejut. Kata mereka, ”Emang boleh Muslim punya pohon natal?” Saya jawab dengan pertanyaan lagi: ”Pohon natal itu tradisi. Mirip seperti ketupat dan sate. Kalau Idul Fitri, bolehkan saudara Kristiani berketupat ria? Kalau Idul Adhha, bolehkah mereka membakar sate dan menikmatinya?”

Benar ada pro dan kontra tentang kapan dimulai tradisi itu, seperti juga ketupat. Benar juga bahwa Sinterklas diperkenalkan dengan segala komersialisme yang menyertainya. Tapi bukankah puasa (di bulan suci Ramadhan) dan haji, juga natalan adalah di antara waktu-waktu yang menjadi perhatian para pelaku bisnis dunia? Ketika komersialisme menunjukkan puncaknya?

Di Kampus, saya mengajar di sebuah kelas internasional. Saya sampaikan pada mereka sudut pandang memahami agama. Kita sebut saja ‘isme’. Ada partikularisme: dalam satu agama pun tidak semua selamat. Hanya satu kelompok saja yang benar. Yang lain, maaf, harus menunggu di pintu surga. Kedua, ekslusivisme. Asal masih seagama beda pendapat dan kelompok sah-sah saja. Yang beda agama, neraka tempatnya. Ketiga, inklusivisme. Agamaku paling benar tapi agama orang lain pun ada benarnya juga. Perihal surga, serahkan pada keadilanNya. Keempat sinkrestisme, mencampuradukkan agama, mengambil sini dan sana…dan kelima, pluralisme, saat memandang semua agama adalah bentangan jalan menuju dan memuja Tuhan semesta yang esa.

Pada bagian ‘isme’ yang manakah kita berdiri? Atau, adakah yang keenam? Saat menjelaskan pluralisme, saya hadapkan mahasiswa pada dinamika intelektual. Banyak yang mengharamkannya, menjadikannya bahan gugatan, mewaspadainya karena ia dapat menggerus keyakinan. Pluralisme bukan memaknai semua agama sama. Pluralisme juga bukan mengatakan semua agama benar. Pluralisme adalah cara sudut pandang.

Untuk menilai setiap agama dari ruanglingkup yang menyertai agama itu. Jangan nilai Katolik dari kacamata (orang) Islam (memahaminya), dan jangan nilai Islam dari kacamata sebaliknya. Pluralisme adalah ruang berkompetisi, agar masing-masing umat berlomba memberikan kontribusi. Ia disebut ‘plural’ karena identitas sekian tunggal yang mengemuka, sekian bentuk individual.

Tibalah dalam diskusi, lagi-lagi perkara selamat natal. Mahasiswa saya yang muslim terbagi dua: yang mengucapkan dan yang tidak. Alasan yang tidak, karena ada fatwa MUI. Fatwa berusia lebih dari tigapuluh tahunan itu kini goyah posisi. The Jakarta Post edisi Rabu 24 Desember menjadikannya headline, ”MUI allows merry christmas.” MUI (akhirnya) membolehkan ucapan Selamat Natal. Saya tak melihat ia jadi headline di koran lokal. Tentu, bukan tanpa kecaman. Pernyataan itu segera menuai protes sana-sini, dari para ‘pemilik surga’ yang tak rela berbagi. Sejarah memasuki babak baru kini.

Saya tanya mahasiswa saya, ”Bagaimana agama mengajarkan kita saat orang lain berbahagia, atau saat mereka berduka?” Semua sepakat jawaban yang sama: kita harus bahagia dengan kebahagiaan sesama, dan berduka dengan penderitaan yang lainnya. Tapi, saat tetangga kita umat Kristiani bersukacita karena lahirnya juru selamat mereka, haruskah kita ikut bahagia? Bagaimana cara mengungkapkannya? The least thing we can do adalah menyelamati mereka. Mahasiswa saya setuju. Kata mereka, ”Ucapkan selamat saja, tanpa ada kata ‘natal’ di dalamnya.’ Lagi-lagi mereka gamang, dan berpegang pada fatwa tigapuluh tahun silam.

Kini, saya bayangkan perasaan dan pikiran teman-teman Kristiani itu, terhadap kami kaum Muslimin. Lebaran mereka datang pada kami mengucapkan turut berbahagia. Ada yang keliling ke rumah tetangganya, mengenakan pakaian terbaik mereka dan mengucapkan selamat hari raya. Mereka bersukacita dengan hari bahagia kita. Saat tiba hari raya mereka, bagaimana kita seharusnya?

Sayang, keteladanan tentang itu justru dicontohkan oleh seorang ulama sepuh yang mengubah dunia di akhir hayatnya. Dalam situs resmi en.imam-khomeini.ir ada kisah Imam Khumaini saat diasingkan di Paris, Perancis. Pada malam natal, Imam menyampaikan pesan Selamat Natal pada semua umat Kristiani di dunia. Imam memerintahkan umat agar mendatangi tetangganya yang Kristiani dan memberi mereka hadiah. Imam sendiri mengetuk pintu rumah para tetangganya di Neuphle le-Château membawakan bagi mereka hidangan tradisional Iran: manisan, kacang pistachio dan buah-buahan kering. Bahkan bagi setiap paket itu dirangkaikan seikat bunga.

Seorang nenek tua tersentuh dengan apa yang dilakukan Imam. Tangisan menetes haru karenanya. Seorang non-Kristiani mengunjungi rumah-rumah umat Kristiani dalam dingin dan tebalnya salju dan menyampaikan ungkapan turut.berbahagia dengan mereka. Beberapa orang di antaranya membalas kunjungan Imam. Melihat mereka datang Imam bertanya, adakah yang bisa ia lakukan untuk mereka? Imam menawarkan perkhidmatannya. Mereka hanya mengucapkan terima kasih dan membawa bunga. Imam pun menyimpan bunga itu di vas di ruang tamunya.

Mengapa saya katakan ‘sayang’ di awal paragraf di atas itu. Karena sang Imam pendiri Republik Islam Iran ini juga tak kalah dianggap sesatnya oleh para ‘pemilik surga’. Ia dianggap kafir, bukan Islam, penyebar virus kekerasan. Gambar-gambar yang melecehkannya bertebaran di dunia maya. Bila demikian, contoh ulama mana lagi yang harus kita teladani?

Menarik untuk melihat bagaimana ayat ‘lakum diinukum waliyaddiin” dipahami. Ia biasa muncul dalam konteks antaragama. Padahal ‘khitab’ sasaran ayat itu adalah ‘al-kaafirun.’ Saya pernah ditanya di sebuah kelas Kristiani. Saya diminta mengajar Islamologi. Mereka ingin tahu Islam tapi tidak dari para pendeta. Obyektif saya kira. Seorang bertanya pada saya ”Mengapa kami (non-Muslim) disebut ‘kafir’ oleh orang Islam?” Bagi setiap pembaca tulisan ini, silakan jelaskan pada mereka mengapa kalian memanggil kafir pada mereka. ”Kadang-kadang,” lanjut penanya, ”mereka mengucapkan kafir dengan nada dan makna yang terdengarnya tidak enak sama sekali…”

Padahal dalam Al-Quran ada terminologi Ahlul Kitab yang dibedakan dengan orang kafir. Kepada mereka bukan ‘lakum diinukum wa liyaddiin’ tapi ‘ta’aalau ilaa kalimatin sawaa’in baynana wa baynakum…’ mari menuju kalimat yang sama anta kami dan kalian. Lalu, apa yang disebut kafir?

Surat Ali Imran mengisahkannya pada kita. Pada ayat 151 Yang Mahasuci berfirman, ”Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan (musyrik pada) Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu.”

Dalam ayat ini kafir adalah karena mereka menyekutukan. Kafir adalah kemusyrikan. Dan Allah Ta’ala pisahkan pembagian itu di antara mereka. Dalam Surat Haji ayat 17, Yang Mahasuci berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi’in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik…Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Dalam ayat ini, musyrik dikelompokkan terpisah dari yang lainnya.

Terakhir, Surat Ali Imran memerintahkan kita untuk tidak memukul rata setiap yang berbeda, Dalam ayat 113 dan 114, ”Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari; sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”

Saya tidak tahu lagu lama mana yang akan dikenang oleh saudara-saudara kita Nasrani tentang kaum Muslimin dan hari Natal. Saya bayangkan satu saat, keagamaan kita tidak dinilai dari pernak-pernik yang dikenakan. Bahwa orang Nasrani berpeci ria, orang Islam mengenakan topi Santa…tidak untuk memperdebatkan asal-usulnya. Tetapi sebagai bentuk penghormatan pada sesama. Mungkinkah akan terjadi? Lagu manakah yang akan bernyanyi abadi?

Selamat hari kelahiran kekasih Tuhan itu, saudaraku. Selamat hari Natal.

Miftah Fauzi Rakhmat, penulis buku Tasawuf for Beginners

Sumber : Misykat

%d blogger menyukai ini: