MEDIA KHAWARIJ VOA-“ISLAM” MEMFITNAH MUFTI AHLU SUNNAH SURIAH

mufti suriah 2LiputanIslam.com – Akhir-akhir ini di jejaring sosial Sheikh Ahmad Hassoun santer disebut Syiah dan bahkan dituduh melakukan hal-hal yang asusila. Oleh media-media Islam mainstream pendukung pemberontakan di Suriah, Sheikh Ahmad Hassoun digambarkan sebagai pribadi yang begitu kejam dan bengis. Contohnya sebagaimana yang diungkapkan Voa-Islam;

 “… Mufti Syiah Suriah yang telah berfatwa yang menyebabkan ratusan ribu kaum muslimin Sunni Suriah dibantai dan jutaan mereka terusir dari negaranya”

Siapakah sebenarnya Sheikh Ahmad Hassoun? Benarkah beliau seorang Syiah? Benarkah beliau berfatwa yang menyebabkan ratusan ribu muslim Sunni dibantai di Suriah?

Sheikh Ahmad Hassoun atau Shaikh Ahmad Baddruddin Hassoun adalah Grand Mufti Suriah sejak Juli 2005 menggantikan Grand Mufti Suriah sebelumnya yaitu Sheikh Ahmed Kuftaro atau Sheikh Ahmad Muhammad Amin Kuftaro (wafat tahun 2004) yang merupakan ulama Sunni, pimpinan Tarekat Sufi Naqsyabandiyah dan termasuk salah satu pendiri Liga Muslim Dunia.

Syeikh Ahmed Hassoun merupakan Doktor dalam mazhab fiqh Syafi’i yang diperoleh dari Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Lahir di Aleppo pada tahun 1949. Ayahnya bersama Muhamamd Adeeb Hassoun yang juga seorang ulama. Dalam berbagai kesempatan bersama Presiden Suriah, beliau shalat dengan tangan bersedekap sebagaimana fiqh Syafi’i. Sehingga, tuduhan bahwa beliau Syiah adalah tidak benar.

Dan apakah beliau pernah berfatwa yang menyebabkan ratusan ribu kaum muslimin terbunuh? Penting kiranya kita mendengar seruan beliau yang berkumandang saat pemakaman anaknya, Sarya. Anaknya yang baru berusia 22 tahun dan merupakan seorang mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, tewas dibunuh oleh pemberontak Suriah saat dalam perjalanan bersama profesornya. Dengan mencermati kalimat demi kalimat dalam khotbahnya, kita akan bisa mengambil kesimpulan benarkah beliau adalah sosok yang kejam atau tidak.

Sheikh Ahmad Hassoun dari pemakaman anaknya, yang dikutip dari Kajian Timur Tengah (Dina Y. Sulaeman);

Seruan untuk Pemimpin dan Ulama Arab, serta HAMAS

“Saya serukan kepada semua ibu para syuhada, semua anak dari para syuhada, semua ayah para syuhada, atas nama semua istri para syuhada, untuk berkata kepada semua orang yang membunuh:  Berhentilah kalian. Berhentilah kalian membunuhi anak-anak bangsa ini.  Kami tidak mempersiapkan pemuda-pemuda kami untuk dibantai oleh bangsa sendiri. Sesungguhnya kami persiapkan mereka untuk syahid di tanah Palestina. Dengarkanlah wahai para pemimpin Arab! Saya mempersiapkan anak saya untuk syahid di Palestina. Tapi kalian menolak. Kalian menarik duta-duta besar dari tanah kami. Padahal, Amerika, Perancis, Inggris, duta-dutanya masih tetap di tanah kami. Kalian malah tidak membiarkan duta besar kalian tetap di sini untuk menjalin komunikasi sesama saudara (Arab). Kami menantikan kalian para duta yang mulia untuk datang ke Suriah,  untuk bertemu dengan rakyat dan pemimpin, dan mendamaikan sesama manusia. Kami tidak mengharapkan kalian mengirimkan fatwa-fatwa.” “Wahai para Ulama. Wahai orang-orang yang mulia. Para syeikh Al Azhar, wahai Syeikh Al Qordhowi,  wahai yang berdiri dan berkhutbah dan mengeluarkan fatwa untuk membunuh 1/3 rakyat Suriah. Kini anakku telah kembali kepada Allah…” “Ya Allah, darah kami akan menjadi saksi di hadapan-Mu, bagi siapa yang berfatwa untuk membunuh kami, bagi siapa yang memotivasi orang-orang untuk membunuh rakyat Suriah,  bagi siapa yang mengirimkan senjata ke Suriah,  bagi siapa yang mengirimkan uang  [untuk pemberontakan di] Suriah …” “Wahai saudaraku, wahai Abal Walid, wahai Khalid Masy’al! Katakan pada orang-orang Arab, siapa yang merangkulmu di Suriah ? Katakan pada HAMAS, siapa yang merangkulmu di Suriah ? Katakan pada rakyat Gaza siapa yang menangisi darah kalian di Suriah?…”

Posisi Ulama Antiperang

“Dengarkan saudara-saudaraku, partai-partai Islam di dunia. Soal anakku, saya serahkan kepada Allah. Tetapi, saya bersumpah kepada Allah, sesungguhnya telah bersabda Nabi kita tercinta,  “Menghancurkan Ka’bah menjadi batu demi batu, lebih ringan dihadapan Allah dibandingkan membunuh atau menumpahkan darah orang mukmin di luar batasan hukum yang ditetapkan Allah (had).” Saya akan bertanya pada 4 pembunuh yang kemarin membunuh anakku dan seorang gurunya. Saya bertanya kepada mereka dan para syaikh mereka, dengan hukum Allah yang mana kalian membunuh anakku? apakah (dia) membunuh salah satu dari kalian? Apakah ayahnya ikut andil membunuh seseorang? Bukankah telah saya katakan dari awal, saya adalah pelayan negeri ini, saya adalah jembatan kasih sayang antara pemimpin dan rakyat. Saya tidak menyukai jabatan ini,  tapi saya adalah Mufti dari 23 juta jiwa di negeri ini, sudah saya katakan kepada kalian saya adalah pelayan, saya tidak rela siapa pun dari kalian tersakiti. Saya menangisi semua yang gugur syahid, saya berduka bagi semua anak- anak, saya berduka bagi semua ibu.” “Dan bagi kalian, yang masih berdemonstrasi di negaraku, akan kucium tangan kalian, akan kucium kening kalian. Tanah air kalian akan menjadi tempat pembantaian kedua. Kalian semualah yang akan dibantai [pertama kali]. Sasarannya bukanlah pemerintah, yang menjadi target bukanlah rezim… Mengapa mereka banyak melakukan pengeboman? Mengapa mereka membunuh rakyat di Serbia ? Mengapa Libya dibom? Mereka bukan [sekedar] menginginkan Sarya dan teman- teman syahidnya. Yang mereka inginkan adalah bangsa Suriah berlutut di hadapan Zionis dan AS!”

Seruan kepada ‘Pengguna Internet’

“Wahai para pemilik (pengguna) internet. Hari pertemuan kita adalah di Hari Pengadilan. Saya adukan kalian kepada Allah. Saya adukan kalian kepada Allah. Saya adukan kalian kepada Allah. Tulislah apa yang ingin kalian tulis! Ungkapkan kebencian kalian! Tuliskan kebencian kalian! Kami akan membungkamnya dengan cinta, keimanan, kesabaran, dan perjuangan… Kami akan membungkamnya, dengan keyakinan kami kepada Allah.”

Janji Amnesti dari Syekh Hassoun

“Saudara-saudaraku, wahai para ayah dan ibu, jika kalian melihat anak-anak kalian membawa senjata, katakan kepada mereka, ‘selamatkan negeri ini’! Dan barangsiapa yang meletakkan senjata dan menghentikan peperangan, saya minta kepada Presiden, agar memberikan amnesti (pengampunan) kepada mereka, bahkan kepada mereka yang telah membunuh anak saya! [Saya bersumpah] Demi Suriah, demi tanah air, demi negeri saya, demi agama saya!”

Seruan kepada Oposisi “Bagi Anda, wahai kaum oposisi, inilah Suriah, pintunya terbuka…  Berhentilah menghina bangsa ini dari luar negeri! Datanglah, dan katakan apa yang ingin kalian katakan di dalam negeri. Kalau sampai ada yang menolak kalian, aku akan berdiri bersama kalian, wahai oposisi! Datanglah dan katakan kebenaran dari kalian. Datanglah dan sampaikan dengan tulus. Kalian ingin kebebasan, kalian ingin keadilan? Mari kita bangun landasannya [kebebasan/keadilan] di Suriah…”

Duhai kaum muslimin, tidak lain dan tidak bukan Sheikh Ahmad Hassoun adalah seorang ulama yang hatinya penuh kasih dan cinta. Beliau berseru agar pihak yang bertikai di Suriah segera meletakkan senjata dan berdamai, beliau mengundang ulama-ulama Arab untuk menengahi konflik di Suriah, beliau menawarkan akan memohonkan amnesti kepada Presiden Suriah, beliau begitu besar perhatiannya terhadap muslim Arab Palestina yang teraniaya sehingga anaknyapun beliau siapkan untuk syahid di bumi Palestina. Kedekatan beliau dengan pemerintah bukan lantaran beliau adalah seorang penjilat dan antek pemerintah, tetapi karena beliau adalah penyambung lidah rakyat dan tali kasih antara pemerintah dan rakyatnya. Sangat tidak masuk akal seorang ulama Sunni berfatwa untuk membunuh muslim Sunni sebagaimana fitnah Voa-Islam dan aliansinya. (ba)

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/fitnah-voa-islam-atas-grand-mufti-suriah/

%d blogger menyukai ini: