Bagaimana Aisyah ra Menyebut Dirinya?

Kaum muslimin wajib menghormati sahabat-sahabat Nabi Saw, apalagi istri-istri beliau yang disebut ummul mukminin. Ulama dari berbagai mazhab telah menyampaikan hal ini. Bahkan, mazhab Islam Syiah yang sering dituduh atau difitnah mencela istri dan sahabat-sahabat Nabi Saw, juga telah menegaskan hal yang sama. Adalah Sayyid Ali Khamenei, pemimpin spiritual Iran yang mayoritas penduduknya mengikuti mazhab Syiah tersebut, yang telah mengeluarkan fatwa keharaman mencela dan menghina istri dan sahabat Nabi Saw, serta simbol-simbol apa saja yang dihormati oleh mazhab Islam Sunnah.
Namun untuk melanjutkan pelajaran hadis, kita kembali melihat kutubussittah. Kali ini kita mengutip beberapa hadis tentang ummul mukminin Aisyah ra, khususnya bagaimana beliau menyebut dirinya sendiri dalam rumah tangga Rasulullah Saw. Penomoran disini mengikuti Lidwa Software.

Hadis 1
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى قَالَتْ فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ فَقَالَ أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِينَ لَا وَرَبِّ مُحَمَّدٍ وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى قُلْتِ لَا وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ قَالَتْ قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَهْجُرُ إِلَّا اسْمَكَ
Telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Isma’il Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari bapaknya dari Aisyah radliallahu ‘anha, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perna bersabda kepadaku: “Sesungguhnya aku benar-benar tahu saat kamu ridla padaku dan saat kamu marah kepadaku” Aisyah berkata; Aku bertanya, “Dari mana Anda mengetahui hal itu?” maka beliau pun menjawab: “Jika kamu ridla terhadapku maka engkau berkata, ‘Demi Rabb Muhammad.’ Namun bila kamu sedang marah denganku, maka kamu berkata, ‘Tidak. Demi Rabb Ibrahim.'” Aku pun berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak meninggalkan namamu.” Sahih Bukhari Hadis No. 4827

Hadis 2

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ ابْنُ أَبِي رَجَاءٍ حَدَّثَنَا النَّضْرُ عَنْ هِشَامٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ
مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ لِكَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاهَا وَثَنَائِهِ عَلَيْهَا وَقَدْ أُوحِيَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ لَهَا فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ
Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Abu Raja` Telah menceritakan kepada kami An Nadlr dari Hisyam ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku bapakku dari Aisyah bahwa ia pernah berkata, “Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap isteri-isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, melebihi rasa cemburuku kepada Khadijah, yang demikian karena begitu seringnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut-nyebut dan memuji kebaikannya. Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberi kabar gembira kepadanya dengan rumah yang dipersembahkan untuknya di dalam surga yang terbuat dari marmer.” Sahih Bukhari Hadis No. 4828

Hadis 3

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ قَطُّ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ مِمَّا رَأَيْتُ مِنْ ذِكْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهَا وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ
يَعْنِي مِنْ ذَهَبٍ قَالَهُ ابْن مَاجَةَ
Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaim dari Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah ia berkata, “Aku tidak pernah merasa cemburu melebihi rasa cemburuku kepada Khadijah, hal itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menyebut namanya. Dan Rabbnya telah memerintahkan kepadanya agar beliau memberi kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara, yakni emas.” Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Majah. Sunan Ibn Majah Hadis No. 1987. Disahihkan oleh Nasiruddin Albani.

Hadis 4

أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ
أَنَّهَا يَعْنِي أَتَتْ بِطَعَامٍ فِي صَحْفَةٍ لَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ فَجَاءَتْ عَائِشَةُ مُتَّزِرَةً بِكِسَاءٍ وَمَعَهَا فِهْرٌ فَفَلَقَتْ بِهِ الصَّحْفَةَ فَجَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ فِلْقَتَيْ الصَّحْفَةِ وَيَقُولُ كُلُوا غَارَتْ أُمُّكُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَحْفَةَ عَائِشَةَ فَبَعَثَ بِهَا إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ وَأَعْطَى صَحْفَةَ أُمِّ سَلَمَةَ عَائِشَةَ
Telah mengabarkan kepada kami Ar Rabi’ bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Asad bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Abu Al Mutawakkil dari Ummu Salamah bahwa dia datang dengan membawa makanan di atas piringnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau, lalu datanglah ‘Aisyah dengan bersarungkan pakaian, dia datang membawa batu, lalu memecah piring itu dengannya, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan dua pecahan piring dan bersabda: “Makanlah, ibu kalian telah cemburu,” dua kali, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil piring ‘Aisyah dan mengirimnya kepada Ummu Salamah dan memberikan piring Ummu Salamah kepada ‘Aisyah. (Nabi menukar Ummu Salamah ra yang sudah rusak dengan piring Aisyah ra yang masih bagus). Sunan Nasa’i Hadis No. 3894. Disahihkan oleh Nasiruddin Albani.

Hadis 5

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ بِقَصْعَةٍ فِيهَا طَعَامٌ فَضَرَبَتْ يَدَ الْخَادِمِ فَسَقَطَتْ الْقَصْعَةُ فَانْفَلَقَتْ فَأَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضَمَّ الْكَسْرَيْنِ وَجَعَلَ يَجْمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ وَيَقُولُ غَارَتْ أُمُّكُمْ غَارَتْ أُمُّكُمْ وَيَقُولُ لِلْقَوْمِ كُلُوا وَحَبَسَ الرَّسُولَ حَتَّى جَاءَتْ الْأُخْرَى بِقَصْعَتِهَا فَدَفَعَ الْقَصْعَةَ الصَّحِيحَةَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الَّتِي كُسِرَتْ قَصْعَتُهَا وَتَرَكَ الْمَكْسُورَةُ لِلَّتِي كَسَرَتْ
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakr telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas, suatu hari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam sedang berada pada salah seorang istrinya. Tiba-tiba salah seorang ummahatul mukminin (isteri beliau lainnya) mengirimkan piring berisi makanan. Lalu dia memukul tangan pelayan sehingga jatuhlah piring tersebut dan pecah. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengambilnya dan menyatukan dua pecahannya dan mengumpulkan makanan tersebut dan bersabda: “Ibu kalian sedang cemburu, Ibu kalian sedang cemburu”. Hanya beliau tetap mempersilahkan para sahabat, “Makanlah kalian!”. Sedang Rasulullah masih menahan diri sampai isteri beliau yang memecahkan menghidangkan makanannya. Selanjutnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memberikan piring yang masih bagus kepada isteri yang telah dipecah piringnya, dan yang pecah diserahkan kepada isteri beliau yang memecahkan. Musnad Ahmad hadis No. 13273.

Catatan: di hadis Imam Ahmad ini, nama istri Rasulullah Saw tidak disebutkan. Namun, sengaja kami kutipkan karena senada dengan hadis no. 4 yang diriwayatkan An-Nasa’i di atas. Kami tidak pada posisi untuk mengatakan bahwa hadis ini juga berkenaan dengan Aisyah ra. Silahkan pembaca memberikan analisa sendiri. Bandingkan pula dengan hadis no. 6 berikut ini.

Hadis 6

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ فُلَيْتٍ عَنْ جَسْرَةَ بِنْتِ دَجَاجَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا رَأَيْتُ صَانِعَةَ طَعَامٍ مِثْلَ صَفِيَّةَ أَهْدَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَاءً فِيهِ طَعَامٌ فَمَا مَلَكْتُ نَفْسِي أَنْ كَسَرْتُهُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كَفَّارَتِهِ فَقَالَ إِنَاءٌ كَإِنَاءٍ وَطَعَامٌ كَطَعَامٍ
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dari Abdurrahman dari Sufyan dari Fulait dari Jasrah binti Dajajah dari Aisyah, dia berkata; “Saya tidak melihat seorang wanita pembuat makanan seperti Shafiyah, dia memberikan hadiah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bejana yang berisi makanan, kemudian saya tidak dapat menahan diriku untuk memecahkannya. Lalu saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai kafarah hal tersebut maka beliau bersabda: “Bejana seperti bejana dan makanan seperti makanan.” Sunan Nasa’i Hadis No. 3895

Hadis 7

قَالَ حَدَّثَنَا هَارُونُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو صَخْرٍ عَنْ أَبِي قُسَيْطٍ حَدَّثَهُ أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَتْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا لَيْلًا قَالَتْ فَغِرْتُ عَلَيْهِ قَالَتْ فَجَاءَ فَرَأَى مَا أَصْنَعُ فَقَالَ مَا لَكِ يَا عَائِشَةُ أَغِرْتِ قَالَتْ فَقُلْتُ وَمَا لِي أَنْ لَا يَغَارَ مِثْلِي عَلَى مِثْلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَأَخَذَكِ شَيْطَانُكِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمَعِي شَيْطَانٌ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَمَعَ كُلِّ إِنْسَانٍ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَمَعَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ وَلَكِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَعَانَنِي عَلَيْهِ حَتَّى أَسْلَمَ
Telah menceritakan kepada kami Harun, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahab, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Shakhr dari Abi Qusaith, dia telah menceritakan bahwa ‘Urwah bin AZ-Zubair, ia menceritakan bahwa Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakan kepadanya; Pada suatu malam Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pergi dari sisinya, lalu (Aisyah) Berkata; “Saya pun merasa cemburu kepadanya.”, (Aisyah) Berkata; “Lalu Rasulullah datang dan beliau melihat apa yang saya perbuat, maka beliau bersabda: “Kenapa kamu merasa cemburu wahai Aisyah!”, (Aisyah) Berkata; “Maka saya berkata; ‘Kenapa orang sepertiku tidak cemburu terhadap orang seperti engkau? ‘”, maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Apakah kamu telah dikuasai setan kamu?” (Aisyah) Berkata; “Wahai Rasulullah! Apakah bersamaku setan?” Rasulullah bersabda: “Ya.” Saya (Aisyah) bertanya; “Adakah setiap manusia mempunyai setan?” Rasulullah bersabda: “Ya.” Saya (Aisyah) Berkata; “Bersamamu juga wahai Rasulullah? Rasulullah bersabda: “Ya, hanya Tuhanku telah menolongku untuk melumpuhkannya sehingga saya selamat.” Musnad Ahmad Hadis No. 23701

Demikianlah beberapa hadis tentang ummul mukminin Aisyah ra. Semuanya terdapat di dalam kutubussittah. Pakar hadis generasi belakangan, semisal Nasiruddin Albani, juga mensahihkannya. Hadis-hadis tersebut sengaja kami pilihkan yang diriwayatkan oleh Aisyah ra sendiri atau istri Nabi Saw yang lain, sebagai pembelajaran.

Tentu tidak ada maksud penghinaan yang dilakukan oleh Imam Bukhari, Imam Ahmad, Imam Nasa’i, Imam Ib Majah dan lainnya kepada ummul mukminin Aisyah ketika menuliskan hadis-hadis tersebut. Mereka menuliskannya sebagai pelajaran untuk seluruh kaum muslimin. Juga perlu dipahami bahwa, jika sekiranya ada ulama saat ini yang melakukan kajian atas hadis-hadis tersebut lalu mempercayai kesahihannya, mereka tidak bermaksud melakukan penghinaan kepada Aisyah ra. Mempelajari hadis adalah untuk mencari hikmah di dalamnya.

Hadis 8

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كُنْتُ أَغَارُ عَلَى اللَّاتِي وَهَبْنَ أَنْفُسَهُنَّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَقُولُ وَتَهَبُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا فَلَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
{ تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ وَمَنْ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ }
قَالَ قُلْتُ وَاللَّهِ مَا أَرَى رَبَّكَ إِلَّا يُسَارِعُ لَكَ فِي هَوَاكَ
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Ala` telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari ayahnya, dari Aisyah dia berkata; Saya selalu cemburu seorang wanita yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saya berkata; Apakah seorang wanita menyerahkan dirinya? Maka ketika Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat: “Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai maka tidak ada dosa bagimu…” (QS Al-Ahzab: 51). Saya (Aisyah) berkata; Demi Allah, saya tidak melihat Rabbmu kecuali sangat cepat memenuhi hawa (nafsu)mu. Sahih Muslim No. 2658, 2659

Catatan: lihat jawaban Sayyidah Aisyah ra kepada Rasulullah Saw. Kalimat ini, minimal bagi orang Bugis Makassar seperti saya, sungguh sangat tidak sopan. Apalagi ini kepada Rasulullah Saw, semulia-mulia makhluk. Itu sama dengan kejadian di perjanjian Hudaibiyah. Saat itu, banyak sahabat tidak puas dengan keputusan itu karena dianggap berat sebelah. Sahabat Umar bin Khattab berkata kepada Nabi Saw, “apakah kamu Nabi?”. Kalimat-kalimat ini bisa kita temukan di dalam kitab-kitab muktabar kita, yang dalam tradisi kita sangat tidak sopan. Inilah yang sering digunakan oleh saudara Syiah kita ketika melakukan kritik kepada sahabat Nabi Saw.

Jika kita mau mendengar, Syi’i selalu mengatakan bahwa mereka tidak menghina sahabat Nabi Saw. Mereka hanya melakukan kritik. Inilah jenis-jenis hadis yang sering mereka gunakan. Lalu apa yang kita harus katakan? Kami hanya akan menganjurkan bahwa hendaknya kita saling menghormati saja. 

%d blogger menyukai ini: