MENYOAL MUAWIYAH DAN YAZID SI PENYERBU ROMAWI DAN PEMBANGUN ANGKATAN LAUT

Bimillahirahmanirrahim
Allahumma sholi Ala Muhammad wa ala ali muhamad

PUTRA PARIPURNA MENULIS : SIKAP AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH TERHADAP YAZID BIN MU’AWIYAH

Sebagian membolehkan melaknat Yazid bin Mu’awiyah, namun adapula yang melarangnya. Bagi yang membolehkan melaknatnya, perlu untuk memerhatikan tiga hal berikut: pertama-Mengetahui dengan jelas bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah orang fasiq kedua yakin bahwa Yazid tidak pernah bertaubat dari dosa-dosanya tersebut. Jika orang kafir yang bertaubat kepada Allah diampuni, maka bagaimana lagi dengan orang fasiq? Ketiga : tahu dengan pasti hukum melaknat pribadi tertentu, bahwa itu dibolehkan. Tapi yang benar justru sebaliknya, melaknat sosok pribadi tertentu yang Allah dan Rasul-Nya tidak melaknatnya dilarang. Beliau bersabda ketika orang-orang melaknat Abu Jahl,

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا
“Janganlah kalian mencela orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah menyerahkan apa yang telah mereka perbuat.” (HR. Bukhari).

Agama Islam tidak dibangun di atas celaan sebagaimana yang dilakukan orang-orang Syiah. Tapi dibangun di atas akhlak mulia. Maka celaan dan para pencela, tidak memiliki tempat sedikitpun dalam agama Islam. Rasulullah bersabda,
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْر
“Mencela seorang Muslim adalah kefasiqan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tidak seorang pun yang mengatakan bahwa Yazid bin Muawiyah kafir. Tapi, kebanyakan orang mengatakan bahwa ia fasiq. Dan Allahlah yang Mahamengetahui.
Rasulullah pernah bersabda,

أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ
“Pasukan yang paling pertama menyerang Romawi diampuni.” (HR. Bukhari).

Dan ternyata, pasukan ini dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah. Ikut dalam pasukan itu beberapa sahabat yang mulia; Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Ibnu Abbas, dan Abu Ayyub. Penyerangan ini terjadi pada tahun 49 H. Ibnu Katsir—rahimahullah—berkata, “Yazid telah bersalah besar dalam peristiwa Al Harrah dengan berpesan kepada pemimpin pasukannya, Muslim bin Uqbah untuk membolehkan pasukannya memanfaatkan semua harta benda, kendaraan, senjata, ataupun makanan penduduk Madinah selama tiga hari. Demikian pula terbunuhnya sejumlah sahabat dan anak-anak mereka dalam peristiwa tersebut. Maka dalam menyikapi Yazid bin Muawiyah, kita serahkan urusannya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi, “Kita tidak mencela Yazid, tapi tidak pula mencintainya.”

Ibnu Jawi al Jogjakartani

Kita seringkali mendapati argumen-argumen yang dipaksakan dari kaum nawashib demi membela Imam mereka yaitu Khaliffah yazid bin Muawiyah, dengan argumen-argumen  sebagaimana yang dipostingkan diatas. Mereka (para nawashib) bahkan mati matian  melakukan penghapusan  nash Al Qur’an yang jelas-jelas mengutuk bani ummayah dan pengutukan Rasulullah atas Yazid ( Muawiyyah)  dan Bani Umayyah yang zalim.  Betapa kelompok yang mengaku Ahlu sunnah justru menolak Al Qur’an dan Sunnah.

Pernyataan pembela Yazid dan Gugatanya

Imam Al Ghazali dalam kitabnya  Ihya ’Ulum ad Din  pada bab al La’en, ia mengajukan  pertanyaan yang dijawabnya sendiri tentang boleh dan tidaknya mengutuk Yazid, al Ghazali mengatakan : ”Tuduhan pembunuhan itu pada dasarnya tidak/belum terbukti, maka tidak dibenarkan untuk menyatakan bahwa dia membunuhnya atau memerintahkan membunuhnya selama belum terbukti, apalagi mengutuknya, kena tidak dibenarkan menisbahkan dosa besar kepada seorang muslim tanpa kepastian.  Al Ghazali kemudian menambahkan ” Pembunuh al Husain dikutuk Allah, atau yang memerintahkan membunuhnya dikutuk Allah ” dan al Ghazali mempersyaratkan bahwa ” pembunuh al husain jika mati sebelum bertaubat dikutuk oleh Allah”
Pernyataan  Al Ghazali tersebut di tamnggapi oelh As Syaikh Ahmad al Waly, beliau berkata : ” Demi Tuhanmu pembaca !, Apakah anda dapat menerima saat membaca uraian semacam  itu? Yang bersumber dari tokoh itu (Al Ghazali) ? Apakah semua kitab sirah dan sejarah di kalangan kaum muslim yang menyatakan bahwa terjadinya peristiwa-peristiwa ini (pembunuhan al Husain dan lainya)  adalah merupakan perintah dan perintah langsung dari Yazid, apakah kesemua itu belum cukup untuk menjadi bukti tentang perbuatan-perbuatan Yazid dan tidak juga mempersalahkanya ? ” [1] Pembela Yazid agaknya mengabaikan fakta-fakta dan bukti-bukti bahwa skenario dan surat perintah terhadap pembunuhan Imam Husain [2]
Syaikh Ahmad al waly juga menunjukan keheranan terhadap Ibnu taimiyah, betapa ibnu taimiyah giat mengumpulkan dalil-dalil tentang kekufuran memaki sahabat termasuk memaki Yazid dan Muawiyah, yang kemudian ia kumpulkan dalam kitab ash sharim al maslul fi kufr man syatama ar Rasul auw ahadi ashhab ar Rasul,  tetapi Ibnu Taimiyah justru mengabaikan bahkan terkesan tidak memperdulikan fakta-fakta bahwa Muawiyah dan Bani Umayyah justru menjadi biang dari pencacimakian keluarga Rasulullah saw. Mengapa orang-orang yang menyatakan membela sunnah Rasulullah kemudian berbalik menjadi pembela orang-orang yang menginjak-injak sunnah Rasulullah ?

Melaknat Orang Yang sudah wafat

Pada pernyataan di atas dituliskan : Beliau bersabda ketika orang-orang melaknat Abu Jahl, لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا  “Janganlah kalian mencela orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah menyerahkan apa yang telah mereka perbuat.” (HR. Bukhari).

Ibnu Jawi al Jogjakartani menanggapi : Tetapi mengapa hadis ini tidak dikenakan pada bani Umayyah ?  bukankah bani ummayah melakukan perintah pengutukan pada Imam Ali, Hasan. Husain dan Ahlul Ba’it lainya [3]  di atas mimbar-mimbar masjid hingga khalifah Umar bin abdul Aziz berkuasa ? berarti jika demikian mereka bani Umayyah melaknati  orang-orang yang sudah meninggal ? mengapa para pembela bani Ummayah ini membela mati-matian perbuatan nista ini  seraya menuduh Syi’ah  memaki-maki muawiyah dan yazid?

Pada pernyataan berikutnya dituliskan : Agama Islam tidak dibangun di atas celaan sebagaimana yang dilakukan orang-orang Syiah. Tapi dibangun di atas akhlak mulia. Maka celaan dan para pencela, tidak memiliki tempat sedikitpun dalam agama Islam. Rasulullah bersabda, سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْر “Mencela seorang Muslim adalah kefasiqan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu jawi al jogjakartani menanggapi :  Dengan pernyataan diatas, ada pertanyaan yang layak diajukan, Bagimanakah tindakan Muawiyah beserta  gubernurnya biasa menghina Imam ali bin Abi Thalib saat berkotbah di masjid. Bahkan dilakukan di Mimbar masjid Nabi di Madinah, sehingga sahabat-sahabat terdekat nabi saww, keluarga dan kerabat dekat Imam Ali mendengar caci makian dan sumpeh serapah Muawiyah pada Ali bin Abi Thalib. [4] Dan bagaimanakan tindakan Muawiyah yang memerintahkan pembunuhan terhadap Imam Hasan ? dimana ulama Ahlu sunnah sendiri menuliskan ” bahwa Muawiyyah sebagai penyebab dan pemberi perintah untuk membunuh Imam Hasan bin Ali. [5]  dan Bagimana pula tentang perintah Yazid dan Muawiyyah untuk memenggal Imam Husain ? [6} Apakah  mereka dapat dikatagorikan sebagai  orang yang membangun Islam tanpa cela ?

Tentang Hadis Mnyerang Romawi

Penulis di atas menyatakan : Rasulullah pernah bersabda, أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ “Pasukan yang paling pertama menyerang Romawi diampuni.” (HR. Bukhari). Dan ternyata, pasukan ini dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah. Ikut dalam pasukan itu beberapa sahabat yang mulia; Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Ibnu Abbas, dan Abu Ayyub. Penyerangan ini terjadi pada tahun 49 H. Ibnu Katsir—rahimahullah—berkata, “Yazid telah bersalah besar dalam peristiwa Al Harrah dengan berpesan kepada pemimpin pasukannya, Muslim bin Uqbah untuk membolehkan pasukannya memanfaatkan semua harta benda, kendaraan, senjata, ataupun makanan penduduk Madinah selama tiga hari. Demikian pula terbunuhnya sejumlah sahabat dan anak-anak mereka dalam peristiwa tersebut. Maka dalam menyikapi Yazid bin Muawiyah, kita serahkan urusannya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi, “Kita tidak mencela Yazid, tapi tidak pula mencintainya.”

Ibnu Jawi al Jogjakartani menanggapi :  Sejatinya bukan hanya hadis itu saja yang digunakan sebagai hujah, ada hadis lain misalnya :      عن أم حرام قالت: قال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ : ” أول جيش من أمتي يغزون البحر قد أوجبوا”   Dari Umu Haram Radhiallahunhu beliau berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Pasukan pertama dari ummatku yang perang di lautan maka wajib baginya (surga).” [HR Bukhari : 2924]    hadits ini menjelaskan keutamaan Mu’awiyah karena beliaulah orang pertama yang berperang di lautan.” Adapun lafazh “qod aujabu” (maka wajib atasnya) maksudnya adalah : melakukan perbuatan yang wajib atasnya surga.” .

Dalil-dalil semacam itu adalah bentuk yang sangat dipaksakan untuk membela Yazid maupun Muawiyah,  Alasanya adalah

Ketentuan umum yang dihapus oleh ketentuan khusus

Imam Ali bin Abi Thalib tatkala menerangkan tentang Hadis beliau mengatakan, Nasikh dan Mansukh berlaku pula dalam Hadis, Artinya ada ketetapan-ketetapan  yang dihapus oleh ketetapan berikutnya, ada ketetapan umum yang di hapus oleh ketetapan khusus, secara sederhananya “bahwa ketetapan khusus akan menghapuskan atau mempersyaratkan pada  ketetapan Umum “.  Hadist     yang disebutkan  diatas bukankah hadis yang bersifat umum, dan  bukankah Rasulullah di berbagai kesempatan menyebutkan hadis tentang kutukan terhadap Yazid (Muawiyyah dan Bani Ummayah ) , perhatikan hadis yang diriwayatkan ulama ahlu sunnah di bawah ini :

Ibnu Abil Hadid Meriwayatkan [7]dari Ibnu Abbas, ”Rasulullah saww bermimpi melihat sekelompok kera  berloncatan kearah mimbar yang biasa beliau saww pergunakan dan juga kera tersebut memasuki mihrab beliau saww. Ketika Nabi saww tervbangun dari tidurnya, turun kepadanya jibril as dan mengabarkan bahwa kelompok kera yang beliau lihat dalam mimpinya semalam melambangkan Kaum Bani Umayyah yang akan merebut kekuasaan dan menguasi  mimbar serta mihrab beliau selama seribu bulan”

Disahihkan oleh Hakim meriwayatkan [8] ” Rasulullah saww bersada, “Sesungguhnya para Ahlul Ba’itku akan menemui umatku dalam keadaan terbunuh dan teraniaya. Dan mereka yang memiliki rasa benci dan permusuhan yang sangat adalah Bani Umayyah, Bani al Mughirah dan Bani makhzum”

Di takhrij oleh Nasr bin Mazahim al Munqiri,dari Abdul Ghaffar bin Qasim, dari Addi bin Tsabit, Barra’ bin Azib, ia berkata, “Ia bertemu dengan Abu Sufyan yang sedang bersama Muawiyyah, Rasulullah saww kemudian bersabda, Ya Allah, berilah laknat kepada pengikut (Abu Sufyan), dan orang yang diikuti (MUawiyyah). Ya Allah, Engkaulah yang membuat perhitungan, Ibnu Barra’ kepada ayahnya, siapakah yang diperhitungkan  ? Ayahnya menjawab “Muawiyyah”.

DiTakhrij oleh nashr, dari  Ali bin Aqmar, pada akhir hadisnya : Ibnu aqmar berkata, “Rasulullah saww memandang Abu sufyan yang sedang naik tunggangannya bersama Mu’awiyyah dan sudaranya. Beliau saww lalu bersabda, Ya Allah, berikanlah laknat kepada mereka semua. Kami bertanya, engkau mendengar perkataan Rasulullah saww itu ? ia menjawab, Ya, jika memang aku tidak mendengarnya. aku bersumpah akan memecahkan telingaku”. [9]

Diceritakan Muhammad bin Abu Bakar ra, menulis surat untuk Muawiyyah (surat ini panjang silahkan merujuk kesana) berikut petikanya :
…Engkau wahai muawiyyah adalah orang yang dilaknat Allah dan Rasulullah saww, putra dari orang yang dilaknat Allah dan Rasulullah saww, engkau dan ayahmu, hingga sekarang masih menginginkan keburukan bagi Rasulullah saww. kalian berjuang untuk memadamkan cahaya Allah…”  [10]

Di ceritakan bahwa Rasulullah  pergi keluar kota untuk suatu urusan. Pada waktu beliau sampai disuatu tempat, tiba-tiba beliau memerintahkan untuk segera pulang dengan air mata membasahi pipi beliau yang suci. Seseorang bertanya akan apa yang terjadi pada beliau, beliau SAW menjawab, ”Jibril baru saja datang kepadaku dan memberitahuku akan sebuah daerah di tepi sungai Furat yang dikenal dengan nama Karbala, di sanalah kelak putraku al Husain anak Fatimah akan dibantai. Mereka bertanya lagi lebih lanjut, ”Ya Rasulullah, siapakah gerangan sicelaka yang akan membunuhnya itu ? Beliau menjawab ”seorang yang bernama Yazid, seakan-akan aki kini tengah menyaksikan tempat pembantaian dan kuburnya. Sesampai di madinah beliau naik ke atas mimbar dan berpidato dengan menuntun kedua cucu beliau. Sambil meletakkan tangan kanan di kepala al Hasan dan tangan kiri di kepala al Husain, beliau bersabda, ”Ya Allah, Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu, kedua anak ini adalah keluargaku yang suci, sebaik-baik keturunanku dan pusaka yang kutinggalkan untuk umatku. Tapi Jibril datang kepadaku dan mengatakan bahwa anakku ini akan di bantai dan di hinakan. Ya Allah berkatilah darahnya dan jadikanlah ia penghulu syuhada, Ya Allah laknatilah orang yang membunuh dan menghinakanya, Ya Allah, hinakanlah orang yang telah menghinakannya, Bunuhlah mereka yang membunuhnya dan jangan Engkau kabulkan apa yang mereka inginkan  [11]

Dengan memperhatikan kedua hadis di atas bukankah ketetapan umum tentang ” Pasukan yang paling pertama menyerang Romawi diampuni.” dan ”Pasukan pertama dari ummatku yang perang di lautan maka wajib baginya (surga)” TIdak berlaku bagi Muawiyah, Yazid.

Al Qur’an yang di Hapus hadis

Kesan yang ditangkap dari postingan tersebut seolah para pembela muawiyah dan yazid ini mengabaikan fakta bahwa Al Qur’an   melaknat  Muawiyah, Yazid dan penguasa Umayyah yang zalim,  beberapa ulama ahlu sunnah  menjelaskan tafsirnya tentang pelaknatan tersebut :

1. Jalalludin al Suyuthi dalam  karyanya AL DURR al-MANTSUR  dan Fakkhrurrazi lewat karyanya al-TAFSIR al-KABIR : Meriwayatkan dari Ibnu Abbas, diceritakan  Rasulullah saww memimpikan Bani umayyah yang hendak menyerang mimbar Nabi saww dengan serangan kejam, bagaikan monyet  yang sedang  menyerang manusia. Hal itu cukuplah merisaukan Nabi saww hingga turunlah ayat “Dan kami tidak menjadikan mimpi yang telah kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia dan demikian pula POHON KAYU YANG TERKUTUK dalam Al-Qur’an. Dan kami menakut-nnakuti mereka tetapi yang demikian itu hanyalah menambah kedurhakaan mereka ” (QS. al-ISRAA’ (17): 60).  Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa POHON TERKUTUK/TERLAKNAT itu tidak lain adalah : ABU SYOFYAN; MUAWIYYAH; YAZID; MARWAN. kalangan ahli tafsir telah menyebut bahwa Pohon kayu  terkutuk itu adalah : Bani Umayah diantaranya  : al Thabari, al qurthubi,  al Naisaburi, al Suyuthi. al syaukani. al Alusi, Ibnu hatim, al Khatib Baghdadi, Ibnu mardawaih al hakim al Muqrizi  dan al Baihaqi (semuanya menukil dari Ibnu Abbas) [12]

2. Fakkhrurrazi lewat karyanya al-TAFSIR al-KABIR,  meriwayatkan dari Ibnu abbas bahwa Rasulullah Saww pernah menamai Bani Umayah yang bernama al hakam bin Abi al ‘Ash sebagai yang dilaknati.

Adalah sesuatu yang tidak dapat diterima jika Al Qur’an yang mulia, yang kemudian memvonis bani Ummyyah yang zalim (dimana didalamnya termasuk Muawiyyah dan Yazid)  sebagai al syajarah al mal’unah  sebagi akibat kedzalimannya dalam pembunuhan-pembunuhan terhadap keluarga Rasulullah, kemudian di pernyataan itu dihapus oleh Hadis. Kami menduga bahwa penulis menggunakan ra’yinya untuk memaksakan hipotesanya, hadis tersebut benar dan bisa jadi yang salah adalah penulisnya yang mencoba dengan bersusah payah membela Muawiyyah dan Yazid  yang menafsirkan dengan  mengambil makna umum hadis tersebut dengan mengabaikan sama sekali penjelasan Rasulullah saw di hadis lain, dan lebih parah lagi mengabaikan penjelasan Al Qur’an. Semoga saja tulisan ini dapat memberikan wacana untuk melihat Hadis secara lebih komprehensif bukan fakultatif apalagi parsialistik untuk mendukung rezim yang dilaknat Allah dan Rasulullah saw.

Wallahu alam bhi showab

[1] Asy syaikh Ahmad al Waly, Huwiyat at tasyayyu’ hal 43
[2] Ibnu jawi al jogjakartani telah menuliskan terjemahan surat Muawiyah dan yazid dalam artikel :
[3] Sejahrawan ahlu sunnah bernama Amir Ali  menuliskan dalam Sejarah Bangsa Arab, Bab X hlm 126-127,  pengutukan terhadap Imam Ali berlangsung kurang lebih setengah abad ! Perhatikan pula dalam khotbah anak Yazid yang menyebutkan dosa-dosa ayahnya Yazid dan Kakeknya tentang pengutukan pada ahlul ba’it di Ibnu hajar al Haythami,  Sawaiq al Muhariqah,  akhir Bab II hal 336.
[4] Lihat di Tarikh Thabari, jili 4 hlm 188 ,  Tarikh Ibn Katsir, jil 3 hlm 234 dan jil 4 hlm 154 , al Bidayah  wa al Nihayah, jil 8 hlm 259 dan jil 9 hlm 80
[5] Lihat di Ibnu Hajar, al Shawa’iq al Muhriqah, akhir Bab 10, Ibnu Abdu al Barr, al Isti’ab, Sabath Ibn al Jauzi, Tadzkiratu al Khawash, dalam judul sebab meninggalnya Hasan bin Ali, Ibnu Abil al hadid, Syarh Nahj al balaghag, juz XVI, Abu al faraj ashtahani al Mawarni, Maqatil ath Thalibiyin, Muruj adz Dzahab, al Mas’udi Juz 2 hal 478-479, usd al Ghabah, Ibn al Atsir juz II hal 14,  Tarikh Ya’qubi, Ya’qubi Juz II hal 225 (penulis sejahrawan awal wafat 284 H)   Wafayat, Ibn khallikan, juz II hal 66 ,  Kitab Akhbar, Dinawari hal 222, Tarikh, Ibn A’tsam, juz IV hal 206, 224.
[6] Surat perintah pembunuhan di dokumentasikan oleh : Al Khawarizmi, Maqtal al Husain hal 175; Maqtal abu Mikhnaf, baladzuri Ansab al Asyraf IV hal 122, ThabariTarikh ar rasul wa al Muluk Juz II hal 196 ; Dinawari Kitab al Akhbar at Tiwal, 226.  Surat Yazid ini terdokumentasikan dalam Kitab Baladzuri,  Ansab al Asyraf Juz IV hal 12, Ya’qubi, ath Tarikh Juz II hal 2414, Thabari, Tarikh ar rasul wa al Muluk Juz II hal 216, Bidayah Juz VIII hal 146.
[7]  Syarh Nahjul Balaghah, juz 9 hal 220
[8] al Hakim al naisaburi dalam al Mustadrak juz 4 hlm 487,  Ibnu hajjar dalam shawa’iq al Muhriqah , Sirrah al halabiyah, juz 1 hlm 337, al baladzuri, Ansab al Asyraf, juz 5 hlm 126,  al damiri, hayaru al hayawan, Juz 2 hlm 299
[9]  Nashr bin Mazahim, Waq’ah Shiffin, hal 217-220
[10]  Al mas’udi, Muruj adz Dzahab, juz 3 hlm 14-16
[11] Al malhuf fi Qathla al Thufuf, hal 35-36
[12]  bahwa ulama ahlu sunnah sendiri seperti  penulis Tafsir al Durr al mantsur 4:191. al sirah al Halabiyyah 1 :337, Tafsir Fath al Qadir 3:231, Tafsir al Alusi 15;107, Tafsir al Qurthubi 10:187. menjelaskan tentang al syajarah al mal’unah ini

Ibnu Jakfar Menanggapi  : Imam Ahmad ibn Hanbal: Yazid Adalah Hamba Terlaknat Dalam Al Qur’an!
Banyak anggapan keliru beredar bahwa ulama Ahlusunnah semuanya memuja Yazid dan membelanya dari semua kejahatan yang ia lakukan terhadap umat Islam secara umum dan Keluarga suci Nabi secara khususnya. Akan tetapi anggapan itu adalah salah, tidak sedikit ulama dan para imam Ahlusunnah yang tegas-tegas mengecam Yazid, bahkan melaknatinya. Hanya kaum nawâshib yang menyelinab di tengah-tengah kaum Sunni sajalah yang berterang-terangan membela Yazid. Di antara  ulama Sunni yang mengecam dan mengatakan bahwa Yazid adalah hamba terlaknat dalam Al Qur’an dan ia juga melaknati Yazid adalah Imam Ahmad seorang imam besar Ahlusunnah, yang namanya juga sering disebut-sebut oleh kaum Salafy baik yang Nawâshib maupun yang netral!

Di bawah ini akan kami sebutkan penukilan Imam Sibthu Ibn Jauzi yang mengutip sikap Imam Ahmad ibn Hanbal.

Ibnu Jauzi berkata:

Kami berkata, “pengingkarannya (Abdul Mughits)[1] atas orang yang mencela orang tercela dan melaknat orang yang terlaknat (Yazid maksudnya_pen) adalah sebuah kebodohan nyata. Para pembesar ulama di antaranya adalah Imam Ahmad ra. telah memperbolehkannya. Bahkan Imam Ahmad telah menyebut-nyebut tentang Yazid lebih dari sekedar laknatan.

Abu Bakar Muhammad ibn Abdul Bâqi al Bazzâr menyampaikan berita kepada kami dari Ishaq al Barmaki dari Abu Bakar Abdul Aziz ibn Ja’far dari Ahmad ibn Muhammad al Khallâl dari Muhammad ibn Ali dari Muhanna’ ibn Yahya ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Ahmad ibn Hanbal tentang Yazid ibn Mu’awiyah, maka ia berkata, “Dialah orang yang berbuat kejahatan terhadap (penduduk) kota suci Madinah.” Aku bertanya, ‘Apa yang dia lakukan?’ Ia menjawab, ‘Merampoknya.’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah kita boleh meriwayatkan hadis darinya? Ia menjawab, ‘Tidak! Tidak sepantasnya menukil hadis darinya! Tiada kemuliaan baginya! Dan tidak sepatutnya ada hadis yang ditulis darinya.’ Dan ketika ia ditanya, ‘Siapakah yang bersamanya (membantunya dalam kejahatan itu) ketika ia melakukannya?’ ia menjawab, ‘Penduduk kota Syam.’”

Qadhi Abu Ya’lâ; Muhammad ibn Husain al Farrâ’ menyebutkan dalam kitabnya berjudul al Mu’tamad tentang Ushul Fikih dari Abu Ja’far al ‘Ukbari dari Abu AIi; Husain ibn al Jundi dari Abu Thalib ibn Syihâb al ‘Ukbari, ia berkata, “Aku mendengar Abu Bakar; Muhammad ibn Abbâs berkata, “Aku mendengar Shalah ibn Ahmad ibn Hanbal berkata, “Aku berkata kepada ayahku, “Sesungguhnya ada sekelompok orang menuduh kita berwilayah (menciantai) Yazid! Maka beliau berkata, ‘Hai putraku, adakah seorang Mukmin yang beriman kepada Allah akan mencitai Yazid?! Maka aku berkata, “Mengapakah engkau tidak melaknatinya?” Ia menjawab, “Kapan engkau menyaksikanku melaknati seorang? Mengapakah tidak terlaknat seorang yang telah dilaknat Allah dalam Kitab suci-Nya?” Aku berkata, “Dalam ayat  manakah Allah melaknat Yazid?” Maka beliau membaca ayat:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَ تُقَطِّعُوا أَرْحامَكُمْ * أُولئِكَ الَّذينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَ أَعْمى‏ أَبْصارَهُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan * Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”

Adakah perusakan yang melebihi dari pembantaian?!

Qadhi Abul Hasan; Muhammad ibn Qadhi Abu Ya’la al Farrâ’ menulis sebuah buku menerangkan siapa saja yang berhak dilaknat/dikutuk. Di dalamnya ia menyebut Yazid sebagai yang layak dilaknat. Ia berkata, “Orang yang melarang melaknati Yazid itu adakalanya orang jahil (yang tidak mengerti) diperbolehkannya hal itu, atau orang munafik yang bermaksud mengelabui kaum awam yang jahil. Dan boleh jadi ia menipu mereka dengan sabda, “Seorang Mukmin itu tidak gemar melaknat.”

Qadhi Abul Hasan berkata, “Hadis itu dimaksudkan pelaknatan atas orang yang tidak berhak dilaknati.”

Semua itu saya nukil dari tulisan tangan Qadhi Abul Hasan dan karangannya.

[1] Seorang ulama bermazhab Hanbali yang mati-matian membela Yazid dan mengecam siapa yang menyalahkan Yazid apalagi mengecam dan melaknatinya. Ia menulis buku kecil mebela Yazid.. Abdul Mughits ini hidup sezaman dengan Sibthu Ibn Jauzi, dan dia pulalah yang memprofokasi kaum awam agar bertindak kasar terhadap Sibthu Ibnu Jauzi. Ibnu Jauzi telah menulis buku bantahan atas buku Abdul Mughits berjuduh ar Radd ‘Ala al Muta’shshib al ‘Anîd al Mâni’ Min La’ni (Dzammi) Yazid (Bantahan ataas si fanatik lagi Penentang Yang Melarang Melaknati (Mencaci) Yazid. Buku Sibthu Ibn Jauzi telah diterbitkan oleh Dâr al Kotob al Ilmiyah. Bairut – Lebanon. Dalam buku itu Sibthu Ibn Jauzi membeberkan semua data kejahatan Yazid dan fatwa Ulama (di antaranya Imam Ahmad ibn Hanbal, imamnya kaum Hanbaliyah termasuk Abdul Mughits sendriri) yang mengecam habis Yazid dan dibolehkannya untuk dilaknat serta dikutuk!

Tanggapan Second Prince :  Hadis Muawiyah Mati Tidak Dalam Agama Islam?

Terdapat hadis yang mungkin akan mengejutkan sebagian orang terutama akan mengejutkan para nashibi pecinta berat Muawiyah yaitu hadis yang menyatakan kalau Muawiyah mati tidak dalam agama Islam. Kami akan mencoba memaparkan hadis ini dan sebelumnya kami ingatkan kami tidak peduli apapun perkataan [baca: cacian] orang yang telah membaca tulisan ini. Apa yang kami tulis adalah hadis yang tertulis dalam kitab. Jadi kami tidak mengada-ada.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru bin Ash dari Rasulullah SAW sebagaimana yang tertulis dalam kitab Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/120-121.
عن عبد الله بن عمرو قال كنت جالساً عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال يطلع عليكم من هذا الفج رجل يموت يوم يموت على غير ملتي، قال وكنت تركت أبي يلبس ثيابه فخشيت أن يطلع، فطلع معاوية

Dari Abdullah bin Amru yang berkata aku duduk bersama Nabi SAW kemudian Beliau bersabda ”akan datang dari jalan besar ini seorang laki-laki yang mati pada hari kematiannya tidak berada dalam agamaKu”. Aku berkata “Ketika itu, aku telah meninggalkan ayahku yang sedang mengenakan pakaian, aku khawatir kalau ia akan datang dari jalan tersebut, kemudian datanglah Muawiyah dari jalan tersebut”.

Hadis ini diriwayatkan oleh Baladzuri dalam Ansab Al Asyraf dengan dua jalan sanad yaitu
حدثني عبد الله بن صالح حدثني يحيى بن آدم عن شريك عن ليث عن طاووس عن عبد الله بن عمرو

Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Shalih yang berkata telah menceritakan kepadaku Yahya bin Adam dari Syarik dari Laits dari Thawus dari Abdullah bin Amru [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/121]
حدثني إسحاق وبكر بن الهيثم قالا حدثنا عبد الرزاق بن همام انبأنا معمر عن ابن طاوس عن أبيه عن عبد الله بن عمرو بن العاص

Telah menceritakan kepadaku Ishaq dan Bakr bin Al Haitsam yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq bin Hamam yang berkata telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Abdullah bin Amru bin Ash [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/120]

Sanad pertama semuanya adalah perawi Muslim oleh karena itu Syaikh Al Ghumari menyatakan hadis tersebut shahih dengan syarat Muslim. Tetapi walaupun semuanya perawi Muslim terdapat cacat pada sanadnya yaitu Abdullah bin Shalih dan Laits. Mereka berdua walaupun seorang yang shaduq telah diperbincangkan oleh para ulama mengenai hafalannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam At Taqrib 1/501 kalau Abdullah bin Shalih jujur tetapi banyak melakukan kesalahan dan At Taqrib 2/48 kalau Laits bin Abi Sulaim jujur tetapi mengalami ikhtilath. Jadi sanad pertama itu dhaif

Sanad kedua telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat yaitu Ishaq, Abddurrazaq, Ma’mar, Ibnu Thawus dan Thawus. Hanya satu orang yang tidak diketahui kredibilitasnya yaitu Bakr bin Al Haitsam tetapi ini tidak menjadi masalah karena ia meriwayatkan hadis ini bersama dengan Ishaq bin Abi Israil seorang yang tsiqat dan ma’mun.

* Ishaq adalah Ishaq bin Abi Israil termasuk gurunya Al Baladzuri, ia perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Dawud dan Nasa’i. Biografinya disebutkan dalam At Tahdzib juz 1 no 415, dimana Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Daruquthni, Al Baghawi, Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hibban. Dalam At Taqrib 1/79 Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 338 kalau Ishaq bin Abi Israil seorang yang tsiqat ma’mun.
* Abdurrazaq bin Hammam adalah perawi kutubus sittah dimana Bukhari dan Muslim telah berhujjah dengan hadisnya. Ia seorang hafiz yang dikenal tsiqat sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/599.
* Ma’mar adalah Ma’mar bin Rasyd perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 10 no 441 menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Al Ajli, Yaqub bin Syaibah, Ibnu Hibban dan An Nasa’i. Dalam At Taqrib 2/202 ia dinyatakan tsiqat tsabit.
* Abdullah bin Thawus adalah putra Thawus bin Kisan, ia seorang perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Biografinya disebutkan dalam At Tahdzib juz 5 no 459 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Hibban dan Daruquthni. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/503 menyatakan Ibnu Thawus tsiqat.
* Thawus bin Kisan Al Yamani adalah seorang tabiin yang tsiqat. Ia termasuk perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/449 menyatakan kalau Thawus tsiqat.

Jadi dapat disimpulkan kalau sanad kedua itu diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat sehingga sanadnya shahih. Dengan melihat kedua sanad hadis tersebut maka kedudukan hadis tersebut sudah jelas shahih. Sanad pertama berstatus dhaif tetapi dikuatkan oleh sanad kedua yang merupakan sanad yang shahih. Sekedar informasi hadis ini telah dishahihkan oleh Syaikh Al Ghumari, Syaikh Hasan As Saqqaf, Syaikh Muhammad bin Aqil Al Alawy dan Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliki.

Sudah jelas para Nashibi tidak akan rela dengan hadis ini dan mereka memang akan selalu mencari-cari cara atau dalih untuk melemahkan hadis tersebut. Terus terang kami tertarik melihat dalih-dalih nashibi untuk mencacatkan hadis ini. Kita tunggu saja.

Iklan

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: