DUSTA MEDIA KHAWARIJ VOA-“ISLAM” YANG KATANYA MUSLIM AHLU SUNNAH IRAN TAK DIIJINKAN SHOLAT JUM’AT

Tanggapan LI akan ditulis menjadi beberapa bagian, dan ini adalah bagian kedua.

 

Masih dari artikel yang sama, Voa Islam menulis: Dan lagi, semenjak tahun 1980 sampai detik ini kaum mulsimin Sunni di teheran tidak memiliki masjid. Hal ini diakui sendiri oleh ulama dan tokoh Mesir, Dr Raghib As-Sirjany, yang sempat diwawancarai oleh voa-islam.com. Muslimin Sunni terpaksa mengadakan Shalat Jumat dan Shalat ‘Id di tempat seadanya. Bahkan tahun kemrin, 2013, petugas keamanan Iran melarang kaum muslimin Sunni untuk melaksanakan Shalat Idul Adha, di mana hal tersebut mendapat kecaman oleh Syaikh Abdul Hamid, Ulama Besar Ahlussunnah di Iran.

 

Tanggapan Liputan Islam:

Salah satu isu panas yang kerap dilemparkan kelompok takfiri adalah tuduhan menyangkut penindasan yang dilakukan pemerintah Syiah terhadap orang-orang Sunni di Iran. Dikatakan bahwa orang-orang Sunni dipersulit, atau bahkan dilarang membangun masjid di Iran. Narasi yang paling sering diulang-ulang adalah: tidak adanya masjid Sunni di Teheran, ibukota Iran. Benarkah demikian? Berikut ini adalah penjelasan dari Ustadz Ismail Amin, mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Al-Mustafa International University

Kebijakan Pembangunan Masjid Menurut Fiqih.

Di Iran memang jarang ditemukan masjid. Pengertian “jarang” di sini adalah ketika dibuat perbandingan antara jumlah masjid di Iran dengan masjid di negara-negara Muslim lainnya. Misalnya, jika dibandingkan dengan Kairo, yang memiliki julukan kota seribu menara, tentu saja jumlah masjid di Teheran tidak seberapa. Bahkan dibandingkan dengan Indonesia yang masjid-masjidnya bisa ditemukan di setiap RW, Iran memang seperti neger “irit-masjid”. Jadi, jangankan masjid Ahlusunnah yang merupakan kelompok minoritas, masjid Syiah pun memang sangat jarang. Tapi, penyebab sedikitnya jumlah masjid di Iran lebih disebabkan masalah pandangan fiqih di kalangan para ulama Syiah.

Dalam pandangan Syiah, masjid adalah bangunan dengan spesifikasi hukum fiqih yang sangat khas. Misalnya, dalam pandangan Syiah, perempuan yang sedang menstruasi betul-betul dilarang masuk masjid. Sehingga ketika diadakan pengajian di masjid, tentulah kaum perempuan tidak bisa hadir di pengajian tersebut. Kedua, dalam shalat Jum’at, aturan fiqihnya adalah di sebuah kota hanya boleh diadakan secara terpusat di satu tempat di kota tersebut. Fiqih Syiah tidak membolehkan ta’addud al-jumu’ah (sholat Jumat berbilang). Ketika shalat Jumat dilarang berbilang, untuk apa membangun masjid sebanyak-banyaknya?

Meskipun demikian, bukan berarti tempat ibadah sulit didapat. Di Iran, orang-orang yang ingin beribadah di tempat umum bisa pergi ke majlis-majlis ta’lim yang dikenal dengan namaHussainiyah. Tempat ibadah lainnya adalah haram atau astana para wali (mereka menyebutnyaimamzadeh). Mushalla juga banyak dengan mudah ditemukan, baik berupa bangunan independen, atau mushalla-mushalla kecil yang ada di tiap bangunan publik seperti sekolah, perkantoran dan lain-lain.

Jadi, sedikitnya jumlah bangunan yang disebut masjid di Iran, lebih disebabkan faktor pandangan fiqih itu. Iran yang bercorak Syiah memang tidak memiliki kebijakan memperbanyak jumlah masjid kecil ke setiap pelosok, melainkan memperbagus, memperluas, dan memakmurkan beberapa masjid yang sudah berdiri.

Aturan  fiqih khas Syiah ini tidak pernah dipaksakan secara ketat kepada komunitas Sunni yang tinggal di Iran. Orang-orang Sunni tetap boleh mendirikan masjid. Tentu saja, izin pendirian itu harus tunduk kepada aturan tata kota yang ada. Jadi, seandainya ada izin pendirian masjid yang tidak terbit, bisa dipastikan pertimbangannya murni hal-hal yang bersifat teknis, seperti karena melanggar peruntukan tanah, tata kota, dan lain-lain. Dan ini bukan hanya terjadi kepada masjid Sunni, melainkan juga masjid Syiah, dan tempat-tempat ibadah agama lainnya di Iran (Kristen, Zoroaster, dan Yahudi).

Tingginya toleransi pemerintah Iran terhadap prinsip fiqih orang-orang Sunni bisa dilihat dari tetap diizinkannya orang-orang Sunni mendirikan masjid-masjid kecil di berbagai pelosok kota. Di Teheran, misalnya, kita akan bisa menemukan sembilan masjid Sunni. Seperti yang dikutip oleh Shia-online, masjid-masjid Sunni yang terdapat di Teheran adalah sebagai berikut.

  1. Masjid Sadeqieh yang terdapat di Falake-ye Dovvom Sadeqieh
  2. Masjid Tehran Pars, terdapat di Jalan Delavaran
  3. Masjid Shahre Qods, terdapat di KM 20 Jadeh Qadim
  4. Masjid Khaleeje Fars, terdapat di Bozorg-rahe Fath
  5. Masjid An-Nabi, terdapat di Distrik Danesh
  6. Masjid Haft Jub, terdapat di Jadeh Malard
  7. Masjid Vahidiah, terdapat Kawasan Shahriar
  8. Masjid Nasime Shahr, terdapat di Kawasan Akbar Abad
  9. Masjid Razi Abad, terdapat di Pertigaan Shahriar

Masih menurut Shia-online, aktivitas masjid-masjid tersebut memang tidak begitu semarak. Secara praktis, masjid-masjid itu hanya ramai di bulan suci Ramadhan untuk shalat tarawih, shalat Idul Fitri, Idul Adha, dan shalat-shalat Jumat. Itu disebabkan jumlah warga Sunni di Teheran sangat sedikit dan mereka tinggal di tersebar (membaur) bersama warga Syiah.

Data-data ini tentu saja menepis tuduhan yang sering diulang-ulang oleh kelompok takfiri yang menyatakan bahwa di Teheran tidak ada masjid Sunni. Bahkan, ada data bantahan lain yang lebih mencengangkan. Shianews mengutip data yang disampaikan Penasehat Presiden Urusan Kelompok Minoritas, Ali Yunesi, yang menyatakan bahwa jumlah masjid Sunni di seluruh Iran jauh lebih banyak dibandingkan masjid Syiah. Jumlah masjid Syiah di bawah 10.000, sedangkan masjid Sunni berjumlah lebih dari 15.000.

Masjid untuk Semua Mazhab

Isu masjid Sunni di Iran memang sangat kental dengan nuansa sektarianisme. Ini tentu saja bertentangan dengan upaya persatuan ummat Islam. Mestinya ummat Islam Indonesia tidak boleh tergoda lagi bermain-main dengan isu ini hingga terjebak lagi ke dalam perangkap perpecahan ummat. Kita tentu masih ingat bagaimana sebagian ummat Islam Indonesia sempat terjebak pada isu-isu Masjid NU, Masjid Muhammadiyyah, Masjid Persis, dan lain-lain. Lalu, terjadilah “perang pengeras suara” di antara dua masjid yang lokasinya sangat berdekatan. Sungguh isu murahan yang menghabiskan energi kita.

Di Iran, situasi seperti ini bisa dikatakan tidak terlihat. Pada dasarnya, tidak ada yang namanya Masjid Sunni atau Masjid Syiah. Seluruh masjid yang dibangun diperuntukkan bagi seluruh kaum Muslimin, tanpa memandang mazhab atau atau pandangan fiqihnya. Seandainya ada penamaan masjid sunni seperti yang dituliskan di atas, itu untuk menyederhanakan penyebutan. Dengan demikian, yang dimaksud dengan “masjid Sunni” adalah masjid yang berada di kawasan yang banyak dihuni orang-orang Sunni.

Dari sisi praktikal-kultural, masjid-masjid Sunni ataupun Syiah, dan juga tempat-tempat ibadah lainnya, berfungsi secara lintas-mazhab. Di masjid Sunni akan ditemukan orang Syiah yang shalat, dan begitu juga sebaliknya. Para tamu negara dengan mazhab Sunni yang pernah berkunjung ke Iran tentulah akan mengatakan bahwa mereka dengan bebasnya bisa shalat di tempat-tempat ibadah orang-orang Syiah, tanpa adanya larangan apapun. Bahkan, cara shalat mereka yang berbeda tidak pernah dianggap aneh oleh orang-orang Syiah.

Ulama Sunni Iran

Voa Islam mungkin sesekali harus mengunjungi situs ulama Ahlusunnah di Iran, misalnya http://abdolhamid.net/english/yang diasuh oleh Shaikh Abdolhamid Ismaeelsah, yang merupakan rektor dari Darululoom Zahedan, juga seorang Imam shalat Jum’at. Dan dalam salah satu artikel disebutkan;Iranian Sunnis love their country

“…thousands of Sunni students gathered in the Grand Makki Masjid, the rector of Darululoom Zahedan stated, “The Sunni community of Iran is abided by the sovereignty of the country. Iranian Sunnis are not traitors; they love their country as they sacrificed their souls during Iran-Iraq war.”

Ribuan mahasiswa Sunni berkumpul di Masjid Grand Makki, rektor Darululoom, Zahedan menyatakan, “Komunitas Sunni Iran mematuhi kedaulatan negara. Sunni Iran tidak pengkhianat, mereka mencintai negara mereka selayaknya mereka [para pahlawan Iran] yang telah mengorbankan jiwa mereka selama perang Iran – Irak.” Artinya adalah, masyarakat Sunni Iran mencintai tanah airnya. Bisakah mereka mencintai sebuah negara, jika di negara tersebut hak-hak mereka dirampas, dizalimi bahkan dibunuhi. Jikalaupun benar tuduhan tersebut, seharusnya mereka sudah mengungsi dari Iran untuk menyelamatkan diri, namun faktanya, di Iran terdapat masjid, universitas dan lembaga-lembaga Sunni, dan rakyatnya sendiri bilang: “Kami cinta Iran.”

“Maaf ya Om Voa-Islam, fakta ini terlalu menyakitkan dan terlalu pahit untuk Anda telan. Tapi siapapun masyarakat yang berpikir dengan menggunakan logika sehat bukan karena kebencian, akan lebih percaya terhadap apa yang dikatakan orang Iran, dibandingkan dengan apa yang Anda katakan tentang mereka. Yang hidup di Iran adalah mereka, bukan Anda. ”

Simak tanggapan selengkapnya di link berikut:

Bagian Pertama: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-pertama/

Bagian Kedua: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-kedua/

Bagian Ketiga: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-ketiga/

Bagian Keempat: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-keempat-tamat/

(LiputanIslam.com/ba)

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-kedua/

Iklan

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: