Jejak Syiah di Nusantara: Studi Historis-Etnografis

Menurut A. Hasmy (1995) dan Ambary (1993), berdasarkan studi filologis atas Kitab Idrahul-Haq Fi Mamlakah Ferlak, penetrasi Syiah terjadi sejak awal perkembangan Islam ketika pada 172 H/764 M, karena tekanan politik penguasa Bani Abbasiyah, kyang terdiri dari orang-orang Persian, Arab dan Idian bermigrasi ke Nusantara yang kemudian mendirikan Kesultanan Islam Peureulak di Aceh /840 dengan Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah sebagai sultannya yang pertama.

Geneologi lengkapnya menurut MUI Kabupaten Aceh Timur adalah Sayyid Abdul Aziz bin Sayyid Ali bin Sayyid Muhammad al-Diba’ bin Imam Ja’far al-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam Ali Zaenal Abidin bin Imam Husein bin Imam Ali dan Fatimah binti Muhammad Rasulullah.

Dimasti sayyid tersebut berkuasa hanya sampai lima generasi, karena pada tahun 306/918 kaum sunni berhasil menumbangkan Kesultanan Si’ah Peureulak dan menganggat Alaidin Malik Abdulkadir Syah Johan Berdaulat sebagai sultan dari Dinasti Makhdum, yakni keturunan bangsawan penduduk pribumi, hingga pada masa Sultan Makhdum Alaidin Abdulmalik Syah Johan Berdaulat yang memerintah pada tahun 334-361/946-973.

 

Kaum syi’ah bangkit kembali melakukan pemberontakan yang apada akhirnya wilayalaj Kesultanan Peureulak dibagi dua, yakni: Peureulak Pesisir dengan ibukotanya bandar Peurelak dan Sultannya Alaidin Sayyid Maulana Mahmud Syah (365-377/976-988); dan Peurelak Pedalaman untuk kaum sunni dengan ibukotanya bandar Khalifah dan sultannnya makhdum Alaidin malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (365-402/976-1012).

Pada 375/986 Kerajaan Sriwijaya menyerang Kesultanan Peureulak dan dalam peperangan tersebut Sayyid Maulanan Mahmud Syah syahid, sehingga dengan demikian Sultan Makhdum Alaidin Malik Ibrahim Syah Berdaulat dari kaum Sunni menjadi penguasa tunggal Kesultanan Peureulak hingga generasi ke-14. Pda akhirnya Kesultanan Peureulak digabubungkan kedalam Kesultanan Samudra Pasai (1285-1478 M) dengan Malik al-Saleh sebagai sultannya yang pertama. Setelah runtuhnya Kesultanan Samudra Pasai, kemudian berdiri Kesultanan Aceh Darrussalam.

Proses difusi Islam di Nusantara secara massif terjadi sejak abad ke-12 M. Islam berangsur-angsur melampaui daerah pantai Sumatra dan Semenanjung Melayu, ke pantai utara pulau Jawa dan beberapa pulau di bagian Timur nusantara, hingga pada abad ke-16 sampai ke-18 berdiri kesulatan Demak, Mataram, Banten, Makassar dan Ternate Tidore. Para sufi -terutama keturunan Ahlul-bayt Nabi memainkan peranan yang signifikan dalam proses Islamisasi Nusantara.

Para sufi di Jawa pada abad ke-15 sampai ke-16 dikenal sebagai Wali Songo. Kesembilan Wali tersebut -kecuali Sunan Kalijaga dan Sunan Muria- secara geneologis adalah keturunan Ahlul-Bayt Nabi yang dikenal sebgai Sayyid Hadrami (berasal dari Hadramaut, Yaman).

Menurut Bruinessen (1995) dan al-Baqir (1998), semua sayyid Hadrami, adalah keturunan dari Imam Syiah keenam, Imam Ja’far as-Shadiq, melalui cicitnya Ahmad Muhajir, keturunan Nabi yang menetap di Hadramaut. Sayyid Ahmad Muhajir berasal dari Kota Basrah (Irak), karena tekanan politik rezim Bani Abbasiah, ia bersama kelaurga dan pengikutnya bermigrasi ke Hadramaut pada paruh pertama abad ke-4 H/10M.

Di Hadramaut, Ahmad Muhajir berhadapan dengan kaum khawarij yang ekstrim dan membenci Syiah sehingga ia melakukan taqiyah dengan mengikuti mazhab syafi’i.

Proses adaftasi kultural (taqiyyah) tersebut dalam perkembangannya sejarahnya membentuk tradisi keagaman sinkretik anata faham syiah dengan faham sunni mazhab syafi’i, hingga pada abad ke 7 H / 13 M. para sayyyid Hadrami lebih berorientasi kepada mistisme Islam (tassawuf).

JUMADI KUSUMA, alumni Antropologi FISIP Universitas Padjajaran Bandung

Rujukan:

  1. Hasmy, A. 1995 Aceh: Kerajan Islam Pertama di Asia Tenggara. Dalam Lima puluh tahun Aceh membangun. banda Aceh: Majelis Ulama Indonesia Provinsi Istimewa Aceh.
  2. 1983. Syiah dan ahlussunah saling rebut pengaruh dan kekuasan sejak awal sejarah Islam di kepulauan Nusantara.
  3. Al-Baqir, M. 1986. Pengantar tentang kaum alawiyyin. Dalam A.S.A. haddad, Thariqah menuju kebahagiaan, bandung:Mizan.
  4. Bruinessen, M.V. 1995.Kitab Kuning, peantren, dan tarekat; Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. bandung:Mizan.

sumber : Misykat

%d blogger menyukai ini: