Bantahan atas fitnah LPPI makassar mengenai kota qom dan iran

ismail aminTanpa sumber sama sekali dan nama penulis yang jelas, LPPI Makassar menyebar tulisan “Kota Bejat Itu Bernama Qom di Iran”, bagi yang pernah ke Qom apalagi sementara tinggal di Qom seperti saya dan keluarga serta 100an warga Indonesia lainnya, itu hanya jadi lelucon dan semakin mempertegas betapa licik dan dustanya manhaj mereka.

Ini data2 khayalan dari tulisan itu, yang menunjukkan jurnalisme mereka tidak bermutu, hanya sekedar copas dan begitu bahagia karena telah menyebar berita dusta:

Kerusakan kota-kota suci Iran ternyata erat kaitannya dengan para mollah.

Alhamdulillah, penulis mengakui di Iran ada kota2 suci.

Sebab hanya para mollah itulah yang dapat masuk ke pusat-pusat pendidikan yang dikhususkan untuk gadis-gadis, meski pada dasarnya mengajar di tempat-tempat tersebut terlarang bagi laki-laki di kota Qom.”

Ini datanya dari mana? Tidak ada larangan muallim laki2 malah bahkan ulama2 turun tangan langsung mengajar tatap muka di pusat2 pendidikan khusus perempuan.

 

Begitu juga dengan pusat-pusat kesehatan, rumah sakit dan tempat-tempat wisata yang dikhususkan buat wanita, banyak dijumpai para mollah berjalan-jalan dengan bebasnya seakan mereka adalah kelompok orang yang telah dihalalkan atas semua wanita yang masuk ke tempat-tempat tersebut. 

Sewaktu istri saya sedang dalam proses persalinan hendak melahirkan, tidak ada tuh di rumah sakit khusus perempuan itu Mullah bebas berkeliaran di dalam kompleks yang saya hanya bisa berada diluar pagar menunggui istri. Apalagi ditempat2 wisata. Tukang kebunnya saja perempuan juga.

Bahkan kerusakan di kota Qom jauh melebihi kerusakan kota Teheran yang merupakan kota yang lebih terbuka di banding Qom.

 Astaghfirullah, apa penulisnya pernah mengunjungi kedua kota tersebut dan membandingkan keduanya?. Qom dikenal sebagai kota santrinya Iran. Tidak sebagaimana di Teheran yang busana muslimahnya masih sedikit terbuka dengan memperlihatkan sebagian dari rambutnya, di Qom sangat jarang kita temui pemandangan serupa. Semua orang Indonesia yang pernah ke Qom dan menuliskan pengalamannya selama di Qom atau di Teheran tidak pernah menceritakan adanya kerusakan sebagaimana yang disebut si penulis misterius itu.

Angka bunuh diri di kalangan wanitanya dengan jalan minum racun sangatlah tinggi, dan hal itu disebabkan oleh beban mental yang banyak dirasakan oleh para wanita dan gadis-gadis yang tinggal di kota itu sebagai dampak dari situasi yang telah memaksa mereka dan juga cara-cara yang diterapkan oleh “syurthatul akhlaqil hamidah” yaitu polisi penegak akhlak terpuji di bawah kekuasaan para mollah. 

Di Qom tidak ada polisi penegak akhlak terpuji, mungkin penulisnya berimajinasi sedang berada di Saudi yang memang ada polisi syariatnya. Seumur2 saya di Qom belum ada saya baca berita atau mendengar ada perempuan yang bunuh diri, yang ada tempat2 praktik dokter dan apotek2 yang penuh dengan lbh banyak perempuan dibanding laki2 dgn membawa kantongan berisi obat2 yang menunjukkan mereka ingin hidup sehat dan mempertahankan hidupnya lebih lama tinggal di Qom.

Kondisi kejiwaan inilah yang di saat tertentu dapat memicu tindak kejahatan dari kaum laki-laki Iran untuk melakukan penculikan dan pemerkosaan, bahkan tak jarang berakhir dengan dibunuhnya sang korban karena takut dilaporkan. Dan sebagian wanita dan gadis korban perkosaan pun tak jarang yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri karena malu dengan apa yang menimpanya. 

Qom termasuk diantara kota Iran yang paling aman bagi perempuan. Tidak heran, tengah malam pun perempuan masih dapat ditemui sedang berkeliaran untuk menyelesaikan urusan2nya [keapotek atau ke RS atau berziarah ke Haram yang buka 24 jam] dan tetap bisa pulang kerumahnya dengan selamat.

Nyatanya, wanita di kota Qom selalu dalam resiko penghinaan dan pelecehan seksual, khususnya yang dilakukan oleh kalangan pelajar agama di Hauzah. Setiap kali mereka melihat wanita atau gadis yang sedang berada di jalan, maka buru-buru mereka membuka percakapan dengannya tentang nikah mut’ah, bahkan sedikit pun mereka tidak membuka ruang tanya jawab meski si wanita atau gadis tersebut merasa keberatan. Hal itu dikarenakan apa yang mereka inginkan adalah perkara yang disyari’atkan dan telah ditegaskan oleh pemerintah, di samping mut’ah dalam keyakinan mereka adalah perbuatan terpuji dan telah diwasiatkan oleh para Imam mereka sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab Imam mereka. 

Saya pernah diinterogasi polisi dan HP saya disita, karena seorang perempuan Iran melapor saya telah membuat dia tidak nyaman karena telah memotretnya. Saya memotretnya untuk melengkapi tulisan saya yang akan saya kirim kesebuah situs. Sayapun dibebaskan dengan jaminan tidak mengulangi lagi, jika sebelumnya tidak meminta izin. Nah, untuk sekedar dipotret saja perempuan Iran bisa merasa tidak nyaman, dan membolehkan dia melapor polisi, apalagi untuk aksi pelecehan yang lebih besar. Bahkan kalau ada perempuan yang barang bawaannya jatuh, jangan heran kalau tidak ada laki2 yang datang menolong, karena kalau perempuannya merasa tidak nyaman, itu bisa terkategorikan mengganggu, dan bisa berurusan dengan polisi.

Karena itulah wanita-wanita di Qom harus menanggung penghinaan dan pelecehan seksual ini dari para mollah, pemuda dan juga kaum laki-laki. Mereka hanya mempunyai dua pilihan; tetap tunduk dengan aturan itu atau hidup dalam situasi kepahitan jiwa. 

Tuduhan yang sangat tidak beralasan.

Sebagian besar kehidupan rumah tangga di kota Qom juga mengalami kegagalan, karena sebagian besar dari mereka hidup dengan tetap menjalani kebiasaan dan mengikuti adat yang menguasai di kota itu. Adat kebiasaan ini kadang bertentangan dengan tingkat pengetahuan dan sosial mereka, dan adat inilah yang sering kali mendorong kaum laki-laki untuk melakukan mut’ah sebab mereka meneladani para mollah. Dan sebaliknya banyak para istri yang kemudian membalas perbuatan suaminya dengan menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Inilah yang menyebabkan kehidupan rumah tangga mereka berakhir dengan kegagalan lalu dilanjutkan dengan perceraian. Menurut penelitian tentang keadaan sosial di kota Qom, ternyata angka perceraian di kota itu menduduki peringkat terbesar kedua di negara Iran.

Penelitian? Siapa yang meneliti? Mengapa datanya tidak disertakan? Kota apa di Iran yang menduduki peringkat terbesar pertama?

Seperti diketahui bahwa pengadilan yang khusus menangani kasus-kasus perdata di Iran dilaksanakan dengan perantara hakim-hakim yang selalu memotivasi para wanita dan gadis untuk melakukan perceraian, dan segera setelah perceraian itu mereka dipindahkan ke Yayasan-yayasan sosial dengan dalih menolong mereka agar cepat mendapatkan pekerjaan, namun pada kenyataannya mereka terjebak dalam perangkap para mollah untuk dijadikan budak dengan alasan mut’ah. Yayasan Az-Zahra’ termasuk Yayasan paling terkenal yang menjadi tempat tinggal para janda dan tempat bersenang-senangnya para mollah dan para pelajar agama di Hauzah yang sangat menginginkan berbuat mesum atas nama mut’ah.

Yayasan Az Zahra termasuk yayasan paling terkenal? Terkenal apanya? Coba kalau penulis mengenal yayasan tersebut, tolong beritahu alamatnya, saya mau konfirmasi. Dan tahu dari mana si penulis bahwa hakim2 selalu memotivasi para wanita dan gadis untuk melakukan perceraian [masih gadis kok dikompor2i buat cerai?]? ada beritanya di Koran? Atau sipenulis mendapat informasi langsung dari para hakim atau laporan dari para perempuan yang menjadi korban?

Sampai ada hal yang sangat sulit dipercaya, jika dikatakan ada data yang tidak resmi menegaskan bahwa kota Qom telah mencatat angka tertinggi dalam masalah aborsi dengan cara yang tidak diatur oleh undang-undang. Sehingga sangat mustahil bila dalam sehari tidak ditemukan janin-janin yang telah dibuang di tempat-tempat sampah atau selokan air.

Diselokan air di Qom yang ada justru aliran air yang sangat jernih dan tampak bersih. Saya sampai pernah bercanda ke teman, “Mungkin air selokan di Qom itu bisa langsung diminum ya, saking jernihnya…” terus tempat-tempat sampah, pagi hari kita sudah tidak melihat adanya sampah2, karena dinas kebersihan telah membersihkan kota justru sebelum masuk waktu subuh. Dan tentu apa yang ditulis penulis itu akan sangat sulit dipercaya jika tidak menyertakan sumber datanya. Makanya buru2 hendak berkilah dengan menyebut datanya itu tidak resmi.

Kerusakan kota Qom tidak hanya itu, sebab kerusakan-kerusakan lain juga telah mencatat angka yang sangat tinggi seperti pertikaian dan perkelahian antar kelompok dan perorangan yang menyebabkan menumpuknya korban luka-luka di rumah sakit Nakui di Qom setiap harinya. Salah satu jalan yang sering terjadi perkelahian adalah jalan Bajik.

Di Qom setahu saya tidak ada Rumah Sakit Nakui, dan juga tidak ada jalan Bajik.

Kota Qom juga mencatat angka tertinggi kedua penderita AIDS. Demikian juga dengan angka pecandu kokain jenis “crack”, tercatat bahwa satu dari tiga orang di kota Qom adalah pecandu opium.

Qom adalah kota penghasil penulis2 buku paling produktif se Iran dan juga penyumbang hafiz Qur’an terbesar di Iran. Kalau jadi pecandu opium bagaimana bisa menulis buku dan menghafal al-Qur’an? Saya sudah menulis buku mengenai biografi singkat beberapa hafiz cilik yang berasal dari kota Qom. Lengkap dengan cd dokumenternya sebagai bukti.

Kota Qom juga tercatat sebagai kota yang paling banyak menggunakan minuman keras oplosan yang mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan kematian atau hilangnya penglihatan, sebagaimana yang pernah terjadi dalam peristiwa peringatan “Iedun Nairuz” (Hari Raya Kemusyrikan Majusi).

Minuman keras oplosan itu namanya apa? Dan bahan kimia yang dikandungnya itu apa? Kok setengah2 kasih data?.  Di Iran tidak ada Iedun Nairuz, yang ada Ied Nouruz….

Sedang kondisi mata pencaharian masyarakat dan tingkat kemiskinan di kota Qom juga sangat memprihatinkan. Angka kemiskinan dan kelaparan di kota ini sangat tidak bisa dipercaya. Banyak masyarakat di kota ini yang sulit bahkan sekedar melindungi diri mereka dari cuaca dingin yang ekstrim atau musim panas yang menyengat. Makanan mereka sehari-hari adalah roti dan air, dan agak lebih baik sedikit adalah makaroni. Sering kali orang tua mereka menyaksikan kematian anak-anaknya di depan mata mereka karena ketidakmampuan berobat, bahkan mereka juga tidak memiliki kartu jaminan kesehatan.

Ha..ha.. tahu tidak si penulis, bahwa jalan2 raya di Qom termasuk paling padat, karena saking banyaknya keluarga yang bisa beli mobil. Di Qom juga ada bandara internasional. Sedang berlangsung pembangunan kereta mono rel. orang-orang Iran mengkonsumsi beras Iran yang harganya sampai 70 ribu perkilo. Pelajar asing karena tidak sekaya orang Qom hanya bisa beli beras impor dari Thailand atau Argentina yang harganya berkisar 25 ribu real.

Di antara keluarga-keluarga miskin di kota Qom juga sangat banyak yang mempekerjakan anak-anak kecil mereka di pabrik pembuatan batu bata dari malam hingga siang hari untuk sekedar bertahan hidup.

Tidak seorangpun anak-anak Iran yang bekerja. Mereka semua bersekolah karena pemerintah menyediakan fasilitas pendidikan gratis sampai perguruan tinggi. Kami saja yang pelajar asing, dikasih beasiswa apalagi rakyat sendiri. Pekerja kasar di Iran kebanyakan berasal dari Afghanistan.

Sedang pemandangan seperti ini berlangsung di tengah banyaknya mollah yang hidup dalam kondisi serba mewah yang dihasilkan dari kekuasaan mereka atas proyek-proyek ekonomi dan kepemilikan saham pada banyak perusahaan-perusahaan besar. Mereka dapatkan bagian itu dari apa yang dinamakan harta “humus” yaitu berhak atas 5% dari harta yang diambil dari para pengikutnya. Harta humus ini bisa mencapai milyaran Tuman dalam setahunnya sehingga memungkinkan para mollah memiliki bangunan-bangunan istana di kawasan elit seperti Salarie, Amin Boulvare dan lain-lain di samping kepemilikan mereka atas rumah-rumah mewah di kawasan Niavaran utara Teheran.

Dalam ajaran Syiah tidak dikenal yang namanya Humus, yang ada Khumus. Di Qom juga tidak ada Istana. Salarie kawasan elit, karena merupakan kawasan pertokoan, dan Amin Boulevard [bukan Boulvare] tampak elit karena kawasan perkantoran. Jadi bukan kawasan perumahan apalagi jika itu dikatakan pemiliknya adalah para Mullah.

Tidak sedikit yang datang ke Qom dan bertemu dengan Ayatullah, malah tercengang, karena rumah mereka, berada digang2 sempit dan tampak kumuh dan sama sekali tidak memiliki fasilitas mewah di dalamnya.Berita fitnah dan dusta ini disebar secara massif oleh media2 yang mengklaim diri sebagai media Islam. Tidak adanya nama penulis yang jelas dan sumber beritanya menunjukkan artikel tersebut oleh penulisnya sendiri tidak mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sayang, meskipun saya yang berada di Qom saat ini memberikan bantahan, mereka akan segera berkilah, orang Syiah itu tidak bisa dipercaya…. Ya yang bisa dipercaya itu hanya LPPI yang meskipun tulisanya tidak menyebut siapa penulisnya dan tidak menyertakan sumber primer dari data2 tulisannya…

 

Sangat mengerikan menyerahkan urusan Islam pada mereka.

(Disalin dari catatan Ismail Amin, Mahasiswa Al-Mustafa International University)

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/bantahan-atas-fitnah-lppi-makassar-mengenai-kota-qom-dan-iran/

%d blogger menyukai ini: