FATWA AYATULLAH ALI KHAMENEI MEMBUNGKAM YASIR AL HABIB (ULAMA SYIAH GADUNGAN BIKINAN MI6)

Tanggapan LI akan ditulis menjadi beberapa bagian, dan ini adalah bagian ketiga

Voa Islam menulis: Tidak sekedar itu, salah seorang pejabat Iran, Mohsen Rezae, melalui akun di jejaring sosial facebook ia menyamakan Sayyiduna Umar bin Khattab dengan Menlu AS, John Kerry. Statmen Mohsen pun menuai kecaman dari pihak ahlussunnah Iran.

 

Tanggapan Liputan Islam:

khamenei

Ada satu hal yang tidak diketahui (atau pura-pura tidak diketahui ) Voa-Islam bahwa Iran, adalah negara yang menganut system pemerintahan Wilayatul Faqih, yang mana pemegang kekuasaan tertinggi adalah seorang ahli agama (disebut Wali Faqih atau Rahbar) yaitu Ayatullah Khamenei. Sebelumnya, blog Satu Islam telah menayangkan fatwa dari Rahbar, tentang haram hukumnya melecehkan/ menistakan symbol-simbol Ahlussunah. Fatwa lengkapnya sebagai berikut:

Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Spiritual dari Iran, menerbitkan sebuah fatwa yang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummul mukminin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) ahlusunah waljamaah.

Hal itu tertera dalam jawaban atas istifta’ (permohonan fatwa) yang diajukan oleh sejumlah ulama dan cendekiawan Ahsa, Arab Saudi, menyusul penghinaan yang akhir-akhir ini dilontarkan seorang pribadi tak terpuji bernama Yasir al-Habib yang berdomisili di London terhadap istri Nabi, Aisyah. Para pemohon fatwa menghimbau kepada Sayid Khamenei menyampaikan pandangannya terhadap “penghujatan jelas dan penghinaan berupa kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul saw., Aisyah.”

Menjawab hal itu, Ayatullah Khamenei mengatakan, “…diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) ahlusunah waljemaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri Nabi saw. dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”

Fatwa  Ayatullah Khamenei ini dapat dapat dianggap sebagai fatwa paling mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangkain reaksi-reaksi luas kalangan Syiah sebagai kecaman terhadap pelecehan yang dilontarkan oleh (seseorang bernama) Yasir al-Habib terhadap Siti Aisyah ra.

Sebelumnya puluhan pemuka agama di kalangan Syiah di Arab Saudi, negara-negara Teluk dan Iran telah mengecam dengan keras pernyataan-pernyataan dan setiap keterangan yang menghina Siti Aisyah atau salah satu istri Nabi termulia saw.

Ketua Umum Ahlulbait Indonesia, Hassan Dalil Alaydrus mengutuk sikap pria kelahiran Kuwait yang mangaku orang Syiah tersebut. Menurutnya pernyataan Yasir tidaklah sama sekali mewakili sikap orang syiah, karena menurutnya menghina istri Nabi, Ummul Mu’minin Aisyah adalah haram sesuai dengan fatwa Ulama Syiah dan Ulama Ahlussunnah.

Hassan Dalil Alaydrus mengutip fatwa Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Spiritual dari Iran, yang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummul mukminin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) ahlusunah waljamaah.

Fatwa Khamenei ini dapat dapat dianggap sebagai fatwa paling mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangkain reaksi-reaksi luas kalangan Syiah sebagai kecaman terhadap pelecehan yang dilontarkan oleh (seseorang bernama) Yasir Habib terhadap Siti Aisyah ra.

ahmadinejad dan grand shaikh al azhar

Sedangkan menurut Ahmadinejad, mantan presiden Iran dalam pertemuannya dengan Grand Shaikh al-Azhar, mengungkapkan banyak unsur kesatuan yang dimiliki oleh seluruh muslimin, baik Sunni maun Syiah. Kita memiliki Tuhan satu, nabi satu, kitab satu, dan Kiblat satu.  Ahmadinejad kembali menegaskan, “Rasulullah saw tidak datang untuk menjadikan sekelompok sebagai Syiah dan sekelompok lain sebagai Sunni. Beliau datang untuk memuslimkan semua orang. Hal ini lantaran pandangan Islam adalah sebuah pandangan mendunia dan dimiliki oleh seluruh umat manusia.”

Selanjutnya, Presiden Ahmadinejad menandaskan, “Dari tribun ini saya tegaskan bahwa barang siapa di mana pun ia berada menghina sahabat Rasulullah saw, maka ia bukanlah seorang muslim dan tidak bergerak di atas jalan Islam. Ia tidak lebih hanyalah kaki tangan dan alat mainan musuh-musuh asing.”

Bagaimanapun telah menjadi fatwa resmi yang tidak boleh dilanggar bahwa haram hukumnya melecehkan simbol-simbol Ahlussunah. Dengan demikian, jika ada oknum yang melakukan hal tersebut maka dia tidaklah mewakili negara Iran ataupun pemerintahan Iran, melainkan murni mewakili pribadinya. Sama halnya dengan teroris Amrozi dkk yang meledakkan bom di Legian, Bali, dia tidaklah mewakili Islam secara keseluruhan. Gitu Om Voa, :D.

Simak tanggapan selengkapnya di link berikut:

Bagian Pertama: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-pertama/

Bagian Kedua: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-kedua/

Bagian Ketiga: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-ketiga/

Bagian Keempat: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-keempat-tamat/

(LiputanIslam.com/ba)

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-ketiga/

%d blogger menyukai ini: