HIDAYAT NUR WAHID : SAYA BUKAN BERASAL DARI MAHDZAB YANG SUKA MENGKAFIRKAN

Dengan tegas beliau mengatakan: “Saya bukan berasal dari mazhab yang suka mengkafirkan sesama muslim.” Dan terkait dengan peristiwa vonis sesat secara in absentia terhadap aliran Syi’ah di Masjid Istiqlal tahun 1997, Hidayat Nur Wahid mengatakan bahwa beliau tidak menandatangani rekomendasi Istiqlal itu.

___________________________________

HPI [Himpunan Pelajar Indonesia] Iran, Direktur dan kru IRIB [Islamic Republic of Iran Broadcasting] berbahasa Melayu serta masyarakat Indonesia yang ada di Teheran, Minggu malam [16 April 2006], bersilaturrahmi dan berdialog dengan Ketua MPR, DR. Hidayat Nurwahid beserta rombongan anggota DPR dan Ketua PBNU, KH. Hasyim Muzadi.

Dalam suasana yang akrab, santai tapi serius itu, Prof. Basri Hasanuddin, Dubes Indonesia di Teheran, seperti biasa membuka acara dengan gayanya yang menawan. Beliau menyambut hangat kedatangan para pejabat negara, khususnya Ketua MPR dan Ketua PBNU serta beberapa anggota komisi DPR, Pemred Republika, mantan ketua Jaksa Agung, Bapak Andy Ghalib. Tentu Bapak Dubes juga berterima kasih atas kedatangan rombongan satu bus pelajar Indonesia dari Qom.

Pertemuan tersebut lebih berarti karena ada dua agenda besar yang sedang menghadang kita. Pertama, karena problem di tanah air mengarah ke dalam suatu proses yang serius. Adalah tidak benar menganggap bangsa kita selalu tidak serius atau tidak bisa serius. Sekarang bangsa kita sedang belajar serius. Keseriusan kali ini diwujudkan dengan pekerjaan berat yang sedang melilit seluruh komponen bangsa, dan utamanya menguras tenaga dan pikiran anggota dewan perwakilan rakyat dan MPR yang sedang sibuk meluncurkan produk hukum yang bernama Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi [RUU APP]. Rekan-rekan pelajar di Qom seperti biasanya, bukan hanya tidak peduli terhadap perkembangan yang menggembirakan ini, namun juga turut urun rembug dan berpartisipasi dalam memutar roda peradaban di negeri tercinta ini agar berjalan lebih cepat. Kepekaan sosial-agama teman-teman begitu tinggi. Sehingga rasa-rasanya mereka selalu ingin mengisi setiap kolom dan kolong sejarah Indonesia yang masih kosong. Mereka yakin bahwa pelita yang mereka bawa jika disinergikan dengan pelbagai pelita lainnya di tanah air maka ia akan menjelma menjadi suatu kekuatan besar yang akan mampu menerangi bangsa Indonesia dari kegelapan.

Continue reading “HIDAYAT NUR WAHID : SAYA BUKAN BERASAL DARI MAHDZAB YANG SUKA MENGKAFIRKAN”

Iklan

Aliansi Nasional Anti Syiah, Bentuk Kemunduran Sejarah

Catatan Tepi

Datang seseorang kepada Imam Ali bin Abi Thalib kw, kepada beliau seseorang itu bertanya,”Berapa jarak antara kebenaran dan kebatilan?”

Imam Ali tidak menjawab, beliau menyuruh Imam Hasan untuk memberikan jawaban. “Sejarak lima jari tanganmu yang engkau rapatkan” begitu jawaban Imam Hasan.

Lima jari rapat tersebut adalah jarak antara indera pengelihatan (mata) dan indera pendengaran (telinga), Imam Hasan telah menjelaskan secara demonstratif tentang metodologi tabayun yang diperintahkan Tuhan dalam Al Qur’an, bahwa pondasi dasar kebenaran itu harus dapat diverifikasi melalui instrumen-instrumen epistemologis, sehingga sebuah kebenaran yang sahih akan didapatkan.

Franz Rosenthal telah menulis sebuah buku berjudul The Technique and Approach of Muslim Scholarship (yang kemudian dialihbahasakan oleh Mizan dengan judul Etika Kesarjanaan Muslim), dalam bukunya ia menelusuri jejak kaum muslim Syiah dan Sunni dalam memverifikasi sebuah kebenaran, bagaimana etika para sarjana Muslim Sunni dan Syiah dalam membakukan perintah Illahi tentang tabayun dalam tradisi kesarjanaan Muslim menjadi sebuah ajaran akhlak dalam kehidupan ilmiah.

Continue reading “Aliansi Nasional Anti Syiah, Bentuk Kemunduran Sejarah”

PANCASILA LEBIH UNGGUL DARI WAHABISME

Catatan Tepi :

 

Politik Dua Pilar dan Prinsip Nixon

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Arab Saudi merupakan negara wahabi yang memiliki ketergantungan hankam kepada negara-negara barat sangat tinggi. Februari 1978, di depan kongres Amerika, Harlod Brown ( Menhan Amerika) menyampaikan informasi terancamnya Politik Dua Pilar dikawasan Timur -Tengan, karena terjadinya Revolusi Iran oleh rakyat dan ulama dibawah pimpinan Imam Khomaini. Politik dua pilar merupakan kebijakan Amerika untuk menanamkan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah melalui dua pijakan , yakni Iran dibawah Syah Pahlevi sebagai pilar pertama dan Saudi sebagai pilar kedua. Politik Dua Pilar merupakan pengembangan dari Prinsip Truman yang salah satunya mengatur kehadiran Armada Amerika di Timur Tengah, melalui pembangunan pangkalan-pangkalan militer melalui sistem sewa.

Melalui Program Poltik Dua Pilar ini, mekanismenya berubah, kehadiran sebuah armada kekuatan perang bukan lagi dalam bentuk sewa putus untuk menggunakan tanah suatu negara sebagai pangkalan militer, tetapi sudah melangkah lebih jauh pada ikatan-ikatan politik yang melindungi satu sama lain secara permanen. Runtuhnya Pilar Iran dibawah Syah Pahlevi, membuat Richard Nixon, melakukan evolusi terhadap pengertian kehadiran Armada Amerika di Timur Tengah, “Amerika Serikat akan menghadapi semua ancaman yang ditujukan kepada kawasan Teluk dengan Kekuatan Militer, kita harus meyakinkan kepada para pemimpin Arab Saudi, Oman, Kuwait dan negara-negara utama di kawasan tersebut, bahwa setiap kali mereka diancam oleh kekuatan revolusioner, baik itu dari dalam maupun luar negeri, Amerika pasti akan berada di pihak mereka dengan penuh kesetiaan, sehingga mereka tidak menderita nasib buruk, seperti yang dialami Syah pahlevi…” Kebijakan Nixon ini kemudian dikenal sebagai Prinsip Nixon, yakni kebijakan yang menggabungkan antara keikutsertaan dalam negeri yang disubsidi dan persiapan intervensi secara langsung. We are nation with global responsibilities “ begitu kata Ronald Reagen sebagai bentuk pengukuhan akan keterlibatan Amerika di seluruh dunia khususnya di timur tengah.

Continue reading “PANCASILA LEBIH UNGGUL DARI WAHABISME”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑