Membela Ustd Prof Dr. Din Syamsudin dari Fitnah Kaum Nashibi Takfiri

Beberapa waktu lalu kembali ada pemberitaan yang kurang elok mengenai Pak Din Syamsudin yang terpilih menjadi ketua MUI. Setelah isu syiah digunakan untuk menjelek-jelekan beliau, kali ini yang digunakan adalah tuduhan bahwa beliau adalah sahabat yahudi.

Dalam ilmu sosiologi dikenal dengan teori labeling, labeling ini adalah saat sekelompok orang berusaha memberi label-label tertentu kepada lawan politiknya agar orang banyak membencinya. Labeling ini yang kemudian digunakan sebagian orang untuk menjatuhkan lawan politiknya. Label-label seperti antek syiah, agen zionis, agen barat sering dikemukakan oleh sebagian kaum muslim untuk menjatuhkan lawan politiknya. Begitupun label-label seperti teroris, fundamentalis, wahabi dll. Sering kali digunakan sebagian kelompok muslim lain untuk menyerang lawan politiknya. Kami tidak sepakat dengan penggunaan labeling tersebut, dikarenakan akan mengaburkan fakta yang sebenarnya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda bahwa Barang siapa yang memanggil muslim lain dengan hai kafir! Padahal dia tidak kafir. Maka sesungguhnya dialah yang kafir. Masalahnya adalah dalam kitab faishal at tafriqah bainal Islam wa zandaqah Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa jika ada dalam diri seseorang 99 ciri kekafiran, dan 1 ciri keimanan, maka tetap orang tersebut masih disebut beriman, walaupun yang membuat dia pantas disebut kafir sebenarnya lebih banyak daripada yang membuat dia pantas disebut beriman. Tentu kita pun sebagai kaum sunni meyakini bahwa walaupun hanya ada keimanan sebesar biji dzarrah dalam diri seseorang, maka dia tetap berpeluang masuk surga, walaupun dosa-dosanya mesti dibersihkan dulu di neraka. Berbeda hal nya dengan akidah kaum khawarij dimana saat seseorang melakukan dosa besar, maka tempatnya di neraka dan tidak bisa masuk surga. Oleh karena ini takfir secara teologis dalam Islam memang harus dilakukan secara sangat hati-hati baik secarat teologis maupun sosiologis.

Inilah yang kami temukan dalam pemberitaan mengenai Pak Din Syamsuddin akhir-akhir ini, ada upaya labeling terhadap Pak Din agar citranya jatuh di mata sebagian umat Islam. Pak Din itu bukan tidak boleh dikritik, Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang tidak mengenal idolatry dan pengkultusan berlebihan terhadap tokoh agama serta sangat membenci taqlid buta. Kami pun punya kritik pribadi terhadap Pak Din, misalkan dalam kepemimpinan Pak Din hampir selama 10 tahun ini saya belum melihat gebrakan Pak Din dalam membangun intelektualitas di kalangan para kader dan angkatan muda Muhammadiyah. Berbeda dengan masa kepemimpinan sebelumnya yaitu saat Ketua PP Muhammadiyah Buya Ahmad Syafii Maarif, perkembangan intelektual di Muhammadiyah sangat maju. Misalnya dengan diperkenalkannya metodologi bayani, burhani dan irfani dari Abid Al Jabiri menjadi metode tarjih Muhammadiyah.

 

Pada masa kepemimpinan Buya Syafii pun ramai-ramai kader muda Muhammadiyah dikirim ke berbagai negara untuk belajar dan mengasah keilmuannya. Dalam kepemimpinan Pak Din, kami amati jumlah kader muda Muhammadiyah yang menempuh S2 atau S3 di luar negeri menurun. Pak Din kami lihat lebih suka melakukan manuver-manuver genit dalam perpolitikan di Indonesia dibanding membangun cendekiawan Muhammadiyah. Meminjam bahasa Kuntowijoyo mungkin Pak Din memilih jalan yang riuh dibanding jalan sunyi.

Selain persoalan intelektual, dalam persoalan politik pun ada yang menarik untuk kami kritisi. Dalam pengamatan kami Pak Din adalah seorang yang kritis terhadap pemerintahan, sudah bukan rahasia lagi kalau hubungannya dengan presiden SBY agak kurang harmonis. Sikap Pak Din yang seperti itu membuat seolah-olah membuat Muhammadiyah menjadi oposisi terhadap pemerintah. Tentu hal ini tidak salah, mengingat Muhammadiyah adalah gerakan dakwah amar makruf nahyi munkar sehingga bukan hal yang tabu untuk mendakwahi pemerintah. Namun ada efek samping yang mungkin belum terfikirkan oleh Pak Din, yaitu dikarenakan sikap kurang bersahabat Pak Din dengan pemerintah, para PNS-PNS yang duduk di pemerintahan di grassroot mereka yang kena imbasnya. Banyak kasus dimana mereka mendapat sinisme dan pengalaman kurang mengenakkan dikarenakan identitas mereka yang Muhammadiyah. Saya fikir perlu dicari solusi untuk meminimalisir hal tersebut, ya kasihan PNS Muhammadiyah yang di grassroot.

Dua hal di atas sekedar contoh kritik pribadi kami terhadap Pak Din yang menegaskan bahwa dalam Muhammadiyah kritik dan saran itu bukan suatu hal yang tabu. Lantas mengapa kami mempermasalahkan tulisan dalam web nahimunkar yang notabene mengkritik Pak Din? Bagi kami tulisan nahimunkar itu lebih mirip provokasi dan agitasi daripada kritik yang membangun. Lihat saja dari judul-judulnya, terkesan lebay dan hanya menebarkan kebencian an sich. Konten beritanya pun walau bertaburan ayat Al Quran, hadits, dan qaul ulama namun seringkali tidak berimbang dalam artian hanya memakai perspektif mereka seraya menafikan perspektif lain.

Kami punya cerita bahwa punya kenalan namanya sebut saja X, beliau ini seorang yang berfaham Islam aswaja namun kuliah di LIPIA. Suatu ketika di akun fb beliau berdebat dengan seseorang yang berpemahaman Islam salafi mengenai syiah. Jika kita lihat dalam kitab Minhaju sunnah an nabawiyah karangan Ibnu Taimiyah, sikap ahlu sunnah wal jamaah terhadap syiah memang cenderung moderat, inshaf, tidak berlebih-lebihan dan adil. Golongan aswaja pada awalnya menurut Ibnu Taimiyah terbentuk saat fitnah atau konflik yang terjadi dalam Islam pada waktu itu sudah sangat parah, maka ada sekelompok sahabat yang menginginkan kembali persatuan dan mengakhiri konflik-konflik tersebut. Maka pada masa Umar bin Abdul Aziz, dikukuhkanlah kelompok ini sebagai solusi untuk mengakhiri konflik antara pendukung muawiyah, pendukung Ali dan khawarij. Disebutlah kelompok ini ahlu sunnah wal jamaah, dikarenakan kelompok ini memelihara tradisi nabi (sunnah) dan mementingkan persatuan (jamaah). Tentu si X memahami hal itu, sehingga beliau tidak terlalu membabibuta dalam menentang syiah, melainkan menyerukan sikap yang adil dan moderat.

Suatu ketika secara tidak sengaja dia berdebat dengan salah seorang yang berbeda pemahaman. Namun lucunya, setelah perdebatan itu, ternyata ada yang memasukan perdebatan di FB tadi ke web nahimunkar.com, judulnya Awas! LIPIA mulai dirasuki virus syiah. Foto si X ini dipampang di berita tersebut, gara-gara berita tersebut, si X ini dicaci maki oleh orang-orang yang tidak dikenal di dunia maya, kasihan sekali. Untungnya ada dosen LIPIA yang membantu sehingga akhirnya nahimunkar.com menghapus berita tersebut dari webnya. Biar bagaimanapun dosen LIPIA ini pun merasa tersinggung, dengan tuduhan nahimunkar bahwa LIPIA sudah diinfiltrasi oleh syiah padahal itu hanya penafsiran sembrono yang dilakukan oleh nahimunkar. Kejadian di atas memberi gambaran kepada saya bahwa nahimunkar.com kurang menerapkan kode etik jurnalistik dalam pemberitaannya.

Sekarang kami akan mencoba mengulas kritik nahimunkar terhadap Pak Din dan perspektif saya mengenai hal tersebut. Pertama adalah soal yahudi, dalam berita nahimunkar yahudi adalah suatu bangsa yang memang pasti semuanya buruk. Saya sepakat bahwa dalam Al Quran sangat bertebaran ayat-ayat mengenai penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan perilaku makar mereka terhadap umat Islam. Salah satu contohnya ayat yang nahimunkar kutip Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS 5:82) Lalu Adolf Hitler pun pemimpin nazi mengatakan bahwa dia akan membiarkan sebagian kecil yahudi hidup, supaya kalian tahu bagaimana mereka. Dalam Al Quran Allah swt. Sudah menegaskan kelebihan bangsa yahudi, sayangnya kelebihan tersebut digunakan yahudi untuk menjajah bangsa lain.

Namun pertanyaannya apakah memang semua yahudi seperti itu? Mari kita cari jawabannya kembali dalam Al Quran. Allah swt. Berfirman dalam (QS. 3:113) Mereka itu tidak sama, di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Ayat ini cukup untuk menjawab bahwa kita tidak bisa menggeneralisir bahwa semua Yahudi itu buruk, toh Al Quran sendiri yang mengatakan bahwa ada walaupun mungkin minoritas sebagian yahudi yang mereka taat kepada Allah dan tidak melakukan makar terhadap Islam.

Sekarang ini Yahudi identik dengan zionisme, padahal zionisme hanyalah salah saktu faksi dalam pemikiran yahudi. Zionisme adalah kelompok yahudi yang rasis dan fasis, yang ternyata banyak ditentang oleh umat Yahudi sendiri, walau mungkin yang menentang ini minoritas. Misalnya Noam Chomsky dan Gilad Atzmon seorang yahudi namun sangat anti dengan fasisme rasisme yang dilakukan zionis. Buya Syafii Maarif sendiri pernah mengatakan bahwa kalau dunia ini ingin damai, maka kaum zionis ini mesti dikirim ke planet lain. Harun Yahya pernah mengutip pernyataan Rabbi Hirsch, salah seorang tokoh agamawan Yahudi terkemuka. Rabbi tersebut mengatakan:
‘Zionisme berkeinginan untuk mendefinisikan masyarakat Yahudi sebagai sebuah bangsa …. ini adalah sesuatu yang menyimpang (dari ajaran agama)’. (Washington Post, 3 Oktober 1978).

Lalu, seorang pemikir terkemuka, Roger Garaudy, menulis tentang masalah ini:
Musuh terbesar bagi agama Yahudi adalah cara berpikir nasionalis, rasis dan kolonialis dari Zionisme, yang lahir di tengah-tengah (kebangkitan) nasionalisme, rasisme dan kolonialisme Eropa abad ke-19. Cara berpikir ini, yang mengilhami semua kolonialisme Barat dan semua peperangannya melawan nasionalisme lain, adalah cara berpikir bunuh diri. Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada perdamaian di Timur Tengah kecuali jika Israel telah mengalami “de-Zionisasi” dan kembali pada agama Ibrahim, yang merupakan warisan spiritual, persaudaraan dan milik bersama dari tiga agama wahyu: Yahudi, Nasrani dan Islam. (Roger Garaudy, “Right to Reply: Reply to the Media Lynching of Abbe Pierre and Roger Garaudy”, Samizdat, Juni 1996).

Dari pemahaman di atas kami ingin menekankan bahwa Yahudi bukan entitas tunggal, melainkan beragam sehingga saya lebih setuju kalau kita menyebut diri kita anti zionis daripada anti yahudi. Islam pun ternyata bukan entitas tunggal melainkan beragam, maka setujukah anda kalau Islam dicap sebagai teroris? Tidak kan? Ya sama dengan yahudi, mereka pun tidak mau digeneralisir hanya karena kelakuan sekelompok fasis dan rasis dari mereka yang bernama zionis.

Selanjutnya mengenai pidato Pak Din dalam kongres Yahudi, apakah itu dibenarkan? Apakah berarti Pak Din tidak punya wala dan bara terhadap Islam? Sebelum membahas tersebut kami ingin menceritakan bahwa jauh-jauh hari sebelum Pak Din berpidato di kongres Yahudi, perdana menteri Turki Recep Tayyib Erdogan telah membuka hubungan diplomatic dengan Israel. Erdogan adalah presiden yang diusung oleh Partai AKP Turki yang notabene merupakan cabang dari ikhwanul muslimin Mesir.

Sikap Erdogan ini memang sangat kontroversial, namun ternyata beliau tidak salah memilih, dikarenakan lobi-lobi Erdogan, Palestina bisa diakui oleh PBB. Selengkapnya bisa dibaca disini: Erdogan itu lho sudah membuka hubungan Turki dengan Israel, Pak Din Cuma pidato di Kongres Yahudi, malah dibesar-besarkan oleh nahimunkar.com seolah-olah pak Din adalah musuh umat Islam. Cape deh!

Lagi pula justru ketika pak Din berkesempatan ceramah di hadapan Yahudi, justru kita harusnya bersyukur karena Pak Din mempunyai kesempatan untuk menyampaikan aspirasi umat Islam. Siapa tahu yahudi yang diceramahi oleh Pak Din itu bisa luluh dan menjadi membenci zionis.

Lalu nahimunkar mengatakan kalau pak Din ceramah di kongres Yahudi harusnya Pak Din mengajak kaum yahudi masuk Islam donk, seperti Nabi Muhammad saw. dahulu.

Saya memang pernah mendengar Pak AR. Fakhruddin alm. Mantan ketua PP Muhammadiyah dahulu mengirim surat kepada Paus agar masuk Islam. Entah kami kurang tahu kebenaran cerita tersebut. Namun seandainya cerita tersebut benar maka kami akui sangat hebat sekali pak AR Fakhruddin itu. Namun pertanyaannya mengapa Pak Din tidak melakukan hal tersebut? Sebelumnya kami ingin coba membedakan dahulu antara Islam sebagai ajaran dan Islam sebagai institusi agama.

Pada awal disebarkan oleh Rasulullah saw. Islam adalah sebuah ajaran yang berisi dengan nilai-nilai yang mulia, misalnya tauhid, keadilan, rahmat dll. Baru setelah

Rasulullah meninggal, ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. diinstitusikan oleh umat Islam pasca Rasulullah saw. sehingga Islam tidak hanya sebagai ajaran-ajaran moral keagamaan, namun menjadi institusi keagamaan. Pak Din Syamsudin memang tidak mengajak orang untuk masuk ke institusi agama Islam. Namun setidaknya Pak Din menyerukan mengenai nilai-nilai Islam dalam ceramahnya tersebut, misalnya mengenai pentingnya membangun hubungan yang harmonis di antara umat beragama, pentingnya membangun keadilan social dan mengimplementasikan sebagai rahmat bagi alam semesta.

Mengapa Pak Din tidak mengajak orang kepada institusi agama Islam dan hanya menyampaikan nilai-nilai Islam saja? Saya fikir lebih ke pertimbangan kemashlahatan, mengingat dalam catatan sejarah kita sudah sangat bosan mendengar konflik antar berbagai institusi agama dikarenakan motif politik, social dan ekonomi. Padahal ajaran-ajaran sejati dari agama-agama tersebut tidak ada yang mengajarkan bahwa antar umat beragama harus saling berperang. Kalaupun ada ayat-ayat Al Quran atau hadits menyebut mengenai peperangan maka ayat tersebut bukanlah prinsip moral utama, melainkan sebagai sebuah respon terhadap situasi social dan politik pada waktu itu. Maka dari ituakhir-akhir ini sedang digalakan program dialog antar-agama untuk perdamaian.

Tercatat Pak Din Syamsudin dari Muhammadiyah dan KH. Hasyim Muzadi dari NU yang menjadi orang penting dalam WCRP (World Conference Religion for Peace) Forum. Lalu salah seorang pemikir bernama Hans Kung pun membuat rumusan mengenai global ethic, yaitu etika global yang menjadi kesepakatan antara berbagai ajaran agama. Ada sebuah pepatah Perancis le histoire repete, sejarah itu selalu berulang. Dalam sejarah institusi-institusi agama alih-alih membangun peradaban, malah saling berperang. Apakah kita mau mengulangi sejarah yang sama? Bukankah seorang mukmin itu tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya?

Pada akhir tulisan ini, kami berpendapat bahwa memang kita mesti kritis dalam membaca pemberitaan baik di media cetak, elektronik atau online. Sudah ada ilmu yang mempelajari cara membaca pemberitaan sehingga tidak sesat fikir dalam mengambil kesimpulan. Orang-orang menyebutnya analisis wacana, sayangnya saya belum mempelajari analisis wacana tersebut.

Web nahimunkar.com ini saya mendukung kalau memang ingin melakukan nahimunkar, karena hal tersebut merupakan bagian dari ajaran agama. Namun ingat, nahyi munkar itu jangan dengan cara yang munkar. Kata Imam Al Ghazali kalau kita ingin menghapus kemunkaran namun dengan cara yang munkar, sama saja dengan kita ingin mencuci baju tapi dengan air kencing, bukannya bersih malah semakin bau.

Banyak sekali kitab-kitab mengenai amar makruf nahyi munkar yang ditulis oleh para ulama mulai generasi salaf, generasi imam madzhab, generasi pasca imam madzhab sampai generasi kontemporer. Di sana dijelaskan dalam melakukan amar makruf nahyi munkar terhadap ulil amri tidak boleh dengan menjelek-jelekannya di depan umum, namun datangi ke rumahnya, dan langsung berbicara dari hati ke hati dengan ulil amri tersebut, seingat kami ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah. Pak Din ini adalah ulil amri Muhammadiyah, kalau memang mau mengkritik secara efektif, ya datangi langsung. Tentu di era demokrasi boleh mengkritik di media. Namun caranya santun, bukan dengan agitasi dan provokasi seperti web nahimunkar.

Admin web nahimunkar.com tidak pernah melakukan reportase atau wawancara dengan Pak Din atau PP Muhammadiyah maupun tokoh – tokoh Muhammadiyah yang secara keseharian berinteraksi dengan Pak Din. Web nahimunkar.com hanya mengcopas berita dari media – media lain kemudian dirangkai dan hanya menghasilkan kesimpulan yang sangat lemah karena data dan informasi yang diterima tidak langsung dari sumber tetapi dari cerita orang lain (testimonium de auditu) yang kebenaranyya tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Cara-cara web nahimunkar dalam memuat berita sangat jauh dari prinsip – prinsip jurnalisme bahkan pemberitaan yang hanya untuk menjatuhkan kredibilitas seseorang tanpa didukung data dan informasi yang valid mengingatkan kami terhadap agitasi dan propaganda Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sekarang dilarang. Coba kita lihat sejarah PKI, gaya-gaya PKI itu sudah banyak ditiru oleh media – media saat ini hal yang sejujurnya membuat kita miris. Katanya kita punya teladan Rasulullah, meniti jejak para sahabat dan salafush shaleh, mustinya itu yang kita tiru.

Kata Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution, suatu ilmu itu mempunyai paradigmanya tersendiri. Paradigma ini sering kita sebut dengan perspektif, worldview atau sudut pandang.

Ahlus sunnah mengikuti yang benar dari Tuhan yang dibawa oleh Rasul, mereka tidak mengkafirkan orang yang tidak bersepakat dengan mereka. Malahan mereka inilah yang lebih tahu tentang yang benar,lebih mencintai sesama manusia, sebagaimana Tuhan menggambarkan orang2 yang pasrah (muslimuun) itu dengan firmannya:
“Kamu adalah sekalian umat terbaik yang diketengahkan bagi sesama manusia” (Ali Imran: 110). (Ibnu Taimiyah, Al Muntaqaa min minhaajil i’tidaal, hal. 328).

Apa yang dilakukan Pak Din Syamsuddin ini adalah sesuai dengan nasehat Ibnu Taimiyah di atas, yakni bersikap adil, moderat dalam menyikapi pemahaman yang berbeda dengan kita. Kalaupun kita tidak setuju maka jalan yang terbaik adalah dengan dakwah:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl: 125).

Kalaupun orang-orang yang didakwahi malah berpaling, maka kita tidak punya wewenang apapun untuk memaksa mereka mengikuti apa yang kita yakini.

 

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS 10: 99).

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. 2:272).

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa (untuk memaksa) mereka (QS 88:21-22).

 

Sumber: Website Sang Pencerah

%d blogger menyukai ini: