Menanggapi Buku Kyai Alawi Al-Bantani: Hadis Khalifah Abubakar

Saya senang dengan cara Kyai Alawi Al-Bantani dalam menyanggah karya penulis-penulis Syiah. Beliau tidak mengafirkan maupun mencemooh, melainkan membuat tulisan yang santun. Budaya ilmiah semacam ini yang mestinya digalakkan. Sehingga,  tercipta suasana ilmiah yang dinamis, dengan tetap mengedepankan ukhuwah.

 

Oleh sebab itu, dengan semangat itu pula saya ingin sedikit menanggapi tulisan/buku Kyai Alawi [Kyai NU Membedah Pemikiran Syiah] halaman 35, dengan segala keterbatasan saya.

 

Pada halaman tersebut, Kyai Alawi merujuk sebuah hadis yang berisi penetapan Rasul saw terhadap khilafah Abubakar, terkait surat At-Tahrim ayat 3. Muncul pertanyaan dalam diri saya, bukankah selama ini Ahlusunnah meyakini bahwa Rasul saw tidak pernah meninggalkan wasiat tentang kepemimpinan pasca Beliau saw? Dengan kata lain, Ahlusunnah meyakini bahwa urusan kepemimpinan umat diserahkan kepada umat sendiri. Hadis yang biasa digunakan sebagai dalil adalah: “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian” (Sahih Muslim).

Fakta historis juga memberitakan bahwa Abubakar dipilih dalam musyawarah di Saqifah, yang diwarnai dengan perdebatan alot dan sengit antara Muhajirin dan Anshar (Tarikh Thabari; Al-Mawardi “Ahkam ash-Shulthaniyah”). Peristiwa Saqifah ini kemudian menjadi momentum awal munculnya konsep Khilafah-Syura.

 

Dengan demikian, saya menjadi ragu akan keabsahan hadis yang dikutip Kyai Alawi tersebut, yang bahkan tidak disebut-sebut sebagai dalil ketika terjadi perdebatan sengit di Saqifah. Keraguan tersebut mendorong saya untuk menelisik hadis tersebut sedikit lebih dalam. Hasilnya sebagai berikut:

 

1. Dari penjelasan Ibn ‘Adi terlihat bahwa hadis tersebut munkar. (Al-Kamil fi adh-Dhu’afa’)

 

2. Adz-Dzahabi meriwayatkan hadis tsb dari Aisyah. Namun, Adz-Dzahabi menolak keabsahannya, karena di dalamnya terdapat Khalid bin Ismail al-Makhzumi yang dikenal sebagai pembohong. (Mizan Al-I’tidal)

 

3. Dalam “Tafsir Ibn Katsir” sama sekali tidak disinggung tentang hadis tersebut. Ibn Katsir menjelaskan bahwa surat At-Tahrim terkait dng peristiwa pengharaman Mariyah atau pengharaman minum madu.

 

4. “Tafsir Jalalain” menegaskan bahwa surat At-Tahrim terkait dng pengharaman Mariyah, dan tidak menyinggung hadis tersebut.

 

5. Dalam “Tafsir Al-Qurthubi” memang disinggung tentang hadis tersebut. Tetapi, Al-Qurthubi sendiri berpandangan bahwa surat At-Tahrim terkait dng pengharaman Mariyah, bukan terkait hadis tersebut.

 

Berdasarkan argumen-argumen di atas, maka saya menyimpullkan bahwa hadis tersebut tidak bisa diterima sebagai hujjah (dalil). Wallahu a’lam.

 

Perlu digarisbawahi pula bahwa tanggapan saya di atas tidak sedang berbicara tentang keabsahan kekhalifahan Abubakar. Sama sekali tidak. Tanggapan di atas hanyalah upaya untuk membangun atmosfer diskusi ilmiah yang jauh dari budaya pengafiran dan tudingan sesat, sebagaimana semangat Kyai Alawi.

 

[M.Anis, dalam whatsapp group, jam 12:52; 27/11/2015]

Sumber : Misykat

%d blogger menyukai ini: