PANCASILA LEBIH UNGGUL DARI WAHABISME

Catatan Tepi :

 

Politik Dua Pilar dan Prinsip Nixon

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Arab Saudi merupakan negara wahabi yang memiliki ketergantungan hankam kepada negara-negara barat sangat tinggi. Februari 1978, di depan kongres Amerika, Harlod Brown ( Menhan Amerika) menyampaikan informasi terancamnya Politik Dua Pilar dikawasan Timur -Tengan, karena terjadinya Revolusi Iran oleh rakyat dan ulama dibawah pimpinan Imam Khomaini. Politik dua pilar merupakan kebijakan Amerika untuk menanamkan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah melalui dua pijakan , yakni Iran dibawah Syah Pahlevi sebagai pilar pertama dan Saudi sebagai pilar kedua. Politik Dua Pilar merupakan pengembangan dari Prinsip Truman yang salah satunya mengatur kehadiran Armada Amerika di Timur Tengah, melalui pembangunan pangkalan-pangkalan militer melalui sistem sewa.

Melalui Program Poltik Dua Pilar ini, mekanismenya berubah, kehadiran sebuah armada kekuatan perang bukan lagi dalam bentuk sewa putus untuk menggunakan tanah suatu negara sebagai pangkalan militer, tetapi sudah melangkah lebih jauh pada ikatan-ikatan politik yang melindungi satu sama lain secara permanen. Runtuhnya Pilar Iran dibawah Syah Pahlevi, membuat Richard Nixon, melakukan evolusi terhadap pengertian kehadiran Armada Amerika di Timur Tengah, “Amerika Serikat akan menghadapi semua ancaman yang ditujukan kepada kawasan Teluk dengan Kekuatan Militer, kita harus meyakinkan kepada para pemimpin Arab Saudi, Oman, Kuwait dan negara-negara utama di kawasan tersebut, bahwa setiap kali mereka diancam oleh kekuatan revolusioner, baik itu dari dalam maupun luar negeri, Amerika pasti akan berada di pihak mereka dengan penuh kesetiaan, sehingga mereka tidak menderita nasib buruk, seperti yang dialami Syah pahlevi…” Kebijakan Nixon ini kemudian dikenal sebagai Prinsip Nixon, yakni kebijakan yang menggabungkan antara keikutsertaan dalam negeri yang disubsidi dan persiapan intervensi secara langsung. We are nation with global responsibilities “ begitu kata Ronald Reagen sebagai bentuk pengukuhan akan keterlibatan Amerika di seluruh dunia khususnya di timur tengah.

Sebagai bentuk komitmen perlindungan Amerika terhadap sekutunya, serangkaian perjanjian kesepakatan dibuat, North Atlantic Treaty, Anzus Treaty, Philippine Teraty, Southeast Asia Treaty, Japanese Treaty dan Republic Of Korea Treaty, dalam klausulnya salah satunya menandaskan bahwa Amerika bersumpah wajib mempertahakan Arab Saudi, Oman, Bahrain, Kuwait, Yordania dan lainya dari setiap ancaman, baik yang datang dari luar negeri ataupun dalam negeri.Semenjak itulah mutualitas antara AS dan sekutnya dengan Negara Wahabi menjadi semakin intim.

Pada prespektif makro ini ada yang menarik, munculnya sikap diam para ulama wahabi menghadapi situasi tersebut. bahwa telah terjadi kesepakatan permohonan perlindungan -antara sebuah negara yang menganut paham wahabi sebagai pemohon perlindungan dengan Amerika yang dimohoni perlindungan-yang ternyata didiamkan saja oleh para ulamanya.

Efek dari perjanjian politik tersebut, merambah pada kebijakan strategis Arab saudi, yakni dengan ditandantanginya kebijakan Al Yamanah antara Negara Wahabi tersebut dengan negara-negara barat. Al Yamanah adalah kesepakat antara Negara Wahabi itu dengan Negara Barat untuk memperkuat Angkatan Bersenjata Arab Saudi dengan memodernisasi Alutsistanya. Namun alih-alih membuat negara wahabi itu semakin mandiri dan profesional dalam pengembangan industri hankam, negara wahabi tersebut justru terprosok semakin tergantung kepada negara-negara barat. Dengan sinis Majalah Teknologi Strategi Militer memberi catatan. ” Agaknya, negara ini (Arab Saudi) selalu harus menyandarkan kepercayaannya kepada AS atau superpower untuk melindungi kedaulatannya

Pada prespektif mikro ini terdapat hal yang menarik pula, dimana peran ulama wahabi untuk membawa umat keluar dari ketergantungan teknologi ?, kepiawaian para ulama wahabi dalam mengkritisi ulama-ulama ahlu sunnah dan syiah disatu sisi dan kemahiran ulama-ulama wahabi menciptakan manusia yang sangat mahir membid’ahkan mahzab Ahlu Sunnah dan mengkafirkan Mahdzab syiah tidak sehebat dalam mendorong para pengikut wahabi untuk secara tekun menguasaai teknologi. Justru yang didapati ulama-ulama wahabi mati kutu terhadap kebijakan-kebijakan global negaranya yang mengikat pada perjanjian yang tidak seimbang.

 

Bagaimana Dengan ISIS & AL QAEDA ?

Bagaimana dengan ISIS dan Al Qaeda ?, para Revisionin wahabisme menyatakan bahwa terdapat inkonsistensi Negara Wahabi tersebut, menurutnya, Saudi telah keluar dari khitah ajaran Wahabi, dan mereka membentuk gerakan revisionis wahabi dalam jubah ISIS dan Al Qaeda. Apakah mereka benar-benar mandiri ? jawabnya adalah Tidak, ISIS dan Al Qaeda, adalah bagian dari alat yang dilahirkan dari kesepakatan-kesepakatan diatas. ISIS dan Al Qaeda adalah alat bersenjata yang digunakan untuk menyerang kaum muslimin, sama seperti para ulama-ulama wahabi yang sangat cekatan menyerang kaum muslimin ketimbang berargumen dengan gagah menghadapi pemikiran-pemikiran barat. kadang kala alat itu memang dibiarkan untuk melukai si penciptanya, agar timbul empati dan simpati, bahwa mereka pun disasar oleh kekejamanya, tapi efektifitas penggunaan ISIS & Al Qaeda adalah untuk menghancurkan islam itu sendiri, ISIS dan Al Qaeda adalah anak kandung wahabi yang beribukan koalisi kesepakatan mutualitas dengan negara-negara superpower untuk melayani kepentingan kepentingan kaum kapitalis dan zionis.
Jendral Hendropriyono menyatakan, bahwa peperangan itu hanya menyumbang seperlima kemenangan dari lima aspek (dalam militer dinamakan panca gatra) kehidupan suatu negara. Dalam peperanganya ISIS dan Al Qaeda tidak pernah menkosolidasi kompenen catur gatara yang ada diwiliyah yang dikuasainya sebagai bagian dari kedaulatan kehidupan Negara, di setiap daerah yang dikuasainya, mereka mendahului dengan menyatakan syariat diberlakukan yang kemudian dilanjutkan dengan serangkaian kekejaman-kekejaman dan diakhiri dengan penjarahan-penjarahan yang kemudian hasil jarahan mengalir kepada para kapitalis. Jadi tidaklah heran bila para ulama ahlu sunnah menyatakan bahwa ISIS adalah gerombolan perampok yang mengatasnamakan Islam.

 

Pancasila Lebih Unggul dari wahabisme

Diatas sudah diuraikan kemandulan para ulama wahabi dalam menyikapi kebijakan kerjasama negara wahabi yang justru menciptakan ketergantungan yang nyaris tak dapat lepas dari ikatan itu. Di Indonesia, para simpatisan Wahabi, ISIS dan Al Qaeda nyaring bersuara untuk menegakkan syariat, dan menyatakan Pancasila sebagai berhala dan Pemerintah Republik Indonesia sebagai Thoghut. pertanyaanya, apa yang dapat diunggulkan wahabisme diatas Pancasila ?
Jika ditilik dari implementasi ajaran wahabi dalam konteks kenegaraan dibandingkan dengan Republik Indonesia dengan Pancasilanya, jelas Pancasila jauh mengungguli wahabisme. Pengertian-pengertian Pancasila dalam kaitanya Ketuhanan Yang Maha Esa justru selaras dengan Islam dan seruan Allah Yang Maha Agung, yakni menciptakan bangsa ini untuk selalu sejajar dengan bangsa-bangsa lain bukan menghamba kepada bangsa lain.

 

Kerjasama Republik Indonesia tidak membuatnya tergantung pada asing
Republik Indonesia juga melakukan kontrak pembelian alutsista dengan negara-negara Barat, tetapi kemudian Republik Indonesia tidak kemudian menjatuhkan diri sampai derajat kebergantungan sangat tinggi kepada produsenya. Republik Indonesia, mengembangkan kerjasama dengan Industri-industri pertahanan dan kemudian mengupayakan agar bangsa ini memiliki kemampuan untuk membuat produksi sejenis. Bandingkan dengan dengan yang sudah “menegakkan syariat wahabi” apa yang dilakukan ? bukankah mereka hanya membeo keinginan tuanya, menjadi dominos canos kepentingan tuannya ? prestasi indonesia dalam membuat senapan serbu yang menyumbangkan emas dalam perlombaan di Australia adalah bukti bahwa Pancasila itu selaras dengan Islam dan lebih unggul dari syariat wahabi.
Tentara Nasional Indonesia juga melakukan kerjasam latihan perang dengan negara-negara super power, tetapi tidak menempatkan Tentara Nasional Indonesia menjadi inferior dihadapan negara superpower, kesejatian sebagai bangsa yang tidak mau di jajah oleh bangsa manapun telah menciptakan Tentara Nasional Indonesia percaya diri, tidak seperti tentara-tentara wahabi yang selalu berlindung diketiak superpower. Dan apakah ulama-ulama wahabi tiak tahu ? tentu sangat tahu, tapi mengapa diam, itulah pertanyaanya.
Jika menilik ulama-ulama syiah diIran, peran mereka dalam mendorong militansi dalam hal penguasaan teknologi sangatlah hebat, para ulama tersebut memompakan semangat untuk dapat berdikari dan tidak tergantung dengan asing, maka tak mengherankan bila di Iran banyak diketemukan ulama yang cendikiawan dan cendikiawan yang ulama karena penguasaan keilmuan yang multidisiplin. Hal yang sama juga dilakukan oleh ulama-ulama ahlu sunnah di indonesia yang mendorong para santrinya untuk menguasai teknologi, sehingga di Indonesia banyak ditemukan para santri dari pondok pesantren ahlu sunnah mengalami lompatan keilmuan.
Yakin akan pertolongan Allah telah mengejawantah dalam pelaksanaan kehidupan bernegara pada mahdzab syiah (khususnya di Iran) dan mengejawantah pada kehidupan bernegara pada mahdzab ahlu sunnah dengan Pancasilanya (khususnya di Indonesia) , hal yang masih meragukan dan sekarang sedang digiatkan kampanyenya untuk ditegakkan syariatnya adalah yakinkah mereka akan pertolongan Allah, lalu mengapa mereka justru menjadi pelayan-pelayan agung kapitalisme ? syariat model apa yang sedang ditawarkan itu ? syariat menghamba pada bangsa lain dan rendah diri kepada bangsa lain lalu membungkusnya dengan itulah Islam ? tentu itu adalah pembajakan ajaran Islan dari Islam yang sebenarnya.
Bukti yang tak dapat dibantah lagi adalah mandulnya wahabi terhadap eksistensi zionisme, wahabi tidak akan sanggup melawan tuannya sendiri, ketakmandirian mereka dan ketergantungan adalah belenggu. Kalangan militer sudah mahfum, bila suatu negara membeli alutsista kepada negara lain, maka akan tercipta ketergantungan disegala bidang, oleh karena itu baik Republik Indonesia ataupun Republik Islam Iran memiliki cara tersendiri untuk tidak tergantung dan memiliki posisi tawar yang tinggi, coba anda tengok alutsista TNI, yang berasal tidak dari satu blok tapi berbagai negara, tanpa pernah Indonesia mengalami kesulitan dalam memperolehnya dan Indonesia tidak pernah mengalami masalah dengan pemeliharaan alutsistanya kendati mengambil persenjataan dari negara yang berlawanan, hal meneguhkan bahwa Indonesia memiliki nilai tawar yang kuat.
Demikian pula dengan Republik Islam Iran, sekalipun di embargo, bahkan operasi rahasia (bersandikan operasi Setia) pernah di inisasi oleh Israel bersama Amerika untuk memandulkan sistem pertahanan Iran dengan mengajak sekutu mereka, toh sekutu mereka tidak benar-benar patuh, mengapa ? karena posisi tawar Iran sangat kuat terhadap beberapa negara yang diajak ram-rame mengembarogo itu, bila ia ikut-ikutan Israel dan Amerika alhasil ia akan mengalami kesulitan dalam pemenuhan komoditas tertentu. Yang menarik adalah, bila ulama-ulama syiah dan ulama-ulama ahlu sunnah nusantara sampai memiliki kepedulian dalam kemandirian kedaulatan sebuah bangsa, bagaiamana dengan ulama-ulama wahabi ? mengharapkan wahabi turut serta dalam menghapuskan penjajahan diatas dunia adalah harapan kosong yang tidak akan terwujud, sepanjang mereka masih sangat bergantung kepada barat.
Pun demikian, kepada kelompok wahabi yang menyebarkan kebencian terhadap syiah dan kebencian kepada ahlu sunnah wal jama’ah seraya meneriakan perlu ditegakkanya syariat di Indonesia, mereka tidak memiliki bukti kongkrit keunggulan syariatnya. Syariat macam apa ? apakah syariat yang menghendaki pada penghambaan totalitas kepada manusia ?

disadur dari : komentar pada artikel di liputan islam

 

%d blogger menyukai ini: