Apakah Bahasa Arab Lebih Baik dari Bahasa Lain?

Ahli linguistik manakah yang menganggap bahasa Arab merupakan bahasa yang paling sempurna? Baik dari kalangan Muslim maupun non Muslim. Menjawab ini, pertama yang harus kita lakukan adalah memperhatikan poin berikut bahwa tidak ada urgensitas bahwa wahyu Ilahi itu harus diturunkan dengan bahasa yang paling sempurna, sebagaimana kita juga bisa menyaksikan sebagian dari kitab-kitab langit telah diturunkan dengan bahasa selain Arab.

Dari sisi lain, menganalisa secara jeluk struktur sebuah bahasa dan mengkomparasikannya dengan bahasa-bahasa yang lain, selain harus berada di bawah keahlian para cendekiawan ilmu-ilmu Islam, juga harus dianalisa dari perspektif para ahli linguistik. Secara sepintas dalam kitab-kitab dan dunia maya, kita bisa menyaksikan dengan baik adanya perbedaan-perbedaan teori di kalangan para ahli lingusitik berkaitan dengan masalah ini.

 

Sebagian menganggap kebergantungan makna bahasa Arab dengan perubahan-perubahan kalimatnya merupakan sebuah hal yang baik, sebagian yang lain menganggap bahwa peng-i’rab-an (pemberian tanda baca) yang ada dalam bahasa ini telah menempatkannya sebagai sebuah bahasa yang sulit.

Namun bagaimanapun, bahasa Arab memiliki karakteristik-karakteristik yang menarik dalam menyampaikan makna dan konteks sastra, oleh karena itu banyak kalangan penyair Arab dan Persia yang memanfaatkan bahasa yang tidak bisa diingkari kelayakan dan kapabilitasnya ini.

Dalam Al-Quran pun, pada banyak kasus yang mengisyarahkan pada ke-Arab-an al-Quran, menurut penjelasan para cendekiawan linguistik Arab[1], yang dimaksud dengan ke-Arab-an al-Quran di sini adalah kefasihan dan interpretasinya yang jelas: “(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.”[2]

Sementara itu, dalam kaitannya dengan diturunnya Al-Quran dalam bahasa Arab, hal ini berkaitan dengan kondisi negeri tempat diturunannya wahyu ini dan karakteristik-karakteristik yang dimiliki oleh penduduknya. Karena demikianlah sunatullah, sebagaimana Dia berfirman, “Dan jika Kami jadikan Al-Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab, tentulah mereka mengatakan, “Mengapa jelas ayat-ayatnya? Apakah (patut Al-Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab?” Katakanlah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan pada telinga orang-orang yang tidak beriman terdapat sumbatan, sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.”[3]

Dari perspektif riwayat pun tidak pernah ada anggapan bahwa bercakap dengan bahasa Arab dianggap sebagai sebuah kemuliaan, bahkan memperlihatkan kesombongan karena ke-Arab-an dianggap sebagai sebuah hal yang tercela[4], dan dijelaskan bahwa “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”.[5]

Jika pun sebagian dari perspektif hadis, bahasa Arab dianggap sebagai sebuah bahasa yang lebih baik dari bahasa-bahasa lainnya, akan tetapi secara lahiriah hal ini dikarenakan bahasa ini merupakan bahasa yang dipergunakan oleh para penghuni surga. Kendati tidak ada pemahaman yang detail mengenai riwayat ini, akan tetapi tidak bisa dikatakan bahwa bahasa Arab sebagai sebuah bahasa dengan struktur yang lebih baik.[6]

Catatan

[1]. Raghib Ishfahani, Mufradat Alfâzh Al-Qurân, hlm. 557, Darulqalam, Beirut, cetakan pertama; Mushtafawi, Hasan, At-Tahqîq fî Kalimati al-Qurân al-Karîm, jil. 8, hlm. 74, Dar al-Kutub al-‘Alamiyah, Markaz Nasyr Atsar Alamah Mushtafawi, Beirut – Kairo – London, cet. Ketiga.

[2]. (Qs. Al-Zumar [39]: 28)

[3]. (Qs. Fushilat [41]: 44)

[4]. Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kâfî, diedit oleh Ghaffari dan Akhundi, jil. 8, hlm. 246, Darul Kutub Al-Islamiyah, Teheran, 1407 H.

[5]. (Qs. Al-Hujurat  [49]: 13).

[6]. Hanya dalam satu riwayat marfu’ dalam kitab tertentu yang telah menukilkan dari Rasulullah Saw yang mengisyarahkan terhadap keungulan bahasa yang dipergunakan oleh Rasul, tentunya, tampaknya yang dimaksud di sini adalah dialek Quraish. Bagaimanapun dari riwayat ini tidak bisa diambil kesimpulan yang pasti seperti ini. Mufid, Muhammad bin Muhammad, Ikhtishâh, diedit oleh Ghaffari wa Muharrami, hlm. 187, Al-Mawatir al-‘Alimi Lialfiyah Al-Syaikh Al-Mufid, Qom, 1413 HQ.

Sumber: Islam Quest

%d blogger menyukai ini: