Alasan Kemiripan Nama Putra-putra Baginda Ali dengan Nama Tiga Khalifah [Ustadz Akmal Kamil]

Dengan merujuk kepada bukti-bukti sejarah, kita akan mengetahui bahwa setelah syahadah Sayidah Zahra as, Imam Ali menikah dengan beberapa wanita dan mempunyai anak dari pernikahan itu. Ketiga nama anaknya itu sama dengan nama-nama ketiga khalifah.

Nama-nama mereka adalah Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib yang merupakan anak dari Laila putri Mas’ud Tsaqafi[i], Utsman yang merupakan anak dari Ummu Banin. Kedua putra Imam Ali ini syahid di medan Karbala dalam rangka membela saudaranya, Imam Husain as[ii]. Dan putra ketiga Imam Ali As adalah ‘Umar.[iii]

Dalam mengkaji sebab-sebab kesamaan nama putra-putra (Baginda Ali ini) dengan nama seseorang hal itu dapat ditinjau dari beberapa sisi:

Pertama, pada dasarnya, pemberian nama dan kerabatan dengan nama seseorang hal itu bukan menjadi dalil atas kecintaan, persamaan dalam keyakinan, fikih, ataupun politik sebagaimana tiadanya pemberian nama juga bukan dalil atas adanya pertikaian dan perseteruan. Meski pada sebagian urusan kecintaan dan kebencian dalam memberikan nama (atau tidak memberikan nama) tetap memiliki pengaruh.

Di samping itu, kebudayaan dan kerangka berfikir yang berkembang di tengah masyarakat pada masa itu sedemikian sehingga penamaan nama ini kurang mendapat perhatian juga tidak pula mendapat penekanan. Pada dasarnya dengan mengingat nama-nama ini tidak berasosiasi mengingat khalifah melainkan perjalanan sejarahlah yang membuat ketiga nama ini menonjol. Pada masa itu nama-nama tersebut sangat popular di tengah masyarakat sehingga pemberian nama oleh Imam Ali As atau pun orang lain terhadap nama anak-anak mereka dengan Abu bakar, misalnya, tidak akan mengingatkan seseorang kepada nama Khalifah Pertama.

 

Continue reading “Alasan Kemiripan Nama Putra-putra Baginda Ali dengan Nama Tiga Khalifah [Ustadz Akmal Kamil]”

Iklan

Membela Ustd Prof Dr. Din Syamsudin dari Fitnah Kaum Nashibi Takfiri

Beberapa waktu lalu kembali ada pemberitaan yang kurang elok mengenai Pak Din Syamsudin yang terpilih menjadi ketua MUI. Setelah isu syiah digunakan untuk menjelek-jelekan beliau, kali ini yang digunakan adalah tuduhan bahwa beliau adalah sahabat yahudi.

Dalam ilmu sosiologi dikenal dengan teori labeling, labeling ini adalah saat sekelompok orang berusaha memberi label-label tertentu kepada lawan politiknya agar orang banyak membencinya. Labeling ini yang kemudian digunakan sebagian orang untuk menjatuhkan lawan politiknya. Label-label seperti antek syiah, agen zionis, agen barat sering dikemukakan oleh sebagian kaum muslim untuk menjatuhkan lawan politiknya. Begitupun label-label seperti teroris, fundamentalis, wahabi dll. Sering kali digunakan sebagian kelompok muslim lain untuk menyerang lawan politiknya. Kami tidak sepakat dengan penggunaan labeling tersebut, dikarenakan akan mengaburkan fakta yang sebenarnya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda bahwa Barang siapa yang memanggil muslim lain dengan hai kafir! Padahal dia tidak kafir. Maka sesungguhnya dialah yang kafir. Masalahnya adalah dalam kitab faishal at tafriqah bainal Islam wa zandaqah Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa jika ada dalam diri seseorang 99 ciri kekafiran, dan 1 ciri keimanan, maka tetap orang tersebut masih disebut beriman, walaupun yang membuat dia pantas disebut kafir sebenarnya lebih banyak daripada yang membuat dia pantas disebut beriman. Tentu kita pun sebagai kaum sunni meyakini bahwa walaupun hanya ada keimanan sebesar biji dzarrah dalam diri seseorang, maka dia tetap berpeluang masuk surga, walaupun dosa-dosanya mesti dibersihkan dulu di neraka. Berbeda hal nya dengan akidah kaum khawarij dimana saat seseorang melakukan dosa besar, maka tempatnya di neraka dan tidak bisa masuk surga. Oleh karena ini takfir secara teologis dalam Islam memang harus dilakukan secara sangat hati-hati baik secarat teologis maupun sosiologis.

Inilah yang kami temukan dalam pemberitaan mengenai Pak Din Syamsuddin akhir-akhir ini, ada upaya labeling terhadap Pak Din agar citranya jatuh di mata sebagian umat Islam. Pak Din itu bukan tidak boleh dikritik, Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang tidak mengenal idolatry dan pengkultusan berlebihan terhadap tokoh agama serta sangat membenci taqlid buta. Kami pun punya kritik pribadi terhadap Pak Din, misalkan dalam kepemimpinan Pak Din hampir selama 10 tahun ini saya belum melihat gebrakan Pak Din dalam membangun intelektualitas di kalangan para kader dan angkatan muda Muhammadiyah. Berbeda dengan masa kepemimpinan sebelumnya yaitu saat Ketua PP Muhammadiyah Buya Ahmad Syafii Maarif, perkembangan intelektual di Muhammadiyah sangat maju. Misalnya dengan diperkenalkannya metodologi bayani, burhani dan irfani dari Abid Al Jabiri menjadi metode tarjih Muhammadiyah.

 

Continue reading “Membela Ustd Prof Dr. Din Syamsudin dari Fitnah Kaum Nashibi Takfiri”

Sahabat menurut Mazhab Syiah

Sahabat

Syiah mendefinisikan sahabat seperti yang dikemukakan dalam kamus-kamus bahasa Arab sebagai berikut: Kata as-shâhib dalam bentuk jamaknya (plural) ialah shahab, ashab, shihab, dan shahabah.

Kata al-shâ hib berarti yang menemani (al-mu‘asyir) dan yang selalu menyertai ke mana pun (al-mulâzim) serta “tidak dikatakan kecuali kepada seseorang yang sering menyertai temannya”, “Dan persahabatan mensyaratkan adanya kebersamaan yang lama”.

Persahabatan terjadi di antara dua orang. Dengan demikian, jelas bahwa kata as-shâhib (sahabat) dan pluralnya al-ashhab mesti disandarkan kepada sebuah nama ketika dalam percakapan. Seperti yang terdapat dalam Al-Quran, yaitu firman-Nya: Yashâhibayissijni (dua teman di penjara) dan “ashabu Musa” (para sahabat Musa).

Pada masa Rasulullah Saw dikatakan shahib Rasulullah dan ashabu Rasulullah, dengan disandarkan (mudhaf) kepada Rasulullah Saw.

Sebagaimana juga digunakan dalam ungkapan: ashabu bai‘ati al-syajarah (komunitas baiat di bawah pohon) dan ashabu shuffah (para sahabat yang tinggal di serambi masjid), yang di dalamnya kata ashabu tersebut diisbatkan kepada selain Nabi.

Kata shâhib dan ashab pada saat itu memang belum digunakan sebagai nama untuk para sahabat Rasulullah Saw, tetapi kaum Muslim terbiasa menamakan orang-orang Muslim (pengikut Rasul Saw) dengan istilah shahabi dan ashab.

Jadi, penamaan ini termasuk jenis penamaan yang dilakukan oleh kaum Muslim dan terminologi yang dibuat kemudian (mutasyarri‘).

Sahabat di Hadapan Hukum Akal dan Sejarah

Syiah meyakini bahwa di antara sahabat Nabi terdapat pribadi-pribadi agung yang telah disebutkan keutamaannya oleh Al-Quran dan Sunnah. Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua sahabat tidak ada yang salah atau perbuatan-perbuatan mereka benar semuanya tanpa kecuali.

Dalam banyak ayat Al-Quran, terutama dalam Surat Al-Barâ’ah, Al-Nûr, dan Al-Munâfi qûn, Al-Quran bercerita tentang kaum munafi k yang notabene adalah orang Muslim yang hidup pada waktu hidup Nabi—dan, karena itu, dalam defi nisi umum yang berlaku, dapat disebut sebagai sahabat— dan mengecam mereka dengan keras.

Selain itu, terdapat pula di antara sahabat Nabi yang melanggar baiat yang telah diberikan kepada khalifah.

Sekadar contohnya: “Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafi kannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (QS. Al-Taubah [9]: 101).

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang meng akui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Taubah [9]: 102).

Syiah meyakini bahwa seorang manusia, meskipun sahabat Nabi, bergantung pada amalnya, sesuai dengan prinsip Al-Quran yang menyatakan, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurât [49]: 13).

Maka, siapa saja di antara sahabat Nabi yang selama bersama Nabi, ikhlas dan terus dalam garis ini dalam menjaga Islam dan kesetiaan kepada Al- Quran sesudah wafatnya, Syiah mengakuinya dan mengkategorikannya sebagai orang salih.

 

Continue reading “Sahabat menurut Mazhab Syiah”

Mengenal Kitab Hadis Syiah Biharul Anwar

Imam Muhammad al-Baqir berkata: Rasulullah saaw bersabda kepada Amirul Mukminin Ali as, ‘catatlah apa-apa yang kukatakan kepadamu’. Dan Imam Ali sendiri mengatakan “ikatlah ilmu” (dengan menuliskannya), yang diulangnya sampai dua kali (al-Baghdadi,Taqyid al-Ilmi, 1974: 89).

Sedangkan Imam Hasan putera Ali as memberikan nasehat : “…Pelajarilah ilmu! dan siapapun di antara kamu yang tak sanggup menghapal ilmu (yaitu hadis), catatlah dan peliharalah hadis itu di rumahmu”.

Berikutnya, Imam Ja’far Shadiq as berkata :”Tulis dan sebarkan ilmumu di antara saudaramu. Jika kamu mati, maka anak–anakmu akan mewarisi kitab–kitabmu. Kelak, akan tiba suatu masa yang di dalamnya terjadi kekacuan dan orang-orang tidak lagi memiliki sahabat yang melindungi dan tak ada penolong kecuali buku-buku.”

Beliau juga menyatakan: “peliharalah buku–bukumu,karena suatu saat kalian akan membutuhkannya” (Al-Majlisi, Bihar Al-Anwar jilid 2, 1983: 152). Riwayat-riwayat ini menunjukkan perhatian yang luar biasa dari Nabi saaw, Imam Ali as dan keturunannya untuk menjaga hadis-hadis mereka dalam bentuk kitab-kitab dan tulisan, bukan sekedar menghapalnya.

Continue reading “Mengenal Kitab Hadis Syiah Biharul Anwar”

Peristiwa Kelahiran Imam Husain

Setahun setelah kelahiran al-Hasan cucu Rasulullah saw, pada tanggal 3 Sya’ban tahun 4 Hijriah, Rasulullah saw menerima kabar gembira dengan kelahiran al-Husain. Maka beliau saw pun berkata kepada Asma binti Umais, “Hai Asma, tolong bawa kemari anakku itu.”

Asma segera membawa bayi yang terbungkus kain putih dan memberikannya kepada Rasulullah saw. Rasululah saw begitu gembira lalu mendekapnya. Dibacakannya azan di telinga kanan bayi itu, dan iqamat di telinga kirinya. Kemudian ditidurkannya bayi itu di pangkuannya, lalu Beliau saw menangis tersedu-sedu.

Mendengar tangis Rasulullah saw, Asma bertanya, “Demi ayah dan ibuku, siapa yang Anda tangisi, wahai Rasulullah?”

“Anakku ini,” jawab Beliau saw.

Asma berkata, “Dia baru saja dilahirkan.”

Rasulullah saw berkata, “Wahai Asma, dia kelak akan dibunuh oleh sekelompok pembangkang sesudahku, yang syafaatku tidak akan sampai kepada mereka.”

 

Continue reading “Peristiwa Kelahiran Imam Husain”

Catatan Untuk Fahmi Salim Dalam Kasus Terbunuhnya Utsman bin Affan ra

Dalam diskusi buku berjudul 40 Masalah Syiah karya Emilia Renita Az yang diadakan Balitbang Kemenag, 17 Desember 2012, Fahmi Salim (FS) menuduh penulis (Emilia Renita Az) dan editornya (Kang Jalal) yang bertindak sebagai pembedah telah memutarbalikkan fakta sejarah terkait dengan terbunuhnya Utsman bin Affan.

Sembari menolak keterlibatan Aisyah, Thalhah, Zubair dan sahabat-sahabat yang lain, Fahmi menduga tuduhan Kang Jalal tersebut disandarkan pada kitab al-Muraja’at karangan Syafruddin al-Musawi yang menurutnya kitab fiktif yang penuh dengan tuduhan jahat.

Ada beberapa kesalahan fatal FS dalam diskusi atas studi kasus-kasus lektur dan khazanah keagamaan di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat tersebut.

 

Continue reading “Catatan Untuk Fahmi Salim Dalam Kasus Terbunuhnya Utsman bin Affan ra”

Dr Muhammad At-Tijani As-Samawi: Pandangan Rasulullah saw tentang Sahabat

Bersabda Rasulullah SAW: “Ketika aku sedang berdiri tiba-tiba datang sekelompok orang yang kukenal. Lalu keluarlah seorang di antara kami dan berkata, “Mari.”

Kutanya, “Kemana?” Jawabnya, “Ke neraka, demi Allah.”

“Apa kesalahan mereka?” Tanyaku. “Mereka telah murtad setelahmu dan berbdik dari kebenaran, dan kuperhatikan tiada yang tersisa melainkan (sedikit sekali yang) seperti sekelompok unta yang tersisih,” jawabnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Aku akan mendahului kalian di telaga haudh. Siapa yang berlalu dariku dia akan minum dan siapa yang telah minum tidak akan dahaga selama-lamanya. Kelak ada sekelompok orang yang kukenal dan mereka juga mengenalku datang kepadaku; kemudian mereka dipisahkan dariku. Aku akan berkata: sahabatku, sahabatku. Lalu dijawab: engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan setelah ketiadaanmu. Dan aku pun berkata: Enyahlah, enyahlah mereka yang telah berubah setelah ketiadaanku.”

Orang yang merenungkan makna hadis-hadis seperti ini yang diriwayatkan sendiri oleh ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah dalam berbagai kitab shahih mereka, tidak akan ragu-ragu lagi untuk mengambil kesimpulan bahwa kebanyakan sahabat telah berubah dan telah berbalik setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Hanya segelintir kecil saja yang diibaratkan oleh Nabi seperti sekelompok unta yang tersisih. Hadis ini tidak dapat ditafsirkan bahwa ia ditujukan untuk golongan orang-orang munafik, mengingat nash yang berkata: sahabatku, sahabatku. Dan ia juga adalah tafsir atau realisasi dari ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan tentang sikap mereka yang berbalik sehingga diancam oleh Allah dengan api neraka.

 

 

Continue reading “Dr Muhammad At-Tijani As-Samawi: Pandangan Rasulullah saw tentang Sahabat”

Mazhab Ahlul Bait: Mazhab Cinta

Malam sudah larut, dini hari sudah hampir, angin dingin sahara berhembus dalam kesepian. Bukit-bukit batu, rumah-rumah tanah, pepohonan semua tak bergerak; berdiri kaku dalam rangkaian silhuet. Tapi ditengah Masjidil Haram, seorang pemuda berjalan mengitari ka’bah sambil bergantung pada tirainya. Matanya menatap langit yang sunyi. Tak seorang pun berada disitu, kecuali Thawus Al-Yamani, yang menceritakan peristiwa ini kepada kita.

 

Continue reading “Mazhab Ahlul Bait: Mazhab Cinta”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑