ULAMA AHLU SUNNAH DIGELARI ASY SYAHID MEDIA TAKFIRI ARRAHMAH.COM MERADANG

syeikh buthi raLiputanIslam.com — Asy –Syahid Syeikh al-Buthi telah lama berpulang. Tidak ada lagi wajah teduhnya yang menghiasi mimbar Masjid al-Iman di Damaskus, Suriah, tempat beliau biasa mengisi pengajian. Seorang murid beliau mengungkapkan betapa mahalnya perang Suriah ini harus dibayar—karena sosok seperti beliau, adalah “hadiah” dari Allah yang belum tentu akan dihadiahkan lagi dengan sosok serupa dalam kurun waktu 100 tahun ke depan. Al-Ghazali Kecil, demikian beliau dikenal. Penyabar dan santun, dekat dengan rakyat dan tak sungkan untuk menegur pemerintah yang berkuasa.

Di kalangan kaum Islam moderat, kepergian beliau menorehkan luka yang sangat mendalam. NU misalnya, secara resmi mengeluarkan pernyataan sangat menyesalkan serangan kepada beliau. Namun tidak demikian halnya dengan kelompok Wahabi baik di Suriah maupun di Indonesia.

Berikut ini adalah contoh-contoh berita dari media Wahabi terhadap syahidnya Syeikh Buthi:

  1. Arrahmah: http://www.arrahmah.com/news/2013/03/22/ketua-front-islam-suriah-menanggapi-tewasnya-syaikh-al-buthi-di-damaskus.html
  1. Eramuslim: http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/siapa-said-ramadhan-al-buthi.htm#.UU8vY2FUxTA. http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/kala-syaikh-ramadhan-al-buthi-menjadi-pembela-rezim-thaghut-bashar-al-assad.htm#.UU82QWFUxTA
  1. Voa- Islam: http://www.voa-islam.com/news/video/2013/03/24/140/pernyataan-syaikh-ali-ashshabuni-tentang-albuthy-dan-pembunuhan-oleh-thoghut-bashar/ . http://www.voa-islam.com/news/world-world/2013/03/24/23711/oposisi-suriah-tolak-penguburan-albuthy-di-samping-makam-shalahuddin/

Kali ini, Liputan Islam akan mengulas terkait artikel himbauan dari Arrahmah– yang meminta kaum muslimin untuk tidak terburu-buru memberikan gelar Syahid bagi Syeikh Buthi.

Oleh: Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi

(Arrahmah.com) – JIKA anda ingin mengetahui masalah Suriah, maka tanyakanlah kepada orang Suriah. Inilah adagium yang tepat dalam melihat polemk yang kini terjadi di Suriah, termasuk dalam melihat kematian Syeikh Ramadhan Al Buthi.

Tentu kita semua di Indonesia, tidak lebih sebagai seorang pengamat. Banyak yang mengatakan penulis Fiqhus Siroh itu sebagai Syahid, meski belum pernah ke Suriah, dan tidak mengenali peta  konflik Suriah. Adapula yang melakukan caci-maki, tanpa mementingkan adab terhadap orang yang sudah meninggal.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’:36)

Penulis berkesimpulan adalah harus berhati-hati dalam memberikan gelar Syahid bagi Al Buthi. Bahwa segala amal baiknya hanyalah Allah yang dapat memutuskan.

Adalah sangat baik jika kita merujuk kepada para Ulama Suriah dalam melihat kasus ini. Tentu mereka bukanlah orang baru dalam masalah ini. Mereka bukan sekedar orang yang membaca buku-buku Syeikh Ramadhan Al Buthi, tapi mereka melihat dan mendengar langsung perkataan Al Buthi di bumi Syam tersebut.

Ulama-ulama ini pula yang senantiasa dari satu tempat ke tempat lain memberikan semangat bagi umat Islam untuk terus berjihad dan berdoa bagi kemenangan muslim Suriah.

Katakanlah Syaikh Ghayyats Abdul Baqi, Ulama Suriah yang rajin membantu perkembangan dakwah di Indonesia. Di Masjid Muhammad Ramadhan, Bekasi, dalam acara munashoroh Suriah, beliau pernah mengatakan tidak habis pikir melihat pembelaan-pembelaan Al Buthi kepada Rezim Assad. Secara tegas ia mengecam tindak-tanduk Al Buthi yang memberikan fatwa dosa bagi mereka yang tidak mau sujud kepada Bashar Assad.

“Saya tidak habis pikir apa yang ada dalam benak dia (Syekh Al Buthi). Atas dasar apa sehingga dia nyaman mengucapkan hal itu,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Syekh Khotib As-Suri. Menurut anggota Forum Indonesia Peduli Suriah yang pernah bersama Syekh Khotib dalam satu mobil, Ulama Suriah yang concern membela muslim Suriah ini mengatakan: “Masih banyak ulama yang lebih ‘alim dan berpahaman jihad dibandingkan Syekh Al Buthi. Tidak harus kita menggunakan fatwa-fatwanya terkait bumi Syam.”

Sedangkan Syekh Mahir Al Munajib, Ulama Suriah yang berkali-kali memberikan ceramah terkait kondisi Suriah, juga mengatakan hal yang hampir sama. Di Masjid Muhammad Ramadhan Bekasi, tahun 2012, beliau pernah mengatakan: “Fikroh dia (Ramadhan Al Buthi) sudah terkontaminasi, Basyar itu asyaddu min fir’aun (lebih dahsyat dari Fir’aun). Apa iya seorang ulama mendukung Fir’aun abad ini?”

Melihat berbagai pernyataan para ulama Suriah yang senantiasa mendukung perjuangan rakyat Suriah, harusnya membuat kita berhati-hati untuk cepat memberikan gelar Syahid-terlebih tanpa didahului kata Insya Allah- kepada Syekh Ramadhan Al Buthi.

Sungguh tanpa mengurangi keagungan karya-karya beliau, dukungan Al Buthi kepada Rezim Assad, bukanlah hal sepele. Akan banyak konsekuensi dalam hal ini. Maka jika Al Buthi diberikan gelar Syahid, bagaimana dengan para mujahidin yang terus bergerak dan berjihad untuk menumbangkan rezim Syiah Assad? Padahal mereka jelas-jelas orang telah baro’ dari kezaliman Bashar Assad.

Terlepas dari sumbangsih beliau atas keilmuan Islam, dukungan beliau terhadap hegemoni Rezim Syiah Assad tetap harus diungkap, agar menjadi ibrah bagi kita semua. Tentu seadil-adilnya pengadilan adalah pengadilan Allah.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.” (Al Fushilat: 34)

(islampos.com/arrahmah.com)

Tanggapan Liputan Islam:

Ada hal-hal yang tidak disampaikan oleh Arrahmah dalam tulisan tersebut, bahwasanya:

  1. Beliau meninggal di dalam Masjid.
  2. Pembunuh beliau adalah teroris tak berperikemanusiaan dan tak beradab dan jauh dari rahmat Allah.
  3. Beliau meninggal di malam Jum’at.
  4. Beliau meninggal dalam keadaan memberikan pelajaran ilmu agama.
  5. Saat beliau meninggal tengah menjelaskan pelajaran tafsir, ilmu yang paling pokok dalam syariat, dan paling tinggi kedudukannya
  6. Saat beliau meninggal tengah menjelaskan penafsiran salah satu surah Azzahrawain (surah al-Baqarah dan Ali Imran), sebagaimana yang telah di riwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, disebutkan bahwasanya Rasulullah bersabda,” Bacalah dua cahaya iaitu al-Baqarah dan Ali-Imran, karena keduanya akan datang dihari qiyamat kelak seperti dua awan besar atau sekumpulan burung yang akan melindungi tuannya.
  7. Beliau wafat dalam keadaan punya wudhu’.
  8. Beliau wafat dalam kondisi mendekap mushaf ke dadanya dan dalam posisi sujud.

Dengan melihat ciri-ciri wafatnya Syeikh al-Buthi, pembaca tentu bisa menilai apakah beliau syahid di jalan Allah atau tidak. Do’a kami, semoga Allah menerimanya sebagai syuhada dan mengumpulkan beliau bersama orang-orang yang sholeh. Simak wawancara kami dengan murid beliau di sini dan di sini. (ba/LiputanIslam.com)

Referensi:

Arrahmah: Jangan Terburu-buru memberi gelar syahid kepada Syeikh Buthi

Halaman (FP) Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara

Halaman (FP) Generasi Aswaja. (ba)

Sumber :

Layakkah Gelar “Asy-Syahid” untuk Syeikh al-Buthi? [Tanggapan untuk Arrahmah]

Iklan

SESAMA TAKFIRI BERTENGKAR : VOA “ISLAM” KEBINGUNGAN

Sumber foto: http://muslimedianews.wordpress.com

LiputanIslam.com — Perpecahan antara kubu pemberontak di Suriah yang berujung dengan saling serang satu sama lain, adalah fakta yang benar adanya. Namun, seterang apapun kenyataan tersebut, media media pendukung pemberontak Suriah berusaha menutupinya. Muslimedianews, (http://muslimedianews.wordpress.com) situs Islam Aswaja telah mengungkap aksi penghapusan berita oleh Voa Islam, dan dalam kesempatan ini akan kami publikasi ulang kembali.

reportase-dunia-islam-1Senin, 23 Rabiul Akhir 1435 H / 24 Februari 2014 09:32 wib, website Voa Islam http://www.voa-islam.com melansir berita tewasnya Abu Khaled al- Soury yang dikenal sebagai Abu Omair al-Shamy, seorang komandan dari kelompok Salafi Ahrar al-Sham. Abu Khaled al- Soury dinyatakan tewas oleh ISIS (Negara Islam Irak dan Syam), sebuah kelompok jihadis beraliran Wahabi lainnya. Link berita : http://www.voa-islam.com/read/international-jihad/2014/02/24/29218/abu-khaled-alsoury-tewas-ditangan-isis/ (sudah dihapus)

Berita tersebut segera menuai respon dari  kelompok Wahhabi lainnya dijejaring sosial facebook yang mengelola fanpage Reportase Dunia Islam(https://www.facebook.com/ReportaseDuniaIslam) mempertanyakan berita yang dilansir Voa-islam.com dengan judul “Abu Khaled al-Soury Tewas Ditangan ISIS” dan bukti bahwa ia tewas oleh ISIS.

Setelah mendapatkan serangan dari kelompok Wahabi garis keras lainnya, khususnya pendukung ISIS, akhirnya berita tersebut dihapus  oleh admin Voa Islam. Setelah berita dihapus oleh Voa-Islam.com,

foto: muslimedianews

Fanpage kelompok garis keras Reportase Dunia Islam kembali menuliskan di fanpagenya rasa syukur karena berita yang dianggap fitnah tersebut dihapus.

Arsip Berita yangDihapus Voa Islam.

DAMASKUS (voa-islam.com) – Hubungan diantara para pejuang Mujahidin semakin mengkawatirkan akibat berbagai perbedaan di lapangan. Kondisi semakin memburuk dengan terus berkembangnya perbedaan, kemuidan mengakibatkan pertikaian.

Sementara itu, seorang komandan Mujahidin di Suriah yang berjuang bersama pendiri al-Qaeda Osama bin Laden dan dekat dengan Sheikh Ayman al-Zawahiri, “dibunuh” oleh serangan bunuh diri, Minggu, 23/2/2014.

Observatory untuk Hak Asasi Manusia di Suriah mengatakan Abu Khaled al- Soury, yang dikenal sebagai Abu Omair al-Shamy, seorang komandan dari kelompok Salafi Ahrar al-Sham “tewas” bersama enam tokoh lainnnya, oleh pasukan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Sebelumnya, panglima Mujahidin  al-Soury telah berperang di Irak dan Afghanistan.

Kematian Al-Soury akan menambah pertikaian antara sesama kelompok  jihadis melawan Presiden Bashar al–Assad. Akibat perbedaan dan  persaingan, selanjutnya menimbulkan  kekerasan yang  menewaskan ratusan pejuang dalam beberapa bulan terakhi, kata sumber Mujahidin.

Dua Mujahidin Ahrar al-Sham mengatakan kepada Reuters bahwa lima anggota ISIS memasuki markas Ahrar al-Sham di Aleppo, kemudian satu ISIS pejuang meledakkan dirinya. “Sheikh Abu Khaled adalah seorang tokoh jihad yang sangat penting, dia berjuang melawan Amerika di Irak dan sekarang berperang melawan rezim Syi’ah Alawiyyin yang dipimpin oleh Bashar al-Assad di Suriah. “Dia adalah seorang komandan yang sangat penting , dia adalah teman dekat Sheikh Ayman (al-Zawahiri) dan juga dekat dengan Sheikh Bin Laden”.

Mujahidin  Suriah berkabung dengan “tewasnya”  al-Soury , sementara itu fotonya diposting fotonya di akun media sosial . Al-Soury lahir di Aleppo pada tahun 1963. “Sheikh Abu Khaled berpengaruh di kalangan jihadis, terutama di kalangan para pejuang ISIS. Dia adalah satu-satunya yang bisa membuat mereka (ISIS)  mengubah pikiran mereka dan menghentikan pertempuran”, ungkap sumber lain.

Sumber yang dekat dengan Ahrar al- Sham mengatakan bahwa al-Soury telah menolak pertikaian dan menentang melawan ISIS. Dalam sebuah rekaman tahun lalu, Zawahiri menunjuk al-Soury menengahi perbedaan antara kelompok-kelompok jihad, dan mengakhiri pertempuran.

Pertikaian itu  telah merusak perjuangan Mujahidin melawan Assad dalam perang selama tiga tahun, dan keunggulan kelompok jihadi garis keras telah membuat pemerintah Barat ragu-ragu mendukung para pejuang Mujahidin.

Sebagai perbandingan, situs Wahabi lainnya yaitu Arrahmah juga menurunkan berita tentang pertikaian para pemberontak di Suriah. Contohnya adalah berita tentang tewasnya Amir Jahbah Nusra oleh serangan ISIS di Idlib.

Idlib, (Arrahmah.com) – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Amir Jabhah Nushrah propinsi Idlib, Syaikh Abu Muhammad Fatih Rahmaun bersama saudara kandungnya, Abu Ratib Al-Anshari, dan istri serta anak-anaknya gugur oleh serangan curang sekelompok orangekstrim pada Rabu malam (16/4/2014), Shada Asy-Syam, Masar Press, ENN dan situs-situs revolusi Suriah melaporkan.

Serangan kelompok ekstrim tersebut terjadi di desa Ra’s Al-Hisn, dekat kota Harim, pinggiran Idlib. Sumber-sumber Jabhah Nushrah menyebutkan para pelaku serangan dijejar oleh mujahidin sampai di desa lain. Salah seorang pelaku serangan tertembak dan dua orang lainnya tertangkap hidup-hidup dalam baku tembak dengan mujahidin Jabhah Nushrah. Sementara itu dua pelaku lainnya meledakkan bom rompi mereka.

Salah seorang mujahid Jabhah Nushrah, al-akh Athiyatullah Al-Akidi menceritakan kronologi serangan khianat tersebut sebagaimana dimuat oleh Shada Asy-Syam dan sejumlah situs revolusi Suriah lainnya. Berikut ini terjemahan penjelasan beliau.

Rincian peristiwa pembunuhan terhadap Amir Jabhah Nushrah propinsi Idlib dan keluarga besarnya. Diriwayatkan oleh al-akh Athiyatullah Al-AkidiJabhah Nushrah.

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Berikut ini sebagian rincian yang telah sampai kepadaku dari ikhwan-ikhwan [Jabhah Nushrah] di wilayah utara tentang peristiwa pembunuhan terhadap saudara kita Amir Idlib, semoga Allah menerimanya dan orang-orang yang dibunuh bersamanya serta menempatkan mereka dalam surga-Nya yang luas.

Sebuah regu orang bersenjata pada malam kemarin menyerang sebuah rumah di wilayah Ra’s Al-Hishn, pinggiran Idlib, dimana dalam rumah tersebut menetap para Amir Jabhah Nushrah bersama keluarga mereka.

Para penjahat itu membunuh setiap orang yang berada di dalam rumah tersebut dengan senjata berperedam suara, sehingga megakibatkan terbunuhnya Amir Jabhah Nushrah propinsi Idlib, Abu Muhammad Fatih (Rahmaun), juga Amir Abu Ratib, istri Abu Ratib, seorang bayi perempuan yang masih menyusui, dan seorang anak perempuan berusia 5 tahun. Saudara kandung Abu Ratib, Majid, juga mengalami luka-luka, ia seorang perawat ahli bius yang bekerja di rumah sakit Orient di sana [Idlib].

Setelah terjadi baku tembak dengan beberapa ikhwan tetangga, salah seorang penjahat tertembak dan sisanya dikejar sehingga mereka masuk ke sebuah kantor di desa Tarmanin. Ikhwan-ikhwan terlibat baku tembak dengan mereka, maka dua orang diantara mereka meledakkan dirinya, sedangkan dua orang lainnya berhasil ditawan.

Dari mereka [para pelaku serangan] telah diketahui dengan jelas bahwa mereka adalah anggota jama’ah Daulah [ISIS], dan mereka adalah “sel-sel tidur” yang memiliki spesialisasi meledakkan kantor-kantor mujahidin yang menyelisihi Daulah [ISIS] dan membunuh komandan-komandan penting mereka di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan mujahidin, dan mereka bekerja dengan sangat rahasia.

Inilah berita yang telah sampai kepada kami sampai saat ini, mungkin ada fakta-fakta lain dan tambahan-tambahan yang akan disampaikan lewat pernyataan resmi [Jabhah Nushrah]. Perlu diketahui bahwa proses penyidikan sampai saat ini masih berlanjut.

Sumber-sumber di desa Ra’s Al-Hisn menuturkan kepada Edlib News Network (ENN) bahwa korban gugur dalam serangan khianat tersebut adalah:

  1. Amir Jabhah Nushrah propinsi Idlib, Syaikh Abu Muhammad Fatih Rahmaun bin Muhammad Al-Anshari (40 tahun).
  2. Putri sulung Abu Muhammad Al-Anshari (11 tahun)
  3. Abu Ratib Abdurrahman Rahmaun bin Muhammad Al-Anshari (37 tahun)
  4. Istri Abu Ratib Al-Anshari, yaitu Bintu Kamal Abdul ‘Aal
  5. Putri Abu Ratib Al-Anshari (sekitar 4 tahun)

Sumber Jabhah Nushrah di desa Ra’s Al-Hisn juga menyebutkan kepada ENN bahwa seorang ikhwan gugur dan seorang lainnya cedera saat terjadi baku tembak dengan kelompok ekstrim yang menyerang rumah keluarga Syaikh Abu Muhammad Al-Fatih.(muhib al majdi/arrahmah.com)

Pembaca bisa menyimpulkan sendiri, mengapa Voa Islam begitu kalut sehingga terpaksa menghapus berita perseteruan para pemberontak — yang mereka sebut mujahidin di Suriah. Sangat memalukan, jika kelompok yang diklaim sebagai pejuang Islam dan penegak sunnah, tidak lebih dari para pembunuh bertakbir yang bahkan tidak segan–segan menghabisi teman seperjuangannya sendiri. (fa/LiputanIslam.com)

 

Referensi:

Muslimedianews: Ketahuan Bohong, Voa-Islam.com Hapus Beritanya ! INI BUKTI OTENTIKNYA

Arrahmah: Amir Jabhah Nushrah di Idlib dan anggota keluarganya syahid oleh serangan khianat

 

KEBENCIAN MEDIA TAKFIRI “BUMISYAM.COM” PADA ACARA WILADAH FATIMAH AZ ZAHRA

LiputanIslam.com – Siapa yang tidak mengenal Sayyidah Fatimah? Putri Rasulullah Saw – yang merupakan penghulu wanita di surga. Kemuliaan akhlaknya terabadikan dalam lembaran kitab-kitab, menembus hingga ke hati. Sehingga wajar saja jika kemudian – kaum muslimin menempatkan Sayyidah Fatimah di posisi yang sangat istimewa. Kelahirannya diperingati, jalan hidupnya diteladani, dan kematiannya ditangisi.

kue ultah sy fatimah

Peringatan wiladah Sayyidah Fatimah, mungkin tidak marak dilakukan oleh kaum muslimin, namun bukan berarti acara tersebut tidak pernah ada. Dari situs Kementrian Agama Republik Indonesia, Gubernur Jateng dalam sambutan tertulisnya — pada peringatan kelahiran Sayyidah Fatimah Az Zahra Binti Nabi Muhammad SAW, yang dibacakan Kabag Agama Biro Kesra Pemprov Jateng, Suwondo, di Masjid Agung Jateng, menyatakan bahwa berbagai musibah yang menimpa bangsa Indonesia dikhawatirkan akan membuat masyarakat menjadi depresi, karena bisa mengikis keimanan, ketakwaan, melunturkan norma, kaidah agama, tatanan sosial, dan mengeringkan mental masyarakat. (http://www.kemenag.go.id/ 18 Juli 2006)

Pondok Pesantren Babul Khairat Lawang Malang,pada tahun 2011 juga mengunggah kegiatan yang diadakannya dalam menyambut wiladah Sayidah Fatimah. Kue-kue yang lucu dan bertuliskan “Kue Ulang Tahun Untuk Sayidah Fatimah az-Zahra” menghiasi perayaan tersebut.

Tidak hanya di Indonesia Sayidah Fatimah dikenang dan diperingati kelahirannya. Di Mesir, peringatan serupa itu juga dijumpai. Dari halaman Suara Al-Azhar, peringatan Maulid Sayyidah Fatimah dilangsungkan bersama Syeikh Yusri Rusydi, pada Jumat malam (18/4).

Syeikh Yusri Rusydi mengadakan peringatan Maulid Sayyidah Fatimah binti Rasulullah sallallahu alaihi sallam di masjid Sidi Ahmad Badawi, kota Tanta, Propinsi Gharbiyyah, Mesir. Jamaah yang mengikuti acara tersebut berangkat dari Kairo dengan 5 armada bus, yang terdiri dari warga Mesir, mahasiswa Indonesia, Malaysia, Pakistan dan Rusia. Pada acara tersebut, Syeikh Yusri menghatamkan kitab “Aqdullul min siratil Zahra al-batul” karangan Syekh Muhammad bin Hasan bin Alawi al-haddad, yang berisi biografi dan sifat-sifat terpuji putri kesayangan Rasulullah itu. Selain menghatamkan kitab dan ziarah di makam Sidi Ahmad Badawi, beliau beserta jamaah juga ziarah ke beberapa makam ulama dan auliya di Tanta.

foto: ahlul bait indonesia

Tahun ini, bertepatan dengan hari kelahiran Sayyidah Fatimah, ditemukan dua pemandangan yang sangat kontras. ABI , organisasi muslim Syiah Indonesia memperingati wiladah beliau ra dengan bagi –bagi bunga, sementara di pihak lain, kelompok Anti-Syiah mengadakan acara Deklarasi Anti-Syiah Nasional.

Lalu Bumisyam, salah satu media Islam online, mempublikasikan berita dengan judul yang amat provokatif. Link :http://www.bumisyam.com/2014/04/abi-bagikan-mawar-beracun-di-cfd-jakarta.html/. Dalam tulisan tersebut, Bumisyam keberatan dengan acara yang diadakan “agama Syiah” berupa peringatan wiladah Sayyidah Fatimah karena umat Islam tidak merayakannya – dan inilah sebagai salah satu bukti bahwa Syiah bukan Islam.

Tentang perayaan oleh ABI, mereka tentu punya alasannya –mengapa harus bagi-bagi bunga dsb, silahkan konfirmasi langsung kepada pihak penyelenggara acara tersebut. Namun jika yang kemudian dinyatakan bahwa wiladah Sayyidah Fatimah hanya diperingati oleh “agama Syiah”, tentunya akan muncul tanda tanya,  Kementerian Agama Indonesia, Pesantren Babul Khairat hingga Syeikh Yusri Rusydi, apakah mereka juga “beragama Syiah”? (ba/LiputanIslam.com)

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/penganut-agama-syiah-dari-kemenag-hingga-syeikh-yusri-rusydi/

Herev, Aliansi Para Hamba Iblis

greater-israelLiputanIslam.com – Siang itu debu-debu beterbangan di udara dan mengaburkan pandangan mata. Terdengar suara gaduh yang tak henti-hentinya di Dataran Tinggi Golan. Ya saat itu, pada bulan Juli 2013 mereka tengah melakukan latihan intensif. Mengembangkan taktik-taktik baru, strategi perang dan penggunaan senjata-senjata yang canggih.

Setelahnya, kepada Radio Militer milik Zionis Israel, seorang pria bermata sipit – yang bernama Shadi Abu Fares mengungkapkan bahwa satuannya telah menyelesaikan pelatihan intensif di Dataran Tinggi Golan untuk melawan musuh di Lebanon seefisien mungkin.

“Pertempuran di Lebanon membutuhkan cara-cara kamuflase yang meyakinkan, karena bertujuan untuk memperlambat gerak pasukan [musuh] di medan perang. Tekhnik terbaru ini telah sempurna, yang akan digunakan untuk melawan pasukan Hizbullah, “ ucap Abu Fares.

Shadi Abu Fares

Dendam Israel yang belum terbalaskan pasca kekalahannya menghadapi Hizbullah tahun 2006 silam yang telah menyisakan begitu banyak rasa malu dan luka, sepertinya tengah bersiap-siap untuk perang besar selanjutnya. Dan Herev, atau ‘Arabs of the Israeli army ‘salah satu satuan militer Israel yang khusus dirancang untuk melawan Hizbullah, beranggotakan dari kaum Druze Walid Jumblatt dan dari Wahhabi Arab Badui yang terkenal dengan kebenciannya kepada mazhab Syiah. Apakah Israel merupakan sahabat dari kaum Arab, maupun Druze?

Mari kita simak penuturan M Arief Pranoto, seorang peneliti pada Global Review, tentang pengakuan dikatakan Henry Bannerman, Perdana Menteri Inggris pada tahun 1906.

“Ada sebuah bangsa (Bangsa Arab/ umat Islam) yang mengendalikan kawasan kaya akan sumber daya alam. Mereka mendominasi pada persilangan jalur perdagangan dunia. Tanah mereka adalah tempat lahirnya peradaban dan agama-agama. Bangsa ini memiliki keyakinan, suatu bahasa, sejarah dan aspirasi sama. Tidak ada batas alam yang memisahkan mereka satu sama lainnya. Jika suatu saat bangsa ini menyatukan diri dalam suatu negara; maka nasib dunia akan di tangan mereka dan mereka bisa memisahkan Eropa dari bagian dunia lainnya (Asia dan Afrika). Dengan mempertimbangkan hal ini secara seksama, sebuah “organ asing” harus ditanamkan ke jantung bangsa tersebut, guna mencegah terkembangnya sayap mereka. Sehingga dapat menjerumuskan mereka dalam pertikaian tak kunjung henti. “Organ” itu juga dapat difungsikan oleh Barat untuk mendapatkan objek-objek yang diinginkan” (JW Lotz, 2010).

 

Setelah Organ Ditanam, Lalu Selanjutnya?

Oded Yinon Plan, begitu sebutannya. Esai ini awalnya muncul dalam bahasa Ibrani di KIVUNIM (Arah), dalam Journal untuk Yudaisme dan Zionisme, Issue no. 14 – Winter, 5742, Februari 1982, Editor: Yoram Beck. Komite Editorial: Eli Eyal, Yoram Beck, Amnon Hadari, Yohanan Manor, Elieser Schweid. Diterbitkan oleh Departemen Publisitas / Organisasi Zionis Dunia, Yerusalem.

Dalam perhitungan mereka (dan ini terbukti hingga sekarang), bangsa-bangsa Timur Tengah tidak akan terlalu peduli padadokumen ini dan tidak akan melakukan langkah-langkah strategis untuk melawan rencana dan strategi jangka panjang Zionist ini. Berikut ini isi dari sebagian strategi Oded Yinon tersebut:

Pembubaran total Lebanon ke dalam lima provinsi berfungsi sebagai  acuan untuk seluruh dunia Arab, termasuk Mesir, Suriah, Irak, dan semenanjung Arab; dan (situasi Lebanon) sudah mengikuti jalur ini. Pembubaran Suriah dan Irak [akan] menyusul kemudian [yaitu] pemecahan wilayah-wilayah berdasar etnis atau mazhab sebagaimana di Lebanon; ini merupakan target jangka panjang Israhell untuk wilayah timur.

Sementara itu pembubaran kekuatan militer dari negara-negara itu menjadi target jangka pendek Israel. Suriah akan terpecah menjadi beberapa negara sesuai dengan struktur etnis dan agama, seperti di Lebanon saat ini, sehingga akan ada negara Alawy di sepanjang pantainya, negara sunni di wilaya Aleppo, dan negara Sunni lainnya di Damaskus yang akan memusuhi tetangga utaranya; Druze juga akan mendirikan negara, bahkan mungkin di wilayah Golan, dan tentu saja di Hauran dan Yordania Utara. Keadaan ini akan memberikan jaminan bagi perdamaian dan keamanan di kawasan dalam jangka panjang, dan tujuan ini sudah hampir bisa kita capai.

Irak, negara yang kaya minyak di satu sisi, dan terpecah-belah disisi lain, adalah target Israel yang pasti. Pembubaran Irak bahkan lebi penting ketimbang Suriah. Irak lebih kuat dari Suriah. Dalam jangka pendek, kekuatan Irak merupakan ancaman terbesar Israel. Perang Iran-Irak akan memecah-belah Irak dan menyebabkan kekacauan internal sehingga akan mampu mengatur strategi perjuangan melawan kita di front yang luas.

Segala jenis konfrontasi dengan negara-negara Arab akan membantu kita dalam jangka pendek dan akan mempersingkat jalan menuju tujuan yang lebih penting, yaitu memecah-belah, sekaligus juga memecah Suriah dan Libanon. Di Irak, pembagian negara yang mungkin dilakukan adala menjadi sejumlah provinsi berdasarkan garis etnis atau agama sepertti di Suriah pada masa kekhalifahan Utsmaniyyah. Jadi akan ada tiga (atau lebih) negara yang muncul di sekitar tiga kota utama: Basrah, Baghdad, dan Mosul; daerah Syiah di Selatan akan terpisah dari wilayah kaum Sunni dan suku Kurdi di utara.

Mitos Mesir sebagai pemimpin yang kuat dari Dunia Arab dihancurkan pada tahun 1956 dan pasti tidak bertahan tahun 1967, tetapi kebijakan kami, seperti dalam kembalinya Sinai (ke Israel), disajikan untuk mengubah mitos menjadi “fakta.” Namun dalam kenyataannya, kekuasaan Mesir secara proporsional baik ke Israel dan ke seluruh Dunia Arab telah turun sekitar 50 persen sejak tahun 1967. Mesir tidak lagi menjadi kekuatan politik terkemuka di Dunia Arab dan ekonominya di ambang krisis.

Tanpa bantuan asing krisis akan segera datang. Dalam jangka pendek, karena kembalinya Sinai (ke Israel), Mesir akan mendapatkan beberapa keuntungan dengan biaya kami, tetapi hanya dalam jangka pendek sampai tahun 1982, dan itu tidak akan mengubah keseimbangan kekuasaan untuk manfaatnya, dan mungkin akan membawa kejatuhannya. Mesir, dalam gambaran politik yang sekarang di dalam negeri sudah mati, lebih-lebih jika kita memperhitungkan tumbuhnya keretakan Muslim-Kristen. Memecah Mesir ke daerah teritorial geografis yang berbeda adalah tujuan politik Israel di era 1980-an di bagian front Baratnya.

 

Setelah Israel dengan jelas mempublikasikan dokumen dan strategi mereka, akankah kita diam saja melihat mereka melaksanakan programnya? Atau malah membantu mereka mewujudkan cita-citanya dengan menjadi bagian dari militer mereka? Pilihannya tentu saja kembali kepada pribadi masing-masing. (fa/LiputanIslam.com)

Referensi:

M. Arief Pranoto:  The Global Review “Geopolitik Sungai Nil”

Dina Y Sulaeman: Prahara Suriah

Al-Manar: New Arab Israeli to Fight Hezbollah

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/herev-aliansi-para-hamba-iblis/

TOLONG-MENOLONG ANTARA ZIONIS DAN TAKFIRI KHAWARIJ DALAM MENGHANCURKAN AHLU SUNNAH SURIAH

netanyahu-pemberontak-suriah-300x200LiputanIslam.com — Netanyahu tiba di Dataran Tinggi Golan, mengenakan jaket hitam tebal dan menghampiri para “Mujahidin” yang tengah berbaring lemah. Dengan senyum penuh arti, Perdana Menteri itu mengulurkan tangan dan menyalami para pemberontak yang telah tiga tahun lamanya berperang di Suriah untuk menumbangkan Presiden Suriah Bashar al Assad.

Berita ini pun menyebar luas dan sampai kepada pimpinan oposisi Suriah yang bermarkas di Turki. Muhammad Badie, tokoh oposisi Suriah mengatakan, bahwa oposisi Suriah berterima kasih kepada Netanyahu atas kunjungannya pada 18 Februari ke sebuah rumah sakit darurat di wilayah Golan, tempat dimana para pemberontak Suriah yang terluka dirawat. Hal tersebut disampaikan Badie kepada Israel Radio, Sabtu (22/2). Badie juga menuturkan, dirinya dan teman-temannya berterima kasih kepada pemimpin negeri Yahudi itu karena menyampaikan dukungan secara terbuka bagi para militan Suriah yang terluka. Apakah Israel merupakan sahabat bagi bangsa Arab Suriah?

Mari Melawan Lupa

Ketika Israel mendadak begitu baik kepada bangsa Arab, seharusnya kita mengingat kembali ucapan Rabbi Yaacov Perrin, tanggal 27 Februari 1994 di New York Times — tentang bagaimana Yahudi memandang Arab (catatan: Yahudi yang dimaksud di sini adalah Yahudi Zionis yang menjajah Palestina). Saat itu Perrin berucap, “Satu juta orang Arab tidak sebanding dengan kuku  seorang Yahudi.”

Jika demikian halnya, berapa juta orang Arab yang sebanding dengan jari orang Yahudi? Berapa juta orang Arab yang sebanding dengan tangan orang Yahudi? Berapa juta orang Arab  yang sebanding dengan badan orang Yahudi? Berapa juta orang Arab yang sebanding dengan kepala orang Yahudi? Serendah itukah bangsa Arab di hadapan bangsa Yahudi? Tentu tidak, bagi kelompok Yahudi penentang Zionisme seperti Yahudi Naturei Karta, namun jawabannya berubah menjadi iya untuk Yahudi seperti Ariel Sharon, Netanyahu dan para pengikutnya.

Meski dimuat di sebuah media terkemuka dan disebarkan ke seluruh dunia yang bisa diakses dengan sangat mudah, tidak lantas menjadikan orang orang Arab ataupun kaum muslimin lantas menyadari siapakah musuh mereka yang sesungguhnya. Sampai hari ini, umat Nabi Muhammad Saw di seluruh dunia lebih memilih bertikai satu sama lain.

Darimanakah Kutipan Tersebut Berasal?

Konon kutipan “Satu juta orang Arab tidak sebanding dengan kukunya orang Yahudi,” berasal dari Midrash Ulangan dalam bahasa Ibrani. Pada bagian yang menceritakan kematian Musa as, disebutkan “God informs Moses that He can either pardon the Israelites for having made the Golden Calf or permit Moses to enter the Promised Land, but not both, whereupon Moses immediately responds, “Let Moses and a thousand like him be destroyed but let not the fingernail of a single Israelite be harmed.

Terjemahan bebas: Allah memberitahu Musa bahwa Dia bisa mengampuni orang Israel karena telah membuat lembu emas – atau (pilihan kedua) – mengizinkan Musa untuk memasuki tanah yang dijanjikan , tetapi tidak (mengabulkan ) keduanya, dimana Musa segera menjawab, “Biarlah Musa dan seribu (orang) seperti dia dihancurkan, tapi janganlah sampai menghancurkan  kuku dari seorang bangsa Israel.

Kejadian itu kemudian ditafsirkan oleh Yahudi Zionis sebagaimana yang diungkapkan Rabbi Perrin, sehingga perlakuan tidak manusiwi Israel kepada bangsa Arab Palestina bisa diartikan sebagai implementasi Israel atas tafsir kitab sucinya. Saat mereka memborbadir anak-anak Palestina yang tak berdosa, atau ketika menembaki petani-petani Palestina di sekitar perbatasan, mungkin bagi mereka hal itu hanyalah sedang memotong kuku!

Terkait sandaran dalil mereka ke Midrash Ulangan ini, seorang Rabbi Yahudi lainnya yang bernama Alan W. Miller memberikan tanggapan: “Dalam angan-angan Zionis yaitu orang-orang sinting dari ultra –orthodox, mendistorsi nilai-nilai mulia kemanusiaan saja tidak cukup. Mereka juga dengan sangat kejam mendistorsi teks-teks kitab suci sehingga keluar dari makna yang sesungguhnya.”

Untuk mengetahui siapakah orang Yahudi Zionis ini yang sebenarnya, Rabbi Allan lebih jauh mengungkapkan, “Mulai saja dengan asumsi awal bahwa Iblis dapat mengutip Alkitab untuk mencapai tujuannya.”

Kemiripan Pola Pikir Yahudi dan Takfiri

Orang-orang yang disebut orang sinting oleh Rabbi Alan mungkin akan mengingatkan kita sekelompok kaum di dalam tubuh Islam yang memiliki kemiripan dan cara yang hampir sama dalam mendapatkan tujuannya. Mereka gemar menafsirkan teks-teks Kitab Suci dengan penalarannya sendiri tanpa ilmu yang memadai sebagaimana para ulama-ulama terdahulu. Hanya berbekal Al-Qur’an terjemahan, mereka sanggup mengkafirkan sesama muslim lainnya. Kelompok ini juga sangat gemar memotong teks, memalsu kitab-kitab klasik, memodifikasi kitab-kitab agar sesuai dengan kepentingan kelompoknya.

Merekalah kelompok Takfiri yang kini tengah berperang di Suriah. Dalam petualangannya, mereka terbagi menjadi pecahan kelompok sesuai ideologinya masing-masing. FSA, Al Nusra dan ISIS adalah kelompok jihadis yang didukung oleh negara-negara asing, termasuk Israel baik secara diam-diam ataupun terang-terangan. Akibatnya, Suriah hancur dan merengut nyawa 140.000 rakyatnya. Jutaan lainnya mengungsi dan hidup menyedihkan.

Ketika Badie berterimakasih kepada Netanyahu, apakah dia sama sekali tidak mengetahui bahwa dia dan sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang Arab lainnya, “hanya” sama dengan kuku-kukunya seorang Yahudi? Biarlah Badie yang menjawabnya, namun kita harus menyadari bahwa di dalam percaturan politik dan  kekuasaan, biasanya selalu berlaku  atas dasar kepentingan.

Sayangnya, Badie tidak sendiri. Masih ada begitu banyak Badie-Badie lainnya yang akan selalu berangkulan dengan Israel, untuk menganiaya Palestina, Suriah dan negeri-negeri muslim lainnya.

Referensi: The New York Times: From Orthodox Jewish Education to Hebron; Scripture Distorted.

Liputan Islam: Pemimpin Suriah Puji Netanyahu

(ba/LiputanIslam.com)

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/sejuta-arab-sebaris-kuku-zionis/

HADITS PALSU YANG DIKUMANDANGKAN EKS PEMBESAR DI/TII/NII DALAM MEMUSUHI SYIAH

 

hadis

Dalam acara Deklarasi Anti-Syiah, salah satu orator bernama Abu Jibril menyatakan ada hadis Rasulullah yang mengharuskan pembunuhan terhadap orang Syiah. (Lihat video orasi Abu Jibril)

Kemudian, di jejaring sosial, beredar foto hadis di atas, yang secara sepintas, isi teksnya memang membenarkan pembunuhan kepada orang Syiah.

Sebagai upaya tabayun, kami menghubungi Dr. Muhammad Anis, pakar Politik Islam dari UIN Sunan Kalijaga. Berikut ini penjelasan beliau:

Setelah saya coba telusuri hadis tersebut, ternyata tidak satu pun menyebut kata “Syiah”, melainkan hanya “Rafidhah”. Kata “Rafidhah” ini -seperti saya sebutkan tadi– sebenarnya hanyalah label yang disematkan oleh orang-orang tertentu kepada mereka yang meninggalkan Zaid bin Ali disebabkan berbeda pendapat dengannya. Namun anehnya, sebutan ini kemudian dikait-kaitkan dengan Syiah. Sehingga, istilah ini kemudian digunakan oleh sebagian orang sebagai sebutan cemoohan kepada Syiah.

Dari penelusuran singkat saya, hadis-hadis tentang Rafidhah ini pun ternyata lemah (dha’if). Hal ini disebabkan adanya perawi dha’if dan munkar di dalamnya, seperti: Yahya bin Mutawakkil, Katsir bin Isma’il an-Nawa’, Muhammad bin As’ad at-Taghlabi, Suwar bin Mush’ab, Fadhl bin Ghanim, Hajaj bin Tamim, ‘Imran bin Zaid, dan sebagainya.

Khusus tentang hadis riwayat Thabrani, yang dinukil oleh Al-Haitsami dalam kitabnya “Majma’ az-Zawa’id” itu, maka hadis itu terbukti lemah dan sudah semestinya ditolak, disebabkan adanya Hajjaj bin Tamim. Berkata Al’Aqili dalam kitabnya “Adh-Dhu’afa’” bahwa riwayat Hajjaj tentang Rafidhah sama sekali tidak bernilai hadis, yang tidak seharusnya diikuti. Ibn ‘Adi dalam kitabnya “Al-Kamil fi Dhu’afa’” mengatakan bahwa riwayat Hajjaj (tentang Rafidhah) itu sama sekali tidak lurus. Adz-Dzahabi dalam kitabnya “Mizan al-I’tidal” mengatakan bahwa hadis-hadis Hajjaj lemah. Ibn Hajar al-Asqalani dan An-Nasa’i juga menilai Hajjaj sebagai perawi dha’if.

Bukti lainnya adalah pengakuan dari ulama dan masyarakat Sunni terhadap kemusliman Syiah di sepanjang sejarah hingga detik ini, yang bahkan tertuang pula dalam Risalah Amman 2005. Selain itu, banyak pula perawi Syiah yang riwayat-riwayatnya diambil di kitab-kitab hadis Sunni, termasuk di kitab hadis Bukhari-Muslim.

Ini menunjukkan bahwa tidak ada masalah dalam hubungan Sunni dan Syiah sejak dulu. Yang menjadi masalah justru saat kaum Takfiri muncul belakangan, dengan membawa semangat kebencian, sektarianisme, dan intoleransi. (dw/LiputanIslam.com)

Tambahan: dari status FB Zen Husein:

Ad-Dzahabi didalam Mȋzȃn al-I’tidȃl menuliskan:

عمرو بن مخرم عن يزيد عن خالد الحذاء عن عكرمة عن ابن عباس مرفوعاً: )يكون في آخر أمتي الرافضة ينتحلون حب أهل بيتي و هم كاذبون، علامة كذبهم شتمهم ابا بكر وعمر ومن أدركهم منكم فليقتلهم فإنهم مشركون)

Dari Amru bin Mukhram dari Yazȋd dari Khȃlid Al-hadzdza dari ikrimah dari Ibn Abbas secara marfu’ : akan ada di akhir zaman salah satu dari umatku yang rafidhah yang menganut mazhab ahlulbaitku, dan mereka para pembohong, dan tanda-tanda kebohongan mereka adalah cacian mereka kepada Abu Bakar dan Umar jikalau kalian bertemu dengan mereka maka bunuhlah karena mereka adalah orang-orang musyrik[1].

Hadits ini adalah dhoif menurut ulama rijal ahlussunnah sekalipun:

1. Riwayat dari Amru bin Mukhram dari Yazid palsu

عمرو بن مخرم بصري عن يزيد بن زريع، وابن عيينة بالبواطيل

Riwayat Amru bin makhrum basri yang diriwayatkan dari Yazid bin Zarȋ’ dan Ibn ‘Uyainah adalah palsu.[2]

عمرو بن مخرم بصري يروي عن يزيد بن زريع ليس بثقة

Amru Ibn Mukhram basri meriwayatkan dari Yazid bin Zarȋ’ bukan tsiqat[3].

2. Ikrimah seorang Kazzab

سمعت بن عمر يقول لنافع اتق الله ويحك يا نافع ولا تكذب علي كما كذب عكرمة على بن عباس

Aku mendengar Ibn Umar berkata kepada Nȃfi’ bertakwalah kepada Allah dan berhati-hatilah, janganlah engkau berbohong kepadaku seperti halnya ikrimah berbohong kepada Ibn Abbas[4].

Dan Begitupun hadits yang serupa nadanya yang mana para ulama ahlussunnahpun mengatakan hadits tersebut dhoif dan palsu.

[1] Ad-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad, Mizȃn Al-I’tidal fi naqd Ar-Rijȃl: 5/344 , penerbit: Dȃr Al-Kutub Al-Ilmiyyah- Beirut, cetakan pertama, tahun 1995 M.

[2] Idem.

[3] Ad-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin ahmad bin utsman, al-Mughni fi Ad-Dhu’afa:2/73, no. 4707, , tahqiq : Nȗruddin ‘Itrun, penerbit: Idȃratu ihyai at-Turats al-Islȃmi – Qatar.

[4] Al-’Asqalȃni, Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar, Tahdzib at-Tahdzib: 7/237, Penerbit : Dȃr al-Fikr – Beirut, tahun 1404 H.

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/benarkah-syiah-halal-darahnya/

INILAH PERNYATAAN PRESIDEN IRAN TENTANG AHLU SUNNAH

sushi

LiputanIslam.com – Bukan rahasia lagi jika kini propaganda Anti-Syiah marak di media massa, terutama media online. Di berbagai media yang kami pantau, tidak jarang dijumpai kolom khusus yang disediakan untuk membedah hakekat Syiah, seperti yang dilakukan oleh situs penebar kebencian Arrahmah.

Dalam rubrik tersebut, Arrahmah mengungkap hal-hal yang berkaitan tentang Syiah – nyaris tanpa adanya klarifikasi dari tertuduh. Semua berita tentang Syiah yang diangkat bersumber dari pihak Anti-Syiah, dan hal ini cacat jika ditinjau dari etika jurnalistik. Melalui tulisan ini – yang kami salin dari artikel yang diterbitkan oleh HPPI Iran, diharapkan bisa menjadi penyeimbang tentang sikap Syiah kepada Sunni, yang disampaikan langsung oleh Presiden Iran Hasan Rouhani.

Presiden Iran, Hujjatul Islam Wal Muslimin, Dr.Hasan Rouhani dalam pidato dihadapan ribuan masyarakat Iran di propinsi Sistan-Baluchestan mengatakan: “Syiah dan Sunni adalah nikmat besar yang harus kita syukuri. Perbedaan diantara kedua mahzab Islam ini terlalu sedikit dibanding dengan persamaan yang ada. Perbedaan dan keberagaman adalah kewajaran, sedangkan perselisihan dan pertengkaran merupakan keburukan.”

Pidato itu disampaikan Rohani dalam kunjungannya ke provinsi Sistan-Baluchestan, pada Selasa, 15/04/14. Sebelumnya, menurut laporan media setempat, Presiden Iran menggelar pertemuan dan ramah tamah dengan para tokoh dan ulama Sunni setempat.

Propinsi Sistan-Baluchestan merupakan wilayah mayoritas berpenduduk muslim Sunni di Iran. Dan berikut ini adalah transkrip ringkasan pidato Hassan Rohani yang sangat sejuk dan bersahabat yang ditayangkan langsung oleh TV Chanel Berita, IRINN pada waktu yang sama.

“Islam bukan sekedar ibadah ritual, namun sebagai agama yang melahirkan peradaban, perubahan dan kekuatan besar. Hal ini menjadi hantu bagi musuh-musuh Islam, sehingga mereka mengerahkan segenap tenaga guna menghambat lahirnya kekuatan dan peradaban Islam. Perpecahan, pertengkaran dan perselisihan yang melanda umat muslim merupakan seperangkat alat yang digunakan oleh musuh Islam guna menghancurkan agama suci ini dari tubuhnya. Saya yakin, dimana terdapat perpecahan dan perselisihan dalam kubu muslimin, maka disitu pasti terdapat campur tangan asing. Karena pada dasarnya Islam adalah agama yang memegang teguh nilai-nilai persaudaraan dan persatuan. Adanya mazhab Syiah dan mazhab Sunni tidak boleh menjadi alasan timbulnya perpecahan dan perselisihan diantara keduanya. Keberagaman adalah keindahan. Syiah dan Sunni adalah nikmat besar yang harus kita syukuri. Perbedaan diantara kedua mahzab Islam itu terlalu sedikit dibanding dengan persamaan yang ada. Perbedaan dan keberagaman adalah kewajaran, sedangkan perselisihan dan pertengkaran merupakan keburukan. Oleh karenanya Syiah dan Sunni harus mampu bergandengan tangan.

“Seandainya Nabi saw berada di tengah kita saat ini, maka beliau pasti akan menyeru kepada persatuan, persahabatan dan solidaritas umat muslim. Dan Alhamdulillah, di negara kita (Iran) terjalin hubungan harmonis antara ulama Syiah dan ulama Sunni, serta solidaritas dan persahabatan antara warga Syiah dan Sunni. Ini adalah nikmat besar yang harus kita syukuri.

“Dalam pandangan saya, seorang Syiah yang memberi salam kepada seorang Sunni, pahalanya di sisi Allah lebih besar daripada memberi salam kepada sesama Syiah, dan sebaliknya. Karena hal ini mengantarkan kepada kondisi persahabatan, persatuan dan solidaritas lintas mazhab.

“Kita harus sadari bahwa saat ini bukan zamannya lagi bagi kita (Sunni dan Syiah) untuk menghabiskan waktu untuk perdebatan dan perselisihan terkait perbedaan-perbedaan kecil dan furuiyah (cabang) yang ada pada kedua mazhab besar ini. Namun, yang menjadi keharusan bagi kita adalah kesadaran akan adanya musuh yang berusaha menghanguskan prinsip-prinsip Islam. Musuh kita adalah musuh bersama. Maka wajib bagi kita berjalan beriringan seraya bergandengan tangan untuk menghadapi musuh yang hendak menghanguskan inti dan prinsip Islam itu sendiri.

“Sebagaimana sebuah keluarga yang terdapat perbedaan dan ragam pandangan diantara anggotanya, tatkala terdapat pihak luar yang ingin menghancurkan keluarga itu, maka segenap anggota keluarga akan merapikan barisannya guna menghadapi pihak luar tersebut. Seolah-olah perbedaan dan ragam pandangan diantaranya sirna. [Penerjemah : Ali .Z.A Shahab]

Ada sebuah ayat – yang menyeru kepada kita sekalian untuk selalu kroscek sebuah berita sebelum memutuskan mempercayainya atau tidak, dan begitulah sikap orang-orang yang beriman. Percayalah, pertikaian Sunni-Syiah dan aliran-aliran lainnya dalam tubuh Islam, hanya akan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam. Semoga kita semakin bijak dalam melangkah dan mengedepankan tabayun. (ba/LiputanIslam.com)

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/presiden-iran-sunni-syiah-adalah-nikmat-yang-besar/

DAFTAR MASJID AHLU SUNNAH DI REPUBLIK ISLAM IRAN

Beberapa waktu yang lalu, liputanislam.com (selanjutnya ditulis LI) memberikan kritikan kepada situs voa-islam.com (selanjutnya ditulis VOA saja) karena memberikan informasi yang keliru tentang perkembangan masyarakat ahlussunnah di Iran. Ternyata, informasi yang valid dari LI ditanggapi dengan reaksional oleh VOA dengan menurunkan artikel  berjudul  ”Liputan Islam yang Mengelak“ dengan menunjukkan data-data yang jauh dari memadai, dan hanya sekedar komentar miring oleh segelintir orang. Termasuk tentang tidak adanya masjid di Iran. Namun, sebagaimana visi LI, maka pada kesempatan ini kami akan menurunkan kembali informasi dengan data-data yang tajam, berimbang, dan terpercaya dengan sumber yang valid dari hasil penelitian oleh lembaga dunia. Data-data di liputan ini berdasarkan laporan penelitian yang dilakukan oleh Majma’ al-Taqrib Bayna al-Mazhahib al-Islamiyah (Lembaga Pendekatan Antar Mazhab dalam Islam). 

masjid

Gambaran Umum

Istilah ahlussunnah wal jamaah (sunni) adalah mazhab mayoritas yang dianut oleh umat Islam di dunia yang mengacu kepada empat mazhab yakni : Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Adapun di Iran, umumnya pengikut sunni terfokus pada dua mazhab besar yakni mazhab Syafi’i dan mazhab Hanafi. Mayoritas menganut mazhab Syafi’i tinggal di Pesisir Barat dan Selatan Iran. Sedangkan para pengikut mazhab Hanafi bertempat di Timur dan Utara (Baluchistan dan Khurasan), wilayah Turkmen Sahara, Propinsi Golestan. Jumlah penganut ahlussunnah di Iran berjumlah sekitar 10 persen dari seluruh jumlah penduduk Iran.

Pelajar dan Guru Agama

Pembagian Pelajar dan Guru Agama sunni terbagi ke dalam empat bagian :

–          Penganut mazhab Syafi’i di wilayah Barat Iran

–          Penganut mazhab Syafi’i di wilayah Selatan Iran

–          Penganut mazhab Hanafi di wilayah Timur Iran

–          Penganut mazhab Hanafi di wilayah Utara Iran

Jumlah pelajar dan guru agama ahlussunnah adalah sebanding dengan jumlah pelajar dan guru agama kelompok sunni (Syafi’i dan Hanafi) di Iran, yang diperkirakan mencapai 33.317 orang. Ini menjelaskan pertumbuhan jumlah pelajar dan guru agama dari mazhab Hanafi dan Syafi’i setelah kemenangan Revolusi Islam, juga menunjukkan perkembangan positif bagi kondisi masyarakat sunni di Iran.

Tabel Perbandingan Jumlah Pelajar, Guru Agama dan Sekolah Agama/Madrasah Sunni di Iran

Provinsi

Jumlah pelajar dan Guru Agama

Prosentase (Perbandingan dengan Jumlah Penduduk)

Sekolah Agama

Sistan dan Baluchistan

15.150

45,50

94

Kalistan

4.500

13,50

93

Azarbaijan Barat

2.776

8,40

90

Khurasan

3.000

9,00

41

Hormozgan

4.012

12,00

29

Kurdistan

2.228

6,60

113

Kermanshah

700

2,10

15

Fars

537

1,60

5

Busher

159

0,47

2

Gilan

255

0,76

2

Jumlah Total

33.317

100

484

Jumlah Masjid Sunni di Iran

Masjid merupakan tempat berkumpulnya kaum muslimin untuk melakukan ibadah, khususnya yang dilakukan oleh kaum ahlussunnah dalam melaksanakan salat jum’at dan salat berjamaah. Selain itu masjid difungsikan sebagai tempat berkumpulnya umat dari berbagai golongan melaksanakan kinerja agama dan politik. Menghidupkan masjid dilakukan oleh kaum muslimin Iran tanpa membedakan golongan ahlussunnah maupun syiah khususnya terjadi setelah kemenangan Revolusi Islam Iran.

Mesjid Sunni Syafi'i di Kermanshah, Iran (foto : islamtimes.com)

Kemenangan Revolusi Islam Iran ini menciptakan iklim yang tepat bagi kaum sunni Iran untuk mencari kesejahteraan di berbagai bidang, di antaranya di bidang agama; yang menunjukkan peningkatan atas jumlah guru, pelajar, sekolah-sekolah agama dan masjid-masjid. Dari sisi lain, meningkatkan kesadaran beragama secara luas tidak terkecuali dari kelompok sunni dari sisi pertambahan jumlah pembangunan masjid-masjid sunni. Dalam hal ini, pemerintah Republik Islam Iran pun menyokong dan memberikan fasilitas bagi pembangunan masjid-masjid sunni di wilayah-wilayah pusat komunitas mereka.

Masjid di Iran baik sunni maupun syiah bergerak menyerukan persaudaraan, persatuan, cinta pada tanah air dan Islam di antara kaum muslimin. Jadi di samping ibadah ritual, masjid juga menjadi tempat ibadah sosial, politik, dan kebudayaan. Salat jumat dan berjamaah juga dilakukan di masjid sunni yang bermazhab Syafi’i atau Hanafi yang tersebar di berbagai tempat di Iran. Sesuai dengan pendataan, kelompok sunni ini memiliki 12.222 masjid di Iran.

Pembangunan masjid sunni di Iran setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979, semakin pesat dibandingkan dengan pertumbuhannya sebelum revolusi. Misalnya, di Kota Zahidan, sebelum revolusi hanya terdapat 16 masjid sunni, tetapi setelah revolusi, kini terdapat sekitar 516 masjid sunni. Begitu pula yang terdapat di kota Kermanshah sebelumnya hanya berjumlah 123 masjid, tetapi kini berjumlah 420 masjid.

Tabel : Jumlah Mesjid Ahlussunnah di Iran

Provinsi

Jumlah Masjid

Fars 232
Bushehr 115
Kurdistan 2000
Khurasan 1025
Hormozgan 1193
Azarbaijan Barat 1800
Sistan dan Baluchistan 4029
Kalistan 1233
Gilan 175
Kermanshah 420
Jumlah Total 12.222

Perlu disebutkan bahwa kaum Syafi’iyyah berkisar 58,2 % memiliki 5.935 masjid atau 48,5 % dari seluruh jumlah masjid sunni yang ada di Iran. Adapun kaum Hanafiyah memiliki 6.287 masjid yang tersebar di wilayah Utara dan Timur Iran atau 51,5 % dari seluruh jumlah masjid yang ada di Iran.

Tabel : Perbandingan Jumlah Masjid Syafi’iyyah dan Hanafiyah

Mazhab

Jumlah Masjid

Prosentase (%)
Syafi’i 5.935 48,50
Hanafi 6287 51,50
Jumlah 12.222 100

masjid

Mesjid Sunni Hanafi di Gurgon, Iran (koleksi foto Burhan el Anshari)

Dengan data-data di atas, maka tuduhan dari VOA bahwa di Iran tidak ada masjid sunni adalah kebohongan dan propaganda belaka. Karenanya kewaspadaan kepada umat Islam untuk berhati-hati dalam menerima dan menganalisis informasi. (cr/liputanislam.com)

Baca bagian pertama:

http://liputanislam.com/tabayun/info-untuk-voa-islam-di-iran-sunni-memiliki-12-000-lebih-masjid-1/

*Sumber : Majma’ al-Taqrib Bayna al-Mazhahib al-Islamiyah (Lembaga Pendekatan Antar Mazhab dalam Islam), Khidmat Republik Islam Iran Terhadap Minoritas Ahlussunnah, 2012, ICC Jakarta.


 

 

sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/info-untuk-voa-islam-di-iran-sunni-memiliki-12-000-lebih-masjid-2/

MENJAWAB FITNAH MEDIA TAKFIRI KHAWARIJ VOA-“ISLAM”: KATANYA KAUM SUNNI DILARANG MENDIRIKAN MASJID DI IRAN, BENARKAH ?

masjid sunni iran 4Beberapa waktu yang lalu, liputanislam.com (selanjutnya ditulis LI) memberikan kritikan kepada situs voa-islam.com (selanjutnya ditulis VOA saja) karena memberikan informasi yang keliru tentang perkembangan masyarakat ahlussunnah di Iran. Ternyata, informasi yang valid dari LI ditanggapi dengan reaksional oleh VOA dengan menurunkan artikel  berjudul  ”Liputan Islam yang Mengelak“ dengan menunjukkan data-data yang jauh dari memadai, dan hanya sekedar komentar miring oleh segelintir orang. Termasuk tentang tidak adanya masjid di Iran. Namun, sebagaimana visi LI, maka pada kesempatan ini kami akan menurunkan kembali informasi dengan data-data yang tajam, berimbang, dan terpercaya dengan sumber yang valid dari hasil penelitian oleh lembaga dunia. Data-data di liputan ini berdasarkan laporan penelitian yang dilakukan oleh Majma’ al-Taqrib Bayna al-Mazhahib al-Islamiyah (Lembaga Pendekatan Antar Mazhab dalam Islam).

 voa

VOA menyatakan :

“Namun, apakah ulama Ahlussunnah yang pernah mengunjungi Iran, lebih khusus Teheran dan mengatakan tidak ada masjid khusus buat Ahlussunnah di Teheran adalah dusta. Di antara Ulama Ahlussunnah yang mengatakan demikian adalah Syaikh Musa Jarullah. Ulama Sunni asal Rusia yang mencoba melakukan taqrib antara Sunni dan Syiah. Dalam upaya taqrid ini, ia mengunjungi wilayah-wilayah terdapat populasi mayoritas Syiah dan juga menjalin komunikasi dengan Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi.

Namun subhanallah, Allah pun menyingkap tabir syiah. dalam proses taqrib itu, al-Mousawi menulis buku berjudul “Abu Hurairah” yang di dalamnya melecehkan sahabat Nabi yang agung tersebut. Dan setelah mengkaji secara observasi dan studi pustaka, maka Syaikh Musa pun menulis buku tentang syiah yang berjudul “al-Wasyi’ah fi Naqdi ‘Aqaidisy Syiah”. Maka dari itu, Dr Raghib As-Sirjany yang kami wawancarai mengatakan bahwa tidak ada satu masjid di Teheran. Apakah Dr Raghib As-Sirjany berdusta?

“Jika belum puas, maka kami sarankan agar Liputan Islam mengunjungi situs resmi Ahlussunnah Iran yang diampu oleh Syaikh Abdul Hamid (http://arabic.sunnionline.us/). Dalam jumpa pers beliau dengan jelas mengatakan bahwa Ahlussunnah sangat membutuhkan masjid untuk melaksanakan shalat fardhu. Kalau memang ada masjid, mengapa ulama Ahlussunnah yang moderat dan menjadi rujukan di Iran ini mengatakan kalau Ahlussunnah membutuhklan masjid.” (lihat : ”Liputan Islam yang Mengelak“)

Tanggapan LI :

Walaupun syiah dan Iran punya pengalaman dicurangi, yang mana banyak penulis buku tentang syiah melakukan manipulasi dan kedustaan seperti halnya Husain al-Musawi al-Kadzab yang menulis buku Lillahi Tsumma Li at-Tarikh (edisi Indonesia berjudul “Mengapa Saya Keluar dari Syiah”), tetapi, untuk menyatakan dusta atau tidak sebuah informasi maka harus dilakukan validasi dan kofirmasi data. Misalnya, yang sedang kita dibahas ini, yakni kasus tentang Masjid Sunni di Teheran. Ada dua informasi yang muncul (1). Voa menyatakan “Tidak ada masjid sunni di Teheran”; (2) LI menyatakan “Ada 9 Masjid Sunni di Teheran”. Sekarang mari kita badingkan kedua informasi tersebut.

VOA yang menyatakan “Tidak ada masjid sunni di Teheran” berpegang pada pernyataan ulama yang katanya datang ke Iran yakni Musa Jarullah dan Raghib as-Sirjani, dan juga situs Syaikh Abdul Hamid.

Sedangkan LI menyatakan “Terdapat 9 buah Masjid di Teheran” berpegang situs syiah yang memberikan data nama-nama kesembilan masjid tersebut disertai dengan alamatnya. Dari sisi ini LI memberikan data yang lebih tajam, berimbang, dan terpercaya, karena informasi itu disertai detail lokasi masjidnya. Artinya, informasi itu didasari atas penelusuran langsung di lapangan untuk mengetahui masjid-masjid tersebut. Dan informasi yang dilakukan dengan penelusuran lapangan secara detil (investigasi) jelas lebih valid dari informasi yang tidak berdasarkan penelusuran yang memadai. Dari sisi ini informasi LI jauh lebih valid dari informasi VOA. Dan jika VOA ingin menolak informasi LI, semestinya VOA menelusuri informasi tersebut, dan membuktikan di lapangan apakah informasi itu benar atau tidak. Tanpa penelusuran yang memadai, VOA tidak layak menolak informasi tersebut.

Adapun menggunakan Musa Jarullah sebagai informasi juga tidak memadai, karena Musa Jarullah mengemukakannya hal itu puluhan tahun silam. Jadi, dari sisi ini, VOA menggunakan informasi yang ketinggalan zaman, alias “sudah basi”. Anggap saja Musa Jarullah benar datang ke Iran dan menyatakan tidak menemukan masjid sunni di Iran, tetapi apakah informasinya itu masih berlaku sampai sekarang setelah puluhan tahun kemudian? Bahkan Musa Jarullah, dalam menulis buku tentang syiah juga banyak melakukan kekeliruan dan manipulasi sebagaimana dibuktikan oleh Sayid Syarafuddin al-Musawi dalam bukunya yang berjudul Ujubah Masail Jarullah.

Begitu pula informasi Raghib as-Sirjani juga tidak bisa dijadikan pegangan, karena apakah beliau telah mengelilingi seluruh Iran dan melakukan penelitian tentang masjid-masjid sunni di sana? Kalau hanya sekedar kunjungan singkat dan hanya melihat-lihat sekedarnya saja, maka tentu informasi yang diberikan oleh LI dengan menyebutkan lokasi tempat tersebut lebih valid. Selain itu, data yang dikeluarkan oleh Majma al-Taqrib berdasarkan penelitian data pada tahun 1997 terdapat lebih dari 12.000 masjid sunni di Iran yang tersebar di seluruh Iran (dalam kesempatan ini, LI nantinya akan membawakan keseluruhan data tersebut dan wilayah-wilayah dimana saja masjid itu berada, dan sekarang ini tahun 2014 diperkirakan ada lebih dari 15.000 masjid sunni. Bandingkan dengan Indonesia, ada berapa masjid komunitas syiah di Indonesia ini?, dan apakah VOA akan mendukung jika komunitas syiah Indoensia mendirikan masjid untuk mereka?). Dari sini tentu kita bisa menyimpulkan data yang dilakukan dengan penelitian oleh lembaga dunia tentang kondisi masjid sunni di Iran, sembari menyebutkan wilayah-wilayahnya dan jumlahnya secara detil lebih dapat dipercaya dari sekedar kunjungan singkat saja. Jadi, mungkin saja Raghib Sirjani tidak berdusta, hanya saja beliau kurang informasi saja, seperti VOA yang kurang informasi, sehingga cenderung memprovokasi.

Adapun VOA yang membawakan situs Syaikh Abdul Hamid yang membutuhkan Masjid di Teheran, bukan berarti menafikan adanya masjid di Teheran. Mungkin saja kaum sunni merasa memang membutuhkan masjid lebih banyak di Teheran dari yang sudah ada yakni 9 masjid, tetapi sampai kini belum dibangun. Beda antara tidak ada masjid dengan membutuhkan lebih banyak masjid. Agar lebih jelas, LI akan menurunkan data-data tentang kondisi masyarakat, pelajar agama, sekolah agama dan masjid sunni di Iran. (cr/liputanislam.com)

# Bersambung kebagian kedua berikut ini : http://liputanislam.com/tabayun/info-untuk-voa-islam-di-iran-sunni-memiliki-12-000-lebih-masjid-2/

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/info-untuk-voa-islam-di-iran-sunni-memiliki-12-000-lebih-masjid-1/

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑