Catatan Untuk Muslim Nurdin : Tidak Ada Pengubahan dalam Al-Quran

MN menyebutkan bahwa ada upaya tahrif (pengubahan) terhadap kitab suci Al-Quran. MN menulis, “versi mereka bahwa dalam Quran terdapat sekitar 17.000 ayat” dan “…masalah mendasar lainnya adalah dalam aspek penafsiran yang cenderung menggunakan takwil tanpa dasar riwayat yang sharih.”

TANGGAPAN : Sampai sekarang ini belum menemukan Quran yang dimaksud oleh MN. Silakan lihat Tafsir Mizan karya Muhammad Husain Thabathabai, ulama dan ahli tafsir yang bermazhab Syiah. Dari awal sampai akhir ayat yang dibahas sama dengan Quran yang beredar sekarang pada umat Islam. Bahkan doctor cilik dari Iran yang hafal Quran dalam yutub atau mp3 jelas melafalkan Quran yang mulai dari surah Fatihah dan berakhir pada surah Annas. Bedanya adalah bahwa Al-Quran yang dipegang atau diterbitkan di negeri-negeri yang mayoritas Muslim Syiah lebih bagus jilid dan serta ada desain yang indah dengan tinta dari emas.

Kang Jalal pernah membagikan Quran cetakan Iran ketika ada acara diskusi di Jakarta. Quran yang disebut berbeda itu dikomentari para wartawan ternyata sama. Pak Quraish Shihab pun menyebutkan tidak ada bedanya Quran Syiah dengan Quran Sunni.

 

Tampaknya tentang jumlah ayat yang lebih banyak itu harus dikaji kembali karena sampai sekarang ini kumpulan hadis Syiah belum ada yang standar atau disakralkan sebagaimana Bukhari yang dianggap sumber kedua setelah Quran oleh sebagian kecil umat Islam. Kitab Nahjul Balaghah pun hanya sekadar kata-kata mutiara Ali bin Abi Thalib ra dan informasi sejarah. Sedikit yang berkaitan denagn syariat Islam. Namun, bukan berarti tidak bisa dijadikan rujukan. Bisa saja dijadikan rujukan dengan sebelumnya mengkaji dahulu secara kritis. Misalnya kalaun akan disimpulkan sebagai hukum, sebaiknya bandingkan isinya terlebih dahulu dengan Quran. Kalau bertentangan tidak usah diambil.

Berdasarkan informasi dari pelajar Muslim Indonesia yang belajar di Iran bahwa sekarang ini sedang ada upaya di pesantren-pesantren Muslim Syiah untuk melakukan kajian kritis atas hadis dari jalur Ahlulbait dan sahabat.

Rasul Jafariyan, penulis dan seorang Muslim Syiah, menulis buku khusus berkaitan dengan tahrif Quran dengan judul Menolak Isu Perubahan Al-Quran (terbitan pustaka hidayah). Bab V tentang Syiah dan Tahrif (halaman 95-113) diuraikan mengenai penolakan ulama Syiah sepanjang sejarah tentang tuduhan tahrif. Mereka berargumen dengan ayat Quran: inna nahnu nazzalnadz dzikra wa inna lahaa fidhuun; sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Dzikir ini dan Kamilah yang akan menjaganya. Karena itu, kalau Allah yang menjaganya bagaimana bisa terjadi perubahan. Bukankah banyak kejadian yang berupaya memalsukan kemudian cepat diketahui atau yang salah cetak dan langsung diketahui. Itulah makna dari Allah menjaga keutuhan Al-Quran.

Berkaitan dengan jumlah ayat yang oleh MN disebutkan bukanlah ayat Quran. Tetapi jumlah hadis-hadis yang dikumpulkan Ali bin Abi Thalib ra dari Rasulullah saw kemudian dipegang oleh Fatimah binti Rasulullah saw ra yang sebut Mushaf Fatimah. Mushaf ini diwariskan secara turun menurun kepada keturunannya.

Tentang tahrif Quran, kami menemukan hadis dari riwayat-riwayat sahabat. Mungkin MN selaku dewan syariah bisa menjelaskan dari ulumul hadis atau takhrijul hadis. Ini riwayatnya bahwa Khudzaifah berkata: “Pada masa Nabi, Saya pernah membaca Surat Al-Ahzab. Tujuh puluh ayat darinya saya sudah agak lupa bunyinya, namun saya tidak mendapatinya di dalam Al-Quran yang ada saat ini. ” [Suyuthi, “Durr al-Mantsur”, jil. 5, hal. 180].

Dari Ibn Mas’ud: telah membuang surat Mu’awidzatain (an-Nas dan al-Falaq) dari mushafnya dan mengatakan bahwa keduanya tidak termasuk ayat Al-Qur’an. [Al-Haitsami, “Majma’ az-Zawa’id”, jil. 7, hal 149; Suyuthi, “Al-Itqan”, jil. 1, hal. 79].

Juga dari Umar bin Khattab berkata: “Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah ayat ke dalam Kitabullah, maka akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri.” [Shahih Bukhari, bab Syahadah ‘Indal Hakim Fi Wilayatil Qadha; Suyuthi, “Al-Itqan”, jil. 2, hal. 25 dan 26;  Asy-Syaukani, “Nailul Authar”, jil. 5, hal. 105; “Tafsir Ibnu Katsir”, jil. 3, hal. 260].

Sementara yang berkaitan dengan penafsiran, hampir seluruh ulama memiliki perbedaan dalam menafsirkan ayat Quran. Soal riwayat atau hadis tergantung mazhab yang diikuti. Mufasir Syiah tentu saja mengambil riwayat dari jalur Ahlulbait karena lebih dekat hubungannya dengan Nabi ketimbang dari sahabat. Bukankah ada tamsil bahwa keluarga rumah lebih mengetahui isi rumah ketimbang tetangga dan teman-temannya?

Karena itu, Muslim Syiah lebih percaya kepada Ahlulbait. Tapi tidak menafikan dari jalur sahabat dan kitab hadis Ahlussunah. Seperti dalil tentang Kitab Allah dan Itrah Ahlulbait (tsaqalain) yang harus dirujuk/diikuti sepeninggal Nabi, hadis Ghadir Khum, hadis ahlulkisa tentang pensucian yang lima orang: Nabi, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain; ada dalam sumber-sumber Ahlussunah. Silakan baca buku Dialog Sunnah Syiah yang diterbitkan Mizan. Ini buku lama. Mungkin bisa dicari di perpustakaan UIN atau tanya saja kepada orang-orang di Yayasan Muthahhari, Yayasan Al-Jawad, dan Perpustakaan Daerah Jawa Barat.

 

sumber : misykat

%d blogger menyukai ini: