Membedah Hubungan Syiah-Iran dengan Yahudi-Israel

iran-v-israelKetika Palestina terutama wilayah Gaza saat ini dibombardir oleh Israel sehingga ratusan rumah hancur berantakan dan lebih dari seribu korban nyawa melayang, muncullah gelombang demonstrasi di berbagai negara menuntut penghentian pembantaian atas bangsa Palestina.

Aksi solidaritas ini bertepatan dengan momentum Ramadhan. Jum’at terakhir bulan ini adalah “Hari al-Quds Internasional” (International Al-Quds Day). Pada hari itu, masyarakat di seluruh dunia, di Timur maupun di Barat, apapun agama dan mazhabnya, turun ke jalan berdemonstrasi menuntut kemerdekaan mutlak Palestina dan mengecam penjajahan Israel.

Di pusat gerakan “Hari Al-Quds sedunia”, yaitu Iran, demonstrasi bahkan dihadiri jutaan warga sipil. Iran disebut pusat gerakan karena ide penetapan Jumat terakhir Ramadhan sebagai hari Al Quds berasal pemimpin spiritual Iran yakni Imam Khumaini.

Tapi, di sela-sela gelombang solidaritas yang melintas sekat-sekat agama, ras, bangsa, dan mazhab tersebut, muncul isu sektarian yang bisa melemahkan soliditas dan persatuan gerakan solidaritas Palestina. Isu yang muncul menyatakan bahwa “mustahil Iran memusuhi Israel, karena Syiah buatan Yahudi”. Iran dalam hal ini malah disebut sebagai sekutu Israel. Iran sebagai negara dengan mayoritas penduduk mermazhab Syiah, sebenarnya adalah antek Yahudi-Israel.

Anehnya, tuduhan konspirasi itu malah sama sekali tidak tertuju kepada negara-negara yang jelas-jelas memiliki hubungan diplomatik dengan Israel bahkan memiliki keterikatan dengan mereka. Lihatlah bagaimana Mesir menutup perbatasannya di jalur Gaza sehingga penduduk Gaza kesulitan mendapatkan bantuan. Perhatikan bagaimana negara-negara Arab begitu mesranya bersahabat dengan Amerika yang jelas-jelas mendukung penuh Israel. Lihatlah pula bagaimana demonstrasi mendukung Palestina dan mengecam Israel yang dilakukan oleh rakyat pun adakalanya dilarang oleh pemerintah negara-negara Arab. Lalu, apakah negara-negara tersebut disebut sebagai antek Zionis?

Isu ini terasa sangat aneh dan tidak bersesuaian dengan fakta-fakta empiris. Sejarah modern mencatat, Republik Islam Iran minmalnya selalu menjadi bagian dari gerakan pembelaan warga tertindas Palestina. Bahkan bisa dikatakan, Iran adalah negara yang berada di garda terdepan dalam menentang rezim Zionis-Israel dan Amerika. Sejatinya, solidaritas terhadap Palestina memang disuarakan oleh banyak pihak di dunia. Mereka memberikan bantuan dana dan ikut mengutuk Israel. Akan tetapi solidaritas itu umumnya berasal kelompok sipil dan rakyat negara-negara Muslim. Untuk level negara, Iran berada di barisan terdepan dalam hal dukungannya terhadap Palestina. Iran memberikan bantuan moral, memobilisasi rakyat untuk berdemo mendukung Palestina, mengirim relawan kemanusiaan, mengirim dana hibah untuk APBN, bahkan mengirim senjata kepada para pejuang HAMAS.

Ekonomi Iran sebagai pemilik cadangan minyak  keempat terbesar di dunia juga sering kali jatuh bangun. Karena apa? Karena adanya embargo dan sanksi ekonomi dari negara-negara arogan dunia. Mengapa sampai terkena embargo? Karena permusuhan keras Iran terhadap AS dan Israel; karena Iran disebut “negara teroris” gara-gara selalu membantu Hamas yang juga dicap sebagai “organisasi teroris”.

Akhir-akhir inipun, isu sanksi ekonomi dijatuhkan kepada Iran karena isu nuklir. Inipun akar kekhawatirannya adalah keamanan Zionis Israel. AS dan Barat menyatakan bahwa proyek energi nuklir Iran dikhawatirkan berubah menjadi proyek pembuatan senjata nuklir yang akan mengancam keamanan regional. Tentu semua sudah tahu, yang paling merasa terancam di kawasan itu adalah Israel.

Isu sektarian yang bertabrakan dengan fakta-fakta itu juga ternyata tak memiliki alur ilmiah, bahkan lebih cenderung pada fiktif dan manipulatif. Satu-satunya argumentasi yang diajukan dan sering diulag-ulang kembali kepada historitas berdirinya mazhab Syiah yang dinisbatkan kepada sosok “legenda” yang bernama Abdullah bin Saba’. Kita akan membahas masalah ini pada bagian selanjutnya. (hd/liputanislam.com)

Ketika Palestina terutama wilayah Gaza saat ini dibombardir oleh Israel sehingga ratusan rumah hancur berantakan dan lebih dari seribu korban nyawa melayang, muncullah gelombang demonstrasi di berbagai negara menuntut penghentian pembantaian atas bangsa Palestina.

Tapi, di sela-sela gelombang solidaritas yang melintas sekat-sekat agama, ras, bangsa, dan mazhab tersebut, muncul isu sektarian yang bisa melemahkan soliditas dan persatuan gerakan solidaritas Palestina. Isu yang muncul menyatakan bahwa “mustahil Iran memusuhi Israel, karena Syiah buatan Yahudi”. Iran dalam hal ini malah disebut sebagai sekutu Israel. Iran sebagai negara dengan mayoritas penduduk mermazhab Syiah, sebenarnya adalah antek Yahudi-Israel.

Berikut ini adalah kelanjutan pembahasan masalah ini dengan melihat fakta sejarah hubungan Syiah dengan Yahudi

Sejarah Kemunculan Syiah

Para ahli berbeda pendapat tentang awal mula kemunculan Syiah. Sebagian mengatakan sesaat setelah Nabi wafat, yaitu ketika perdebatan di Saqifah. Yang lainnya menyatakan Syiah lahir pada masa akhir Khalifah Usman, awal kepemimpinanAli bin Abi Thalib (35 H). Pendapat lain menyatakan bersamaan dengan Khawarij, yakni pasca perang shiffin (Taufik Abdullah, et.al, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III, 2002: 34). Ada juga pendapat bahwa Syiah muncul setelah peristiwa Karbala (Hitti, History of the Arab, 2003: 237).

Ada pula teori yang menyatakan bahwa Syiah telah ada sejak masa Rasul. Baqir Sadr menegaskan bahwa Syiah telah hadir di tengah-tengah masyarakat Islam sejak masa hidup Rasul yang terdiri dari orang-orang yang meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin pasca Rasul. Kelompok inilah yang kemudian memprotes dan menolak kepemimpinan Abu Bakar. (Baqir sadr, Kemelut Kepemimpinan Setelah Rasul, 1990: 62).

Ada satu benang merah dari semua teori di atas: kelahiran Syiah berhubungan erat dengan peristiwa yang melibatkan keluarga Nabi (atau sering disebut dengan Ahlul Bait). Tak ada yang menyatakan bahwa Syiah terhubung dengan orang Yahudi.

Hanya saja, ada satu tudingan miring dari kelompok takfiri terhadap Syiah, yaitu bahwa asal-usul kemunculannya dilabelkan kepada seorang tokoh “legenda” yang bernama Abdullah bin Saba’ (Ibnu Saba’). Mereka, menisbatkan pendirian dan kemunculan syiah kepada Ibnu Saba’. Dikatakan bahwa sebagai penganut Yahudi, Ibnu Saba berpura-pura masuk Islam untuk kemudian melemahkan Islam dari dalam dengan cara membuat sebuah kelompok sempalan.

Mencermati Polemik

Jika kita mencermati polemik Ibnu Saba’, maka ada dua hal yang harus diperhatikan dengan cermat: fakta keberadaan Abdullah bin Saba dan pandangan Syiah terhadap Abdullah bin Saba.Pertama, terkait dengan keberadaan Ibnu Saba’. Di antara ulama Syiah dan Sunni sendiri, terdapat perbedaan pendapat: ada yang menerimanya, dan ada yang menolaknya.

Sejak awal, kisah Ibnu Saba’ mewarnai  buku-buku para ulama baik Sunni maupun Syiah. Namun, studi sistematis tentang Ibnu Saba’ baru dilakukan belakangan oleh Sayid Murtadha al-Askari dalam bukunya Abdullah bin Saba’ wa Asathirul Ukhra. Setelah meneliti dengan cermat seluruh sumber cerita Ibnu Saba’, baik dari kalangan Syiah ataupun Sunni, ia menyimpulkan Ibnu Saba’ adalah tokoh fiktif. Kini, buku setebal hampir 1.000 halaman ini menjadi rujukan utama tentang Ibnu Saba’, dan sampai sekarang, belum ada yang membantahnya dengan cara yang sistematis dan ilmiah.

Ulama Sunni juga ada yang menganggap Ibnu Saba’ itu fiktif, di antaranya adalah Thaha Husein, Dr. Hamid Hafna Daud, Hasan Farhan al-Maliki, dan Abdul Aziz Halabi.

Bahkan Ibnu Hajar, seorang ulama Sunni yang tidak diragukan krediilitasnya, dalam kitabnya Lisan al-Mizan, mengakui bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dari jalur Saif bin Umar. Kemudian, dia megajukan beberapa riwayat lainnya, tetapi, tetap juga tidak bisa dijadikan hujjah. Ia menulis beberapa jalur periwayatan terkait riwayat Ibnu Saba, sambil memberikan penilaiannya.

  1. Riwayat pertama, Ibnu Hajar menyebutkan dari Saif bin Umar yang jelas-jelas diakui sebagai pendusta. Karena itu tertolak.
  2. Riwayat Ibnu Abi Khaitsamah tidak menyebut nama Ibnu Saba’, tetapi Ibnu Sauda’. Dan penisbatan Ibnu Sauda’ kepada Ibnu Saba’ diperdebatkan, yang dicurigai dari Saif bin Umar. Akibatnya, riwayat ini juga dianggap sangat lemah.
  3. Riwayat Ibnu Marzuq dari Syu’bah juga dipermasalahkan, sebab sebagian menganggapnya tsiqat dan lainnya menyatakan dhaif, banyak melakukan kesalahan (at-Tahzib juz 8, no. 160). Selain itu, lafadz Abdullah bin Saba’ adalah tambahan perkataan Ibnu Marzuq sendiri (tafarrud), bukan kata-kata Imam Ali. Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya meriwayatkan yang lebih kuat dari Muhammad bin Ja’far Ghundar dari Syu’bah, di mana dalam riwayat itu lafazh Abdullah bin Saba’ tidak ada.
  4. Riwayat dari Muhammad bin Utsman as-Syaibah tidak bisa dijadikan hujjah, karena terdapat rawi yangdhaif, seperti Mujalid (Mizan al-I’tidal juz 3 no 7070).
  5. Riwayat Abu Ya’la melalui jalur Abu Kuraib juga tidak bisa dijadikan hujjah. Sebab sanadnya terdapat perawi dhaif (lemah) dan majhul (tak diketahui) seperti Abu Julaas.
  6. Riwayat dari Abu Ishaq al-Fazzari dari Syu’bah tidak bisa dijadikan hujjah, karena bermasalah sanad dan matannya. Abi Zaraa’ adalah perawi yang dhaif bisa dijadikan i’tibar (Tahrir At-Taqrib no 3677). Selain itu, nukilan Ibnu Hajar keliru karena riwayat aslinya tidak terdapat nama Ibnu Saba’.
  7. Terakhir, Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa riwayat tentang Ibnu Saba’ dalam kitab-kitab tarikh tidak ada nilainya. (Lisan Al Mizan juz 3 hal. 289-290 no 1225).

Kemudian, masalah kedua, terkait dengan pendapat syiah tentang Ibnu Saba’. Seandainyapun Ibnu Saba’ itu memang ada, tetapi ulama Syiah—dan juga Sunni—tidak menganggap Ibnu Saba’ sebagai tokoh Syiah dan sahabat Imam Ali yang baik. Ulama Syiah dan para imam Syiah di dalam berbagai riwayat, mengecam serta berlepas diri (tabarri) darinya. Kalau memang Ibnu Saba’ adalah tokoh dan pendiri Syiah, semestinya kita melihat mereka memuji-muji dan banyak mengutip pendapatnya.

Jadi, persoalan Ibnu Saba’ tidak ada kaitannya dengan mazhab Syiah. Mungkinkah orang yang ditolak keberadaannya atau dikecam oleh ulama Syiah sepanjang sejarah dijadikan tokoh panutan dalam Syiah?

Kalau kita perhatikan seluruh buku-buku Syiah dan Sunni dari yang besar sampai yang kecil tidak ada satupun yang memuji Abdulah bin Saba’. Semua buku itu mencela dan menyatakan kesesatan dan kekafiran Abdulah bin Saba’. Jadi Sunni dan Syiah sepakat akan kekafiran Abdulah bin Saba’. Kesimpulan rasional dari hal itu adalah bahwa Ahlussunnah dan Syiah sama-sama menolak Abdullah bin Saba’. Dari sisi ini, menyatakan bahwa Syiah adalah pengikut Ibnu Saba’ dan rekayasa Yahudi sungguh merupakan kesimpulan yang gegabah dan tak lebih dari prasangka semata. Pendapat bahwa Ibnu Saba’ atau Yahudi sebagai pendiri Syiah adalah suatu pemaksaan dan kebingungan intelektual. (hd/liputanislam.com)

http://liputanislam.com/tabayun/membedah-hubungan-syiah-iran-dengan-yahudi-israel-1/

http://liputanislam.com/tabayun/membedah-hubungan-syiah-iran-dengan-yahudi-israel-2/

Iklan

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: