Dekrit Perlindungan Rasulullah Muhammad saww Terhadap Kaum Nasrani

dekrit nabi Muhammad SAW (foto;wikipedia)

dekrit nabi Muhammad SAW (foto;wikipedia)

Tahukah Anda bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menulis dekrit dalam sebuah piagam untuk melindungi biara St. Catherine Monastery dan para biarawan di dalamnya?Ya, dekrit itu pernah ditulis pada tahun 628 M. Pada saat itu, utusan dari Biara St. Catherine mengunjungi Nabi Muhammad untuk meminta perlindungan [1]. Nabi pun memberikan perlindungan dengan menuliskan sebuah piagam [2]. Inilah terjemahan isinya,

Ini adalah pesan dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai perjanjian bagi siapapun yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, bahwa kami mendukung mereka.
Sesungguhnya saya, para pelayan, para penolong, dan para pengikut saya membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah penduduk saya; dan karena Allah! Saya bertahan melawan apapun yang tidak menyenangkan mereka.
Tidak ada paksaan yang dapat dikenakan pada mereka.
Sekalipun oleh para hakim-hakim mereka, maka akan dikeluarkan dari pekerjaan mereka maupun dari para biarawan-biarawan mereka, maka akan dikeluarkan dari biara mereka.
Tidak ada yang boleh menghancurkan rumah ibadah mereka, atau merusaknya, atau membawa apapun daripadanya ke rumah-rumah umat Islam.
Jika ada yang mengambil hal-hal tersebut,maka ia akan merusak perjanjian Allah dan tidak menaati Rasul-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutu saya dan mendapatkan piagam keamanan melawan apapun yang mereka benci.
Tidak ada yang dapat memaksa mereka untuk bepergian atau mengharuskan mereka untuk berperang.
Umat Islam wajib bertempur untuk mereka.
Jika ada perempuan Kristen menikahi pria Muslim, hal ini tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan perempuan itu. Dia tidak dapat dilarang untuk mengunjungi gerejanya untuk berdoa.
Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang memperbaikinya dan menjaga perjanjian-perjanjian sakral mereka.
Tidak ada dari antara bangsa (Muslim) yang boleh tidak mematuhi perjanjian ini hingga Hari Akhir (akhir dunia).

 

 

Continue reading “Dekrit Perlindungan Rasulullah Muhammad saww Terhadap Kaum Nasrani”

Iklan

Terbongkar Kejahatan Nashibi Takfiri Memalsukan Akun Twitter Ayatullah Ali Khamenei

akun rahbar

 

 

Mungkin Anda yang aktif di jejaring sosial twitter, sudah tidak asing lagi dengan akun twitter @Khomeinii1 yang kicauannya sangat provokatif. Tapi, tweeps yang mengira akun itu adalah milik Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang juga salah satu tokoh besar Islam Syiah Ayatullah Ali Khamenei, Anda salah besar, karena akun itu adalah palsu.

Bagi Anda yang juga aktif dalam mengikuti perkembangan terbaru tentang Syiah, terlebih dari media-media pembenci syiah, pun pasti pernah membaca artikel/berita yang rujukannya bersumber dari akun twitter palsu diatas.

Sebagai contoh, baru-baru ini, postingan fitnah yang bersumber dari akun twitter palsu @Khomeinii1 adalah postingan dengan judul, “Ali Khamenei Bolehkan Pengunjung Pengajiannya Tidak Shalat Maghrib dan ‘Isya’”, yang dipublish pada tanggal 23 Desember 2014 oleh salah satu media online penebar fitnah, nahimunkar.com. Postingan serupa juga dipublish sebelumnya oleh media sejenisnya yaitu gensyiah.com pada tanggal 18 Desember 2014 dengan judul, “Ali al-Khamenei: santri boleh tidak shalat maghrib dan isyak”.

Continue reading “Terbongkar Kejahatan Nashibi Takfiri Memalsukan Akun Twitter Ayatullah Ali Khamenei”

Hukum Shalat Jumat

Hukum shalat Jumat pada masa kehadiran para Imam Maksum dan terpenuhinya syarat lainnya serta tidak adanya taqiyyah adalah jelas (yaitu wajib dilaksanakan). Pada masa ghaibah (okultasi) dijelaskan pelbagai ragam hukum yang boleh jadi dapat dikatakan bahwa yang paling popular adalah kewajiban dan keharusan yang bersifat opsional terkait dengan shalat Jumat.

Sebagian fukaha (juris) mengklaim adanya konsensus terkait dengan kewajiban shalat Jum’at yang bersifat ikhtiari (opsional). Namun tentu saja klaim ini tidak bersifat konstan dan permanen lantaran terdapat orang-orang yang tidak sejalan dengan klaim ini.

 

 

Continue reading “Hukum Shalat Jumat”

Waspadai Al-Quran Terbitan Arab Saudi

Amati al-Quran berciri sampul seperti dalam foto. Tahukah Anda? Ya, ini adalah al-Quran terjemah yang disertai dengan tafsirnya pada catatan kaki (footnote). Al-Qur’an itu menggunakan terjemahan Bahasa Indonesia dari Departemen Agama RI, tetapi diterbitkan dan didistribusikan oleh Kerajaan Arab Saudi yang menganut paham Salafi Wahabi. Mushaf al-Qur’an tersebut biasanya dibagi-bagikan secara gratis kepada jama’ah muslim dari Indonesia.

Ada apakah gerangan dengan al-Qur’an terbitan Arab Saudi (Wahabi Salafi) itu? Coba Anda buka dan lihat kembali, perhatikan Surat al-Baqarah ayat 255, atau biasa kita kenal dengan Ayat Kursi. Dalam footnote tertuliskan:

Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassir mengartikan Ilmu Allah, ada juga yang mengartikan kekuasaanNya. Pendapat yang shahih terhadap makna “Kursi” adalah tempat letak telapak Kaki-Nya.

Perhatikan tulisan yang berbunyi “Pendapat yang shahih terhadap makna ‘Kursi’ adalah tempat letak telapak Kaki-Nya”. Lebih diperinci maksud tulisan tersebut kata “Kursi” dalam ayat itu diartikan sebagai“Tempat telapak kaki Allah SWT”. Ini jelas tafsiran yang membahayakan dan sangat berbahaya bagi aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Tafsir al-Qur’an tersebut menjerumuskan aqidah umat Islam kepada aqidahtasybih (penyerupaan Allah dengan makhlukNya). Apalagi dibumbui dengan klaim “Pendapat yang shahih”, padahal itu hanya akal-akalan saja. Maha Suci Allah dari penyifatan makhluk kepada DzatNya.

Continue reading “Waspadai Al-Quran Terbitan Arab Saudi”

Al-Quran dan Pengumpulannya

Lafadz Al-Quran adalah bentuk mashdar dari qara’a—yaqr’u—qirâ’atan—wa qur’ânan. Menurut bahasa berarti kumpulan, gabungan, himpunan. Nama Al-Quran merupakan istilah khusus bagi kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa As, dan Injil kepada Nabi Isa As, serta Zabur kepada Nabi Dawud As. Rahasia di balik penamaan kitab suci ini dengan nama Al-Quran, yang berarti gabungan dan himpunan, sebagian ulama berpendapat, karena kitab suci ini menghimpun seluruh inti sari dari beberapa kitab suci yang diturunkan sebelumnya, bahkan merupakan gabungan dari seluruh ilmu pengetahuan.

Sebagaimana firman Allah Swt: Dan kami turunkan untukmu Al-Kitab yang menerangkan segala sesuatu. Al-Quran menurut istilah adalah firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan perantara malaikat Jibril, yang sampai kepada kita sekarang ini dengan cara mutawatir. Membacanya dihitung ibadah. Dimulai dengan surah al-Fâtihah dan ditutup dengan surah an-Nâs. Al-Quran mempunyai beberapa nama lain, yang kesemuanya menunjukkan ketinggian kedudukannya dan benar-benar merupakan kitab samawi. Di antara nama-nama tersebut adalah: Al-Furqân, Adz-Dzikr, Al-Kitâb, dan At-Tanzîl.

Akan tetapi yang lazim dipakai adalah lafadz Al-Quran atau Al-Kitab. Penamaan dengan dua istilah ini mengandung isyarat bahwa hak Al-Quran adalah untuk dipelihara di dua tempat dengan dua cara. Yaitu di dada, dalam bentuk hafalan, dan di mushaf, dalam bentuk tulisan. Bila salah satunya khilaf, maka akan diingatkan oleh yang lain.

Dengan demikian, hafalan seorang al-hâfizh dapat diterima bila sesuai dengan rasm yang telah ditulis oleh para sahabat hingga sampai kepada generasi sekarang ini, persis seperti pertama kali Al-Quran ditulis.

Pemeliharaan ganda ini menjamin keaslian Al-Quran dari segala perubahan, baik dalam bentuk pengurangan maupun penambahan. Hal tersebut sesuai dengan janji Allah yang selalu memelihara kemurnian Al-Quran.

 

 

 

Continue reading “Al-Quran dan Pengumpulannya”

Prof Quraish Shihab: Ulama Sunni Membolehkan Nikah Mutah

Sebuah berita dari situs Majulah IJABI bahwa di Makassar pada 15 November 2013 telah digelar kajian tahun baru hijriyah yang menghadirkan ahli tafsir Indonesia Prof.Dr.KH.Muhammad Quraish Shihab, MA.

Pembahasan kajian yang dihadiri lebih dari 150 peserta ini berjalan dengan lancar dan uraian Pak Quraish sangat mengena dengan momentun tahun baru Islam. Namun, dalam sesi tanya jawab tiba-tiba ada seseorang langsung menanyakan tentang Syiah. Mulai dari Quran yang berbeda hingga nikah mutah.

Sebagai seorang yang berilmu, Pak Quraish disebutkan menjawab bahwa isu pertentangan Sunni-Syiah sudah usang dan menghabiskan waktu saja.

Continue reading “Prof Quraish Shihab: Ulama Sunni Membolehkan Nikah Mutah”

Menyikapi Fatwa Tentang Fatwa

IMAM Ahmad bin Hanbal adalah imam besar, pendiri mazhab  besar.  Bagaimana ia menyikapi fatwa?  Ia berkata, “Barangsiapa yang melibatkan diri dalam fatwa, ia telah melibatkan diri dalam urusan besar; kecuali jika terpaksa. Al-Sya’bi –salah seorang ulama tabi’in- ditanya orang tentang satu masalah, ia menjawab:  Aku tidak tahu. Ia ditegur: Apakah Anda tidak malu berkata tidak tahu, padahal Anda adalah  faqih seluruh Iraq ? Al-Sya’bi menjawab: Malaikat saja tidak malu, ketika mereka berkata – Tidak ada ilmu pada kami kecuali yang telah Kauajarkan kepada kami (QS 2:32).

Sebagian ahli ilmu (agama) berkata: Belajarlah mengatakan “Aku tidak tahu” , karena jika kamu berkata –Aku tidak tahu- mereka akan mengajarimu. Jika kamu berkata –aku tahu- mereka akan bertanya kepadamu sampai kamu tidak tahu.

Uqbah bin Muslim berkata: Aku menemani Umar bin Khattab ra.  34 bulan, kebanyakan kali jika ia ditanya tentang masalah agama, ia menjawab: Aku tidak tahu. Ketika Imam Syafii ditanya satu masalah dan ia diam, orang bertanya: Mengapa tidak menjawab? Ia berkata: Aku tidak menjawab sampai aku mengetahui apakah yang baik itu diam atau menjawab.”

 

 

Ibnu Qayyim dalam I’lam al-Muwaqqi’in, 6: 133-135 menjelaskan aturan-aturan memberikan fatwa berdasarkan al-Quran dan Sunnah. Ia tegaskan betapa para ulama salaf, sahabat dan tabiin,  merasa takut untuk memberikan fatwa, labih takut dari menghadapi singa.   Ada di antara mereka yang memilih penjara ketimbang  menjabat lembaga yang bertugas menetapkan fatwa.

Salman dipersaudarakan Nabi saw dengan Abu al-Darda. Abu al-Darda diangkat sebagai qadhi. Salman mengirimkan surat kepadanya: Aku mendengar engkau menjadi dokter. Janganlah memaksakan diri menjadi dokter nanti kamu bisa membunuh orang.

Fatwa salah yang disampaikan oleh lembaga yang mengklaim berhak memberikan fatwa, sama seperti obat yang salah yang diberikan kepada pasien. Alih-alih menyembuhkan, ia bisa membunuh.

Di antara fatwa yang telah ikut serta, atau menyertai terbunuhnya seorang muslim di Sampang, adalah fatwa MUI Sampang. Pengadilan Tinggi Jawa Timur yang menambahkan lagi hukuman dua tahun di atas dua tahun penjara sebelumnya yang diputuskan  Pengadilan Negeri Sampang  berkaitan dengan fatwa  MUI  Jawa Timur.

Mungkin karena itulah para ulama di  MUI Pusat tidak sepakat untuk menerbitkan  fatwanya. Kebanyakan memilih diam. Mereka tahu bahwa fatwa yang menganggap sekelompok umat Islam sesat dapat menghancurkan kehormatan, merusak harta kekayaan, dan menumpahkan darah.  Mereka perlu mengkaji secara mendalam dan tidak tergesa-gesa. Mereka juga perlu mengkaji fatwa-fatwa sebelumnya.

Fatwa Imam Malik: Tanya dulu yang lebih berilmu

Marilah kita belajar dari Imam Malik, salaf kita yang saleh.  Ia berkata, “Aku tidak akan memberi fatwa sebelum tujuh puluh orang (ulama) bersaksi bahwa aku ahli untuk memberikan fatwa.”  Kapan seseorang berhak  disebut ahli? “Seseorang tidak layak  menyebut dirinya ahli sebelum ia bertanya kepada orang yang lebih tahu dari dirinya. Aku tidak memberikan fatwa sebelum aku bertanya kepada Rabi’ah dan Yahya bin Sa’id”  kata ImamMalik  (lihat I’Lam al-Muwaqqi’in, 6:132).

Masih kata Imam Malik, “Apabila para sahabat menghadapi masalah yang berat, mereka tidak memberikan jawaban sebelum mereka mengambil jawaban sahabatnya yang lain, padahal mereka adalah generasi yang dianugrahi Tuhan kebenaran, taufiq, dan kesucian. Bayangkan diri kita yang tertutup dosa dan hati kita yang bergelimang kesalahan.”  Diriwayatkan bahwa bila Umar bin Khattab ditanya tentang satu masalah ia kumpulkan semua ahli Badar dan ia berkonsultasi dengan mereka lebih dahulu sebelum memberikan fatwa.

Apakah Anda lebih berilmu dari mereka?

Sekarang izinkan saya yang jahil ini bertanya kepada MUI Jatim yang memberikan fatwa tentang kesesatan Syiah dan kepada yang terhormat Dr K.H. Ma’ruf Amin yang mengeluarkan fatwa yang mendukung fatwa tersebut:  Apakah Bapak-bapak telah mengkaji fatwa para ulama seluruh dunia Islam yang hadir dalam Konferensi Islam Internasional di Amman, Yordania, pada 4-6 Juli 2005 (sebelas tahun setelah fatwa MUI tahun 1984?

Sebagai catatan kecil: dari Indonesia hadir antara lain K.H. Hasyim Muzadi dan Rozy Munir; dari Mesir, a.l  Prof  Dr Ali Jumu’a, mufti besar Mesir;  dari Syria, a.l. Prof. Dr Syaikh Wahbah Zuhaily (penulis al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh ); dari Arab Saudi, a.l. Dr Abd al-Aziz bin Utsman al-Touaijiri.  Salah satu dan nomor satu dari fatwa mereka yang lebih dikenal sebagai Deklarasi Amman   menyatakan:

“(1) Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Malik, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab  Ibadi dan  mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan.”

Sebelum mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Syiah, apakah menurut Bapak-bapak, tidak perlu mengkaji fatwa para ulama internasional itu, apalagi menyetujuinya, karena mereka tidak lebih alim dari Bapak-bapak?  Umar bin Khattab  ra mengumpulkan dahulu para sahabat ahli Badar sebelum memberi fatwa. Konferensi Islam Internasional mengumpulkan dulu ratusan ulama dari berbagai negeri sebelum mengeluarkan Deklarasi Amman.

Sekretaris Jenderal OKI, di bawah payung Akademi Fiqih Internasional (IIFA) mengumpulkan ulama Iraq, Sunni dan Syiah,  sebelum mengeluarkan fatwa yang dikenal sebagai Deklarasi Makkah.

Presiden SBY mengumpulkan ulama Sunni  dan Syiah internasional di istana Bogor sebelum mengeluarkan Deklarasi Bogor. Di situ dinyatakan bahwa para pemimpin Islam sedunia:

“Mendesak seluruh kaum Muslim, yang mengakui keyakinan mereka dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, untuk menjunjung prinsip-prinsip fundamental tersebut, yang berlaku sama bagi kaum Syiah maupun Sunni sebagai suatu landasan kesamaan bahwa setiap perbedaan keyakinan adalah semata-mata perbedaan pendapat dan penafsiran serta bukan merupakanperbedaan keyakinan yang mendasar atau menyangkut substansi Rukun Islam.”

Cukupkah bagi Bapak-bapak mengumpulkan anggota-anggota MUI seJatim plus beberapa orang ulama dari MUI Pusat, lalu mengeluarkan fatwa  bahwa Syiah itu sesat. Apakah para ulama di MUI Sampang yang berkumpul di Sampang dan para ulama MUI Jatim yang berkumpul di Surabaya itu memang lebih berilmu ketimbang ulama internasional yang berkumpul di Amman, Makkah, dan Bogor?

KH Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syura IJABI

(Sumber: Harian Umum Republika, 10 Nopember 2012)

 

Pengumpulan As-Sunnah

Menurut sejarah, bangsa Arab pra-Islam merupakan bangsa yang buta huruf, yang tidak mengenal baca-tulis.

Berangkat dari realitas ini, Ali as-Sayis menganggap para sahabat hanya mengandalkan hafalan mereka dalam menyimpan hadis Nabi. Mereka tidak menulisnya. Karena Rasulullah Saw sendiri tidak pernah memerintahkan mereka menulis apa yang didengar, sebagaimana beliau memerintahkan menulis Al-Quran. Bahkan justru sebaliknya, Rasulullah Saw melarang menulis hadis.

Pendapat ini beliau sandarkan pada riwayat yang dibawakan oleh Imam Muslim: “Jangan kalian tulis apa yang berasal dariku. Barang siapa yang menulis selain Al-Quran hendaknya menghapusnya.”

Riwayat di atas, menurut As-Sayis, dengan jelas menunjukan larangan penulisan As-Sunnah semasa hidup Nabi.

 

Continue reading “Pengumpulan As-Sunnah”

Benarkah KH Hasyim Asyari Menolak Syiah?

Beberapa waktu lalu saya menulis artikel di kompasiana dengan judul: Orang NU Ditanya tentang Mazhab Syiah.

Kemudian muncul komentar:  “Mengenai Syiah sebetulnya sudah sedari awal ketika NU berdiri melalui salah satu pendiri NU telah mengingatkan bahaya Syiah sebagai paham di luar Ahlu sunnah wal jamaaah Adalah KH. Hasyim Asyari dalam Muqoddimah qonun asasi NU menjelaskan dengan gamblang bahwa di luar 4 Imam mazhab, seperti Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah.  Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti. Tak lupa, KH. Hasyim mengutip sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila\ntelah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia” (sumber).

SAYA hanya tertawa. Pasalnya ada keanehan: masa orang NU menolak Syiah dan sebut bidah pada mazhab selain Syafii, Hanbali, Maliki, dan Hanafi. Karena itu, saya tidak tertarik untuk telusuri lebih jauh datanya. Dari sana saja sudah jelas tidak akan sampai pada derajat valid dan akurat.

Apakah benar KH Hasyim Asyari bilang tidak boleh ikuti Syiah? Ini saya kira harus dikaji lagi dan  barangkali ada penjelasan dari teman-teman NU (Nahdlatul Ulama) karena beda dengan tokoh-tokoh NU sekarang yang pro Syiah.

 

Continue reading “Benarkah KH Hasyim Asyari Menolak Syiah?”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑