MELUKAI DIRI DALAM SYIAH ANTARA TRADISI DAN AJARAN

Bismillahirahmanirahim
Allahuma sholi ala Muhammad wa ala ali Muhammad

Putra Paripurna menuliskan :
”Mereka memperingatinya dengan meratap, melukai kepala dan badan mereka dengan senjata tajam. Bahkan balita yang masih dalam gendongan ibunya sekalipun, harus meneteskan darah demi “menyemarakkan” hari Karbala. Seperti itulah orang-orang Syiah mengekspresikan kecintaan mereka kepada Al Husain ,salah seorang Ahlu Bait Rasulullah ”
Bahwa pada dasarnya mereka telah mencampuradukan antara tradisi budaya dengan ajaran dalam syiah itu sendiri, padahal tradisi dan budaya bukan dengan sendirinya melekat pada ajaran, sebagaimana dalam lingkungan masyarakat sunni sendiri yang pada dasarnya banyak ditemukan  tradisi budaya yang tidak melekat pada ajaran sunni sendiri, berikut adalah tanggapan terhadap tuduhan tersebut yang ditulis oleh Ibnu Jawi al Jogjakartani (pengelola group syiahindonesia) :

Ibnu jawi el jogjani menanggapi

Terhadap persoalan ini,  pada dasarnya anda mengalami kekeliruan  berfikir sebagaimana oleh Ibnu Sinna disebut sebagai  (fallacy) yakni kesalahan berfikir komposisi. Akhi Putra Paripurna yang baik, saya sarankan antum membaca kitab-kitab fiqh Ahl Bait  (tentunya bukan kitab yang dipalsukan oleh para nawashib ) niscaya anda akan temukan bahwa tradisi melukai bukan merupakan ajaran syiah, dia merupakan tradisi  yang oleh ulama Syiah di katagorikan bid’ah,  atau jika antum agak berat membaca buku fiqih syiah, bisa anda membaca buku ringan yang berjudul ”PELANGI DI PERSIA” sebuah bacaan ringan, disana anda akan temuka bagaimana para ulama syiah  memerangi tradisi melukai diri tersebut.
Kalau antum menyebut hadis “Bukan termasuk golongan kami orang yang memukuli pipi, merobek-robek saku dan berseru dengan seruan-seruan jahiliyah (pada waktu berduka).” (HR. Bukhari dan Muslim). Seharusnya antum cermat bahwa tradisi tersebut berurat akar pada tradisi pra Islam yang bisa jadi masih dilakukan oleh sebagian orang yang tingkat pemahaman keagamaanya masih rendah, bandingkan dengan prilaku para ulamanya, apakah mereka juga melakuakn tradisi melukai diri tersebut ?
Berbicara tradisi bukankah di  masyarakat Indonesia (yang notabene mengklaim diri sebagai ahlu sunnah) banyak juga tradisi-tradisi yang itu juga di lakukan, misalnya :
1.    Upacara Maesalawung, sebuah pemujaan dengan memepersembahkan kepala kerbau yang dilakukan satu tahun satu kali, upacara ini dimaksudkan untuk meminta kekuatan kepada makhluk halus supaya rakyat mendapatkan keselamatan dalam segala hal serta ketentraman hidup. Menurut Kitab Pustaka raja, Kitab  Witaradya dan kitab Pangenget-enget, upacara ini dimasa majapahit disebut dengan Rajaweda dan  dimasa kerajaan demak  dipertahankan atas advis  wali songo  (yang suni itu) setelah berembug dengan Sultan Syah Alam Akbar dan Patih Mangkurat tradisi ini diteruskan lantaran Demak Bintoro sering dilanda pageblug (bencana) akhirnya Upacara maesalawung ini  diteruskan sama seperti yang dilakukan pada masa majapahit dan pada masa itu yang memipin Upacara adalah sunan Kalijogo dan yang membaca do’a adalah sunan Bonang, Dan tradisi ini sampai hari ini tetap diperingati.  Jika demikian  bukankah  kerajaan Islam Demak dan Para Wali itu sebagai  menyekutukan Allah  ? [1] karena mempetahankan tradisi yang memuja dan meminta bantuan lelembut ? tentu tidak bukan, perlu kajian yang mendalam, terhadapo hal tersebut, sama seperti dengan tradisi melukai diri apakah itu bagian ajaran ataukah hanya sekedar tradisi.

2.    Upacara  Jaqowiyu [2] sebuah tradis yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada tanggal 15 Safar, Upacara ini di selenggarakan di Masjid Besar (di kota antara Solo dan Jogja) usai sholat Jum’at,  upacara ini adalah upacara  melempar-lemparkan kue apem seusai sholat jum’at di area halaman masjid dan  apem tersebut diperebutkan.  Halaman masjid tempat perebutan apem tersebut dinamakan dengan Ara-Ara Tarwiyah  yang dibuat serupa dengan Padang ’Arafah disitulah upacara Jaqawiyu berlangsung . Tradisi tersebut diawali atas perintah Ki Ageng Gribih murid dari sunan Kalijaga (yang sunni juga) bukankah ini adalah tradisi juga, bisa saja kalangan syiah menuduh ahlu sunnah jawa bahwa Islam sunni di jawa tengah memiliki tempat suci sebagi tandingan tempat suci Mekkah dan mereka mengadakan ibadah jaqowiyu di bulan safar. Tentu saja kami tidak menuduh semacam itu, karena hal itu tradisi bukan ajaran.

3.    Tradisi ”mubeng beteng” yang dilaksanakan pada malam pergantian tahun hijriah, disitu mereka melaksanakan ritual seperti tawaf dengan mengitari area kraton (solo dan jogja) layaknya tawaf di Mekkah, situ dilafalkan wirid-wirid menyebut kebesaran nama Allah,  nah  bukankah kami orang syiah bisa saja menuduh  orang jawa itu tidak rela masuk Islam sebagai buktinya lihat mereka menyamakan keraton dengan Ka’bah”, bahkan mereka metradisikan mengitarinya seperti layaknya tawaf. Tentu tuduhan itu terlampau gegabah. Barangkali anda sudah melihat video propaganda yang dibuat kelompok nawashib wahabi tentang perilaku itu, saya beri tantangan pada antum coba tunjukan video yang disitu ulama syiah semacam Imam khomaini, Sayed Ali Khamenei tengah melakukan tindakan penyiksaan diri di hari asyura, coba postingkan.

Jadi tradisi tidak bisa dikatagorikan sebagai ajaran bukan ? komposisi budaya tidak serta merta melekat pada ajaranya begitu akhi.

[1] Lebih jauh untuk mengetahui upacara maesalawung ini silahkan merujuk ke Kitab Pustaka raja, Kitab  Witaradya dan kitab Pangenget-Enget.
[2] Lebih lanjut tentang Upacara jaqowiyu dapat dibaca di buku tulisan Gatut Murniatmo, Khazanah Budaya lokal  h 66.  dibuku ini dapat ditemui upacara-upacara yang dikatagorikan  Upacara Islam.

Emi Nur Hayati Ma’sum Said mengutipkan salah satu fatwa Sayyed ali khamenei :

Pertanyaan: Apakah boleh dalam acara aza’ Imam Husein as. melakukan kebiasaan yang sudah ada seperti melubangi daging badan dan memberatinya dengan benda berat?
Jawab: Perilaku semacam ini yang melemahkan mazhab dan tidak diperbolehkan.

Pertanyaan: Apa hukumnya perilaku seseorang yang datang ke tempat ziarah para Imam maksum as. dengan menjatuhkan dirinya ke tanah sebagaimana sebagian masyarakat di mana mereka menjatuhkan dirinya sehingga darah keluar dari wajah dan tangannya kemudian mereka memasuki haram dalam keadaan demikian?
Jawab: Perilaku semacam ini tidak terhitung sebagai penyataan rasa duka dan tradisi aza’ dan tidak juga terhitung sebagai kecintaan terhadap para Imam maksum as. Bukan ajaran syariat bahkan jika sampai membahayakan badan dan melemahkan mazhab maka tidak diperbolehkan.

Pertanyaan: Apakah para wanita boleh bergabung dalam pawai aza’ (memukul dada dan menggunakan rantai) dengan menjaga hijab dan memakai pakaian khusus yang menutupi badannya?
Jawab: Bergabungnya para wanita dalam pawai aza’ (memukul dada dan menggunakan rantai) tidak diperbolehkan.

Pertanyaan: Jika dalam aza’ menggunakan benda tajam dan menyebabkan kematian seseorang, apakah hal ini termasuk bunuh diri?
Jawab: Jika kebiasaan semacam ini tidak menyebabkan kematian maka bukan termasuk bunuh diri akan tetapi jika dari semula ada rasa takut akan bahaya kematian dirinya dan pada saat yang sama ia tetap melakukan hal itu dan kemudian menyebabkan kematian dirinya, maka hukumnya adalah bunuh diri.

Pertanyaan: Pada hari asyura’ diadakan acara-acara seperti memukul diri dengan benda tajam dan melewati api dan arang dengan kaki telanjang, hal ini selain menyebabkan jeleknya nama mazhab Syiah Imamiyah di mata para ulama dan pengikut mazhab-mazhab lain juga menyebabkan bahaya terhadap para pelakunya baik jasmani maupun rohani begitu juga menyebabkan fitnah terhadap mazhab. Bagaimana pendapat Anda dalam hal ini?
Jawab: Setiap perilaku yang membahayakan manusia atau melemahkan agama dan mazhab hukumnya haram. Orang-orang mukmin harus menjauhinya dan jelas bahwa kebanyakan masalah-masalah ini menyebabkan jeleknya nama dan melemahkan mazhab Ahlul Bait as. dan ini adalah bahaya dan kerugian yang paling besar.

Pertanyaan: Apakah memukul diri dengan benda tajam secara sembunyi-sembunyi hukumnya halal atau fatwa Anda memiliki keumuman?
Jawab: Memukul diri dengan benda tajam secara urfi (pemahaman masyarakat secara umum) selain tidak terhitung sebagai pernyataan rasa duka juga tidak ada pada masa para Imam maksum as. dan masa setelah mereka dan tidak ada persetujuan dari mereka baik secara khusus maupun umum. Pada masa ini perbuatan seperti ini juga menyebabkan lemah dan jeleknya nama mazhab, oleh karena itu dalam kondisi bagaimanapun tidak diperbolehkan.

Pertanyaan: Apa tolok ukur bahaya secara syar’i baik jasmani maupun rohani?
Jawab: Tolok ukurnya adalah jika urf (pemahaman masyarakat umum) menganggapnya secara serius berbahaya.

Iklan

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: