DUSTANYA SITUS ARRAHMAH TENTANG EKSPOR REVOLUSI

Situs Arrahmah kembali menyebarluaskan kebohongan dan pemutarbalikan fakta, melalui artikelnya Menggugat peringatan HUT Republik taqiyah Iran oleh kaum Syi’ah di Indonesia: gerakan Khomeiniyah dan Zionisme

arrahmah1

Karena di dalamnya, banyak kebohongan yang bisa diungkap, kami akan membahasnya dalam beberapa artikel terpisah.

Berikut ini bagian pertama.

Perayaan Hari Kemerdekaan Negara Lain, Tidak Bolehkah?

Perhatikan berita ini, dari Tribunnews

Dalam rangka ulang tahun kemerdekaan (Independence Day) Amerika Serikat yang jatuh pada Kamis (4/7), Konsulat General Amerika di Surabaya melakukan serangkaian kegiatan. Satu di antaranya Bersih Pantai bertajuk Bunaken Beach Clean Up di Taman Nasional Bunaken.

Baca juga berita ini, dari beritasatu.com

Dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan Republik India yang ke-64, Duta Besar India menggelar pameran lukisan di Kantor Kedutaan Besar India, JL HR Rasuna Said, Kav S-1, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (26/1). Acara tersebut terselenggara atas kerjasama dengan IndonesiArt Institute, komunitas peduli karya seni rupa dari beberapa seniman Semarang, seperti Dadang Pribadi, Debronzes, Franky Jo, Nasay Saputra, Rayo Denada, Rudy Murdock, Tatas Sehono dan seorang pelukis berkebangsaan India, Tamanna Sagar. Karya yang dihadirkan mengangkat tema “A Message of Friendship from Central Java” dimana sejumlah karya yang dipamerkan merupakan simbol atau lambang hubungan persahabatan antar dua negara yakni India dan Indonesia.

Syukurlah, kedua media itu tidak menulis ala Arrahmah : “Jelas peringatan HUT AS itu ada kaitannya dengan ekspansi ideologi liberalisme AS.”  Atau “Jelas peringatan HUT India itu ada kaitannya dengan ekspansi ideologi Hinduisme.”  :D

 

Sebagai upaya tabayun, LiputanIslam.com telah menghubungi salah seorang staf Islamic Cultural Center / ICC [penyelenggara acara HUT Kemerdekaan Iran, yang dibahas oleh Arrahmah], berinisial AM untuk meminta penjelasan, mengenai acara ini. Berikut kutipan wawancara kami.

LI: ICC ini sebenarnya statusnya bagaimana?

AM: ICC secara umum sesungguhnya merupakan program kebudayaan kedutaan Besar Republik Islam Iran (RII). Lebih kurang semacam atase kebudayaan Kedubes RII. Karena itu, lembaga ini didirikan untuk mendukung sejumlah program kebudayaan RII seperti penyediaan tempat acara-acara yang sifatnya keilmuan, tetapi bukan kenegaraan. Acara yang murni kenegaraan (Government to Government) diserahkan kepada Kedubes RII. Lembaga kebudayaan semacam ini kan juga dimiliki negara-negara lain. Prancis punya IFI (Institut Francais Indonesie), atau Korea punya KCC (Korea Cultural Centre).

LI: Apa tujuan diadakankannya acara peringatan HUT Kemerdekaan Iran di Jakarta?

AM: Ya, sama saja pertanyaannya dong, mengapa setiap kedubes dan lembaga kebudayaan asing di Indonesia merayakan hari kemerdekaan mereka masing-masing? Mengapa kedubes kita di luar negeri juga menyelenggarakan berbagai acara perayaan 17-an? Tentu saja untuk merayakan atau mewujudkan rasa syukur atas kemerdekaan sebuah negara. Bentuk kegiatannya macam-macam. Di ICC, karena kultur Iran memang kultur keilmuan, akademis, dan filosofis, kegiatan yang diadakan bukan lomba balap karung atau makan kerupuk. Tradisi di Iran memang tradisi pemikiran, jadi acaranya selain makan-makan, adalah mendengarkan pemaparan ilmiah tentang revolusi Islam Iran.

LI: tapi kan yang hadir orang Indonesia?

AM: di acara serupa yang diselenggarakan kedubes-kedubes asing lainnya, kan banyak juga orang Indonesia yang hadir? Ini hal yang sangat biasa.

LI: Apa ini bentuk ekspor revolusi ?

AM: Apa revolusi bisa diekspor? Ada-ada saja. ICC sebagai lembaga kebudayaan menyediakan tempat untuk kajian-kajian ilmiah. Sepanjang sebuah kegiatan bersifat keilmuan, maka kegiatan tersebut akan didukung oleh ICC. Dan, peringatan Revolusi RII kemarin berwatak keilmuan. Bahwa hal itu membawa inspirasi untuk bangsa Indonesia, tidak otomatis akan melemahkan nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia. Yang bisa kita  ambil dari peringatan Revolusi RII adalah semangat antiimperialismenya. Bangsa Indonesia yang saat ini dinilai oleh banyak pihak nasionalismenya melemah, bisa memperkuat ideologi Pancasilanya dengan mengambil inspirasi dari perjuangan Imam Khomeini. Apalagi Imam Khomeini dalam buku Pemerintahan Islam ataupun Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sendiri dalam suatu pidatonya menyebutkan bahwa mereka menyatakan kekaguman dan rasa simpati luar biasa kepada Ir. Sukarno yang antiimperialisme atau anti-AS. Nah, apakah mereka berdua berkurang rasa nasionalismenya kepada bangsa Iran saat mengagumi Ir. Sukarno? Sepertinya  tidak. Jadi, di sini terjadi suatu dialog pemikiran antara para pemuka tertinggi Iran dengan Bung Karno.

LI: dalam acara itu, apa dibahas rencana pendirian Republik Syiah Indonesia?

AM: Tidak sama sekali. (LiputanIslam.com/AF)

(bersambung)

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/jawaban-buat-arrahmah-1/

Iklan

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: