Herev, Aliansi Para Hamba Iblis

greater-israelLiputanIslam.com – Siang itu debu-debu beterbangan di udara dan mengaburkan pandangan mata. Terdengar suara gaduh yang tak henti-hentinya di Dataran Tinggi Golan. Ya saat itu, pada bulan Juli 2013 mereka tengah melakukan latihan intensif. Mengembangkan taktik-taktik baru, strategi perang dan penggunaan senjata-senjata yang canggih.

Setelahnya, kepada Radio Militer milik Zionis Israel, seorang pria bermata sipit – yang bernama Shadi Abu Fares mengungkapkan bahwa satuannya telah menyelesaikan pelatihan intensif di Dataran Tinggi Golan untuk melawan musuh di Lebanon seefisien mungkin.

“Pertempuran di Lebanon membutuhkan cara-cara kamuflase yang meyakinkan, karena bertujuan untuk memperlambat gerak pasukan [musuh] di medan perang. Tekhnik terbaru ini telah sempurna, yang akan digunakan untuk melawan pasukan Hizbullah, “ ucap Abu Fares.

Shadi Abu Fares

Dendam Israel yang belum terbalaskan pasca kekalahannya menghadapi Hizbullah tahun 2006 silam yang telah menyisakan begitu banyak rasa malu dan luka, sepertinya tengah bersiap-siap untuk perang besar selanjutnya. Dan Herev, atau ‘Arabs of the Israeli army ‘salah satu satuan militer Israel yang khusus dirancang untuk melawan Hizbullah, beranggotakan dari kaum Druze Walid Jumblatt dan dari Wahhabi Arab Badui yang terkenal dengan kebenciannya kepada mazhab Syiah. Apakah Israel merupakan sahabat dari kaum Arab, maupun Druze?

Mari kita simak penuturan M Arief Pranoto, seorang peneliti pada Global Review, tentang pengakuan dikatakan Henry Bannerman, Perdana Menteri Inggris pada tahun 1906.

“Ada sebuah bangsa (Bangsa Arab/ umat Islam) yang mengendalikan kawasan kaya akan sumber daya alam. Mereka mendominasi pada persilangan jalur perdagangan dunia. Tanah mereka adalah tempat lahirnya peradaban dan agama-agama. Bangsa ini memiliki keyakinan, suatu bahasa, sejarah dan aspirasi sama. Tidak ada batas alam yang memisahkan mereka satu sama lainnya. Jika suatu saat bangsa ini menyatukan diri dalam suatu negara; maka nasib dunia akan di tangan mereka dan mereka bisa memisahkan Eropa dari bagian dunia lainnya (Asia dan Afrika). Dengan mempertimbangkan hal ini secara seksama, sebuah “organ asing” harus ditanamkan ke jantung bangsa tersebut, guna mencegah terkembangnya sayap mereka. Sehingga dapat menjerumuskan mereka dalam pertikaian tak kunjung henti. “Organ” itu juga dapat difungsikan oleh Barat untuk mendapatkan objek-objek yang diinginkan” (JW Lotz, 2010).

 

Setelah Organ Ditanam, Lalu Selanjutnya?

Oded Yinon Plan, begitu sebutannya. Esai ini awalnya muncul dalam bahasa Ibrani di KIVUNIM (Arah), dalam Journal untuk Yudaisme dan Zionisme, Issue no. 14 – Winter, 5742, Februari 1982, Editor: Yoram Beck. Komite Editorial: Eli Eyal, Yoram Beck, Amnon Hadari, Yohanan Manor, Elieser Schweid. Diterbitkan oleh Departemen Publisitas / Organisasi Zionis Dunia, Yerusalem.

Dalam perhitungan mereka (dan ini terbukti hingga sekarang), bangsa-bangsa Timur Tengah tidak akan terlalu peduli padadokumen ini dan tidak akan melakukan langkah-langkah strategis untuk melawan rencana dan strategi jangka panjang Zionist ini. Berikut ini isi dari sebagian strategi Oded Yinon tersebut:

Pembubaran total Lebanon ke dalam lima provinsi berfungsi sebagai  acuan untuk seluruh dunia Arab, termasuk Mesir, Suriah, Irak, dan semenanjung Arab; dan (situasi Lebanon) sudah mengikuti jalur ini. Pembubaran Suriah dan Irak [akan] menyusul kemudian [yaitu] pemecahan wilayah-wilayah berdasar etnis atau mazhab sebagaimana di Lebanon; ini merupakan target jangka panjang Israhell untuk wilayah timur.

Sementara itu pembubaran kekuatan militer dari negara-negara itu menjadi target jangka pendek Israel. Suriah akan terpecah menjadi beberapa negara sesuai dengan struktur etnis dan agama, seperti di Lebanon saat ini, sehingga akan ada negara Alawy di sepanjang pantainya, negara sunni di wilaya Aleppo, dan negara Sunni lainnya di Damaskus yang akan memusuhi tetangga utaranya; Druze juga akan mendirikan negara, bahkan mungkin di wilayah Golan, dan tentu saja di Hauran dan Yordania Utara. Keadaan ini akan memberikan jaminan bagi perdamaian dan keamanan di kawasan dalam jangka panjang, dan tujuan ini sudah hampir bisa kita capai.

Irak, negara yang kaya minyak di satu sisi, dan terpecah-belah disisi lain, adalah target Israel yang pasti. Pembubaran Irak bahkan lebi penting ketimbang Suriah. Irak lebih kuat dari Suriah. Dalam jangka pendek, kekuatan Irak merupakan ancaman terbesar Israel. Perang Iran-Irak akan memecah-belah Irak dan menyebabkan kekacauan internal sehingga akan mampu mengatur strategi perjuangan melawan kita di front yang luas.

Segala jenis konfrontasi dengan negara-negara Arab akan membantu kita dalam jangka pendek dan akan mempersingkat jalan menuju tujuan yang lebih penting, yaitu memecah-belah, sekaligus juga memecah Suriah dan Libanon. Di Irak, pembagian negara yang mungkin dilakukan adala menjadi sejumlah provinsi berdasarkan garis etnis atau agama sepertti di Suriah pada masa kekhalifahan Utsmaniyyah. Jadi akan ada tiga (atau lebih) negara yang muncul di sekitar tiga kota utama: Basrah, Baghdad, dan Mosul; daerah Syiah di Selatan akan terpisah dari wilayah kaum Sunni dan suku Kurdi di utara.

Mitos Mesir sebagai pemimpin yang kuat dari Dunia Arab dihancurkan pada tahun 1956 dan pasti tidak bertahan tahun 1967, tetapi kebijakan kami, seperti dalam kembalinya Sinai (ke Israel), disajikan untuk mengubah mitos menjadi “fakta.” Namun dalam kenyataannya, kekuasaan Mesir secara proporsional baik ke Israel dan ke seluruh Dunia Arab telah turun sekitar 50 persen sejak tahun 1967. Mesir tidak lagi menjadi kekuatan politik terkemuka di Dunia Arab dan ekonominya di ambang krisis.

Tanpa bantuan asing krisis akan segera datang. Dalam jangka pendek, karena kembalinya Sinai (ke Israel), Mesir akan mendapatkan beberapa keuntungan dengan biaya kami, tetapi hanya dalam jangka pendek sampai tahun 1982, dan itu tidak akan mengubah keseimbangan kekuasaan untuk manfaatnya, dan mungkin akan membawa kejatuhannya. Mesir, dalam gambaran politik yang sekarang di dalam negeri sudah mati, lebih-lebih jika kita memperhitungkan tumbuhnya keretakan Muslim-Kristen. Memecah Mesir ke daerah teritorial geografis yang berbeda adalah tujuan politik Israel di era 1980-an di bagian front Baratnya.

 

Setelah Israel dengan jelas mempublikasikan dokumen dan strategi mereka, akankah kita diam saja melihat mereka melaksanakan programnya? Atau malah membantu mereka mewujudkan cita-citanya dengan menjadi bagian dari militer mereka? Pilihannya tentu saja kembali kepada pribadi masing-masing. (fa/LiputanIslam.com)

Referensi:

M. Arief Pranoto:  The Global Review “Geopolitik Sungai Nil”

Dina Y Sulaeman: Prahara Suriah

Al-Manar: New Arab Israeli to Fight Hezbollah

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/herev-aliansi-para-hamba-iblis/

Iklan