Catatan Untuk Muslim Nurdin : Benarkah Muslimin Syiah Menghujat Sahabat?

Buletin Salam Qalam edisi 022 ini memuat tulisan berjudul Dari Gerakan Takfiri hingga Kawin Kontrak dengan penulis H.Muslim Nurdin, S.S.,M.Hum.

Dari gelarnya jelas saudara MN (Muslim Nurdin) ini seorang yang pernah belajar ilmu-ilmu humaniora, mungkin lulusan sejarah. Juga dalam susunan redaksi, MN ini termasuk dewan redaksi, pengasuh konsultasi keluarga Islami, dan dewan syariah DKM Darussalam. Inilah pembahasannya:

Dalam paragrap empat MN menyebutkan ada beberapa racun dan doktrin yang disebarkan di tengah masyarakat. Menurut MN ada lima racun yang berbahaya (akan dibahas satu persatu).

Pertama, tentang seluruh sahabat Rasulullah saw adalah kafir kecuali Jafar dan Salman. Bahkan mengkafirkan sahabat yang dijanjikan surga oleh Rasulullah saw seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan. MN juga menjelaskan bahwa pengkafiran sahabat akan menjadikan masalah dalam masalah hadis karena seluruh jalur riwayat melaluinya.

TANGGAPAN Dari uraian MN itu tampaknya MN perlu mengkaji ulang tentang definisi sahabat dan kriterianya serta kehidupannya saat bersama Nabi dan setelah Rasulullah saw wafat. Silakan baca desertasi yang sudah dibukukan dengan judul Sahabat Nabi karya Dr.Fuad Jabali (penerbit mizan).

Tentang hadis yang dijamin surga, ada ulama yang menyatakan tidak kuat. Misalnya Al-Uqaili yang memasukkan hadis ini dalam kitabnya Ad Dhu’afa Al Uqaili 2/272 no 833, Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad 5/54 no 20568, Musnad Ahmad 5/57 no 20597 dan tahqiqnya terhadap Shahih Ibnu Hibban 16/244 no 7256, dan Syaikh Wasiullah bin Muhammad Abbas dalam tahqiqnya terhadap kitab Fadhail As Shahabah hadis no.1, serta Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 10/179 no. 4694.

Ulama hadis ternama Syaikh Albani memasukan hadis sahabat yang dijamin masuk surga dalam Silsilah Ahadits Ad Dhaifah no 2901, Dhaif Sunan Tirmidzi no 3862, Zhilal Al Jannah no 992 dan Dhaif Jami’ As Shaghir no 1160.

Para ulama hadis mendhaifkan hadis sahabat yang djamin masuk surga karena di dalamnya terdapat perawi yang majhul (tidak dikenal), yaitu Abdurrahman bin Ziyad. Ia adalah perawi yang tidak jelas. Ada yang menyebutkan namanya Abdurrahman bin Ziyad, ada yang menyebutkan namanya Abdurrahman bin Abdullah, ada pula yang menyebutnya Abdullah bin Abdurrahman dan ada pula yang menyebutnya Abdurrahman bin Abi Ziyad. Perbedaan nama-nama tersebut menunjukkan ketidakjelasan siapa dia sebenarnya. Sama halnya dengan kisah fiktif Abdullah bin Saba yang tidak jelas. Saya kira itu hanya dibikin-bikin karena jalurnya berasal dari Ibnu Taimiyyah dan yang diambil dari Saif bin Umar Tamimi. Kemudian disebarkan tanpa sikap kritis.

Silakan kaji kembali mulai dari sanad dan matan serta tokoh-tokoh yang ada di dalamnya rata-rata pernah menodai sejarah setelah Rasulullah saw wafat. Kalau MN seorang ahli sejarah pasti bisa menggunakan akal sehatnya. Sangat jelas dari rangkaian sahabat yang di dalamnya ada tokoh yang merongrong pemerintahan Khulafa Rasyidin seperti Muawiyah bin Abu Sufyan. Masa sih yang kelakukan anti Islam masuk surga. Saya yakin bahwa hadis tersebut sengaja dibuat oleh Bani Umayyah ketika mereka berkuasa. Bukankah masa tadwinul hadis dilakukan masa kekuasaan Bani Umayyah? Karena masa kekuasaan Abu Bakar dan Umar terjadi pelarangan dan sejumlah tulisan hadis yang ditulis sahabat lain dibakar agar tidak campur dengan ayat-ayat Al-Quran. Silakan baca buku Sejarah Hadiskarya Dr.Majid Maarif (penerbit Nur Al-Huda).

Harus diakui bahwa tidak semua sahabat Nabi itu baik dan saleh. Bahkan, ada yang masuk Islam karena berlindung supaya tidak diperangi. Setiap sahabat punya kualitas dan derajat tersendiri. Tidak semua saleh. Bahkan istri Nabi saja ada yang tidak mematuhi Rasulullah saw, apalagi sahabat? Tentang istri Nabi ini, silakan lihat surah At-Tahrim. Ayat-ayat awal menerangkan tentang kelakukan dua istri Nabi yang senantiasa membuat marah dan Allah meminta Nabi untuk menawarkan pilihan tetap bersama atau cerai. Jelas tidak istimewa bukan posisi mereka di hadapan Nabi. Sejarah jarang menguraikan kisah ini karena dianggap menodai tokoh-tokoh Islam. Dengan Quran umat Islam dapat mengetahui tabiat dan karakter istri dan para sahabat Nabi.

 

Silakan MN baca surah Al-Jumuah yang di dalamnya disebutkan ada sahabat yang meninggalkan Nabi saat khutbah karena ada penjual yang datang menawarkan dagangan. Terbayang oleh saya kalau MN sedang ceramah kemudian jamaah bubar karena ada barang murah yang dijual di luar masjid. Pasti kecewa dan dianggap tidak punya etika mejelis. Apalagi ini tehadap Nabi, tampak tidak saleh dan tidak memiliki akhlak terhadap Rasulullah saw.

Kemudian dalam Perang Uhud, para sahabat berlarian meninggalkan Nabi, termasuk dua khalifah yang senantiasa dibanggakan. Kalau memang benar saleh dan pembela Nabi, serta dapat jaminan surga dari Rasulullah saw harusnya tidak lari walau nyawa menjadi taruhan. Bukankah jihad adalah pintu surga. Ternyata kesadaran dengan akhirat sangat kurang. Malah lari dari perang meninggalkan Nabi.

Sebagai bahan analisa, silakan MN membaca buku Muhammad: Sang Teladankarya Abdurrahman Asy-Syarqawi. Buku ini aslinya berjudul: Muhammad Rasuulul Hurriyyah yang diterjemahkan oleh KH.Baihaqi Syafiuddin kemudian diterbitkan Irsyad Baitus Salam, 2007.

Pada halaman 276-279 disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib rad an Amar bin Yassir ra diberi tanggungjawab oleh Nabi untuk pembangunan Masjid di Madinah. Disebutkan para sahabat kurang antusias. Kemudian Ali dan Amar menyemangati mereka dengan syair-syair. Utsman bin Affan yang dikenal sebagai orang kaya dan bangsawan tidak senang dengan tingkah Amar. Utsman mengacungkan ujung tombaknya pada hidung Amar karena tersindir dengan syair.

Halaman 318 disebutkan tokoh Hasan bin Tsabit—meski telah memeluk Islam—tetap masih sering mabuk. Suatu ketika Hasan bin Tsabit ditegur oleh salah seorang sahabat. Kejadian itu diketahui Nabi, yang kemudian malah memarahi balik sahabat yang memarahi Hasan bin Tsabit. Secara akal sehat tidak mungkin Nabi melakukan demikian karena sejak remaja dan sebelum menjadi Rasul sudah menunjukkan sikap tidak suka dengan gaya hidup orang Makkah, khususnya mabuk.

Halaman 365-367 disebutkan Abdurrahman bin Auf memberikan perlindungan dalam Perang Badar untuk Umayyah bin Khalaf yang dahulu teman dekatnya. Tindakan itu dikecam sahabat lainnya. Bilal mendatangi bekas majikan yang pernah menyiksanya itu. Bilal menantangnya duel. Abdurrahman bin Auf marah kepada Bilal karena Umayyah berada dalam lindungannya. Bilal tidak mengubrisnya malah terus menantang sehingga Umayyah pun meladeninya. Dalam duel itu Bilal menang.

H alaman 485-516 diterangkan Aisyah binti Abu Bakar, istri nabi, pulang dalam perjalanan bersama lelaki muda, Shafwan ke Madinah. Setelah mengetahui kejadian itu, Nabi pisah tidur dengan Aisyah. Putri Abu Bakar itu pun pulang ke rumah orangtuanya.

Halaman 683-698 diterangkan setelah peristiwa Fathu Makkah, Nabi mengerahkan 12.000 pasukan untuk melawan Bani Tsaqif yang berjumlah 20.000 orang. Di Lembah Hunain terjadi pertempuran. Pasukan Islam digempur dari berbagai arah sehingga kocar kacir dan pasukan Islam (di dalamnya jelas para sahabat) berlarian meninggalkan Nabi. Dalam bagian kisah ini Abdurrahman Asy-Syarqawi menulis, “Seorang laki-laki dari kalangan orang-orang Islam nekad akan membacok Muhammad; karena ingin membalas dendam atas kematian ayahnya yang mati terbunuh dalam pertempuran Uhud” (halaman 686). Namun, dengan cepat laki-laki itu segera dilumpuhkan. Sayangnya, laki-laki yang pastinya sahabat karena berada dalam pasukan Nabi tidak disebutkan oleh penulisnya.

Apalagi kalau membaca sejarah setelah wafat Rasulullah saw, banyak para sahabat yang berperang melawan sahabat lagi. Bahkan, pemerintahan Islam di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib ra dirongrong oleh sahabat-sahabat ternama seperti Thalhah, Zubair, Muawiyah, Amr bin Ash, dan istri Nabi sendiri yang melakukan penyerangan. Jadi, bagaimana bisa menilai sahabat itu adil dan saleh atau dijamin masuk surga kalau setelah wafat Nabi tidak memegang teguh Islam. Tidak dipungkiri memang ada sahabat yang baik dan saleh. Karena munculnya oknum-oknum maka wajar kalau kemudian disebut “kafir” dan saya kira maknanya tidak sama dengan murtad.

Berkaitan dengan pengkafiran sahabat yang dituduhkan oleh MN dalam bulletin perlu dibuktikan. Sejarah menceritakan bahwa Bani Umayyah justru yang menghujat Ali bin Abi Thalib ra selama 70 tahun dalam khutbah jumat. Bahkan, para keturunan Ali bin Abi Thalib dan pengikutnya dibunuh. Yang tragis adalah tindakan Yazid bin Muawiyah yang membantai keluarga Rasulullah saw, khususnya memenggal kepala Husain putra Fatimah dan Ali, yang juga cucu Rasulullah saw.

Saya menemukan riwayat pelaknatan Muawiyah terhadap Ali bin Abi Thalib ra yang ditulis oleh Jalaluddin Suyuthi bahwa: “Pada zaman Bani Umayyah terdapat lebih dari tujuh puluh ribu mimbar untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang telah ditetapkan Muawiyah.” [Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili, “Syarh Nahjul Balaghah”, jil. 1, hal. 356].

Kemudian dari Ibn Abdu Rabbih berkata: “Ketika Muawiyah melaknat Ali dalam khutbahnya di Masjid Madinah, Ummu Salamah segera menyurati Muawiyah, ‘Sungguh engkau telah melaknat Ali bin Abi Thalib. Padahal, aku bersaksi Allah dan Rasul-Nya mencintainya.’ Namun, Muawiyah tidak peduli dengan kata-kata Ummu Salamah itu.” [Ibn Abdu Rabbih, “Al-‘Iqdu al-Farid”, jil. 2, hal. 301 dan jil. 3, hal. 127].

Juga dari Yaqut al-Hamawi berkata: “Atas perintah Muawiyah, Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Timur hingga Barat, di mimbar-mimbar masjid.” [Yaqut al-Hamawi, “Mu’jam al-Buldan”, jil. 1, hal. 191]. Silakan dianalisa dengan metode hadis atau sejarah!

Mungkin karena perilaku Muawiyah itulah pengikut Syiah kerapkali memberikan kritik yang pedas setiap kali membicarakan sosok-sosok penopang Bani Umayyah. Kritik itu mungkin dipahami sebagai cercaan oleh orang-orang yang tidak paham dengan sejarah. Kemudian disebarluaskan bahwa Muslim Syiah mencaci sahabat. Yang mengherankan: kenapa mereka yang membenci Syiah tidak juga mencaci Muawiyah yang jelas-jelas dalam sejarah politik merebut kekuasaan Ali dan membuat kebijakan untuk menghujatnya dalam khutbah jumat?

Kami pernah membaca fatwa dari Sayid Ali Khamenei, pemimpin tertinggi di Iran dan ulama Syiah, yang menyatakan larangan menghujat sahabat (yang diambil dari situs):

“Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, ahlusunah, berupa tuduhan terhadap istri Nabi saw. dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri- istri para nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia saw. Semoga Anda semua mendapatkan taufik untuk setiap kebaikan”.

Dengan adanya bukti larangan dari ulama Syiah tersebut, sudah saatnya tidak lagi menganggap Muslim Syiah sebagai penghujat sahabat. Kalau pun memang ada, itu adalah oknum yang perlu dibina dan diarahkan dengan baik tanpa menghilangkan identitas yang diyakininya.

 

sumber : Misykat

%d blogger menyukai ini: