MEDIA KHAWARIJ VOA-“ISLAM” ISTIQOMAH BERPEGANG PADA DOKTRIN GOBBELS NAZI UNTUK MENDESKRIDITKAN IRAN : JAWABAN UNTUK VOA-“ISLAM” MERIANG KETIKA SYIAH MENGHORMATI UMAR BIN KHATAB ra

jalan-khalifah-umar-300x225

LiputanIslam.com — Pada awal Februari, Liputan Islam menurunkan artikel yang berjudul “Nama Khalifah Umar Dijadikan Nama Jalan di Iran.” Tak disangka, ternyata tulisan tersebut mendapatkan teguran dari Voa –Islam, sebuah situs yang menurut aktivis muda NU dari berbagai kalangan adalah situs penebar kebencian yang mengatasnamakan Islam.Propaganda dan fitnah dari Voa-Islam sudah sangat sering kami kupas secara mendalam, dan bisa di baca kembali di link-link berikut ini:

1. Fitnah Voa Islam atas Grand Mufti Suriah

2. Fitnah Voa Islam atas Ayatullah Khamenei

3. Fitnah Voa Islam atas kematian putra Mufti Suriah

4. Meluruskan makna mulkulturalisme yang ‘dicompang-campingkan’ oleh Voa Islam

5. Voa Islam vs Kabar Islam

Tanggapan LI akan ditulis menjadi beberapa bagian, dan ini adalah bagian pertama.

Menurut Voa Islam: “Nama jalan tersebut adalah salah satu nama jalan di kota Saqqez, propinsi Kurdistan barat laut Iran, di mana di daerah tersebut populasi penduduk mayoritas menganut ajaran Sunni (ahlussunnah). Maka wajar mereka memperjuangkan identitas mereka yang selama ini ditekan oleh pemerintah.

Dan tahun kemarin, ahlussunnah juga memberikan nama kepada taman umum di kota tersebut dengan nama Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, dimana pada akhirnya otoritas setempat memberikan izin penamaan tersebut. Namun apakah penamaan ini merupakan bukti toleransi mereka dan secara lapang dada diterima?

Banyak media syiah yang memprotes pemberian nama ini di salah satu kota di Iran sepertishiahonline. Jadi pemberian nama ini bukan jadi patokan karena pemberian nama ini pun kontroversial di kalangan syiah.

Apakah kita tidak membaca berita dari ahlussunnah Iran. Sudah banyak penuturan dari ulama besar bahkan ulama besar ahlussunnah di Iran sendiri yang sampai sekarang masih memberikan masukan kepada pemerintah Iran agar memperhatikan hak-hak ahlussunnah.”

Tanggapan LI:

Voa-Islam menyajikan teks yang kontradiksi. Di satu sisi mengingkari fakta bahwa Ahlussunah dihormati hak-haknya di Iran, namun di sisi lain Voa juga mengakui bahwa nama khalifah ketiga tersebut diabadikan sebagai nama jalan di salah satu kota Iran, yang artinya, pemerintah tidak menghalangi aspirasi masyarakat Ahlussunah untuk mengenang dan mengabadikan nama beliau.

Sebuah negara, diatur oleh pemerintah yang memegang kendali atas keputusan yang diambil. Voa-Islam sedang berusaha mengaburkan pemahaman karena tidak mampu membantah bahwa nama Khalifah Umar memang diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Iran. Logikanya, apa susahnya bagi pemerintah Iran yang mayoritas Syiah untuk mengganti nama jalan tersebut dan melarang menggunakannya?

Jikalaupun ada media Syiah yang protes akan kebijakan tersebut, Voa-Islam sepertinya perlu berkaca deh. Bukankah Voa-Islam juga sering protes terhadap keputusan pemerintah Indonesia terkait isu-isu nasional? Keputusan pemerintah, di negara manapun di dunia pastinya akan menimbulkan pro-kontra dari berbagai pihak, baik itu elemen masyrakat, ormas, maupun media. Di Iran juga begitu. Tapi bukankah sampai berita ini dimuat, nama Sayyidina Umar juga masih  tidak diusik sama sekali oleh pemerintah Iran?

Mungkin Voa-Islam akan tambah kaget jika kami sodori fakta bahwa selain nama jalan yang mengagungkan Khalifah Ketiga, di Iran juga ada sebuah wilayah yang dipimpin oleh walikota – seorang wanita Ahlussunah dari etnis Baluchi.  Baluchzehi, demikian namanya, terpilih sebagai sebagai walikota di kota Kalat – salah satu kota di provinsi Sistan – Baluchistan. Al-Monitor telah membuat laporanya secara ekslusif. Wanita Baluchi ini baru  berusia 26 tahun, seorang insinyur, dan juga seorang Master dalam pengelolaan sumber daya alam dari Islamic Azad University di Teheran. Dia berasal dari keluarga kaya yang berpengaruh dan memiliki hubungan yang dekat dengan para ulama di wilayahnya.

Iran meskipun merupakan negara dengan mayoritas bermazhab Syiah,  terpilihnya seorang wanita dari etnis Persia dan bermazhab Syiah sebagai walikota masih jarang terjadi.  Dan terpilihnya wanita Baluchi yang bermazhab Sunni sebagai walikota merupakan hal yang baru pertama kali terjadi. Baluchzehi memimpin wilayah di daerah konservatif yang cukup  bermasalah. Para pendukung Salafi  ektrem bersenjata al-Qaeda, seperti Jaish al – Adl, yang merupakan cabang dari Jundallah,  juga beraktivitas aktif di sana. Dari waktu ke waktu ada konflik berdarah antara kelompok-kelompok ini dan angkatan bersenjata Iran. Militan ini, karena konservatisme agama dengan pemahaman radikal mereka, sangat menentang gagasan naiknya perempuan sebagai anggota aktif di ruang publik.

Make the lie big, make it simple, keep saying it, and eventually they will believe it (Adolf Hitler)

Rasanya bukan hal yang mudah  untuk menjelaskan kepada sebagian masyarakat yang telah tercuci otak atau telah terdoktrin oleh propaganda yang berulang-ulang diserukan kepada mereka. Apalagi kendalanya, yang menebar propaganda kebencian ini, tidak jarang merupakan tokoh agama ataupun lembaga yang menjadi rujukan umat.

Simak tanggapan selengkapnya di link berikut:

Bagian Pertama: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-pertama/

Bagian Kedua: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-kedua/

Bagian Ketiga: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-ketiga/

Bagian Keempat: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-keempat-tamat/

 (LiputanIslam.com/ba)

 

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-pertama/

Iklan