DUSTA ARRAHMAH.COM : IRAN BERSELINGKUH DENGAN ISRAEL

Situs Arrahmah kembali menyebarluaskan kebohongan dan pemutarbalikan fakta, melalui artikelnya Menggugat peringatan HUT Republik taqiyah Iran oleh kaum Syi’ah di Indonesia: gerakan Khomeiniyah dan Zionisme

Karena di dalamnya, banyak kebohongan yang bisa diungkap, kami akan membahasnya dalam beberapa artikel terpisah.

Berikut ini bagian keempat (tamat)

Robert Dreyfuss dan Arrahmah

Dalam artikel itu, Arrahmah menulis,

Hubungan Iran dengan Israel (Zionis) dapat dilihat dari adanya kerjasama militer pada saat berkecamuknya perang Irak-Iran. Hasil penelitian Robert Dreyfuss yang telah dipublikasikan dalam buku “Devil’s Game; How The United States Helped Unleash Fundamentalist Islam,” menyatakan bahwa Israel memberikan bantuan senjata, menyediakan bantuan intelejen selama perangnya dengan Irak.

Mungkin kedua penulisnya (yang bergelar SH, MH, MM, Drs, MA) mengira, dengan mengutip buku orang bule, tulisannya akan lebih dipercaya. Dan mungkin dia mengira, hanya dia yang punya buku itu. Sekedar informasi, buku itu sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, berjudul “Devil’s  Game, Orkestra Iblis: 60 Tahun Perselingkuhan Amerika-Religious Extremist”.  Mari kita tabayun dengan langsung membaca isi buku.

Dan ini foto daftar isinya (klik untuk memperbesar)

daftar isi1daftar isi-2daftar isi-3

Dari daftar isi, terlihat isi buku tidak membahas khusus Iran. Bahkan ketika dibaca isinya, bahwa 80% isi buku malah membahas Hamas, Ikhwanul Muslimin, Al Qaida, Hizbut Tahrir, dll.

dreyfussDreyfuss adalah penulis Barat yang berangkat dari asumsi bahwa semua Islam fundamentalis adalah jahat dan berkembang berkat backing AS-Israel. Dengan asumsi seperti ini, dia membangun alur argumentasi bahwa ‘pasti’ ada kaitan antara antara semua Islam-fundamentalis dengan Israel. Semua, baik itu Hamas, Ikhwanul Muslimin, Hizbuttahrir,Taliban, Al Qaida, dan Republik Islam Iran.

Keberpihakan Dreyfuss pada Israel, terlihat pada halaman 396, yang menyebut bahwa Israel selama bertahun-tahun bertahan menghadapi ancaman terorisme (yang dimaksud Dreyfuss siapa lagi, kalau bukan Hamas). Ketika membahas Hamas pun, dia melupakan konteks bahwa bangsa Palestina berhak angkat senjata mengusir penjajah negerinya. Oleh Dreyfuss, Israel dianggap sebagai negara yang sudah ‘ada’ begitu saja, dan jadi ‘korban’ kaum muslim pembenci Yahudi.

Mari kita bahas beberapa poin penting di buku ini:

1.Hlmn xxxvii: Dreyfuss menulis:

“[fundamentalisme] adalah ideologi yang didorong, didukung, diorganisir dan didanai oleh AS. Ia merupakan suatu ideologi yang direpresentasikan secara variarif oleh Ikhwanul Muslimin (IM), Ayatullah Khomeini, Wahabisme ultra-ortodoksnya Saudi Arabia, Hamas, Hizbullah, kaum jihadi Afghan, Osama bin Laden.”

Memasukkan IM dan Al Qaida/Osama/Taliban/HT serta Syiah dalam satu keranjang jelas menunjukkan keawaman Dreyfuss soal manhaj harakah-harakah Islam.

 2. Hlm xxxviii: Kata Dreyfuss: pada tahun 1950-an, AS mempunyai musuh tidak hanya Moskow, tetapi juga kaum nasionalis Dunia Ketiga yang mulai tumbuh, mulai dari Gamal Abdul Nasser di Mesir, hingga Mosadegh di Iran. AS dan Inggris memanfaatkan IM untuk melawan Naser.

Lucunya, di hlm ini Dreyfuss juga menulis, “Dalam kudeta yang disponsori CIA di Iran pada 1953, AS mendanai seorang ayatullah yang telah mendirikan Fedaiyan-i Islam, sekutu IM di Iran yang paling fanatik.”  Tahu, dimana lucunya? Ayatullah adalah  derajat keilmuan tertinggi mazhab Syiah. Bahwa ulama Syiah mendirikan harakah Ikhwanul Muslimin adalah lelucon yang sangat lucu buat orang-orang yang benar-benar paham peta gerakan Islam. Kalau mau pakai teori konspirasi boleh saja, tapi jangan ngawur begitu dong :D

3. Hlm xi: Dreyfuss menyebut Hamas didirikan oleh Israel (dengan tujuan untuk mengadu-dombanya dengan PLO/Yaser Arafat). AS menghabiskan trilyunan dollar untuk mendukung Jihad Islam di Afghanistan yang mujahidinnya diorganisir IM, tulis Dreyfuss. Bahkan di hlm 8, Jamaluddin Al Afghani disebutnya freemason dan atheis.

Oya? Ckckck… Para aktivis IM pasti akan membanting buku Dreyfuss ini (kalau punya) karena jengkel.

4. Hlm xii: Dreyfuss menulis: Taliban mendapatkan dukungan sejak dini dari AS

(haloo? Arrahmah kan selama ini pro-Taliban/alQaida/Osama?).

Intinya, di buku ini, dengan panjang-lebar Dreyfuss menyebutkan “bukti-bukti” bahwa SEMUA gerakan Islam fundamentalis itu didanai AS.

Bab Khusus Iran

Khusus tentang Iran (hlm 271-311), Dreyfuss memulainya dengan kalimat: “Tidak ada revolusi yang lebih mengejutkan AS ketimbang peristiwa yang terjadi di Iran tahun 1978-1979. Posisi politik AS di Timur Tengah seakan-akan runtuh.” Dreyfuss lalu menyodorkan berbagai data, bahwa AS sangat kecolongan atas terjadinya revolusi Islam Iran. Mereka tak menyangka, seorang Khomeini mampu menggulingkan Shah yang selama ini dibacking penuh AS. Nota-nota diplomatik diungkapkan, menunjukkan kebingungan para diplomat menghadapi situasi tak terduga itu.

Di sini, Dreyfuss melakukan kekacauan alur logika: di awal dia memberikan tesis bahwa SEMUA Islam fundamentalis ditumbuhkembangkan AS (bahkan termasuk para Ayatullah pun konon didanai AS), lalu mengapa AS sampai tidak menyangka bahwa Khomeini mampu menggulingkan Shah Iran? Bahkan Dubes AS waktu itu (pengakuan Dubes Sullivan, diceritakan di hlm 298) saja mengaku tidak bisa memahami politik Syiah. Lalu atas dasar apa Dreyfuss membangun argumen bahwa AS-Israel kongkalingkong dengan Khomeini?

Kerjasama Iran-Israel (?)

Lalu, di bagian yang yang dikutip Arrahmah (bahwa Israel-Iran bekerja sama),  ternyata sumbernya adalah pernyataan lisan Patrick Lang, pejabat CIA (entah masih menjabat/tidak, tidak dijelaskan). Lang mendapatkan informasi ini dari: “kami mengerti hal itu ketika seorang kolonel angkatan udara Iran membelot kepada kami dan menceritakan kepada kami.” (hlm 382)

Pertama: tadi katanya SEMUA fundamentalis Islam dibacking AS, lho kok baru tahu ada kerjasama Iran-Israel dari tentara Iran yang membelot? Seburuk itukah intel CIA?

Kedua: dalam perang Iran-Irak, AS (dan semua negara Barat), Soviet, Israel, dan seluruh negara-negara Arab (kecuali Suriah dan Libya) berpihak kepada Irak. Saddam konon memang membenci Israel. Tapi, para pemilik perusahaan minyak rugi besar karena tumbangnya kroni mereka, Shah Pahlevi. Tak ada yang lebih menginginkan minyak Iran selain daripada Big Oil (perusahaan-perusahaan raksasa minyak, yang saham terbesarnya dimiliki orang-orang Zionis itu: klan Rothschild, dll). Negara-negara Arab mendukung invasi Saddam ke Iran karena mereka mengkhawatirkan ekspor revolusi Islam menyebar ke negara-negara lain (terutama monarkhi-monarkhi Arab); [kekhawatiran soal ekspor revolusi ini pun ditulis Dreyfuss].

Lalu, mengapa tiba-tiba diselipkan tesis baru bahwa Israel mengirim senjata ke Iran, yang tentunya merugikan Irak? Apa untungnya Israel membantu Khomeini yang jelas-jelas sejak awal berdirinya Republik Islam sudah menyatakan perang terhadap Zionisme, dan menyebut AS Setan Besar? Dreyfuss tak memberikan jawaban atas pertanyaan penting ini selain menyebut faktor adanya orang-orang Yahudi di Iran (jadi alasan Israel mengirim senjata ke Iran adalah karena konon di Iran banyak orang Yahudi). Lagi-lagi, ini teori konspirasi yang kebablasan.

Ketiga: inilah kisah sebenarnya: Begitu Khomeini mengumumkan berdirinya Republik Islam, Saddam dibujuk Barat untuk menyerang Iran. Barat menyuplai dana dan senjatanya kepada Saddam. Saat itu sebagai republik yang baru berdiri, Iran masih lemah secara militer. Dalam posisi terjepit, para pemimpin Iran melakukan siasat: bernegosiasi rahasia dengan AS, demi mendapatkan suplai senjata. Disebarkan pula desas-desus bahwa Khomeini akan dikudeta. Sebagai gantinya, Iran setuju melepaskan para diplomat AS yang disandera.  AS mengira bahwa Khomeini benar-benar akan dikudeta; lalu setuju mengirim senjata. Hasilnya, Iran bisa bertahan melawan Irak. Jadi, ini adalah masalah siasat perang. Di sini, AS-Israel telah tertipu mentah-mentah, yang mengakibatkan kalahnya Carter dalam pemilu. Di AS, kejadian ini dijuluki “skandal Iran-contra”. Paham kan?

Sebagai penutup: harap diingat, track record situs Arrahmah selama ini adalah pendukung Osama bin Laden dan Al Qaida. Di buku Dreyfuss, diceritakan bahwa Osama/AlQaida bekerja sama dengan CIA. Karena Arrahmah telah mengutip buku Dreyfuss sebagai dalil, artinya buku itu diakui kebenarannya oleh Arrahmah.

Jadi, benar dong ya, ada CIA di balik Arrahmah? :D (LiputanIslam.com/dw/Tamat)

 

 

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/jawaban-buat-arrahmah-bag-4-tamat/

Iklan

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: