Hubungan Umar Bin Khattab dan Khalid bin Walid (2)

Sepeninggal Nabi Saw, kaum muslimin sahabat Nabi Saw mengalami pasang surut dalam mengawal kelanjutan perjuangan Islam yang telah dicanangkan oleh Nabi Saw. Berbagai tantangan muncul, mulai dari persoalan siapa yang akan menjadi khalifah pengganti Nabi Saw, perlawanan nabi-nabi palsu dan kelompoknya, perlawanan kelompok yang murtad, bahkan persoalan internal antar sahabat. Namun dengan bimbingan Allah Swt, para sahabat Nabi Saw berhasil melewati masa-masa sulit tersebut.

Tetapi, ada beberapa fragmen sejarah tersebut yang dijadikan pembenaran bagi kelompok tertentu untuk menafikan kelompok lainnya. Tentu saja ini tidak benar. Pengetahuan tentang sejarah Islam bukanlah untuk mengkotak-kotakkan ummat, tetapi menjadi pijakan bahwa sikap saling menghormati dalam keragaman pendapat adalah sebuah keharusan.


Sikap Khalid

Tetapi bagaimana ia bisa keluar dari situasi yang sangat hina ini? Bilal berdiri menanyakannya: Yang diberikan kepada Asy’as sepuluh ribu itu dari hartanya sendiri atau dari harta perolehan perang? Dan dengan taat Bilal tidak membuka ikatan itu sebelum ia menjawab. Akan teruskah ia tidak menjawab dan pemandangan yang hina ini akan berlangsung lama? Atau akan mencabik ikatan itu dengan tangannya sendiri dan meletakkan kembali topi kehormatan di kepalanya dan menatap semua yang hadir dengan pandangan mat a yang mematikan, yang sudah tidak asing lagi bagi kawan dan lawan seraya berkata kepada mereka: Saya tidak akan menjawab. Terserah Umar apa yang akan diperbuatnya! Tetapi dia adalah prajurit sejati, dia salah seorang prajurit dari pasukan Mukminin, dan Umar adalah Amirulmukminin. Dia yang ‘dengan pedangnya telah menebas kaum murtad pembangkang tatkala mereka memberontak, berusaha hendak menyaingi kepemimpinan Abu Bakr. Memberontakkah ia kepada Umar lalu menyaingi hak-hak kepemimpinannya? Tidak! Imannya kepada Allah lebih besar daripada akan memberontak kepada orang yang oleh kaum Mukminin telah diserahi pimpinan. Oleh karena itu, ketika Bilal berulang-ulang mengajukan pertanyaan: Dari harta Andakah yang Anda berikan atau dari harta perolehan perang, ia menjawab: Dari harta saya pribadi!

Timbul gempar di kalangan Muslimin ketika mendengar kata-kata itu. Mereka girang bahwa Khalid sudah bicara. Terbayang oleh kebanyakan mereka, bahwa segalanya kini sudah selesai, dan dia akan kernbali seperti semula memimpin wilayahnya di Kinnasrin, lalu sejarah pun akan dilupakan dan segala peranannya dengan apa yang telah terjadi akan dilupakan pula. Mereka merasa lebih tenang lagi karena tak lama setelah Bital mendengar kata-kata Khalid, ia dilepas, dan topi kehormatannya dikembalikan dan dikenakannya sendiri dengan tangannya seraya berkata: “Kita taat dan patuh kepada pemimpin-pemimpin kita, kita menghormati dan mengabdi kepada semua rakyat kita.”

Khalid keluar dari rnajelis itu dan orang banyak pun bubar. Mereka berkata satu sama lain, mereka berlainan pendapat satu sama lain. Satu pihak berpendapat bahwa Amirulmukminin benar. Dalam mengadili Khalid, ia tidak membedakan-bedakan, sama seperti ketika mengadili wakil-wakilnya yang lain. Yang sebagian lagi berpendapat bahwa Khalid pemimpin militer Muslimin yang terbaik dan terbanyak memperoleh kemenangan, maka jika akan menilai kesalahan-kesalahannya seharusnya juga disertai penilaian terhadap jasa-jasanya yang begitu agung, dan jika Umar mau mengadilinya, seharusnya ia dipanggil dan diadili sendiri dan jangan disidangkan sebagai tertuduh kejahatan di tengah-tengah pasukan yang sangat rnenghormati dan rnengaguminya. Orang-orang yang sudah begitu fanatik kepada Khalid, penghinaan semacam itu sungguh telah menimbulkan kemarahan dalam hati mereka. Mereka lalu teringat pada peranan Umar tatkala baru rnenggantikan Abu Bakr dan pemecatan Khalid dari pimpinan militer. Mereka pula yang menduga bahwa Amirulmukminin memperlakukan Khalid dengan penghinaan serupa itu karena ia iri hati kepadanya rnengingat orang sudah begitu fanatik dan mencintainya. Itu hanya persaingan yang membangkitkan soal lama, yang tak ada hubungannya samasekali dengan keadilan.

Rasa terkejut Khalid tidak hilang begitu saja sesudah pertemuan itu. Dalam hati ia masih bertanya-tanya, bercampur bingung: Apa maunya Umar gerangan dengan dia? Tidak wajar rasanya jika jawabannya cukup bahwa hadiah yang diberikannya kepada Asy’as dari hartanya sendiri, dan sudah tentu dia sudah menulis kepada Abu Ubaidah lebih dari apa yang sudah terjadi itu. Andaikata maksudnya tidak sekadar untuk mengetahui asal usul yang sepuluh ribu itu, niscaya cukup Abu Ubaidah saja menanyakan kepada Khalid dan rnenyampaikan jawabannya kepada Amirulmukminin. Bahwa dia sampai disidangkan di tengah-tengah orang banyak dengan begitu hina, tentu ada masalah lain di balik itu. Dan masalah itu tentu penting sekali, terbukti dari kebingungan Abu Ubaidah sendiri hingga ia memilih diam. Untuk menghilangkan kebingungannya dan untuk mengetahui berita dengan sejelas-jelasnya haruskah Khalid menanyakah sendiri kepada Abu Ubaidah? Ia membicarakan masalah ini kepada beberapa orang stafnya. Mereka mengatakan kepadanya bahwa orang ramai bicara bahwa dia mengatakan, uang yang dihadiahkan kepada Asy’as itu dari harta perolehan perang dan dia akan dipersalahkan dan Abu Ubaidah akan mengembalikannya ke tempat tugasnya. Perlukah kiranya ia menemui Abu Ubaidah dan membisikkan kepadanya apa yang sebenarnya dikehendaki Umar supaya ia dikembalikan ke Kinnasrin? Dalam hal ini ia masih maju mundur sesudah ia bertanya-tanya dalam hatinya. Kalau ia lakukan hal itu dan orang tahu, martabatnya di mata mereka akan jatuh, kepercayaan mereka kepadanya akan hilang.

Ia pergi menemui saudara perempuannya, Fatimah binti Walid, untuk dimintai pendapat. Saudaranya itu mengatakan: “Umar memang tak pernah mencintaimu. Keinginannya hanya supaya Anda mendustakan hatimu, kemudian ia akan memecatmu.” Khalid setuju dengan pendapatnya itu, dan sambil mencium kepala Fatimah ia berkata: “Andabenar.” Ia hanya tinggal menunggu apa yang akan terjadi atas dirinya.

Sementara itu sedang terjadi di Hims, di Medinah Umar sedang menunggu kedatangan Khalid dalam keadaan yang sudah dipecat dari jabatannya. Samasekali tak terlintas dalam pikirannya, bahwa Abu Ubaidah akan menahan penyampaian soal pemecatan itu atau akan membiarkan Khalid tetap bertugas dalam jabatannya sesudah ia dibebaskan dari jabatan itu. Setelah lama ia menunggu dan Khalid pun tidak muncul, timbul dugaannya apa yang sudah terjadi itu. Ia sudah dapat menangkap, bahwa Abu Ubaidah dengan segala kehalusan budinya, kelambanan dan sikap rendah hatinya, ia memperkirakan kesedihan yang akan menimpa hati Khalid bila mengetahui tujuan yang diinginkan Amirultnukminin, dan sebagai akibat kegelisahan Muslimin dan pasukannya yang akan timbul pada saat-saat yang sangat diperlukan oleh Abu Ubaidah untuk menghindari segala macam kegelisahan dan fitnah. Adakah kita mengira bahwa Aminul Ummah masih mengharapkan Umar akan menarik kembali perintahnya. Jika keadaan sudah tenang dari nafsu marahnya ia akan menulis surat kepadanya supaya Khalid dikembalikan ke tempat tugasnya semula. Itu sebabnya ia diam dan akan bersabar sampai badai itu lalu dan orang sudah tak lagi melihat bekasnya. Terpikir oleh Amirulmukminin bahwa memang perasaan ini yang mungkin bergejolak dalam hati Abu Ubaidah, sehingga dengan ketenangan hatinya, dengan sikapnya yang selalu berkepala dingin serta keteguhannyahatinya, ia tak sampai hati melaksanakan sendiri tuduhan itu. Karenanya ia kemudian menulis surat kepada Khalid memintanya datang untuk memberitahukan persoalan yang oleh Abu Ubaidah masih ditahan-tahan penyampaiannya. Sesudah Khalid menerima surat itu, tersentak hatinya. Ia melihat apa yang dilakukan Abu Ubaidah itu karena kasihan kepadanya, padahal dia sendiri adalah orang yang suka mengejek perasaan kasihan dan tidak mengenalnya. Ia pergi menemui Abu Ubaidah dengan hati yang bergejolak antara rasa cintanya dengan rasa marah kepadanya.

“Semoga Allah memberi rahmat kepada Anda!” katanya setelah menemuinya. “Apa maksud Anda dengan tindakan Anda itu?! Anda merahasiakan soal yang tadinya sangat ingin saya ketahui!”

Tetapi Abu Ubaidah menjawab dengan kata-kata penuh rasa kasih sayang: “Saya tidak ingin mengejutkan dan membuat Anda terharu dalam hal yang pasti akan demikian. Saya tahu ini akan sangat mengejutkan dan mengharukan Anda.”

Khalid Pergi ke Medinah dan Menemui Umar

Tak ada jalan lain buat Khalid harus pulang ke Medinah sebagai orang yang sudah dipecat, untuk menemui Amirulmukminin. Dia keluar menuju Kinnasrin dengan hati yang masih bergolak, dengan kemarahan yang hampir merobek-robek jantungnya. Inikah balasan atas segala yang sudah dipersembahkannya?! Adakah Umar masih menyembunyikan dendamnya yang lama kepadanya? Selama tahun-tahun itu ia mengabdi kepadanya karena kekuatan tenaganya dan kejeniusannya dalam perang sangat diperlukan. Tetapi sesudah merasa mampu sendiri, tenaganya sudah tidak lagi diperlukan, mencari-cari kelemahannya tidak dapat, lalu cerita Asy’as dan hadiahnya itu yang dipakai alasan dalam mengarang sebuah drama untuk memecatnya dari tugas, setelah harga dirinya diinjak-injak dan kehormatannya dicampakkan ke tanah di depan umum?! Sungguh dia pendendam yang tak pernah melupakan dendamnya! Boleh jadi dendam itu makin membara setiap bintang Khalid bertambah cemeriang dan membuatnya makin membubung tinggi. Andaikata ia dipecat dari semua tugas itu saat ia naik sebagai Khalifah tentu masih dapat dimaafkan, karena ia pernah menyarankannya kepada Abu Bakr tetapi tidak dilaksanakan, dan baru terlaksana sesudah kemudian dia yang menggantikan kedudukannya. Bahwa selama empat tahun dibiarkan ia memimpin pertempuran, menaklukkan lawan dalam perang, menundukkan semua pasukan musuh, menguasai Damsyik dan Yordania, Hims dibebaskan dan dengan paksa menaklukkan Kinnasrin, Halab kembali menjadi patuh, mengusir Heraklius dari Suria, terus menyeberangi Qilqiah ke Armenia, dan terus bersambung ke Irak dan Syam. Sesudah semua itu, sekarang ia akan dipecat dengan tuduhan berkhianat atau pemborosan.

Tuduhan pengkhianatan itulah yang sungguh tak mampu Khalid menanggungnya, dan yang terhadap wakil-wakilnya yang lain pun memang sudah tak ada ampun lagi dari sikap Umar yang keras. Khalid tidak membuat kesalahan dan tidak melakukan pelanggaran. Mana pula kekayaannya dibandingkan dengan perjuangan yang luar biasa itu! Apa pula prestasi mereka dibandingkan dengan prestasinya! Memang tak perlu diragukan, mereka adalah orang-orang yang berjasa besar. Kemenangan Sa’d bin Abi Waqqas di Kadisiah dan yang telah membebaskan Mada’in, mengusir Yazdigird ke Ray, semua itu merupakan tindakan kepahlawanan yang sungguh gemilang. Kemudian Amr bin As membebaskan Baitulmukadas adalah kemenangan besar yang tiada taranya. Tetapi Khalid, dialah yang pertama telah berjasa membebaskan Irak dan Syam. Dialah yang telah menundukkan Kisra dan menundukkan Kaisar, dia yang telah membuka pintu lebar-Iebar untuk perjalanan Muslimin ke mana pun dikehendaki. Dan kalaupun hadiah kepada Asy’as itu suatu perbuatan yang buruk, di mana pula tempatnya firman Allah ini: “Segala perbuatan baik dapat menghilangkan segala perbuatan buruk.” (Qur’an, 11:114). Biarlah Allah juga yang akan memberikan balasan baik kepada Khalid! Akhirnya Allah juga yang akan membuat pengawasan dan perhitungan dengan Umar!

Perasaan inilah yang berkecamuk dalam hati Khalid selama dalam perjalanannya dari Hims ke Kinnasrin. Ia mencurahkan perasaannya itu kepada beberapa orang anggota stafnya. Mereka pun masih berusaha menghiburnya dengan mengingatkannya pada firman Allah: “Tiada seprang pun yang tahu, apa yang akan diperolehnya esok, dan tiada seorang pun yang tahu di bumi ia akan mati.” (Qur’ an, 31 :34) Dan “Bagi-Nya tiada yang tersembunyi, sebesar zarah pun, di langit dan di bumi.” (Qur’an, 34:3). Khalid menjawab mereka dengan akibat penghinaan yang masih terasa pedihnya dalam hati: “Umar mewakilkan saya untuk Syam; sesudah sekarang Syam menjadi keju dan madu saya dipecat.”

Sesampai di Kinnasrin api kemarahannya masih ditahannya, ditanggungnya sendiri. Dia berpidato di hadapan prajuritnya, disebutkannya betapa jaya perjuangan mereka bersama dia, dan sama sekali tidak menjelek-jelekkan Umar. Kemudian ia mengucapkan selamat tinggal, lalu kembali bersama keluarga dan barang-barangnya ke Hims. Di sini pun dalam pidatonya ia mengucapkan selamat tinggal. Sesudah itu ia berpisah dengan mereka dan pergi menuju Medinah.

Tatkala sampai di Medinah dan bertemu dengan sahabat-sahabatnya, diketahuinya bahwa perintah Umar mengenai dirinya serta penghinaan yang dialaminya saat perintah itu dilaksanakan, ternyata sudah lebih dulu sampai kepada mereka. Tampaknya mereka ada yang fanatic kepadanya dan marah kepada Umar. Ia berbicara kepada mereka tentang segala pekerjaannya. Dikatakannya kepada mereka bahwa ia berjuang dengan-ikhlas demi Allah dan demi agama yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya. Diceritakannya kepada mereka apa yang sudah diperoleh pihak Muslimin melalui tangannya, dan hanya sedikit dari rampasan perang untuk dirinya. Ini membuat mereka bertambah simpati kepadanya dan makin marah kepada Umar. Sesudah itu, sesudah ia bertemu dengan Umar ia berkata: “Saya sudah mengadukan Anda kepada kaum Muslimin. Demi Allah, Umar, mengenai diri saya Anda tidak berterus terang!”

Bagi Khalifah tidak pada tempatnya untuk bersikap lemah yang mungkin perintahnya akan ditafsirkan tidak baik. Masih dengan sikap menuduh ia berkata kepada Khalid: “Dari mana kekayaan itu!? Dari mana kemudahan yang Anda hadiahkan sebanyak sepuluh ribu itu?” Dan pertanyaan itu diulangnya lagi setiap dia melihatnya. Sesudah merasa kesal Khalid berkata: “Dari barang rampasan perang dan dari saham-saham. Yang selebihnya dari enam puluh ribu itu untuk Anda.” (Dalam beberapa sumber disebutkan: “Enam puluh ribu itu di masa Abu Bakr dan yang selebihnya di masa Anda. Kalau Anda mau ambillah.”) Umar menaksir barang-barang Khalid senilai delapan puluh ribu dirham, disisakan buat dia enam puluh ribu dan yang dua puluh selebihnya diambilnya dan dimasukkan ke dalam baitulmal.

Catatan
Tulisan ini adalag bagian kedua dari dua seri. Bagian 1 dan bagian 2 disalin dari buku Umar bin Khattab tulisan MH Haekal hal. 335-345.

sumber  : LPPI Makasar Net

%d blogger menyukai ini: