HADITS PALSU YANG DIKUMANDANGKAN EKS PEMBESAR DI/TII/NII DALAM MEMUSUHI SYIAH

 

hadis

Dalam acara Deklarasi Anti-Syiah, salah satu orator bernama Abu Jibril menyatakan ada hadis Rasulullah yang mengharuskan pembunuhan terhadap orang Syiah. (Lihat video orasi Abu Jibril)

Kemudian, di jejaring sosial, beredar foto hadis di atas, yang secara sepintas, isi teksnya memang membenarkan pembunuhan kepada orang Syiah.

Sebagai upaya tabayun, kami menghubungi Dr. Muhammad Anis, pakar Politik Islam dari UIN Sunan Kalijaga. Berikut ini penjelasan beliau:

Setelah saya coba telusuri hadis tersebut, ternyata tidak satu pun menyebut kata “Syiah”, melainkan hanya “Rafidhah”. Kata “Rafidhah” ini -seperti saya sebutkan tadi– sebenarnya hanyalah label yang disematkan oleh orang-orang tertentu kepada mereka yang meninggalkan Zaid bin Ali disebabkan berbeda pendapat dengannya. Namun anehnya, sebutan ini kemudian dikait-kaitkan dengan Syiah. Sehingga, istilah ini kemudian digunakan oleh sebagian orang sebagai sebutan cemoohan kepada Syiah.

Dari penelusuran singkat saya, hadis-hadis tentang Rafidhah ini pun ternyata lemah (dha’if). Hal ini disebabkan adanya perawi dha’if dan munkar di dalamnya, seperti: Yahya bin Mutawakkil, Katsir bin Isma’il an-Nawa’, Muhammad bin As’ad at-Taghlabi, Suwar bin Mush’ab, Fadhl bin Ghanim, Hajaj bin Tamim, ‘Imran bin Zaid, dan sebagainya.

Khusus tentang hadis riwayat Thabrani, yang dinukil oleh Al-Haitsami dalam kitabnya “Majma’ az-Zawa’id” itu, maka hadis itu terbukti lemah dan sudah semestinya ditolak, disebabkan adanya Hajjaj bin Tamim. Berkata Al’Aqili dalam kitabnya “Adh-Dhu’afa’” bahwa riwayat Hajjaj tentang Rafidhah sama sekali tidak bernilai hadis, yang tidak seharusnya diikuti. Ibn ‘Adi dalam kitabnya “Al-Kamil fi Dhu’afa’” mengatakan bahwa riwayat Hajjaj (tentang Rafidhah) itu sama sekali tidak lurus. Adz-Dzahabi dalam kitabnya “Mizan al-I’tidal” mengatakan bahwa hadis-hadis Hajjaj lemah. Ibn Hajar al-Asqalani dan An-Nasa’i juga menilai Hajjaj sebagai perawi dha’if.

Bukti lainnya adalah pengakuan dari ulama dan masyarakat Sunni terhadap kemusliman Syiah di sepanjang sejarah hingga detik ini, yang bahkan tertuang pula dalam Risalah Amman 2005. Selain itu, banyak pula perawi Syiah yang riwayat-riwayatnya diambil di kitab-kitab hadis Sunni, termasuk di kitab hadis Bukhari-Muslim.

Ini menunjukkan bahwa tidak ada masalah dalam hubungan Sunni dan Syiah sejak dulu. Yang menjadi masalah justru saat kaum Takfiri muncul belakangan, dengan membawa semangat kebencian, sektarianisme, dan intoleransi. (dw/LiputanIslam.com)

Tambahan: dari status FB Zen Husein:

Ad-Dzahabi didalam Mȋzȃn al-I’tidȃl menuliskan:

عمرو بن مخرم عن يزيد عن خالد الحذاء عن عكرمة عن ابن عباس مرفوعاً: )يكون في آخر أمتي الرافضة ينتحلون حب أهل بيتي و هم كاذبون، علامة كذبهم شتمهم ابا بكر وعمر ومن أدركهم منكم فليقتلهم فإنهم مشركون)

Dari Amru bin Mukhram dari Yazȋd dari Khȃlid Al-hadzdza dari ikrimah dari Ibn Abbas secara marfu’ : akan ada di akhir zaman salah satu dari umatku yang rafidhah yang menganut mazhab ahlulbaitku, dan mereka para pembohong, dan tanda-tanda kebohongan mereka adalah cacian mereka kepada Abu Bakar dan Umar jikalau kalian bertemu dengan mereka maka bunuhlah karena mereka adalah orang-orang musyrik[1].

Hadits ini adalah dhoif menurut ulama rijal ahlussunnah sekalipun:

1. Riwayat dari Amru bin Mukhram dari Yazid palsu

عمرو بن مخرم بصري عن يزيد بن زريع، وابن عيينة بالبواطيل

Riwayat Amru bin makhrum basri yang diriwayatkan dari Yazid bin Zarȋ’ dan Ibn ‘Uyainah adalah palsu.[2]

عمرو بن مخرم بصري يروي عن يزيد بن زريع ليس بثقة

Amru Ibn Mukhram basri meriwayatkan dari Yazid bin Zarȋ’ bukan tsiqat[3].

2. Ikrimah seorang Kazzab

سمعت بن عمر يقول لنافع اتق الله ويحك يا نافع ولا تكذب علي كما كذب عكرمة على بن عباس

Aku mendengar Ibn Umar berkata kepada Nȃfi’ bertakwalah kepada Allah dan berhati-hatilah, janganlah engkau berbohong kepadaku seperti halnya ikrimah berbohong kepada Ibn Abbas[4].

Dan Begitupun hadits yang serupa nadanya yang mana para ulama ahlussunnahpun mengatakan hadits tersebut dhoif dan palsu.

[1] Ad-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad, Mizȃn Al-I’tidal fi naqd Ar-Rijȃl: 5/344 , penerbit: Dȃr Al-Kutub Al-Ilmiyyah- Beirut, cetakan pertama, tahun 1995 M.

[2] Idem.

[3] Ad-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin ahmad bin utsman, al-Mughni fi Ad-Dhu’afa:2/73, no. 4707, , tahqiq : Nȗruddin ‘Itrun, penerbit: Idȃratu ihyai at-Turats al-Islȃmi – Qatar.

[4] Al-’Asqalȃni, Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar, Tahdzib at-Tahdzib: 7/237, Penerbit : Dȃr al-Fikr – Beirut, tahun 1404 H.

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/benarkah-syiah-halal-darahnya/

Iklan