Jihad Mujahidin Arrahmah: Menghancurkan Makam

LiputanIslam.com – Penghancuran situs-situs kuno, makam, tempat-tempat ibadah di berbagai negara oleh “Mujahidin” selalu dituturkan dengan penuh kebanggaan oleh Arrahmah. Jika pada Perang Badar dulu, kaum muslimin bersuka cita lantaran berhasil mengalahkan kaum Quraisy, maka tidak demikian halnya kini. Mereka yang disebut “Mujahidin” oleh Arrahmah, tak lain dan tak bukan adalah kawanan teroris yang tak henti-hentinya melakukan aksi terorisme dan perusakan.

Di Pakistan pada tahun 2009, Arrahmah mengabarkan perusakan sebuah makam seorang penyair Sufi yang sering diziarahi warga setempat. Militan bersenjata itu lantas meledakkan bom hingga makam tersebut hancur. Alasanya: banyak orang Pakistan yang bersembahyang di kuburan laki-laki yang dianggap mistis dan suci, dan hal tersebut mengundang protes dari Mujahidin yang selalu berusaha menjaga kesucian Islam. Solusi yang mereka tempuh: hancurkan makam.

Benarkah gelar “Mujahidin” ini disematkan kepada para perusak peradaban? Suara Muslimmenjawab sebagai berikut:

Mengebom makam ulama setempat yang dihormati oleh warga disebut Mujahidin? Sejak kapan gelar “Mujahidin” diberikan kepada para Islam Radikal? Media Arrahmah juga sangat sinis terhadap ‘Sufi’ yang menurutnya musyrik. Itulah akibatnya jika tidak memahami apa itu Sufi apa itu Tasawuf. Mereka hanya memandang sebelah mata terhadap tasawuf dan pelakunya yang seorang Sufi disamaratakan sebagai pelaku syirik.

Arrahmah juga menganggap orang-orang yang marah ketika situs kuno dan makam wali dihancurkan itu orang-orang kafir dan munafik. Sebuah tuduhan yang keji bagi mayoritas umat Indonesia yang sebagian besar berfaham Ahlussunnah Wal Jama’ah dan sangat menghormati keberadaan makam ulama atau wali, tidak seperti Arrahmah yang berfaham Wahabi.

Pelaku penghancuran tersebut tidak memahami hakikat ajaran Islam, meski perlakuan tersebut atas nama pemurnian ajaran tauhid dan pemusnahan praktik syirik namun hanya sebatas pengakuan semata. Mereka menganggap tempat-tempat yang dikeramatkan seperti kuburan wali dan sahabat Nabi itu sebagai tempat yang berpotensi mengandung kemusyrikan.

Kalau demikian maka seharusnya tidak hanya makam saja yang berpotensi sebagai tempat musyrik, seluruh tempat yang ada di muka bumi ini pun bisa berpotensi sebagai tempat kemusyrikan. Sebagaimana ada yang menyembah matahari, maka harusnya ‘mujahidin’ tersebut juga berupaya menghancurkan matahari karena berpotensi musyrik. Demikian pula bangunan Ka’bah di Mekkah, kalau kita ikut alur pemikiran radikalnya mereka maka bisa saja Ka’bah berpotensi musyrik karena tidak boleh kita menyembah Ka’bah. Akan tetapi tentunya tidaklah demikian. Pun demikian dengan rumah sakit, dokter, dan obat-obatan yang menjadi tempat meminta kesembuhan seharusnya dihancurkan juga, sebab meminta itu hanyalah kepada Allah SWT saja, meminta kesembuhan pada dokter, rumah sakit, dan obat-obatan bisa berpotensi musyrik. Itu apabila mereka konsisten memakai pola pikir radikal seperti itu.

Yang lebih parah lagi sejumlah orang menyerang makam Hujr bin Adi di Rif, Damaskus. Jasad sahabat Nabi SAW yang menurut keterangan beberapa situs berita masih utuh, dipindahkan ke tempat tak diketahui. Kaum Wahabi memanfaatkan kondisi aparat keamanan sedang sibuk meredakan bentrokan. Kesempatan itu mereka pergunakan untuk menghancurkan tempat suci. Hujr bin Adi ra adalah salah seorang shahabat Nabi Muhammad SAW yang ikut dalam Perang Al Qadisiyah di masa Khalifah Umar bin Khatthab ra dan berhasil menaklukkan daerah Maraj Al’ Adzra, daerah Persia.

Sebenarnya tidak perlu berhujan dalil bergerimis hujjah dan berbanjir ayat untuk mengatakan para pembongkar makam itu adalah perbuatan keji. Mereka yang tidak buta mata dan hati tentunya tahu dan melihat bahwa Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dikuburkan dalam sebuah bangunan, disusul pula oleh kedua sahabatnya yang mulia Sayyidina Abi Bakrin dan Sayyidina ‘Umar Rodliyallahu ‘anhuma. Apakah ketiganya memang sengaja dikuburkan agar bangunan yang melindunginya dihancurkan?

Sayyidina ‘Ali Karromallahu wajhah yang mengemban perintah dari Nabi yang katanya diutus untuk meratakan kuburan dan menghapus gambar (bernyawa) juga ternyata tidak bertindak menghancurkan bangunan itu. Apakah Sayyidina ‘Ali kalian tuduh sebagai pembangkang perintah Nabi? Atau beliau kalian tuduh sebagai pecundang yang tak sanggup melaksanakan perintah kekasihnya?

Dari Abu Al-Hayyaj Al-Asadi dia berkata: Ali bin Abu Thalib berkata kepadaku:

أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ

“Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan gambar-gambar kecuali kamu hapus dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan.” (HR. Muslim no. 969)

Mungkin saking hormatnya terhadap orang orang yang dikubur di dalam bangunan itu sehingga Sayyidina ‘Ali membuat pengecualian, tetapi bisakah kaum yang mengklaim diri “Penegak Tauhid” menyebutkan satu riwayat saja bahwa Sayyidina ‘Ali dan para sahabat– yang lebih memahami sabda Nabi SAW–  pernah menghancurkan sebuah makam? Apakah para pengaku pejuang sunnah itu lebih memahami inti dari perintah Nabi seperti yang tersebut di dalam riwayat diatas? (ba/LiputanIslam.com)

sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/jihad-mujahidin-arrahmah-menghancurkan-makam/

Iklan

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: