Buku Kyai Alawi: Di Mana Spektakuler dan Ilmiahnya?

Saya dapat buku karya Kyai Alawi yang terbaru. Di sampulnya tertulis “spektakuler” dan bab I diawali dengan kalimat “Karya ilmiah ini”. Ternyata saya kecele. Jauh panggang dari api, euy! Seperti disebutkan oleh Kyai Alawi dalam kata pengantarnya, gaya penulisan bukunya tidak sama dengan gaya penulisan desertasi doktoralnya Dr. Jalaluddin Rakhmat.

 

Memang tidak sama. Berikut adalah perbedaannya. Pertama, disertasi tentu menggunakan metode ilmiah yang dijelaskan secara terperinci dan bisa diverifikasi. Dalam hal ini Ustaz Jalal menggunakan metode historis dan jarh wa al- ta’dil. Saya tidak tahu apa metode yang digunakan Kyai Alawi. Kedua,  Ustaz Jalal menggunakan data dan fakta yang sudah diverifikasi, Kyai Alawi menggunakan prasangka dan imajinasi (khayalan) untuk menopang argumentasinya. Ketiga, untuk menilai derajat hadis, Kyai Alawi menggunakan metode sendiri dan mengabaikan penilaian para ahli hadis. Hadis yang cocok dengan argumentasinya disahihkan, yang tidak cocok didhaifkan. Tampaknya beliau tidak mengenal ilmu jarh wa al-ta’dil. Eh, tapi nulis buku tentang hadis, bahkan kritik hadis. Hebaat.

Contohnya, Kyai Alawi mengutip hadis “Imam Ali ra pernah berkata: Kami para sahabat Rasulullah saw tidak pernah ragu bahwa kedamaian senantiasa terucap pada lisan Umar (halaman 7).

 

Kyai Alawi tidak menyebutkan sumbernya, tapi dengan jelas menulis, “Ucapan Imam Ali ini sangat mudah ditemukan dalam puluhan kitab-kitab hadits, tarikh, dan tafsir.”

 

Puluhan? Kyai Alawi tidak menyebutkan satu pun dari puluhan kitab tersebut. Tidak cukup sampai di situ, Kyai Alawi kemudian menetapkan keshahihan hadis yang tidak ada sumbernya itu.

 

Apa metodenya? Jika ada yang tanya metode apa yang digunakan, Kyai Alawi berkata “Para peneliti yang diberkahi jiwa yang jujur di dalam hatinya akan mengetahui bahwa hadis itu disepakati keshahihannya”.

 

Masalahnya adalah, dalam metode penilaian hadis, kita harus menyebutkan sumbernya, matan dan sanadnya, dan penilaian ahli hadis terdahulu. Kita lihat siapa yg menshahihkannya dan siapa yg mendhaifkannya.

 

Lantas siapakah mereka yang disebut sebagai orang “yang diberkahi jiwa yang jujur di dalam hatinya”?

 

Ilmu hadis kan tidak meneliti sampai ke dalam jiwa, yang hanya Allah yang tahu.

Lagi pula, memang hadis dengan matan di atas tidak ada dalam satu kitab hadis pun.

 

Yang ada adalah hadis yang matannya ini:

 

ان الله جعل الحق علي لسان عمر و قلبه
“Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lidah umar dan hatinya.”

 

Hadis ini diriwayatkan dari ibn Umar, Abu Dzar, Abu Said, Abu Hurairah, Muawiyah.

Sumber-sumbernya antara lain Ahmad, Turmudzi, al-Hakim, al-Thabrani.

 

Pada semua jalannya ada saja orang-orang yang dhaif, yaitu Abdullah bin Shalih, Abu Bakar bin Abi Maryam. Kata Al-Haitsami:

فيه ضعفاء سليمان الشاذكوني وغيره

 

Walhasil, hadis ini pun dhaif. Kyai Alawi, mengomentari pendhaifan hadis itu – seperti hadis mawquf – dengan kalimat “riwayat tersebut palsu” (halaman 26).

 

Masih pada pengantar, halaman 9, Kyai Alawi mengutip dua hadis tentang dua orang khusus Nabi saw, yaitu Abu Bakar dan Umar.

 

Hadis pertama disebutnya shahih, hadis kedua, hadis hasan. Dan bisa ditebak, tidak ada alasan atau hujjah untuk penilaian hadis tersebut. Jangan tanya metodenya, nanti dijawab lagi dengan kalimat “yang diberkahi jiwa yang jujur …” Capek, deh …

 

Menurut ahli hadis, kedua hadis itu dhaif. Al-Albani memasukkan hadis pertama dalam kitab al-Jami al-Dha’if dan al-Silsilah al-Dhaifah.

 

Tentang hadis yang kedua, saya kutipkan komentar ahli hadis:

4 – إنَّ لكلِّ نبيٍّ خاصَّةً من أمَّتِه وإنَّ خاصَّتي من أصحابي أبو بكرٍ وعمرُ
الراوي: عبدالله بن مسعود المحدث: الهيثميالمصدر: مجمع الزوائد – الصفحة أو الرقم: 9/55
خلاصة حكم المحدث: فيه عبد الرحيم بن حماد الثقفي وهو ضعيف

.Menurut Kyai Alawi, pendhaifan yang diputuskan oleh ahli hadis di atas dianggap riwayat palsu

?Dan ajaibnya, beliau sebut hadis itu shahih dan hasan. Jagoan, kan. Metodenya 

Sudah pasti like or dislike.

 

Beliau ini, saking hebatnya ilmu hadisnya, bisa mendhaifkan hadis yang muttafaq alaih, seperti hadis 12 khalifah yg diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Lihat Bab 10: Telaah Hadits 12 Khalifah.

 

Kyai Alawi juga menganggap hadis-hadis tentang wasiat adalah mawdhu’ tanpa alasan apa pun.
Ah, saya sudah mulai terbiasa dengan gayanya.

 

Sekarang kita bergerak dari kata pengantar yang berisi “riwayat-riwayat palsu” ke analisis penulis. Di sini juga dicantumkan riwayat palsu lagi. Tampaknya beliau hanya mengutip dari kutipan lagi (besar kemungkinan dari buku Wahhabi al-Ghamidi). Akibatnya, cara menerjemahkannya salah, deh.

 

Lihat, nih, ya:

المسجي diterjemahkan yang sedang tidur,  karena Pak Kyai nggak baca konteksnya.

Ketika Umar meninggal dunia, jenazahnya diletakkan antara mimbar dan kuburan. Kemudian Ali datang dan berdiri di depan barisan. Ia berkata: Inilah dia 3x.

 

Kemudian ia berkata: rahmat Allah bagimu. Tidak ada di antara makhluk yang lebih aku cintai untuk menghadap Allah dengan shahifahnya kecuali dari orang yg tertutup kain kafan ini.

 

Bandingkan dengan terjemahan Kyai Alawi (atau yang disewa oleh Kyai Alawi untuk menerjemahkannya) di dalam buku tersebut. Sedang tidur? Plis, deh. Lagi-lagi, hadisnya dhaif atau dalam bahasa Kyai Alawi “riwayat palsu”.

 

Lihat kutipan langsung hadisnya berikut ini:
وُضِع عُمرُ بنُ الخطابِ رضي الله عنه بينَ المنبرِ والقبرِ فجاء عليٌّ رضي اللهُ عنه حتى قام بينَ يَدَيِ الصفوفِ فقال : هو هذا ثلاثَ مراتٍ ثم قال : رحمةُ اللهِ عليكَ ما مِنْ خَلْقِ اللهِ تعالى أحبَّ إليَّ مِنْ أَنْ ألقاه بصَحيفتِه بعدَ صَحيفةِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مِنْ هذا المُسَجَّى عليه ثوبُه
الراوي: عبدالله بن عمر المحدث: أحمد شاكرالمصدر: مسند أحمد – الصفحة أو الرقم: 2/160
خلاصة حكم المحدث: إسناده ضعيف

Jadi bingung saya mau nerusinnya. Kayak gini mau  disebut buku dilawan dengan buku? Memang, sih, ada bukunya. Tapi buku yang gimana dulu, dong! 

Sementara itu dulu, deh. Tidak perlu disisir satu per satu. Tidak enak juga saya, hehehe. Kita tunggu jawabannya, sekaligus biar jadi bekal buat diskusi atau bedah buku yang diklaim Pak Kyai diselenggarakan di mana-mana. Padahal belum tentu ada, tuh.

 

[Anwar Jabir, dari whatsapp group misykat; 4 desember 2015, jam 19.00]

 

Sumber : Misykat

%d blogger menyukai ini: