Haji Tamattu’

Berikut adalah kutipan beberapa hadis perihal Haji Tamattu’. Di dalam haji tamattu’, umrah dilakukan dulu sebelum melaksanakan haji. Bagaimana keterangan masalah ini di dalam hadis? Berikut kami kutipkan beberapa hadis dari Sunan An-Nasa’i, cetakan Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, cetakan kedua 1429H. Tahqiq oleh Syaikh Nasiruddin al-Bani.

Hadis berikut adalah hadis no. 2686 pada kitab Manasik Haji bab Haji Tamattu’. Hadis yang serupa, juga disebutkan dan dikutip oleh Ibn Katsir di dalam kitab Bidayah wan Nihayah, jilid 7 yang ditahqiq oleh at-Turkiy, halaman 460 terbitan Dar al-Alami al-Kutub.
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ أَنْبَأَنَا أَبِي قَالَ أَنْبَأَنَا أَبُو حَمْزَةَ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ يَقُولُ
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُتْعَةِ وَإِنَّهَا لَفِي كِتَابِ اللَّهِ وَلَقَدْ فَعَلَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْنِي الْعُمْرَةَ فِي الْحَجِّ
“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, ia berkata; telah memberitakan kepada kami bapakku ia berkata; telah memberitakan kepada kami Abu Hamzah dari Mutharrif dari Salamah bin Kuhail dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; saya pernah mendengar Umar berkata; demi Allah aku benar-benar melarang kalian dari haji tamattu’ dan sesungguhnya ia termuat di kitabullah, dan shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukannya, yaitu umrah ketika haji.”

Komentar

Di hadis ini, Umar bin Khattab bersumpah dengan nama Allah Swt (وَاللَّهِ), bahwa dia sendiri (إِنِّي) melarang haji tamattu’. Walaupun demikian, beliau tahu betul bahwa perintah haji tamattu’ itu terdapat di dalam Alquran, bahwa Rasulullah Saw melakukannya. Jadi hadis ini memberikan contoh satu hal yang dilarang oleh Umar bin Khattab walaupun dibolehkan di dalam Alquran dan dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Hadis ini disahihkan oleh al-Bani. Kendati demikian, di sanad hadis ini ada Mutharrif bin Tharif. Beliau dikategorikan sebagai perawi majhul haal atau mastur, artinya tidak diketahui jatidirinya.

Selain itu, per defenisi hadis ini bisa dikategorikan sebagai hadis mauquf, yakni hadis yang disandarkan kepada sahabat Nabi Saw saja. Jadi sesungguhnya ia bukan sunnah. Ia tidak bisa dikategorikan sebagai hadis marfu’ hukum karena faktanya dalam hal ini isinya menyelisih apa yang disunnahkan oleh Nabi Saw.

Hadis di bawah ini, masih dari kitab dan bab yang sama, adalah hadis no. 2685.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ لَهُ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِي مُوسَى
أَنَّهُ كَانَ يُفْتِي بِالْمُتْعَةِ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ رُوَيْدَكَ بِبَعْضِ فُتْيَاكَ فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ فِي النُّسُكِ بَعْدُ حَتَّى لَقِيتُهُ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ عُمَرُ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ فَعَلَهُ وَلَكِنْ كَرِهْتُ أَنْ يَظَلُّوا مُعَرِّسِينَ بِهِنَّ فِي الْأَرَاكِ ثُمَّ يَرُوحُوا بِالْحَجِّ تَقْطُرُ رُءُوسُهُمْ
“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar lafazhnya adalah lafazh Muhammad bin Basysyar, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari ‘Umarah bin ‘Umair dari Ibrahim bin Abi Musa dari Abi Musa bahwa ia berfatwa untuk melakukan haji tamattu’, kemudian terdapat seseorang yang berkata kepadanya; berhati-hatilah dengan sebagian fatwamu. Engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan Amirul Mukminin dalam bermanasik. Hingga saya berjumpa dengannya kemudian bertanya kepadanya, lalu Umar berkata; sungguh saya telah mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukannya, akan tetapi saya tidak ingin mereka bermesraan dengan isteri mereka di pohon Arok, kemudian mereka pergi untuk melakukan haji dalam keadaan kepala mereka bercucuran keringat.”

Komentar

Di hadis ini, kita melihat kembali bahwa dalam menyikapi boleh tidaknya haji tamattu’, sahabat Nabi Saw berbeda pendapat. Abi Musa memfatwakan bolehnya haji tamattu’, sementara ada sahabat yang lain mengikuti Umar yang tidak membolehkannya. Namun di hadis ini, kita membaca bahwa Umar telah memberi alasan pelarangannya, walaupun sekali lagi, beliau tahu bahwa apa yang dilarangnya itu sesungguhnya dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Hadis berikut juga masih di kitab dan bab yang sama, hadis no. 2684.

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ وَالضَّحَّاكَ بْنَ قَيْسٍ
عَامَ حَجَّ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ وَهُمَا يَذْكُرَانِ التَّمَتُّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَقَالَ الضَّحَّاكُ لَا يَصْنَعُ ذَلِكَ إِلَّا مَنْ جَهِلَ أَمْرَ اللَّهِ تَعَالَى فَقَالَ سَعْدٌ بِئْسَمَا قُلْتَ يَا ابْنَ أَخِي قَالَ الضَّحَّاكُ فَإِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ نَهَى عَنْ ذَلِكَ قَالَ سَعْدٌ قَدْ صَنَعَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَنَعْنَاهَا مَعَهُ
“Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Malik dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Abdullah bin Al Harits bin Naufal bin Al Harits bin Abdul Muththalib bahwa ia menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Sa’d bin Abi Waqqash serta Adh Dhahak bin Qais pada tahun Mu’awiyah bin Abi Sufyan menunaikan haji, mereka berdua menyebutkan haji tamattu’ dengan melakukan umrah hingga haji. Adh Dhahak berkata; tidak ada yang melakukan hal tersebut kecuali orang yang jahil terhadap perintah Allah ta’ala, maka Sa’d berkata; betapa buruknya apa yang engkau katakan wahai anak saudaraku. Adh Dhahak berkata; Umar bin Al Khathab melarang hal tersebut. Maka Sa’ad berkata; hal itu dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan telah kami lakukan bersamanya.”

Komentar

Hadis ini juga menunjukkan bahwa Umar melarang pelaksanaan haji tamattu’. Selain itu, juga memperkuat bahwa sahabat minimal terbagi dua dalam menyikapi pelarangan Umar. Disini disebutkan juga nama-nama sahabat lainnya yang sependapat dengan Umar maupun yang berbeda pendapat dengannya. Di nomor hadis 2687, juga disebutkan bahwa Mu’awiyah sependapat dengan Umar, sementara Ibn ‘Abbas menentangnya.

Demikian juga di hadis no. 2684 dijelaskan, bahwa Usman bin Affan melanjutkan pelarangan Umar dalam melaksanakan haji tamattu walaupun dia mengakui bahwa Rasulullah Saw melakukannya. Karenanya, ketika pernah berhaji bersama Ali bin Abi Thalib, kelompok mereka berpisah karena perbedaan pendapat ini. Bagusnya adalah, ketika Ali dan sahabatnya melakukan haji tamattu’ saat itu, Usman membiarkan mereka.

Berikut ada hadis yang lain dari Sunan Tirmidzi, hadis no. 763 berdasarkan penomoran Lidwa Software, disahihkan oleh Nashiruddin Albani.

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنِي يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَهُ
أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الشَّامِ وَهُوَ يَسْأَلُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ عَنْ التَّمَتُّعِ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ هِيَ حَلَالٌ فَقَالَ الشَّامِيُّ إِنَّ أَبَاكَ قَدْ نَهَى عَنْهَا فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ أَبِي نَهَى عَنْهَا وَصَنَعَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَمْرَ أَبِي نَتَّبِعُ أَمْ أَمْرَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ بَلْ أَمْرَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَقَدْ صَنَعَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepada kami Abdu bin Humaid telah mengabarkan kepadaku Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Shalih bin Kaisan dari Ibnu Syihab bahwa Salim bin Abdullah menceritakannya, bahwa dia telah mendengar seorang lelaki dari Syam yang bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang haji tamattu’ dengan (mengikutkan) umrah baru haji. Abdullah bin Umar menjawab; “Hal itu boleh.” Orang Syam tersebut berkata; “Tapi ayahmu telah melarangnya.” Abdullah bin Umar bertanya; “Bagaimana menurutmu, jika ayahku melarangnya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya. Mana yang kamu ikuti? perintah ayahku atau perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Laki-laki itu menjawab; “Ya perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka (Ibnu Umar) berkata; “Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.”

Komentar

Disini kembali dijelaskan, bahwa bahkan anak Umar bin Khattab pun, yakni Abdullah bin Umar, tidak sepakat dengan bapaknya sendiri dalam hal pelarangan haji tamattu’. Ibn Umar juga mengkonfirmasi kembali bahwa yang melarang haji tamattu’ adalah Umar, bukan Rasulullah Saw.

Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: