Catatan untuk Ustadz Hidayat Nur Wahid

PENGANTAR

Sebuah catatan untuk Hidayat Nur Wahid, seorang petinggi PKS, dan tokoh Islam mazhab Wahabi. Beliau mendapatkan kritik dari adik sepesantrennya, M.Babul Ulum, yang menulis buku Merajut Ukhuwah Memahami Syiah. Buku ini merupakan hasil riset dari berbagai buku sehingga hasilnya dituangkan dalam buku yang dijadikan bacaan resmi berdasarkan Dirjen Pendidikan Agama Islam. (Redaksi Misykat).

 

Kampanye Syiah

Ide menulis tema ini bermula dari “kampanye Syiah” yang dilakukan oleh Ustadz Hidayat Nur Wahid setelah seminar Istiqlal tanggal 21 September 1997, di mana beliau menjadi salah satu penyaji makalah. Setelah semua makalah seminar tersebut dibukukan dengan tajuk Mengapa Kita Menolak Syi’ah, beliau getol “memasarkan” buku itu ke tempat-tempat (pesantren-pesantren) di mana beliau mempunyai akses ke dalam. Di antara pesantren yang sempat beliau singgahi adalah ITS Siman, tempat saya menuntut ilmu saat itu.

Waktu itu, sekitar tahun 1998, saat hingar-bingarnya reformasi, partai-partai politik bermunculan bak cendawan di musim hujan. Sebagai seorang deklarator partai Islam (saat itu bernama Partai Keadilan atau PK), beliau dibuat sibuk oleh banyaknya daerah yang ingin segera bergabung dengan partai “masa depan” tersebut. Di sela-sela kesibukannya mende-klarasikan partainya di Jawa Timur itulah, beliau menyempat-kan diri menjenguk “ibu kandungnya” di sebelah selatan kota Ponorogo.

Entah mengapa, ketika mampir di kampus Siman, “pidato” politik beliau hanya terfokus pada tema buku yang hanya berupa kumpulan seminar memberangus Syi’ah.

Padahal, sebagai seorang politikus Muslim, sejatinya beliau berbicara tentang agenda masa depan seluruh umat Islam di Indonesia. Alih-alih berbicara tentang politik Islam dan nasib umat Islam yang masih dihinggapi beragam problematika kehidupan berbangsa dan berislam—tema yang cocok dengan situasi saat itu—beliau malah mengangkat isu-isu usang yang bukan hanya basi, melainkan juga sudah membusuk karena saking basinya, yaitu isu klise soal perbedaan Syi’ah-Sunnah.

Entah mengapa isu ini yang diangkat di ISID? Apa mungkin karena di kampus ISID saat itu mulai merekah benih-benih tasyayyu‘ sehingga perlu didatangkan seorang doktor, penulis desertasi tentang kesesatan Syi’ah untuk mengembalikan ma-hasiswa ISID berpaham Syi’ah ke jalan yang benar? Mengapa isu serupa tidak beliau angkat di Wisma Darussalam pada malam harinya? Hanya Ustadz Hidayat Nur Wahid dan para pembisiknya yang tahu.

“Kalau baru menjadi seorang deklarator partai yang mem-bawa label Islam saja sudah berbicara sedemikian “sadisnya” memfitnah saudaranya karena berbeda madzhab, bagaimana bila menjadi presiden yang sesungguhnya.”

Hatiku berontak. Ingin segera menginterupsi pembicaraannya. Akan tetapi, karena menghormati siapa yang membawanya ke ISID—yang waktu itu ikut duduk di depan kami, mahasiswa ISID—saya bersabar untuk menanti sesi tanya jawab. Di akhir acara, saya menanyakan beberapa pertanyaan tentang topik “kampanyenya” saat itu. Karena alasan sedikit-nya waktu yang tersedia, pertanyaan saya akhirnya dijawab dengan jawaban yang sangat menggelikan. Mungkin karena yang bertanya adalah seorang “anak kemarin sore”, atau

mungkin karena sebab lain. Yang jelas, jawabannya—menurut saya yang masih duduk di Semester III—sungguh tidak menunjukkan kualitas keilmuan beliau sebagai seorang doktor lulusan Universitas Madinah.

Belakang hari, saya justru merasa berterimakasih kepada Ustadz Hidayat Nur Wahid. Untuk itu, saya ucapkan Jazâku-mullâhu khairan katsîrâ. Jawaban Ustadz yang menggelikan seperti itu telah memicu semangat saya untuk lebih mem-perdalam isu Syi’ah.

Setelah pertemuan di mushalla kecil itu, saya bertekad untuk melakukan pengkajian lebih jauh tentang Syi’ah. Tekad itu sempat saya ungkapkan kepada salah seorang teman, Agung Pirsada (alumni 1997) yang kemudian hengkang ke Sulawesi

(merintis pondok pesantrennya Dr. Marwah Daud Ibrahim) untuk mengangkat topik “kampanye” beliau sebagai tema skripsi. Beberapa tahun kemudian, mushalla tempat beliau “berkampanye” tentang Syi’ah berubah menjadi perpustakaan.

Persis di tempat beliau duduk saat itu, saya menyelesaikan skripsi S1, yang akhirnya menghantarkan saya menyelesaikan studi di kampus “Institut Tengah Sawah” itu.

Sekadar membuka memori Ustadz Hidayat Nur Wahid—selanjutnya saya singkat dengan HNW atau saya sebut dengan Ustadz. Kisahnya berawal saat pertemuan dengan mahasiswa ISID di sela-sela kesibukan HNW mende-klarasikan Partai Keadilan (PK) Jawa Timur. Saya termasuk salah satu mahasiswa yang bertanya di forum tanya jawab.

Saat itu saya membacakan buku karya Dr. Syalabi yang ber-judul Sejarah Kebudayaan Islam. Beberapa tahun kemudian,sekitar akhir tahun 2002, saya, bersama dua orang teman, ber-silaturahmi dengan HNW di Markas PK, di daerah Mampang.

Sebagai seorang senior, sumbang saran HNW sungguh sangat kami harapkan untuk membantu lancarnya kegiatan pen-didikan di Pesantren Az-Zahra, proyek teman saya, yang di-dirikan di daerah Kembangan, Jakarta Barat.

Waktu datang kami memperkenalkan diri sebagai teman Fahmi Al-Muffasir, Country 92, asal Sulawesi yang ditugaskan di Bontang. Beliau adalah alumni Jami’ah Madinah yang saat itu sedang membuka praktek pengobatan hijamah di rumah dinas Bapak Rambe Kamaruzzaman (Anggota DPR dari Partai Golkar) di kompleks DPR RI Kalibata. HNW adalah salah satu pasien beliau. Atas rekomendasi beliau, saya, Gunung Mulia Lubis (pimpinan Az-Zahra), dan Abdul Ghaffar dari NTT (Semuanya alumni Gontor tahun 1992) dapat bersilaturahmi dengan HNW di markas PK.

 

Pada mulanya kami sebagai murid seperguruan dengan Ustadz Hidayat Nur Wahid merasa takjub dengannya. Betapa tidak! Di saat kita merasa sulit menembus birokrasi Uni-versitas Madinah, ada kakak seperguruan yang berhasil me-nyelesaikan S3 di salah satu universitas unggulan milik pe-nguasa Saudi yang Wahabi itu.

Rasa takjub semakin ber-tambah ketika ada yang menyebut Ustadz Hidayat Nur Wahid sebagai salah satu pakar Syi’ah yang dimiliki Indonesia saat ini. Mungkin karena kepakarannya” itulah, setiap tahun HNW diberi kesempatan untuk menyampaikan materi pem-bekalan (Syi’ahologi) kepada para calon alumni setiap bulan Ramadan (Paling tidak sejak kedatangan beliau dari Madinah sampai bagian ini saya tulis tahun 2002). Mungkin karena itu pula HNW yang dipilih oleh para “pakar” Syi’ah Indonesia yang Sunni untuk memberi kata pengantar buku berjudul Ensiklopedia Sunnah-Syi’ah yang lucu itu.

Akan tetapi, setelah menyimak pembekalan yang HNW sampaikan, rasa takjub saya mulai berangsur musnah. Karena materinya bertentangan dengan motto perguruan kita: “Di Atas dan Untuk Semua Golongan”.

Alih-alih mengayomi semua golongan, bila mendengar ceramah HNW, yang lebih pas disebut provokasi daripada pembekalan orang yang tidak mau tahu malah akan memusuhi salah satu madzhab yang penganutnya lebih banyak daripada pengikut paham golongan-nya HNW, dan sudah muncul sebelum madzhab HNW muncul di Jazirah Arabia.

Sudah lama saya ingin menanyakan materi pembekalan HNW. Namun, karena satu atau lain hal, keinginan itu hanya tinggal keinginan. Akhirnya, kesempatan itu datang ketika saya pindah ke ISID. Kesempatan yang langka ini tidak saya sia-siakan. Kebetulan hal ini bersamaan dengan kampanye HNW memasarkan hasil Seminar Istiqlal.

Masih segar dalam ingatan, waktu itu saya mengajukan tiga pertanyaan kepada HNW  sebagai berikut:

  1. Bahwa Dr. Syalabi, ahli sejarah Mesir, penulis Târîkh al-Hadhârah al-Islâmiyyah,  pernah menulis tentang pentingnya memisahkan antara orang-orang Syi’ah yang sesungguhnya dan orang-orang yang menunggangi tasyayyu‘ untuk menjelekkan wajah Islam. Saat itu penulis mencoba membacakan paragraf tulisan beliau, tetapi diinterupsi oleh moderator (Ust. H. Syamsul Hadi Untung, M.A.). Karena alasan sempitnya waktu, dia meminta saya untuk tidak membacakannya. Karena kebijaksanaan HNW, akhirnya paragraf tersebut sempat saya baca semuanya; yang intinya, kita harus arif dan bijaksana dalam menilai Syi’ah. Namun himbauan Dr. Syalabi bertentangan dengan materi ceramah Ustadz yang penuh dengan fitnah. Oleh karena itu, saya bertanya: “Mengapa Ustadz, sebagai seorang politisi Muslim sekaligus aktifis dakwah yang konon sebagai penjaga kemurnian Islam, tega memfitnah Syi’ah?”
  2. Dr. Mushthafa Syak’ah dalam kitabnya, Islâm bilâ Madzâhib, memasukkan Syi’ah Imamiyah Itsna’asyariyah ke dalam Al-Firaq al-Mu’tadilah dan menggolongkannya dengan Al-Madzahib as-Sunniyah. Artinya, bagi beliau, Syi’ah sama saja dengan madzhab-madzhab yang menamakan dirinya sebagai “Ahlussunah wal-Jama’ah”.

Dalam bukunya yang diberi kata pengantar oleh Mahmud Syaltut, Rektor Al-Azhar waktu itu, beliau mengajak seluruh umat Islam, dengan beragam madzhab dan go-longannya, untuk melihat sesama saudaranya yang Muslim dengan bijak dan dengan kaca mata Islam. Tetapi mengapa para aktifis Islam di Indonesia yang menamakan diri sebagai Ahlussunah wal-Jama’ah, di antaranya Ustadz Hidayat Nur Wahid, justru memfitnah golongan lain?

  1. Karena dalam makalah Ustadz menukil pendapat Dr. Mûsa al-Mûsawi dalam kitabnya, As-Syî‘ah wat Tashhîh, saya pun bertanya tentang siapa Mûsa al-Mûsawi dan kebenaran bukunya. Penulis yakin, Ustadz mengenalnya bahkan mengetahui motivasinya menulis buku tersebut sehingga Ustadz menjadikannya sebagai referensi makalah yang Ustadz sampaikan dalam Seminar Istiqlal untuk menghujat Syi’ah.

Pertanyaan terakhir tidak sempat Ustadz jawab, sedang-kan dua pertanyaan pertama, dengan “piawai,” Ustadz berkenan menjawabnya. Jawaban Ustadz waktu itu adalah sebagai berikut:

  1. Bahwa penulisan buku yang menjadi pegangan IAIN tersebut, menurut Ustadz, ditulis tidak memenuhi standar kualitas penulisan karya ilmiah yang diakui.
  2. Ketika menjawab pertanyaan kedua, dengan enteng, Ustadz menuduh Mushthafa Syak’ah dalam menulis bukunya dilandasi sentimen pribadi. Namun sayang, forum yang sebenarnya cocok untuk menjernihkan seluruh permasalahan itu dihentikan begitu saja dengan alasan sedikitnya waktu yang tersedia. Mendengar jawaban yang sangat menggelikan dan lucu—yang dalam peribahasa Arab disebut ma yudhhiku ats-tsaklâ—saya semakin penasaran untuk mengenal “musuh” Ustadz lebih jauh lagi.

Mungkinkah karya tulis seorang doktor sejarah lulusan Cambridge sekaliber Dr. Syalabi tidak memenuhi standar ilmiah yang diakui? Sungguh jawaban yang sangat “ilmiah” dari seorang doktor Madinah yang melecehkah doktor Cambridge! Ataukah, seorang tokoh seperti Mahmud Syaltut tidak mengetahui kebenaran sejati? Alangkah “berkualitasnya” para lulusan Jami’ah Madinah yang Wahabi itu? Beragam pertanyaan muncul dalam benak saya dan sempat saya angkat dalam topik kuliah subuh yang saya sampaikan di Mushala ISID sehari setelah pertemuan itu.

(SUMBER: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

sumber : Misykat

%d blogger menyukai ini: