Hubungan Umar Bin Khattab dan Khalid bin Walid (1)

Sepeninggal Nabi Saw, kaum muslimin sahabat Nabi Saw mengalami pasang surut dalam mengawal kelanjutan perjuangan Islam yang telah dicanangkan oleh Nabi Saw. Berbagai tantangan muncul, mulai dari persoalan siapa yang akan menjadi khalifah pengganti Nabi Saw, perlawanan nabi-nabi palsu dan kelompoknya, perlawanan kelompok yang murtad, bahkan persoalan internal antar sahabat. Namun dengan bimbingan Allah Swt, para sahabat Nabi Saw berhasil melewati masa-masa sulit tersebut.

Tetapi, ada beberapa fragmen sejarah tersebut yang dijadikan pembenaran bagi kelompok tertentu untuk menafikan kelompok lainnya. Tentu saja ini tidak benar. Pengetahuan tentang sejarah Islam bukanlah untuk mengkotak-kotakkan ummat, tetapi menjadi pijakan bahwa sikap saling menghormati dalam keragaman pendapat adalah sebuah keharusan.


Berikut ini kami sajikan fragmen sejarah dua tokoh besar di dalam sejarah Islam. Mereka adalah Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, Khalid bin Walid menjadi pemimpin pasukan Islam di wilayah Irak, Syam dan sekitarnya. Khalid memperoleh kemenangan besar. Namun, disitulah mulai muncul hal-hal yang menjadi catatan sejarah, seperti berikut ini. Disalin dari buku Umar bin Khattab tulisan MH Haekal hal. 335-345.

Semoga bisa menjadi pelajaran.

Umar Menuduh Khalid dan Memerintahkan Pemecatannya

Dengan penuh rasa kagum orang bicara tentang Khalid di Qilqiah dan Armenia. Mereka bicara tentang kehebatannya yang luar biasa serta kemenangan-kemenangannya yang hampir tak masuk akal di Irak dan di Syam, tentang hadiah-hadiah dan pemberian-pemberiannya kepada para pahlawan dan penyair serta hadiah yang besar kepada Asy ‘as bin Qais. Mereka bicara tentang kedermawanan raja-raja Banu Gassan dan raja-raja Hirah. Cerita tentang segala kekaguman mereka ini dan berita tentang hadiah-hadiah itu terbetik juga di telinga Umar di Medinah, begitu juga segala sesuatu mengenai para wakilnya. Ia marah besar kepada Khalid dan dilihatnya orang ini belum kembali sadar dari kesesatannya. Sebelum itu ia memang sudah menerima berita bahwa Khalid ketika di Amid, Armenia, ia masuk ke kamar mandi lalu menggosok badannya dengan sesuatu yang mengandung khamar. Ditulisnya surat kepada Khalid dengan mengatakan: “Saya mendapat kabar bahwa Anda menggosok badan dengan khamar. Allah sudah mengharamkan khamar lahir batin sekalipun hanya menyentuhnya. Oleh karenanya, janganlah disentuhkan ke badan kalian.” Jawaban Khalid mengatakan: “Kami sudah menolaknya tetapi bahan pembersih tak ada selain khamar.” Tidak puas dengan jawaban itu, Umar membalasnya lagi dengan nada berang: “Keluarga al-Mugirah (kakek Khalid) memang sudah biasa hanyut ke dalam hal yang sia-sia. Semoga Allah tidak membuat kalian mati dalam keadaan begitu.” Umar memerintahkan supaya harta yang diperolehnya itu disimpan untuk kaum duafa Muhajirin. Tetapi malah diberikan kepada orang-orang yang kuat, orang berpangkat dan suka menuntut. Bukankah itu menunjukkan bahwa dia tidak melaksanakan perintahnya untuk memeriksa ulang perhitungan harta itu, dan segala pemberian kepada kambing atau unta sekalipun hams atas perintahnya, dan dia tetap bersikeras pada kata-katanya ketika menyampaikan perintah ini kepadanya: “Anda biarkan saya dengan pekerjaan saya, atau terserahlah Anna dengan pekerjaan Anda.”

Bagaimana keadaan akan berjalan benar jika Khalid bin Walid ingin memegang kekuasaan sendiri bebas tanpa ada pemeriksa dan pengawas kekayaan! Bahkan bagaimana akan berjalan benar jika Khalid sudah terpesona oleh kekaguman orang kepadanya dan pujian alas segala peranannya. Terbayang olehnya bahwa dia yang sekarang berkuasa di selumh kawasan Syam, sudah menjadi raja seperti Jabalah dan nenek moyangnya dari Banu Gassan, berhak mengampuni dan menjatuhkan hukuman, mengizinkan dan melarang. Ya, kalau dibiarkan semaunya, suatu hari ia akan sampai di puncak kesombongan dan kezalimannya. Ia tidak akan lagi peduli pada perintah KhaIifah dan tidak akan menghargainya. Andaikata ketika itu juga kedudukannya ditarik

oleh Khalifah, niscaya iaakan memberontak dan pasti akan ada dari prajurit Syam yang akan membelanya. Bukan tak mungkin pihak Rumawi akan mendukung pula, maka terjadilah suatu bencana besar. Ketika itulah Umar hanya menyalahkan dirinya sendiri, kemudian Allah akan membuat perhitungan atas dirinya yang sudah lalai dalam mengums umat Islam, karena dia ragu-ragu dan masih menahan diri.

Saat itu Umar benar-benar berang kepada Khalid dengan mengatakan: “Sungguh aku tidak beriman kepada Allah kalau aku pernah menyarankan kepada Abu Bakr tetapi perintah itu tidak kulaksanakan. Demi Allah, aku tidak akan mengangkatnya lagi untuk suatu jabatan apa pun.” Sesudah itu ia menulis surat kepada Abu Ubaidah supaya memanggil Khalid dan mengikatnya dengan serbannya serta melepaskan qalansuwah-nya (topi kebesarannya) (baca di buku Abu Bakar, MH) sampai terungkap pemberiannya kepada Asy’as bin Qais: dari hartanya sendiri atau dari harta rampasan perang. Kalau dia mengatakan itu adalah harta rampasan perang, maka dengan begitu ia telah mengakui pengkhianatannya; kalau dia mengatakan itu dari hartanya sendiri berarti itu pemborosan. Bagaimanapun juga, ia mendapat perintah memecat Khalid dan tugasnya digabungkan kepadanya.

Abu Ubaidah dalam kebingungan setelah menerima surat itu. Dalam hatinya dan dalam hati semua pasukan Muslimin, Khalid memang mempunyai kedudukan yang luar biasa. Tetapi Amirulmukminin orang yang harus ditaati dan perintahnya harus dilaksanakan. Khalid akan dipanggilnya bagaimanapun juga, dan biarlah pelaksanaannya di tangan kurir utusan Umar dan muazin Nabi itu (Bilal). Ditulisnya surat kepada Khalid, dan Khalid pun datang. Dia samasekali tidak menyinggung isi surat Umar. Tetapi pasukannya dikumpulkannya dan dia naik ke mimbar. Kemudian kurir yang diutus Khalifah tampil bertanya kepada Khalid “Dari hartamu sendirikah Anda memberikan hadiah sepuluh ribu itu ataukah dari harta perolehan perang?” Mendengar pertanyaan itu Khalid terkejut dan tidak menjawab. Kurir itu mengulangi pertanyaannya, tetapi sepatah kata pun Khalid tidak menjawab. Sementara semua itu sedang berlangsung, Abu Ubaidah duduk di mimbar tanpa berkata apa-apa. Sesudah kurir itu berulang-ulang mengajukan pertanyaan, Khalid pun tetap diam, Bilal maju dan berkata lagi: “Amimlmukminin memerintahkan agar Anda diikat dengan serban Anda dan melepaskan topi Anda sampai Anda dapat menjawab pertanyaan tadi. Khalid makin tercengang tetapi ia tetap diam. Saat itulah Bilal mengambil topi itu dan merangkul kedua tangan Khalid ke belakang punggungnya lalu mengikatnya dengan serbannya seraya katanya: “Bagaimana? Dari harta Anda atau dari harta perolehan perang?”

Perintah Pemecatan Dilaksanakan dan Khalid Merasa Terhina

Khalid tak habis heran menyaksikan peristiwa ini. Tetapi ia tetap membisu dan tak mampu menjawab. Sebenarnya situasi itu akan membuat setiap orang tidak akan sabar lagi. Bukankah itu sudah merupakan tuduhan terang-terangan mengkhianati suatu amanat?, Jika orang tiba-tiba diberondong secara terus terang di depan orang banyak pula, ia akan muak, akan terkejut dan akan bingung sekali, apalagi ditujukan kepada Khalid bin Walid, yang kini sedang dalam puncak kejayaannya dalam menghadapi musuh Allah dan musuh Muslimin.

Gerangan apa tujuan melemparkan tuduhan itu? Tujuannya hanya untuk menghinanya habis-habisan? Kedua tangannya diringkus ke belakang, diikat dengan ikat kepalanya dan topi kebesarannya di ditanggalkan! Apa keuntungannya buat Amirulmukminin dengan semua itu! Bukankah cukup dengan memanggil saja Khalid ke Medinah mengingat dia sudah dipecat dari tugasnya? Kalau dia sudah di sana boleh saja ditanya sekehendaknya dan tentang apa saja?

Keheranan pasukan Muslimin yang luar biasa menyaksikan kejadian ini tidak kurang dari keheranan Khalid sendiri. Mereka berbisik-bisik, saling bertanya-tanya. Apa yang dikehendaki dengan Saifullah sesudah pemandangan yang sangat menghina bagi seorang prajurit itu, lebih-lebih dia seorang jenderal jenius, yang telah membebaskan lrak dan Syam, yang menundukkan Persia dan Rumawi?! Hanya karena sepuluh ribu dirham itu saja tangan diikat dan topi kehormatannya dicopot, padahal dia yang telah menghasilkan rampasan perang sampai ratusan ribu, bahkan jutaan? Apa artinya sepuluh ribu dirham itu sampai dia mendapat penghinaan begitu berat? Adakah itu untuk dirinya lalu disembunyikan dari Abu Ubaidah dan dari Khalifah? Tidak! Malah diberikannya kepada Asy’as bin Qais, seorang amir – seorang pemimpin Kindah dan orang yang telah menghadapi cobaan berat dalam hal membebaskan lrak dan Syam. Berapa seringnya Asy’as dan orang semacam dia, orang terpandang yang telah terjun dalam beberapa peristiwa dan berjuang mati-matian menghadapi bahaya. Sungguh ini hukuman yang terialu keras dari pihak Amirulmukminin terhadap orang yang sudah mendapat kepercayaan besar, dari Rasulullah, dari Abu Bakr dan dari kaum Muslimin!

Dari mimbar Abu Ubaidah rnelihaU<epada semua orang yang hadir di tempat itu. Jelas sekali tampak di wajah mereka keheranan yang luar biasa dan rasa tidak setuju. Tetapi dalam peristiwa ini, semua itu hanya membuatnya makin membisu, yang memang sudah rnenjadi sikapnya sejak ia memanggil Khalid dan memerintahkan yang lain melaksanakan perintah Umar itu. Barangkali rasa kebingungan dan penyesalannya rnelihat pemandangan itu tidak kurang dari hadirin yang lain. Dia tahu lebih banyak daripada yang lain, tindakan apa yang akan diambil Umar terhadap Khalid karena rasa bangganya dan tindakannya yang tergesa-gesa dalam menghadapi perang serta kecenderungannya yang begitu kuat pada kebebasan menyatakan pendapat. Dalam tahun-tahun selama kekhalifahan Umar ia sudah mencurahkan segala perhatiannya untuk menghilangkan dari hati Amirulrnukminin anggapannya yang tidak baik dan rasa kesalnya terhadap Khalid. Contoh untuk itu ketika Urnar rnengecam pujian orang kepada Khalid setelah pembebasan Kinnasrin dan kemenangan-kemenangan telak yang telah diperolehnya. Akan sia-sia begitu sajakah semua perjuangannya itu?! Teriakan Umar ketika itu: “Biarlah Khalid rnemimpin dirinya sendiri. Semoga Allah memberi rahmat kepada Abu Bakr! Ternyata mengenai orang-orang penting dia lebih tahu dari saya,” bukan hanya teriakan kagum atas peranan Khalid yang begitu agung sehingga sebagai balasannya pimpinan Kinnasrin diserahkan kepadanya. Tetapi sungguhpun begitu ia tetap kesal kepada Khalid! Kalau yang demikian ini sudah mengherankan, maka yang lebih mengherankan lagi adalah datangnya perintah dengan pemecatan Khalid saat dalam puncak kejayaannya. Sernua orang bicara tentang peranannya itu: Persia, Rurnawi,orang-orang Arab dan kaurn Muslimin. Semua mereka hormat atas keagungannya dengan rnenganggukkan kepala, semua mengagumi kejeniusannya yang luar biasa itu!

Begitu keadaan Abu Ubaidah dan semua pasukan Muslimin dalam menyaksikan pemandangan itu. Lalu bagaimana Khalid sendiri? Mampukah kita membayangkan apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya saat itu, apa yang sedang membahana dalam pikirannya? Kata-kata tercengang, pedih, kebanggaan yang terluka, kemarahan yang terpendam, pernberontakan di hati yang membara, secara satu persatu atau bersama-sama, rasanya akan terlalu sempit ruangan untuk dapat melukiskan apa yang sekarang sedang bergejolak dalam hati laki-laki yang tak pernah menudukkan kepala itu, tak pernah merendahkan diri selama hidupnya. Bahkan di zaman jahiliahnya dan di zaman islamnya pun sudah merupakan lambang kebanggaan, kehormatan dan harga diri yang tinggi. Dialah pahlawan dengan cirinya yang khas. Alangkah sering sudah pedang Khalid memenggal kepala orang yang begitu angkuh, dialah jenderal perkasa yang dengan kemampuannya telah menundukkan kabilah-kabilah dan kerajaan-kerajaan besar. Kita lihat dia sekarang diikat dengan serbannya – orang yang sudah mengikat ribuan tawanan perang dengan rantai! Sudah kita lihatkah dia sekarang dituduh mengkhianati harta Muslimin padahal melalui tangannya Allah telah mengangkat martabat Islam dan kaum Muslimin! Ironis sekali! Tidakkah lebih baik buat dia mati terkapar di medan kepahlawanan dan kehormatan diri daripada dibawa ke dalam suasana sebagai pengkhianat kerdil, yang akan mencampakkan kehormatan dirinya, menginjak-injak arti kepahlawanannya!

%d blogger menyukai ini: