Imam Ali: Hemat Menggunakan Harta Baitul Mal

Imam Ali bin Abi Thalib as dalam khutbah 15 mengatakan, “Demi Allah, seandainya saya mendapatkan uang Baitul Mal telah dipergunakan untuk menikahkan perempuan atau membeli budak untuk dibebaskan, pasti kuambil kembali uang itu. Sesungguhnya dalam masalah keadilan ada keleluasaan. Siapa saja yang sulit berlaku adil, maka lebih sulit baginya untuk berbuat ketidakadilan.”

Ucapan ini disampaikan Imam Ali as ketika berhasil mengembalikan hadiah yang diberi Utsman bin Affan kepada orang. Dinukil oleh Ibnu Abbas, Imam Ali as menyampaikan ucapannya ini di hari kedua pasca pembaitan masyarakat kepadanya. Sebelumnya, Utsman banyak membagikan tanah umat Islam kepada keluarga dan sahabatnya yang tidak punya peran bagi Islam dan umat Islam. Imam Ali menyampaikan ucapannya ini terkait upayanya mengembalikan harta Baitul Mal yang telah dikeluarkan dengan tidak sah.

Pasca pembaiatannya sebagai khalifah, Imam Ali as mengeluarkan perintah: “Semua senjata yang berada di rumah Utsman dan digunakan terhadap Muslimin sendiri, unta hasil zakat dan semua harta yang ia dan sahabatnya ambil dan pergunakan dari Baitul Mal di mana saja ditemukan harus diambil dan dikembalikan ke Baitul Mal.”

 

Berita ini sampai juga ke Ilah, sebuah daerah Syam kepada Amr bin Ash. Setelah itu ia menulis surat kepada Muawiyah yang isinya mengingatkannya agar segera melakukan sesuatu. Karena anak Abu Thalib akan mengambil semua kekayaan yang engkau kumpulkan selama ini. (Syarah Ibnu Abil al-Hadid, jjilid 1, hal 269-270).

Imam Ali bin Abi Thalib kw dalam khutbah 15 mengatakan, “Demi Allah, seandainya saya mendapatkan uang Baitul Mal telah dipergunakan untuk menikahkan perempuan atau membeli budak untuk dibebaskan, pasti kuambil kembali uang itu. Sesungguhnya dalam masalah keadilan ada keleluasaan. Siapa saja yang sulit berlaku adil, maka lebih sulit baginya untuk berbuat ketidakadilan.”

Ucapan ini disampaikan Imam Ali as ketika berhasil mengembalikan hadiah yang diberi Utsman bin Affan kepada orang. Dinukil oleh Ibnu Abbas, Imam Ali as menyampaikan ucapannya ini di hari kedua pasca pembaitan masyarakat kepadanya. Sebelumnya, Utsman banyak membagikan tanah umat Islam kepada keluarga dan sahabatnya yang tidak punya peran bagi Islam dan umat Islam. Imam Ali menyampaikan ucapannya ini terkait upayanya mengembalikan harta Baitul Mal yang telah dikeluarkan dengan tidak sah.

Pasca pembaiatannya sebagai khalifah, Imam Ali as mengeluarkan perintah: “Semua senjata yang berada di rumah Utsman dan digunakan terhadap Muslimin sendiri, unta hasil zakat dan semua harta yang ia dan sahabatnya ambil dan pergunakan dari Baitul Mal di mana saja ditemukan harus diambil dan dikembalikan ke Baitul Mal.”

Berita ini sampai juga ke Ilah, sebuah daerah Syam kepada Amr bin Ash. Setelah itu ia menulis surat kepada Muawiyah yang isinya mengingatkannya agar segera melakukan sesuatu. Karena anak Abu Thalib akan mengambil semua kekayaan yang engkau kumpulkan selama ini. (Syarah Ibnu Abil al-Hadid, jjilid 1, hal 269-270)

Melindungi Baitul Mal

Imam Ali as senantiasa berusaha mencegah karyawannya untuk tidak melakukan israf atau berlebih-lebihan sambil mengajak mereka untuk berhemat dan menggunakan harta Baitul Mal dengan cara tepat guna. Beliau mengatakan, “Tajamkan alat tulis kalian dan jarak antara satu baris dengan yang lainnya usahakan tidak berjauhan. Jangan sampai berlebihan dalam menggunakan harta Baitul Mal. Karena harta umat Islam tidak boleh merugi.”

Banyak surat Imam Ali as yang dikumpulkan di Nahjul Balaghah yang isinya bertujuan untuk mengawasi perilaku para pejabat agar tidak menggunakan harta Baitul Mal seenaknya. Menurutnya, pengawasan terhadap perilaku dan kinerja para pejabat pemerintahan merupakan kewajiban penting pemimpin Islam guna menciptakan keadilan sosial.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Ziyad bin Abihi, Wakil Gubernur Basrah, beliau menulis, “Sesungguhnya aku bersumpah demi Allah! Bila sampai ada laporan kepadaku bahwa engkau mengkhianati harta umat Islam, maka aku akan bersikap keras, sehingga engkau tidak mampu memenuhi kebutuhan keluargamu.”

Ketika ada laporan yang sampai kepada beliau tentang pengkhianatan seorang dari pegawainya, dengan segera Imam Ali as menulis surat yang isinya, “… Telah sampai informasi kepada saya bahwa engkau memanen di sebuah tanah pertanian dan semua hasilnya engkau kumpulkan untuk sendiri dan tidak memberikan sedikitpun kepada rakyat. Semua harta Baitul Mal engkau kumpulkan untuk dirimu sendiri. Oleh karenanya, engkau harus segera mengirimkan laporan pekerjaan dan kekayaanmu kepadaku. Ingat bahwa di Hari Kiamat Allah Swt yang menjadi penghisab amal perbuatan kita dan lebih teliti dari penghitungan yang dilakukan manusia. Karena dalam masalah ini mungkin saja ada yang menulis laporan tidak sesuai dengan kenyataan atau berbohong, tapi di Hari Kiamat segalanya akan menjadi jelas dan semuanya akan ditunjukkan.”

Imam Ali as berharap para pegawainya berlaku sedemikian rupa sehingga rakyat merasa yakin adanya penerapan keadilan dalam pemerintahan Islam. Dalam suratnya kepada Muhammad bin Abu Bakar, Gubernur Mesir, beliau menulis, “Bersikap rendah hati kepada rakyat. Bersikap lembut dan penuh kasih sayang. Berlapang dada dan senantiasa tersenyum. Upayakan untuk bersikap adil saat memandang masyarakat, sehingga orang-orang yang kuat dan zalim tidak tamak kepadamu, sementara orang-orang tidak mampu putus asa dari sikap adilmu.”

Imam Ali as tidak mengenal teman dan keluarga ketika melindungi Baitul Mal. Beliau mengatakan, “… Telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau menggunakan harta Baitul Mal yang seharusnya diberikan kepada para janda dan anak yatim… Takutlah kepada Allah! Kembalikan harta mereka dan bila engkau tidak melakukannya, Allah Swt akan memberi kesempatan kepadaku untuk menjatuhkan hukuman kepadamu… Demi Allah! Bila Hasan dan Husein melakukan hal seperti yang engkau lakukan, mereka tidak akan melihat wajahku yang ramah dan mereka tidak akan sampai pada apa yang diinginkannya sampai aku menjalankan kebenaran dan menghancurkan kebatilan yang berujung pada kezaliman.”

Imam Ali as dalam sebuah surat kepada Mishqalah bin Hubairah as-Syaibani, Gubernur Ardeshir Khurrah menulis, “… Telah sampai kepadaku sebuah laporan bahwa engkau telah membagikan harta pampasan perang milik umat Islam yang didapat lewat senjata dan kuda mereka, bahkan banyak yang gugur syahid dalam perang ini kepada orang-orang dari kabilahmu. Bila laporan ini benar, engkau akan menjadi hina dihadapanku dan nilaimu menjadi rendah. Ketahuilah bahwa harta umat Islam yang ada padamu dan padaku harus dibagi secara adil. Sekarang mereka semua harus menghadapku dan bagianmu ambil dariku.”

Menurut Imam Ali as mengawasi kinerja bawahan dan bila perlu memberhentikan mereka bila berkhianat dan memanfaatkan harta Baitul Mal untuk dirinya sendiri termasuk kewajiban penting seorang pemimpin untuk memajukan masyarakat Islam. Dengan dasar ini dan sesuai dengan pentingnya melaksanakan undang-undang dalam menggunakan Baitul Mal, Imam Ali as berpesan kepada Malik al-Asytar agar menaati undang-undang dalam menggunakan Baitul Mal. “Hindari menggunakan sesuatu dari Baitul Mal yang merupakan milik semua rakyat untuk  dirimu sendiri.”

Pembagian Baitul Mal 

Sumber-sumber sejarah mengutip betapa detilnya Imam Ali as mengawasi harta milik bawahannya. Bila ada dari mereka yang tiba-tiba memiliki harta yang tidak diduga-duga baik rumah, tanah dan lain-lain, dengan segera beliau meneliti sumbernya. Bila ada bawahannya yang mengambil bagian lebih banyak untuk dirinya dari Baitul Mal, beliau segera menindak tegas. Itulah mengapa banyak dari mereka yang tamak akan harta Baitul Mal yang kemudian memisahkan diri dari beliau dan bergabung dengan Muawiyah. Sebut saja seperti Yazid bin Hujjiah, Mishqalah bin Hubairah, Nu’man bin Ajalan yang bergabung dengan Muawiyah setelah berkhianat terkait penggunaan Baitul Mal.

Amirul Mukminin Ali as dalam membagi harta Baitul Mal tidak pernah bersikap diskriminasi dengan melihat etnis, kelompok, geografi dan dari kabilah mana. Beliau membagi dengan adil antara Arab dan Ajam. Suatu hari dua perempuan miskin, dimana seorang berasal dari Arab dan yang satunya Ajam yang baru dibebaskan dari perbudakan, mendatangi Imam Ali as dan menyatakan membutuhkan sesuatu. Dengan segera Imam Ali as memberintahkan agar memberikan kepada masing-masing gandum dan uang 40 dirham. Perempuan Ajam mengambil bagiannya dan langsung pergi, tapi perempuan Arab tetap di situ dan berkata, “Mengapa engkau memberi bagianku sama dengan dia, padahal aku lebih mulia darinya?” Imam Ali as menjawab, “Dalam al-Quran disebutkan bahwa anak-anak Ismail tidak lebih mulia dari anak-anak Ishaq, yang lahir dari dari budak.” (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

%d blogger menyukai ini: