USTD FELIX SIAW, MENGAPA ANTUM TIDAK TABAYUN… ?

Status Felix Siaw

LiputanIslam.com — Ustadz Felix Siaw, salah satu tokoh pejuang Syariat dan Khilafah versi Hizbut Tahrir Indonesia adalah salah satu “ulama” yang turut menabuh genderang perang atas krisis Suriah. Memiliki ratusan ribu pengikut di fanpagenya, didatangi ribuan hingga puluhan ribu orang di setiap ceramahnya, tentu saja – akan menjadikan kemasan konflik Suriah olehnya terlihat ekslusif dan layak dipercaya. Terbukti, dengan banyaknya like, comment dan share statusnya di jejaring sosial. Pada tanggal 9 Mei 2014, Om Felix membuat status seperti ini di fan-pagenya:

Banyak orang sok tahu tentang Syria berkata itu perang saudara | yang ada, Bashar Assad yang syiah membunuhi kaum Muslim

Bila mau merujuk kejadian di Syria, silakan dari sumber yang benar, misalnya sahabatalaqsha.com | bukan dari yang tendensius atau tak Islami.

Terlebih lagi, perjuangan Mujahid di Syria bukan hanya karena didzalimi rezim | lebih dari itu, adalah perjuangan penerapan syariah Islam.

Jadi bila kita nggak tau kejadian sebenarnya di Syria, belum pernah kesana, tiba-tiba ambil kesimpulan ‘perang saudara’ | that’s funny!

Semoga Allah menolong Mujahidin di Syria, menyatukan hati mereka dan kita | minimal mendoakan bukan malah mencaci perjuangan mereka

Baca: Menjawab Felix Siaw 1, Menjawab Felix Siaw 2

peter-parker-dan-arrahmahPernyataan Om Felix selanjutnya, “Bila mau merujuk kejadian di Syria, silakan dari sumber yang benar, misalnya sahabatalaqsha.com | bukan dari yang tendensius atau tak Islami,” sangat bertentangan jika dihubungkan dengan Firman Allah pada sebuah ayat bahwa : jika ada orang fasik membawa suatu kabar berita hendaknya diteliti terlebih dahulu. Di sini, Om Felix meminta kita merujuk pada situs berita yang benar – (pertanyaannya: benar versi siapa?). Semua pihak yang sedang berperang di Suriah pastinya mengklaim mereka ada di pihak yang benar.

Sesuai ayat diatas, Allah memerintahkan kita untuk meneliti kebenaran sebuah berita. Lalu, bagaimana cara mengambil kesimpulan apakah berita yang kita terima tersebut benar atau tidak? Apakah hanya dengan membaca dari satu sumber – lantas sudah bisa dipastikan bahwa kabar berita itu pasti benar adanya? Jika jawabannya iya, maka kita telah meletakkan derajat maksum – atau bebas dari dosa dan kesalahan kepada media tersebut, dan tentunya itu adalah hal yang mustahil.

Menurut Dina Y Sulaeman, seorang analis dan penstudi Hubungan Internasional—dalam menganalisis sebuah konflik bisa dilakukan dengan menggunakan kaidah dasar penelitian ilmiah, yang disebut triangulasi data. Sebuah kesimpulan dianggap valid jika informasi didapat dari dua pihak (pro-kontra), dibandingkan dengan studi literatur tentang objek penelitian, serta melakukan observasi (bisa aktif, bisa pasif).

Sementara Ustadz Agus Nizami, pengelola Media Islam Raya juga menuliskan cara yang harus kita ambil dalam menyikapi berita. Berikut ulasannya;

Saat ini banyak fitnah dan berita bohong berseliweran. Tak jarang berita yang saya kira benar dan juga sebarkan, ternyata belakangan saya ketahui palsu. Padahal dusta itu ciri munafik. Dan jika kita menyebar dusta juga, khawatirnya kita ikut berdosa. Oleh sebab itu ada baiknya kita mengkaji ajaran Islam bagaimana kita bisa mendapat berita yang benar sehingga tidak sampai menzalimi satu kaum.

  1. Tabayyun ke Pihak yang Dituduh/Difitnah

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. ” [Al Hujuraat 6]

  1. Cover Both Sides of a Story
    Tanyakan informasi dari kedua-belah pihak. Seandainya ada pihak A bilang si B kafir, kita jangan percaya begitu saja. Tabayyun ke B apa dia benar kafir. Dengan menerima informasi dari 2 pihak yang bertikai, baru kita bisa menimbang dengan adil siapa yang benar.

Bila dua orang yang bersengketa menghadap kamu, janganlah kamu berbicara sampai kamu mendengarkan seluruh keterangan dari orang kedua sebagaimana kamu mendengarkan keterangan dari orang pertama. (HR. Ahmad)

Jangan cuma menerima informasi dari 1 sisi saja misalnya dari kelompok kita saja, sementara dari kelompok lain kita anggap tidak benar, munafik, musuh Islam, dsb. Ini sudah bertentangan dengan hadits Nabi di atas dan sudah ‘ashabiyyah / fanatisme golongan.

Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyyah (HR Abu Dawud).

“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar Ruum:32]

Kalau sudah Ashobiyyah seperti itu, mereka menganggap pemimpinnya seperti Tuhan yang tidak pernah salah. Bahkan mematuhi perintah pemimpinnya meski bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya. Tak jarang para ulama seperti Ulama Al-Azhar pun mereka anggap kafir / musuh Islam.

  1. Bersikap Adil
    Tak jarang karena kita benci pada satu kaum, akhirnya kita mencap kaum tersebut pasti pendusta, pasti jahat, dsb. Padahal kita tetap harus adil meski kita benci mereka. Ingat, di setiap kelompok biasanya ada yang jahat dan ada pula yang baik. Harusnya kita tetap adil meski terhadap kaum yang kita benci, dan kita juga tidak boleh emosi:

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Maa-idah:8]

Janganlah hendaknya seorang hakim mengadili antara dua orang dalam keadaan marah. (HR. Muslim)

  1. Dapatkan Berita dari Sebanyak Mungkin Sumber
    Boleh dibilang tak ada media yang netral 100%. Umumnya mereka membawa kepentingan kelompok mereka. Oleh karena itu kita harus mendapat berita dari berbagai sumber. Harus dari berbagai pihak. Sebab meski ada 10 media, tapi kalau masih dari 1 kelompok, sama juga bohong.
    Jika ada media yang sering melontarkan fitnah/dusta, lebih baik diblack-list saja. Cari alternatif lain yang lebih dipercaya.

Semakin banyak sumber ibarat suatu hadits makin dipercaya karena dianggap mutawattir. Apalagi kalau isinya sahih. Berita pun demikian. Berita mutawattir lebih kuat daripada berita ahad. Iqro! Bacalah, jangan menutup mata kita dari media hanya karena pimpinan kita mencuci-otak kita. Itulah cara mendapat berita yang benar.

Jika sebuah berita hanya memuat informasi dari satu pihak saja, sementara pihak yang dituduh melakukan kejahatan sama sekali tidak diwawancarai, apalagi ternyata beritanya meski ada di beberapa jaringan kelompok/aliran yang sama dan tidak ditemukan di media massa nasional dan internasional, meskipun media tersebut memakai label “Islam”, kemungkinan besar isinya cuma fitnah. Apalagi jika menyangkut politik yang berkaitan dengan kepentingan kelompoknya. Jadi harus hati-hati. (ba/LiputanIslam.com)

 

Referensi:

Dina Y Sulaeman: Cara Menganalisis Konflik

Media Islam Raya: Cara Mendapatkan Berita yang Benar

sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-felix-siaw-3-mengaku-muslim-kok-tidak-tabayun/

Iklan

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: