Catatan Untuk Buku Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (1)

Dr. Muhammad Babul Ulum
Dewan Syura PP IJABI

Salah seorang alumni Gontor, Hamid Fahmi, menerbitkan sebuah buku untuk menjelaskan ajaran Syiah. Buku ini diklaim sebagai buku “ilmiah” dan disebutkan ditulis oleh para sarjana yang memiliki kapasitas dalam kajian tentang mazhab Syiah. Namun, buku yang ternyata hanya kumpulan makalah mahasiswa peserta Program Pengkaderan Ulama ISID Gontor itu, tidak seindah judulnya. Dr. Muhammad Babul Ulum, salah seorang anggota Dewan Syura IJABI yang juga alumni Gontor, memberikan telaah ringkas atas buku tersebut. Kami memuatnya dalam dua tulisan. (majulah-IJABI)

Picture

Dosen saya di SPs Ciputat berkata kepada saya: Hamid Fahmi menerbitkan buku tentang Syiah. Setelah memperlihatkan sampul buku yang di-up load di group diskusi yang ia ikuti tertulis nama Hamid Fahmy Zarkasyi sebagai editor buku berjudul Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya. Segera saya menjawab: Isinya bisa ditebak. Terlepas dari cara menulisnya yang jauh dari kaidah ilmiah walaupun Hamid mengklaim sebagai buku ilmiah, saya harus bersyukur. Sebab sekelompok santri Gontor telah mengangkat persoalan Syiah ke panggung polemik yang lebih kondusif untuk merangsang gairah pemikiran para santri dalam bentuk buku yang bisa dikritisi, daripada dalam bentuk pembekalan lisan yang sulit dibuktikan seperti yang selama ini dilakukan.

Segera setelah membaca kata pengantar Hamid saya mengontak dosen saya bahwa tebakan saya benar, walaupun Hamid mengklaim buku tersebut ditulis oleh para sarjana yang memiliki kapasitas untuk mengkaji serta menjelaskan teologi dan ajaran Syiah secara obyektif dan tetap berpegang pada al-Qur`an dan Sunnah. Dan, karenanya, buku ini hadir dengan wajah ilmiah. (h. xv).

Sebelum saya tunjukan ktirik saya terhadap buku tersebut, perlu saya informasikan buku tersebut adalah himpunan makalah yang ditulis oleh para mahasiswa peserta Program Pengkaderan Ulama (PKU) ISID Gontor. Selain karya mahasiswa ada juga beberapa karya para dosen ISID yang lain, satu di antaranya adalah rekan seangkatan saya, alumni Gontor 92, Khalid Muslih. Selain karya dosen ISID, Hamid juga menggandeng beberapa koleganya di MIUMI yang beraliran Wahabi seperti Adian Husaini, Henri Salahuddin, dan Fahmi Salim. Semua nama-nama tersebut sudah tidak asing bagi para aktifis Wahabi di Indonesia. Agak sedikit mengherankan nyempil nama Idrus Ramli pendaku pembela Ahlussunah wa al-Jama’ah ikut bergabung bersama para aktifis Wahabi. Padahal perbedaan keduanya sangat jauh bagaikan langit dan sumur. “Bayna al-samâ`i wa al-sumûri,” kata Gus Dur. Meminjam lirik Ariel Paterpan (alm), “Ada apa denganmu, Idrus? Hanya Tuhan dan Idrus yang tahu jawabannya.

Apresiasi saya selanjutnya pada pilihan judul yang dipakai untuk menghimpun kumpulan makalah tersebut dengan tambahan kata menurut referensi induknya. Kesan pertama saya membaca judul buku tersebut: Begitu menggoda, selanjutnya, menggelikan. Menggoda, karena seolah-olah para penulisnya telah menelusuri dan memahami pelbagai referensi induk Syiah yang otoritatif sehingga Hamid menyebutnya sebagai akademisi yang berkapasitas untuk berbicara tentang Syiah. Dan menggelikan, karena ternyata metodologinya tidak ilmiah. Oleh karena itu saya sebut buku ilmiah yang tidak ilmiah. Setidaknya ada tiga poin –kalau tidak semuanya pasti ada salahsatunya menjadi ciri umum mereka yang menulis Syiah secara ‘ilmiah’, tidak terkecuali para kontributor buku yang digawangi oleh Hamid tersebut. Berikut akan saya sebutkan ciri umum mereka:

  1. Mengutip sumber Syiah sepotong-sepotong dan melepaskannya dari konteks kalimat.
  2. Mengutip sumber Syiah dan memberikan makna yang dikarang sesuka hatinya. Orang Ponorogo bilang: sak pena’e wudele dewe.
  3. Menyematkan apa saja kepada Syiah dengan menyematkan sumber-sumber imajiner yang hanya ada di alam mimpi, atau sumber yang tidak otoritatif,  atau tidak menyebut sumber sama sekali.

Ketiga poin di atas akan kita jadikan acuan untuk membaca buku tersebut. Dan untuk menilai benar-tidaknya ketiga asumsi di atas, kita harus membuktikannya dengan memakai standar ilmiah yang terakreditasi. Dan, karena itu, kita akan masuk pada bahasan berikut.  

Apa, sih, Ilmiah itu?

Seperti saya singgung di atas, untuk menentukan sebuah karya itu ilmiah atau tidak, diperlukan metode dengan standar yang jelas dan terakreditasi. Saya menolak klaim sepihak Hamid yang menyebut karyanya dan karya teman-temannya adalah ilmiah dengan tiga asumsi di atas. Dan, supaya tidak ikut-ikutan seperti mereka, saya harus membuktikan asumsi tersebut secara ilmiah. Karena kita berbicara tentang Syiah –dan Sunni, tentunya. Sedangkan keduanya, menurut Kamaruddin, adalah produk sejarah. Maka kita memerlukan metode sejarah. Dan metode sejarah dinilai ilmiah, menurut Louis Gottschalk, bila memenuhi dua syarat. Pertama, mampu menentukan fakta yang dapat dibuktikan; Kedua, fakta itu berasal dari unsur yang diperoleh dari hasil pemeriksaan yang kritis terhadap dokumen sejarah.[1] Dan ketiga, tambahan dari saya meminjam istilah Prof. Suwito, harus dari sumber yang otoritatif dan dapat diverifikasi.[2]

Selain sebagai produk sejarah Syiah dan Sunni sebagai Mazhab memiliki bangunan ideologi yang berasal dari sumber yang sama; al-Qur`an dan hadis dengan segala problematikanya. Karena itu saya sepakat dengan Komaruddin Hidayat dan Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) yang mempromosikan metode abductive untuk kajian al-Qur`an dan Hadis sebagai sumber historis.[3] Dalam dunia filsafat metode ini lazim dikenal sebagai “Inference to the best explanation.” Kecuali Kang Jalal metode ini masih asing bagi peminat islamic studies di dunia Islam, apalagi di lingkarannya Hamid Fahmi. Agar jelas apa dan bagaimana operasionalisasi metode ini, berikut akan saya tampilkan penjelasan Kang Jalal secara ilustratif.

Seorang peneliti seperti Hamid Fahmi, misalnya, ketika hendak melakukan penelitian biasanya bergerak dari pengamatan (sejumlah data awal). Ia berusaha menjelaskan pengamatannya untuk mengasumsikan kemungkinan sebab dari efek yang diamati. Ia mengumpulkan bukti-bukti dan menyesuaikan asumsi awal dengan peristiwa yang terjadi berikutnya. Lalu membangun hipotesis untuk menyeleksi dan menemukan fakta. Fakta itu kemudian dijadikan bukti untuk menyusun teori beserta teori-teori alternatif. Dan pada akhirnya, teori-teori itu diuji dengan data-data yang ditemukan dalam penelitian.

Selanjutnya mari kita bedah hipotesis Hamid dengan metode abductive.[4] Dalam metode ini kita terima semua hipotesis yang muncul terkait isu yang sedang kita diskusikan. Dalam kasus yang sedang kita hadapi sekarang yang terkait dengan Syiah kita terima hipotesis Hamid yang menyebut Syiah sebagai sumber konflik yang terjadi di negara-negara Arab seperti Iraq, Bahrain, Kuwait, Saudi Arabia Selatan. Dengan tanpa menyebut sumber, Hamid melanjutkan, “Di Syiria konflik yang sesungguhnya adalah antara pemerintah yang Syiah dengan rakyat penganut Ahlussunah, tulis Hamid dalam kata pengantar. (h. ix). Baru sampai di sini saja sudah terbukti poin no-3 dari asumsi saya di atas. Hamid tidak menyebut sumber rujukan apalagi bukti yang menguatkan hipotesisnya. Okeylah, karena masih di awal, kita terima hipotesis tersebut. Hipotesis itu kemudian kita hadapkan dengan fakta yang dapat diverifikasi. Dengan prinsip konsistensi dan inkonsistensi kita uji hipotesis itu. Yang sesuai dengan fakta, kita terima. Yang tidak sesuai, kita tolak. Lalu kita bangun hipotesis baru.

Sekarang mari kita uji hipotesis Hamid dengan fakta di lapangan. Rakyat Irak heterogen terdiri dari pelbagai suku dan agama. Ada Arab, Kurdi, Turkmen, Armain. Yazidi, Sunni, Syiah, Kristen, Druz dan lain-lain. Kemunculan ISIS dengan ideologi Wahabinya yang dibentuk oleh Amerika dan Israel membuat Irak porak poranda. Jadi, penyebab konflik di Irak adalah ISIS yang beraliran Wahabi. Dari sini terbukti, hipotesis Hamid yang menyebut Syiah sebagai sumber konflik di Irak, tidak sesuai dengan fakta. Karena itu, kita tolak karena tidak ilmiah. Satu bukti ini saja sebenarnya cukup untuk menggugurkan hipotesis Hamid. Kalau tidak puas dengan satu bukti ini, masih banyak fakta lain yang dapat menggugurkan hipotesisnya.

Sampai hari ini orang-orang Syiah di Iraq selalu menjadi target pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok elit di era Saddam. Mereka berasal dari anasir partai Ba’ath atau pun elit masyarakat yang kehilangan previlige yang mereka terima saat Saddam berkuasa. Tidak hanya nyawa bahkan banyak situs yang tidak bernyawa ikut dihilangkan. Kelompok mana yang gemar memusnahkan situs bersejarah? Dokumentasi terpercaya membuktikan bahwa mereka dari aliran Wahabi yang saat ini berkuasa di Arab Saudi. Jadi, konflik di Irak terjadi karena infiltrasi pihak Wahabi yang dahulu pernah menjadi teman mesranya Saddam Hussein. Semua fakta ini sangat terang benderang.[5] Atsil Nujaifi mantan Walikota Mosul dan Usamah Nujaifi mantan ketua parlemen Irak dua orang bersaudara yang berdasarkan  investigasi tim independen adalah yang paling bertanggungjawab atas jatuhnya kota Mosul ke tangan ISIS.[6] Kedua nama tersebut ditambah nama lain, Thariq Hasyimi, mantan Wakil Presiden Irak yang kabur ke Arab Saudi,[7] juga bisa menjadi bukti lain untuk menggugurkan hipotesis Hamid yang menyebut Syiah sebagai penyebab konflik di Irak. Semua nama tersebut bukan dari kelompok Syiah. Dengan demikian, tuduhan Hamid, kata Ayu Ting-Ting: salah alamat. Tidak terbukti. Dan, karena itu, hipotesisnya tidak ilmiah.

Dari Irak kita ke Bahrain. Orang-orang Syiah sudah mendiami wilayah yang sekarang disebut Bahrain ratusan tahun sebelum kerajaan Bahrain modern berdiri atas bantuan imperialis Inggris. Dan jumlah mereka mayoritas. Presentasinya mencapai sekitar 75% dari seluruh penduduk Bahrain. Walaupun mayoritas, Syiah menjadi warga negara kelas dua. Sejak bergulirnya musim semi Arab bersama warga Bahrain lain yang Sunni, Syiah Bahrain bangkit menyuarakan reformasi kehidupan sosial politik secara damai.  Adakah yang salah dari mereka? Takut akan imbas dari gerakan reformasi, Saudi mengirim para prajurit bayaran untuk memadamkan aksi damai di Bahrain. Sejak saat itu kekerasan demi kekerasan menimpa mayoritas Syiah Bahrain. Dunia diam  terhadap pelanggaran HAM rezim Bahrain dukungan Saudi.[8] Ulama Syiah Bahrain, Syaikh Qasim Isa diusir dari tanah kelahirannya. Syaikh Ali Salman pemimpin gerakan al-Wifâq ditangkap dengan tuduhan palsu. Bahkan ratusan anak Syiah usia sekolah terlanggar hak asasinya karena ditangkap secara semena-mena.[9] Di sini lagi-lagi terbukti, Arab Saudi yang Wahabi berada di balik konflik yang terjadi. Karena itu, tuduhan Hamid tidak terbukti. Dengan demikian hipotesis Hamid tidak ilmiah.

Selain Bahrain, Hamid juga menyebut Syiah sebagai sumber konflik di Kuwait. Hipotesis seperti ini menunjukkan kalau Hamid adalah seorang yang tidak memiliki wawasan yang cukup dalam hal ini. Hipotesisnya tidak sejalan dengan motto pendidikan di Gontor: berpengetahuan luas. Perlu Hamid ketahui bahwa di Kuwait tidak terjadi konflik sebagaimana yang terjadi di Bahrain dan Irak, seperti saya singgung di atas. Apalagi tuduhan bahwa konflik tersebut disebabkan oleh perkembangan Syiah. Semuanya itu hanya ada di alam mimpinya saja. Di sini terbukti hipotesis no-3 yang saya sebut di awal tulisan ini  bahwa Hamid menyematkan apa saja kepada Syiah tanpa mengutip sumber atau mendasarkan pada sumber imajiner. Yang terjadi justru Syiah di Kuwait menjadi korban kebiadaban, lagi-lagi, kaum Wahabi dukungan Saudi. Sebuah Masjid Syiah di Kuwait City dibom oleh seorang Wahabi warga negara Saudi yang menyusup saat shalat Jum’at sedang berlangsung. Segera setelah itu, Raja Kuwait mengumumkan hari bela sungkawa.[10]

Catatan Kaki

 

Catatan Kaki

[1] Louis Gottschalk, Understanding History: A Primer of Historical Method (New York: Alfred A. Knopf, 1956), 193.

[2] Muhammd Babul Ulum,  Al-Mu’âwiyât: Hadis-Hadis Politis Keutamaan Sahabat, Disertasi, SPs UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2015.

[3] Tentang Metode ini untuk studi al-Qur`an, lihat Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik (Jakarta: Paramadina, 1996). Jalaluddin Rakhmat, Misteri Wasiat Nabi Asal Usul Sunnah Sahabat: Studi Historiografis atas Tarikh Tasyri’ (Bandung: Misykat, 2015), 38.

[4]  Apa Metode Abductive dan urgensinya untuk analisa, lihat Bernard Walliser, Denis Zwirn and Hervé Zwirn, “Abductive Logics in a Belief Revision Framework.” Journal of Logic, Language, and Information, Vol. 14, No. 1 (Winter, 2005), 87-117.  http://www.jstor.org/stable/40180387. Diakses 16/06/2014.

[5] Yitzhak Nakash, “The Shi’ites and the Future of Iraq,” Foreign Affairs, Vol. 82, No. 4 (Jul-Aug., 2003), 17-26. http//www.jstor.org/stable/20033646. Diakses 29/09/2014.

[6] Al-Mukhâbarât al-Amrîkîyah: Athîl al-Nujaifî Kâna Ya’mal li Shâlihi Dâ’isy. http://www.qanon302.net/in-focus/2015/06/24/62996.

[7] http://www.alalam.ir/news/1059354.

[8] http://www.alalam.ir/news/3170.

[9] http://www.alalam.ir/news/1736668.

[10] http://www.bbc.com/arabic/middleeast/2015/06/150626_kuwait_mosque_explosion.

Sumber :
%d blogger menyukai ini: