SYIAH DALANG TERBUNUHNYA IMAM HUSAIN as ?

Bismillahirahmanirahim
Allahuma sholi ala Muhammad wa ala ali Muhammad

Putra Paripurna menuliskan :
Tapi, jika saja mereka mau menapaktilasi sejarah, maka tentu mereka akan sadar bahwa sebenarnya, secara tidak langsung orang-orang Syiah terlibat dalam peristiwa pembunuhan Al Husain . Orang-orang Syiah di Kufah Iraq yang tidak mau tunduk kepada pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah rutin mengirim surat kepada Al Husain . Mereka mengajaknya untuk menentang Yazid. Mereka mengirim utusan demi utusan yang membawa ratusan surat dari orang-orang yang mengaku sebagai pendukung dan pembela Ahlul Bait.  Isi surat mereka hampir sama, yaitu menyampaikan bahwa mereka tidak bergabung bersama pimpinan mereka, Nu’man bin Basyir. Mereka juga tidak mau shalat Jumat bersamanya. Dan meminta Al Husain untuk datang kepada mereka, kemudian mengusir gubernur mereka, lalu berangkat bersama-sama menuju negeri Syam menemui Yazid. Namun, ketika Al Husain datang memenuhi panggilan mereka, dan ketika pasukan ‘Ubaidillah bin Ziyad membantai Al Husain dan 17 orang Ahlul Bait di suatu daerah yang disebut Karbala, tak seorang pun dari orang-orang Syiah itu yang membela beliau. Kemana perginya para pengirim ratusan surat itu? Mana 12.000 orang yang katanya akan berbaiat rela mati bersama Al Husain ?
Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin Uqail, utusan Al Husain yang beliau utus dari Makkah ke Kufah. Tidak pula berperang membantu Al Husain melawan pasukan Ibnu Ziyad. Maka tak heran jika sekarang orang-orang Syiah meratap dan menyiksa diri mereka setiap 10 Muharram, sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampun atas dosa-dosa para pendahulu mereka terhadap Al Husain .

Ibnu Jawi al Jogjakartani menjawab :

Sepintas lalu  statemen  diatas adalah tampak kokoh dan benar  bahwa ” orang syiah yang mengundang Imam Husain as dan membiarkan Imam Husain as bertempur sendiri hingga syahid dipadang Karbala”. Pernyataan tersebut pada dasarnya mengandung fallacy,  yang sengaja diplintir maksudnya dengan  tujuan mengaburkan fakta sebenarnya. Retorika diatas bukanlah hal baru, pada masa perang shifin antara Imam Ali bin Abi Thalib  dengan Muawiyah bin Abu Sofyan terjadi pula retorika seperti diatas. Seperti di ceritakan dalam sejarah disaat Amar bin Yasir gugur di tangan tentara Muawiyyah, terjadilah kekacauan di barisan prajurit Muawiyah lantaran mereka teringat hadis Rasulullah  yang menyatakan kurang lebih,” bahwa kelak akan terjadi pertempuran antara dua kelompok, dan Ammar akan terbunuh,  dan pembunuh Ammar adalah  kelompok  yang sesat”  mereka segera tersentak bahwa barisan merekalah yang telah membunuh Ammar, dan Muawiyyah bin Abu Sofyan dengan segala kelicikanya segera membangun retorika dan berkotbah ” Bahwa yang bertanggungjawab atas terbunuhnya Ammar adalah Ali bin Abi Thalib, karena Ali lah yang membawa Ammar dalam pertempuran Siffin, seandaianya Ali tidak mengikut sertakan Ammar niscaya  Ammar tidak akan terbunuh ”. Muawiyah adalah representasi politikus yang cerdik culas dan licik, sepintas pernyataan itu benar, dan sejarah membuktikan bagaimana Imam Ali mematahkan argumentasi Muawiyyah tersebut, kami cukupkan saja sampai disini untuk mengetahui bagaimana Imam Ali meruntuhkan argumen-argumen Muawiyah silahkan membaca di kitab sejarah atau Nahjul Balaghah.

Kesalahan fatal dari pernyataan ” bahwa para penulis surat kepada Imam Husain adalah syi’ah ” merupakan realitas yang tidak berdasar pada pijakan fakta sejarahg yang ada,  statemen tersebut hanya merupakan retorika jaring laba-laba sebagaimana retorika yang dibangun muawiyah. Kesalahanya adalah sebagai berikut :

Tidak memperhatikan Struktur masyarakat Kufah

Para penuduh menganggap bahwa para pengundang Imam Husain melalui surat tersebut adalah syi’ah. Pernyataan ini ditolak oleh S.H.M Jafri  yang menyatakan ” Orang-orang yang mengundang Husain ke kufah, dan 18.000 orang yang berbaiat kepadanya melalui utusanya, muslim bin Aqil tidaklah  semuanya  syi’i dalam arti keagamaan, melainkan ada juga  yang mengundang dengan alasan politik  untuk menumbangkan dominasi orang syiria ”   [1]

Fakta sejarah menyebutkan bahwa struktur masyarakat Kuffah tidaklah homegen syi’ah melainkan terpolarisasi pada kecendrungan politik dan afiliasi politik yang heterogen.  Baladzuri  menuliskan dalam kitabnya, bahwa pada masa sa’ad ibnu abi waqqas menjabat sebagai gubernur kufah ia menghadapi masalah heterogenitas masyarakat kufah. Untuk mengatasi perseoalan tersebut Sa’ad menyususn struktur masyarakat kufah  berdasarkan pengelompokan Nizari (suku Arab Utara) dan Yamani (suku Arab selatan), untuk menentukan lokasi tinggal diadakan udnian dengan cara adat orang Arab yakni dengan menggunakan anak panah. Hasilnya, Nizari tinggal di kawasan Barat dan Yamani dikawasan Timur” [2]
Tetapi sistem pengelompokan tersebut terbukti tidak efektif dan tidak berlangsung lama lantaran terjadi  permasalahan serius.  beragamnya klan dalam suku Nizari dan klan dalam suku yamani sering mengalami gesekan yang pada giliranya mengalami  masalah dalam distrubusi gaji yang merupakan sumber utama penduduk kufah.  Lalu sa’ad mengorganisasi kelompok masyarakat kufah berdasarkan prinsip pra islam yang berbasis pada ’addala, ta’dil dengan mengorganisir berdasarkan nassab, yakni bentuk organisasi kesukuan Arab yang diikat dalam persekeutuan politik. Populasi masyarakat kufah  terbagi dalam tujuh kelompok (disebut asba’) yang terdiri dari :
1. Kinana  dan ahabisy , Qays’ Ailan (kelompok ini adalah kelompok pretise dan istimewa (ahl al ’aliyah) dalam struktur masyarakat kufah)
2. Quda’ah, Ghassan, Bajilah, Kats’am, Kinda, Hadzramaut dan Azd digabung dalam kelompok Yamani.
3. Madzhik, Humyar, Hamdan,  dalam satu grup
4. Grup Mudhar, yang di isi dari Tamim, Rihab, Hawzin
5. G Asad Ghatfan, Muharib, Nimr, Dubay’ah dan Tghlib dalam satu grup
6. Iyad, ’Akk, ’Abd al Qays, Ahl al Hajar dan Hamra
7. Sub’  [3]
Tetapi dengan sistem  tersebut yang dibangun dari prinsip kesatuan suku (muqatilah) pra islam  dalam jangka waktu lama telah membawa persoalan tersendiri,  hal ini terbukti setelah  sembilan belas tahun berikutnya , Dalam kurun waktu tersebut terjadi perubahan drastis dalam klan-klan tertentu, sebagian dari klan tersebut telah mendapatkan kedudukan yang terlampau dominan dengan peruntungan finansial yang berlebihan melebihi klan-klan lain.  Pada masa Imam Ali  sistem pengorganisasian penduduk yang berbasis muqatilah  dirubah menjadi  sistem yang lebih egaliter dan adil, Imama Ali membagi tetap dalam tujuh kelompok  yaitu :

1. Hamdan dan Himyar (orang yaman)
2. Madzhij, Asy’ar dan Thayy (orang yaman)
3. Kinda, Hadramaut, Qudha’ah dan Mahar (orang Yaman)
4. seluruh  cabang Nizari dari qays, ’Abs Dzubyah dan ’Abd al Qays Bahrain.
5. Bakr, taghlib dan seluruh cabang rabi’ah (Nizar)
7. Qurasy, Kinana, SAD, TAMIM, Dhabbah, Ribaba (Orang Nizar) [4]

Jika dibandingkan sistem  yang dipakai Sa’ad ib Abi waqash terdapat kelompok yang semula dimarginalkan oleh  Sa’ad kemudian di angkat oleh Imam Ali  yakni Asy’ar, Mahar dan Dabbah. Jika pendistribusian gaji sebelum Imam Ali berkuasa didasarkan hanya pada  keterdahuluan masuk Islam dan siapa yang lebih dahulu datang ke kufah maka Imam Ali merubah dengan berdasarkan prinsip bukan hanya keterdahuluan masuk Islam melainkan menambah prasyarat teguh pada nilai-nilai dan standar Islam [5].
Prinsip-prinsip  keadilan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah kepada Imam Ali ini ditegakkan oleh beliau, namun  mereka (asyraf al qaba’il) yang mendapatkan keberuntungan secara finansial selama 19 tahun  sebelum kebijakan Imam  Ali tiba-tiba harus berbagi dengan yang lain, akibatnya kelompok asyraf al qaba’il dari klan-klan yuang mendapatkan keberuntungan tersebut menaruh kebencian atas kebijakan Imam Ali,  sikap tidak suka tersebut didasarkan  pada pertama kebijakan egaliter Imam Ali  dalam distribusi gaji yang menghapus perbedaan antara pendatang awal dan pendatang baru  dan bukan hanya masuknya Islam terlebih dahulu tetapi juga pada keteguhan terhadap Islam [6]  kedua Imam Ali menerapkan persamaan dalam pendapatan bagi Arab dan Non Arab [7].

Dengan memperhatikan struktur masyarakat dan faktor-faktor yang melatari pembentukan struktur masyarakat kufah tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam masyarakat kufah bukanlah masyarakat yang monolisti homogen syi’ah , mereka terbagi dalam kecendrungan kelompok dan sikap, dan dalam kleompok pun terbagi lagi dalam sikap-sikap yang berbeda. Secara umum  S.H.M Jafri membagi kelompok masyarakat kufah menjadi  :
1.    Kelompok Pengikut setia terhadap keluarga Muhammad (pen-Ahlul Bait) baik pendatang lama maupun pendatang baru dalam masyarakat kufah dari berbagai klan dan suku.
2.    Kelompok yang terdiri dari pemimpin klan dan kabilah yang kepentinganya tergantung pada kepentingan kedudukan politis dan monopoli ekonomi dan mereka memiliki pengikut yang tergantung pula pada pemimpin klan dan kabilahnya.
3.    Kelompok masa kufah yang  yang terdiri dari kebanyakan Yamani dan mawali. Kelompok ini bukanlah kelompok yang comited terhadap ahlul bait (Ali, Hasan dan Husain pen) tetapi bukan pula kelompok yang antusias kepada musuh-musuh Ahlul Ba’it. Mereka akan mengerumuni Ahlul Bait jika ada kepentingan praktis yang menguntungkan mereka, dan  segera meninggalkan ahlul bait jika ancaman menghadapi mereka. Ketika dominasi syiria atas kufah dipahami oleh kelompok ini dapat di eliminer dengan melibatkan Imam Husain mereka menulis surat pada Imam Husain tetapi setelah kondisi  dan situasi berubah   maka berubahlah sikap kelompok ini [8]

Kesimpulnya adalah, bahwa fakta sejarah membuktikan bahwa pengirim surat kepada Imam Husain tersebut bukanlah di dominasi oleh Kelompok pertama,  melainkan juga dilakukan oleh kelompok ke tiga, yang secara perwatakan tidak memiliki ketetapan hati melainkan tergantung situasi dan kondisi menguntungkan atau tidak bagi dirinya. Pertanyaanya, lalu dimana kelompok pertama  di saat Imama Husai di kepung di Karbala ? ahli sejarah menuliskan sebagai berikut :

Upaya pembelaan muslim syiah terhadap Imam Husain.

Para penulis sejarah dari kalangan ahlu sunnah banyak menuliskan usaha kaum syiah  kufah ( seperti disebutkan di atas dari kelompok pertama – pengikut setia)  yang berusaha bergabung dalam rombongan Imam Husain as.  Thabhari menceritakan secara detail bagaimana pengikut sejati Imam Husain (muslim syiah )  yang berusaha meloloskan diri dari blokade ketat  tentara Yazid atas kufah agar dapat menuju karbala.
Thobari menceritakan bahwa seluruh akses  yang akan dimanfaatkan untuk menuju karbala  di blokade, sehingga mengurung pendukung Imama Husain untuk bergabung di Karbala dan hanya sedikit yang dapat lolos dari blokade [9].  Menurut catatan Thobari  dan A l Azraqi Tatkala Imam Husain meninggalkan Makkah, hanya ada 50 orang bersamanya (18 orang keluarga Abi Thalib beserta kerabat dan 32 adalah non keluarga)  dan yang terbunuh di karbala berjumlah 92 orang dan yang kepalanya di arak dan dipersembahkan kepada Ibnu Ziyad berjumlah 18 dari keluarga Rasulullah serta 54 orang dari pengikutnya di identifikasi dari suku klan, suku Hawazhin, Tamim, Asad, Madzhij, tsaqif, Azd dan 7 kepala tanpa identitas klan dan sisanya sekitar 20 klan terbunuh tanpa diketahui afilisai klan. Dari catatan sejahrawan tersebut para syi’ah sejati yang mampu meloloskan diri dan bergabung dikarbala hanya 42 orang, hal ini membuktikan betapa hebatnya pengepungan tentara Yazid untuk meblokade para pendukung Imam Husain [10]. Para pendukung Imam Husain (syiah) ini belakangan baru dapat memobilisasi dan mencoba menyadarkan masyarakat kufah dalam Gerakakan Tawwabun.

Memperhatikan Pidato  Imam Husain as

Adalah bijaksana untuk memperhatikan redaksi pidato imam Husain, bahwa beliau sama sekali tidak pernah menyebut bahwa yang berkirim surat kepada dirinya adalah kaum syi’ah  melainkan kaum kufah, sehingga ini harus dipahami sebagai beragamnya latar belakang para pengirim surat tersebut, perhatikan Pdato imam Husain :
WAHAI KAUM KUFAH,  kalian mengirimkan kepadaku delegasi kalian dan menyurati aku… [11]  jika belakangan dituduhkan bahwa Syi’ah turut  membunuh tentunya Imam Husain akan berbidato dengan menyebut WAHAI SYI’AHKU… dan kami persilahkan untuk mencermati pidato pidato lain Imam Husain sengaja kami tidak postingkan secara utuh agar para penuduh dapat lebih mencermati dalam sumber-sumber sejarah.

Khatimah
Bahwa tuduhan syiah bertanggungjawab terhadap pembunuhan tidak langsung  adalah fakta yang hanya bersifat fitnah dan tuduhan dan hal itu sudah di bantah dengan sendirinya dalam sumber-sumber kesejarahan. Fakta lain yang tidak di tulis dalam tulisan ini adalah bahwa niatan  untuk membunuh Imam Husain adalah sudah direncanakan sendiri oleh Muawiyyah bin Abu sofyan, hal ini dapat dilihat pada dokumentasi surat wasiat Muawiyah yang diberikan kepada Yazid., pada kesmepatan lain Insya Allah kami akan membahasnya.

Wallahu alam bhi showab.

[1] S.H.M. Jafri, Origin and Early Development of shi’a Islam,  h. 270-271.
[2] Baladzuri, Ansyab al ayraf ,  h 435 termuat juga di Nmu’jam al Buldan, juz V hal 323.
[3] Untuk melihat komposisi struktur masyarakat kufah dan sikap politik mereka terhadap Imam Husain terkait surat-surat yang dikirim silahkan mempelajari
masing-masing group ini dalam Thabari,Tarikh Ar Rasul wa al Muluk, Jilid I dan Kahhala, Mu’jam Qaba’il al arab
[4] Lihat di Khalif Hayat asy syi’r fi’l kufah hal 29.
[5] lihat pidato beliau di Khutbah Nahjul Balaghah No 21,23,24,42 dan lihat pula kebijakan fiskal Imam Ali di Thabari Tarikh Ar Rasul wa al Muluk  jilid I hal 3227
[6] ibid khotbah nahjul balaghah
[7] lihat pula kebijakan fiskal Imam Ali di Thabari Tarikh Ar Rasul wa al Muluk  jilid I hal. 3227
[8] S.H.M. Jafri, Origin and Early Development of shi’a Islam,  h. 180-181.
[9] lihat Thabari Tarikh Ar Rasul wa al Muluk, Jilid II hal 236, 303 dan 335.
[10] ibid , hal 386, lihat pula di Ibshar al ’ain fi ahwal al anshar al Husain hal 47 dan akhbar Makkah hal. 259
[11] Ibid jilid II hal 298 lihat di Dinawari hal 249 dan Bidayah VIII hal 172.

Iklan

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: