Apakah Syiah Mengkafirkan Ahlussunnah?

Mempelajari suatu mazhab harusnya dari ulama mazhab tersebut. Hal ini dilakukan agar tidak muncul bias dalam menilai suatu mazhab. Cara itulah yang LPPI Makassar coba sampaikan kepada sesama ahlussunnah dalam mengenal mazhab lain di dalam Islam, termasuk dalam mengenal mazhab Syiah. Edisi ini, kami menyuguhkan kutipan buku Syiah Menurut Syiah tentang informasi yang kita sering dengar, khususnya dari kelompok Wahabi, bahwa Syiah mengkafirkan ahlussunnah karena tidak mempercayai Imamah. Benarkah demikian? Apa pandangan ulama Syiah tentang keharusan mempercayai Imam? Simak jawaban mazhab Syiah berikut ini. [lppimakassar.net]

Buku Panduan MUI halaman 66 menyatakan, “Lebih jauh, Al-Kulaini berkata, bahwa orang yang menganggap Sayidina Abu Bakr dan Sayidina Umar itu muslim, tidak akan ditengok Allah pada hari kiamat dan dapatkan siksa yang pedih (alias masuk neraka).” (Catatan kaki 75: Lihat al-Ushul min al-Kafi, vol. 1/233)

Al-Kulaini menyatakan: Bermaksiat kepada Ali adalah kufur dan mempercayai orang lain lebih utama dan berhak dari beliau dalam imamah adalah syirik.” (Catatan kaki 76 al-Kafi, vol.1/232)

Kemudian di dalam Buku Panduan MUI halaman 67 menyatakan:
AlMajlisi menulis dalam bukunya, “Sekte imamiyah bersepakat bahwa sungguh orang yang mengingkari imamah salah satu dari imam kami dan menolak kewajiban dari Allah untuk mentaatinya adalah kafir yang pasti kekal di dalam neraka.” (Catatan kaki 77: Lihat Bihar aI-Anwar, vol. 8/366, vol. 23/390)

Berkaitan dengan hukum seorang muslim yang diklasifikasikan Mukhalif’ (yang berbeda pandangan dengan Syiah), (Dalam catatan kaki 78: Lihat Buku Putih Mazhab Syiah, hal. 62 dijelaskan disana bahwa Sikap syiah terhadap yang pertama (mukhalifJ adalah tetap menganggap mereka muslim dan mukmin dan tetap memiliki hak-hak sebagai seorang muslim yang harus dihormati jiwa harta dan kehormatannya.” Tetapi di kitab-kitab Syiah muktabar berkata lain, umumnya menganggap muslim di luar mereka adalah kafir dan kekal di neraka.)

Yusuf al-Bahrani, ulama Syiah muktabar menyatakan bahwa Seorang mukhalif itu kafir, tiada baginya keislaman sedikitpun sebagaimana yang kami tahqiq dalam kitab al-Syihab al-Tsaqib. Sayyid Abdullah Syubbar berkata, “Ketahuilah bahwa banyak ulama Imamiyah menghukumi bagi ahlul khilaf/mukhalif, seperti Sayid al-Murtadha, di dunia dan akhirat. Pendapat yang paling masyhur adalah mereka kafir dan kekal di neraka akhirat kelak, namun berlaku aturan Islam atas mereka dalam hal menjaga darah dan hartanya di dunia.”

Selanjutnya, buku Panduan MUI halaman 68 menyebutkan,
“Baqir al-Majlisi berkata, “Kaum mukhalif bukanlah ahli surga, pula ahli manzilah antara sorga dan neraka. Jika al-Qaim datang, ia lebih dulu membunuhi mereka sebelum orang-orang kafir.Al-Mamqani berkata “Inti dari riwayat-riwayat khabar itu adalah berlakunya hukum kafir dan musyrik di akhirat kelak bagi siapa saja yang bukan penganut Itsna Asyari”

Tanggapan:

Mazhab Syiah adalah sebuah mazhab yang memiliki system tata diri dan proteksi nilai yang mengagumkan. Betapa tidak, semua riwayat dan hadis yang tersebar pada banyak kitab dalam Syiah wajib tunduk dan patuh atas semua ketentuan yang termuat di dalam kitab suci Alquran. Sehingga tidak akan didapati dalam khazanah mazhab ini sebuah kitab yang menduduki peringkat sahih setelah Alquran. Sehingga kitab tersebut imun terhadap studi kritis untuk menilai akurasi dan validitas suatu hadis dan riwayat yang tercantum di dalamnya.

Terhadap kutipan di atas kami hanya berprasangka baik dan tidak menganggapnya sebagai upaya untuk mendiskreditkan mazhab Syiah. Apatah lagi untuk menciptakan kebencian dan adu domba antar kaum muslimin lainnya.

Perlu juga diketahui bahwa setiap pendapat yang berasal dari ulama mazhab Ahlul Bait, adalah pendapat yang memiliki peluang untuk diterima maupun ditolak dengan tetap mengacu dan berpegang kepada prinsip-prinsip utama di dalam Alquran. Sehingga kutipan hadis seperti di atas tidak serta-merta menjadi wakil pandangan resmi dari mazhab Syiah.

Perlu dibedakan antara penolakan seseorang berdasarkan lemahnya dalil kepemimpinan Ahlul Bait (kelompok pertama) dan penolakan setelah menerima keabsahan dan kekuatan dalil yang lebih tepat disebut pengingkaran (kelompok kedua). Kata ‘kafir’ yang dimaksud adalah untuk kelompok kedua, bukan kelompok pertama. Pendapat yang disampaikan oleh Yusuf AI-Bahrani dan Sayyid Abdullah Syubbar di atas berlaku bagi kelompok kedua tersebut.

Makna kafir semacam ini juga digunakan dalam Alquran dengan kata juhud, sebagaimana berikut,
Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (QS. AI-Naml [27]: 14)

Oleh karena itu, apa pun yang dikatakan ulama Ahlul Bait dalam kitabnya masih dapat dinilai, dikritisi dan ditimbang dengan neraca yang bemama kitab Allah. Hal ini adalah konsekuensi logis dari tidak berlakunya sebuah kitab Ahlul Bait yang berlebel sahih, sebagaimana penjelasan para ulama Syiah berikut ini:

1. Mirza AI-Nuri Al-Thabarsi dalam Khatimah Mustadrak Al-Wasail (3/358):

AI-Thabarsi berkata, “Bukanlah tujuanku dari hal tersebut untuk menyahihkan hadis yang tersebar luas, bahwa kitab ini (AI-Kafi) ditunjukkan kepada AI-Hujjah as kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya kitab ini cukup untuk Syiah kami.’ Hadis ini tidak berdasar dan tidak mempunyai pengaruh di dalam kitab-kitab sahabat kami (ulama Syiah). “250

2. Syaikh Mufid menyatakan dalam Kitab Tashih al-I’tiqad Al-Imamiyyah, “Adapun hadis yang Abu Ja’far (Syaikh Shaduq) nisbatkan kepada Sulaim di dalam kitabnya (Kitab Sulaim bin Qais), melalui jalur periwayatan Aban bin ‘Ayyasy, riwayat itu maknanya sahih, akan tetapi kitab tersebut (kitab Sulaim) tidak bisa dipercaya, maka tidak dibenarkan seluruh isinya, karena di dalamnya terdapat kerancuan dan kebohongan. Maka sudah seharusnya bagi orang beragama untuk tidak mengamalkan, mempercayai secara utuh seluruh isinya dan taqlid kepada perawi-perawinya. Mintalah bantuan kepada ulama untuk menilai hadis sahih dan hadis buruk di dalamnya. ”251

3. Syaikh Al-Mufid menyatakan dalam Kitab Al-Jamal wa Al-Nushrah Li Sayyid Al-‘Itrah fiHarb Al-Bashrah: “Syiah sepakat tentang hukum kufurnya orang yang memerangi Amirul Mukminin as. Akan tetapi mereka (Syiah) tidak mengeluarkan mereka dari hukum agama Islam.” Kekafiran mereka dari sisi takwil (bukan dari sisi tanzil). Kufur agama di sini bukan kufur keluar dari syariat (murtad). Karena mereka masih menjalankan sejumlah syariat, menampakkan dua kalimat syahadat, serta berpegang dengan hal itu dari hal kufur murtad yang menyebabkan keluar dari Islam. Sekalipun kekufuran mereka keluar dari iman. ‘ ‘252

Dalam pemyataannya tersebut, jelas bahwa Al-Mufid mengatakan kata “kufur” yang berarti bukan kufur dalam pengertian di luar Islam. Sebab, jika pengertiannya adalah kufur di luar Islam, maka jelas orang tersebut bukan seorang muslim.

4. Muhammad Hasan Al-Najafi dalam kitab Jawahir Al-Kalam berkata, Ketika seseorang menyuarakan kekafiran mukhalif (mengingkari imamah Ahlul Bait), dia diketahui kerusakannya, dari khabar-khabar mu’tabar dan fakta sejarah yang qath’i, namun tetap dibenarkan keislamannya karena dua kalimat syahadat. ”253

Dalam kitab tersebut, sangat gamblang bahwa konteks kalimatnya menggunakan kata syahadatain (dua kalimat syahadat) yang berarti “Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad Rasul Allah.” Oleh karenanya, siapa saja yang mengucapkan kalimat tersebut, berarti dia adalah seorang muslim, sehingga akan berlaku baginya seluruh hukum Islam.

5. Imam Khomeini dalam Kitab Al-Thaharah tentang hokum mukhalifin berkata, “Sesungguhnya Imamah menurut pengertian yang ada pada kelompok Imamiyah adalah tidak termasuk keharusan diniyah (keagamaan). Karena hal itu (keharusan diniyah) termasuk persoalan-persoalan yang sudah jelas dan terang di hadapan seluruh muslimin. Bisa jadi keharusan Imamah tersebut di hadapan muslimin hal yang dipertentangkan. Apalagi keberadaan Imamah sebagai dharurah. Yang benar dia adalah termasuk ushul al-mazhab (dasar mazhab), dan yang mengingkarinya keluar dari mazhab tersebut, bukan keluar dari islam.” 254

6. Sayyid Al-Khu’i dalam kitab Al-Tanqih fi Syarh Al-‘Urwah Al-Wutsqa berkata, “Sesungguhnya ahli khilaf (yang mengingkari imamah) yang mengingkari apa-apa yang telah ditetapkan dalam keharusan agama, yaitu wilayah Ali dim ana Nabi telah menjelaskannya kepada mereka, dan memerintahkan mereka untuk menerimanya serta mengikutinya, semen tara mereka justru mengingkari wilayahnya sungguh telah berlalu (pembahasannya). Sesungguhnya ingkar pada keharusan (Imamah) menyebabkan kekufuran. Ini bentuk yang diarahkan kepada orang yang mengetahui hal itu, namun dia mengingkarinya.”

“Dan tidak dibenarkan (kekufuran) jika disandarkan kepada para penentangnya karena dharuriyah akan wilayah adalah wilayah dengan makna cinta dan penolong. “255

Dharuriyah dalam hal ini adalah sebuah makna kecintaan yang telah disepakati oleh semua muslimin. Selanjutnya Sayyid Al-Khu’i berkata, “Dan mereka (seluruh muslimin) tidak mengingkarinya dengan makna semacam ini, bahkan mereka menampakkan kecintaannya kepada Ahlul Bait as. Adapun wilayah yang dimaksud kekhalifahan bukan termasuk dharuri, akan tetapi dia termasuk masalah persepsi…”

Yang benar adalah bahwa wilayah dengan pengertian khilafah termasuk dari dharuriyah mazhab bukan dharuriyah agama. Maka mengingkarinya tidak akan mengeluarkan manusia dari agama dan dari Islam. “256

Sehingga sekali pun argumen yang digunakan adalah pendapat dari kalangan ulama Ahlul Bait, maka kita tetap dengan tegas akan menolaknya jika pemyataan tersebut bertentangan dengan Alquran.

Seperti inilah penjelasan ulama Syiah tentang kata “kafir” bagi orang yang mengingari “Imamah Ahlul Bait”. Bahwa mereka tidak keluar dari Islam, dan sebagaimana telah kami nyatakan di atas bahwa pedoman yang kami miliki adalah mengembalikan semua riwayat kepada Alquran.

Sebagaimana Allah Swt berfirman,
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. AI-Nahl [16]: 125)

Kemudian, kita dapat melihat dalam salah satu literatur Ahlus Sunnah seperti Al-Shawaiq Al-Muhriqah yang menuliskan banyak keutamaan Ahlul Bait Nabi Saw, namun Ibnu Hajar AI-Haitsami (w. 947H/1566 M) juga menuliskan kritik pedas terhadap orang-orang Syiah.

Berikut ini kami kutip perkataannya, “Adapun Rafidhah dan Syiah dan sejenisnya adalah saudara Syaitan, musuh-musuh agama, orang-orang bodoh, berbeda pokok dan cabang agama, penganut kesesatan, layak mendapatkan siksa dan azab yang pedih. Mereka bukanlah Syiah Ahlul Bait yang disucikan dari segala kekurangan dan kotoran, karena mereka ekstrem di sisi Allah. Maka, mereka berhak kekal dalam kehancuran kesesatan, dan kesalahan. Mereka hanyalah Syiah Iblis terlaknat dan pengganti anak-anaknya yang terkutuk. Maka bagi mereka laknat Allah, malaikat-Nya dan seluruh manusia. 257

Dalam hal ini, Syiah sama sekali tidak menganggap pernyataan pedas terhadap Syiah di atas sebagai pendapat Ahlus Sunnah yang muktabar.

Lebih dari itu, ada yang menarik dari salah seorang ulama murid Ibnu Taimiyah ketika memberikan penilaiannya ihwal kriteria dan klasifikasi terhadap orang yang disebut beriman atau pun yang tidak beriman, yang kami pandang perlu untuk disuguhkan kepada pembaca.

Al-Ghaniman menyatakan dalam Kitab Al-Sabaik Al-Dzahabiyyah bi Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah,
“Sehingga Muhammad Hamid berkata dan yang lainnya termasuk ulama Mesir, kita senantiasa mengetahui dan membedakan antara ahli tauhid dan Ahlus Sunnah dalam kecintaan kepada Ibnu Taimiyah. Maka barang siapa membencinya, kita telah mengetahui bahwa dia bukan kelompok ahli tauhid dan sunnah. Dan barang siapa mencintainya kita telah mengetahui bahwa dia kelompok ahli tauhid. 258

Dalam pandangan Al-Ghaniman tersebut, yaitu bahwa muslimin sedunia, di dalamnya termasuk ulama di Indonesia yang membenci dan berlepas diri dari Ibnu Taimiyah maka mereka bukan ahli tauhid maupun ahli sunnah. Sebab bagi mereka, tolok ukur bertauhid dan syirik, tergantung kecintaan kepada Ibnu Taimiyah.

250. Mirza Husein al-Nuri al-Thabarsi, Khatimah Mustadrak al-Wasail, j.3, h. 470, Cet. 1, Mu’assasah Alu Bait li Ihya al-Turats, Beirut, Lebanon, 2008
251. Syeikh al-Mufid, Tashih al-I’tiqad al-Imamiyyah, h. 149, cet. 1, tahkik oleh Husein Darghani, Mu’tamar al-‘Alami  Li Al-Fiyah Syaikh al-Mufid, Qom, Iran, 1413H
252. Syeikh al-Mufid, al-Jamal wa al-Nushrah li Sayyid al-‘Itrah fi Harb al-Bashrah, h. 69, tahkik oleh Ali Mir Syarifi, cet. 1, Maktab al-I’lam al-Islami, Qom, Iran, 1413H
253. Muhammad Hasan al-Najafi, Jawahir al-Kalam, j. 4, hal. 82-83, cet. 7, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Lebanon, 1981
254. Imam Khomeini, Kitab Thaharah (3.27)
255. Mirza ‘Ali Al-Gharawi, al-Tanqih fi Syarh al-‘Urwah al-Wutsqa, j. 3, hal. 79, Mu’assasah al-Khu’i al-Islamiyyah, Irak, t.t.
256. Ibid., j. 3, hal. 80
257. Ibn Hajar al-Haitami, al-Sawaiq al-Muhriqah, hal. 216,  maktabah al-Haqiqah, Istanbul, Turki, 2003
258. Abdullah bin Muhammad al-Ghaniman, Al-Sabaik Al-Dzahabiyyah bi Syarh al-‘Aqidah Al-Washitiyah, hal. 38-39, Dar Ibn al-Jauzi, Kairo, Mesir, 1430H.

Sumber: Buku Syiah Menurut Syiah, hal. 201 – 207

%d blogger menyukai ini: