RASULULLAH MERATAPI HUSAIN as

Putra Paripurna menuliskan :
Terbunuhnya Al Husain tidaklah lebih besar dari dibunuhnya nabi-nabi. Kepala Nabi Yahya telah dipersembahkan kepada seorang pelacur. Nabi Zakaria pun dibunuh. Nabi Musa dan Nabi Isa—’alaihimas salam, umat mereka ingin membunuh mereka berdua. Dan beberapa orang nabi lainnya juga telah dibunuh.
Demikian pula Umar, Utsman, dan Ali terbunuh. Dan mereka jelas lebih utama dari Al Husain . Sehingga jika meratapi kematian Al Husain adalah sebuah kebaikan, tentulah terbunuhnya mereka lebih pantas untuk diratapi. Tapi apa kata Rasulullah ? “Dua perkara yang menyerupai (perbuatan orang-orang yang) kufur di tengah manusia, yaitu: Mencela keturunan dan meratapi mayat.” (HR. Muslim). “Bukan termasuk golongan kami orang yang memukuli pipi, merobek-robek saku dan berseru dengan seruan-seruan jahiliyah (pada waktu berduka).” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan masih banyak hadits Rasulullah yang menyebutkan ancaman bagi para peratap. Mestinya, seorang Muslim jika tertimpa musibah mengucapkan apa yang Allah perintahkan dalam firman-Nya, artinya,
“Yaitu orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka berkata, innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un.” (QS. Al Baqarah: 156). Bukan seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang Syiah pada hari ‘Asyuro.

Ibnu Jawi al Jogjakartani menanggapi :

Kami meluruskan terlebih dahulu bahwa syiah tidak meratapi dalam pengertian sebagaimana yang tercantum dalam  riwayat Bukhari dan Muslim “Bukan termasuk golongan kami orang yang memukuli pipi, merobek-robek saku dan berseru dengan seruan-seruan jahiliyah (pada waktu berduka).”  Muslim syiah meratapi sebagaimana Rasulullah memberikan contoh meratap.  Sebelum kami memberikan penjelasan lebih mendalam kami perlu menjelaskan apa difinisi meratap. Kamus Besar Bahasa Indoneis mendifinisikan meratap sebagai menangis dan kadang disertai dengan mengucapkan kata sedih atau menangis disertai ucapan yang menyedihkan jadi meratap bukan tindakan berlebihan seperti memukul, merobek dan lain-lain. Di berbagai kesempatan Rasulullah diceritakan meratap (baca menangis), diantaranya ketika beliau SAW menziarahi makam ibunda beliau saw Aminah, diceritakan Nabi saw menziarahi kubur Ibunya,  Aminah, Beliau menangis dan menangislah orang-orang disekitarnya [1]
Ratapan terhadap imam Husain as, pada dasarnya adalah sunnah Rasulullah saw, sebagaimana beliau Rasulullah SAW bersabda ”Barangsiapa yang menangisi Husain ia berhak atas surga ”   hadis diatas dijelaskan oleh  Sayyid Muhammad al Musawi dalam catatan kaki bukunya  sbb ” Menangisi imam Husain yang mengakibatkan masuk surga adalah menangisi yang didasari perasaan dan pengenalan atas Imam Husain serta mendukung misi suci  sebagai simbol membela kebenaran dan kelompok tertindas jadi dan bukan semata-mata menangis. Orang-orang yang dianggap baik menangis dan dijanjikan Surga oleh Nabi adalah mereka yang menangis  yang menangis dengan bersungguh-sungguh berjuang , berusaha dengan segenap kemampuan yang dimilikinya umtuk merealisasikan misi-misi Abu Abdillah al Husain yang pada hakekatnya misi Allah swt dari kerasulan Muhammad saw dan diutusnya semua para Nabi as.  Menangisi Husain yang menyebabkan masuk surga adalah menangis yang timbul dari hati yang penuh kebencian  terhadap kaum penindas , sehingga kemudian menjadi serangan terhadap kebatilan dan revolusi atas orang-orang zalim.  Tangisan seperti ini adalah bukan semata-mata tangisan, tetapi tangisan  penerus perjuangan Imam Husain, sang syahid dan perjuangan Zaenab as serta ahlul bait dari karbala sampai syiria. Tangisan tersebut memberikan pengaruh yang besar dalam menggerakan rasa keberagamaan dan perasaan kemanusiaan pada masyarakat Islam, untuk senantiasa memperjuangkan mengalahkan kaum zalim yang menindas [2].
Jika di atas disebutkan bahwa menangisi Husain adalah Sunnah Rasulullah saw, berikut adalah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah menangisi Husain :

1.    Al khawarizmi meriwayatkan dengan sanad dari Asma ninti Abu Umais berita yang panjang dimana pada bagian akhir ditulis bahwa Asma berkata, setelah Fatimah melahirkan Husain, Nabi datang kepadanya dan berkata ” Wahai Asma berikanlah kepadaku puteraku” kemudian menyerahkannya dengan diselimuti kain putih. Nabi mengadzaninya pada telinganya yang kanan dan mengiqomatinya pada telinga yang kiri, kemudian Nabi saw  meletakkan dalam pangkuanya dan beliau menangis. Asma keheranan  dan bertanya kepada Nabi, ”Demi ayah dan Ibuku, apa yang menyebabkan engkau menangis ?” Nabi menjawab ”karena putraku ini” Asma berkata ”dia baru saja lahir” Nabi menjawab ”wahai ’Asma, dia akan dibunuh oleh kelompok yang zalim yang tidak mendapatkan syafaatku” kemudian Nabi berkata , ”wahai Asma janganlah engkau memberitahu Fatimah akan hal ini, karena dia baru saja melahirkanya. [3]
2.    Hakim Naishaburi, meriwayatkan  dengan sanad dari Ummul Fadhl binti Harits, ”kemudian Fatimah melahirkan Husain dipangkuanku … suatu hari dia menemui nRasulullah SAW dan meletakkan Husain dalam pangkuanya, kemudian Rasulullah menangis mengucurkan air mata, saya bertanya ”wahai Nabi Allah, demi ayah dan ibuku mengapa, engkau menangis” Nabi saw menjawab, ”Jibril datang kepadaku memberi kabar bahwa umatku akan membunuh anakku ini” saya bertanya, ”anak ini ?” Nabi menjawab,”Betul, dan dia membawa tanah merah kepadaku, [4]
3.    Ibn Sa’ad meriwayatkan dari ’Aisyah dia berkata ”Ketika Rasulullah saw sedang berbaring Husain datang merangkak kemudian aku menghalanginya. Aku bangun untuk suatu keperluan sehingga kami dekat denganya. Kemudian Nabi saw bangun dan menangis, saya bertanya ”mengapa engkau menangis ?” Nabi saw menjawab, ”Jibril datang memperlihatkan kepadaku tanah dimana Husain terbunuh, maka Allah sangat murka kepada orang yang membunuhnya…” [5]
4.    Diceritakan oleh ulama ahlu sunnah  Umar bin Khudr uang dikenal sebagai Mallb  diriwayatkann  dari Ummu Salamah dia berkata, Bahwa dia mendengar Nabi Saw menangis di rumahny, kemudian dia menemuinya. Ummu Salamah melihat Husain bin Ali r.a dalam pangkuanya atau disampingnya dimana beliau mengusap kepalanya dan menangis, dia bertany, ”wahai Rasulullah, mengapa engkaumenangis ?” Nabi Saw menjawab, ”Sesungguhnya jibril memberitahuku bahwa anakun ini akan terbunuh di tanah Irak yang disebut Karbala” kemudian Nabi memberiku segenggam tanah merah dan berkata, ”ini adalah tanah dimana Husai terbunuh, Jika dia menjadi darah ketahuilah bahwa dia telah terbunuh”. Kemudian dia simpan tanah itu dalam botol dan berkata bahwa hari ketika tanah ini berubah menjadi darah adalah hari yang sangat dahsyat [6]

Dengan begitu bertebaranya riwayat yang menceritakan Rasulullah meratapi (menangisi) imam Husain maka kami para pengikut Ahlul bait pun mencontoh Rasulullah menangisi atas tragedi yang menimpa Imam Husain as. Jadi kami mengikuti sunnah Rasulullah, mengapa kalian yang mengklaim sebagai ahlu sunnah justru menolak sunnah Rasulullah saw ? Bahkan  kalian di hari asyura menggelar pesta kegembiraan sebagi manifestasi kegembiraan Yazid bin Muawiyah,  Siapakah sebenranya yang mengikuti Sunnah Rasulullah ?  jawabnya adalah kami syi’ah dan Siapakah yang mengikuti Sunnah Yazid bin Muawiyah ? adalah kalian bukankah begitu ?

Tentang Tafsiran  QS. AL Baqarah : 156

Mohon maaf sebelumnya, saya menduga antum banyak mengutip argumentasi dari kaum sunni wahabi, hal ini tampak jelas antum  sedemikian saja menafsirkan Al Qur’an. Perlu kami sampaikan bahwa  kaum sunni wahabi sangat jahil dalam menafsirkan Al Quran bahkan tanpa menggunakan kaidah penafsiran yang benar. Untuk mengetahui  kejahilan kelompok sunni wahabi dalam menafsirkan Al Qur’an kami persilahkan antum mendalami dalam kitab Tahkukumul  Muwalliddin bi man adda’a Tajdidad Diin” karya Syekh Muhammad bin Abdur Rahman bin Afaaliq anda akan ketemukan bagaimana mereka jahil dalam menafsirkan Al Qur’an.
Kami hanya akan mengulas seperlunya saja dalam masalah penafsiran. Rasulullah saw dibanyak kesempatan  bersabda ”  Hai Manusia aku tinggalkan apa saja yang akan menghindarkan kamu dari kesesatan, selama kamu berpegang teguh padanya yaitu : KITABULLAH (AL QUR’AN) dan ITRAHKU AHLUL BA’ITKU      keduanya tidak akan berpisah sampai berjumpa denganku di al-Haud, Hati-hatilah dengan  perlakuanmu atas keduanya sepeninggalku nanti, maka janganlah kamu mendahului keduanya nanti kamu binasa, jangan pula kamu tertinggal dari mereka, nanti kamu celaka, dan  jangan kamu mengajari mereka ia lebih mengetahui dari kamu” [7] Maka dalam hal penafsiran pun kami mengikuti  para Imam Ahlul Ba’it dan tidak mendahului mereka dan konsekuensi logis dari merasa lebih pintar dari  Rasulullah dan 12 Imam Ahlul Bait akan menyebabkan tersesat.  Dalam masalah penafsiran ini Imam Ali Zaenal Abidin as  mengatakan ”  Kitab Al Qur’an terdiri atas empat hal : Ibarah (diksi,teks); isyarah (indiksi), latha’if (kehausan) dan haqa’iq (hakekat). Ibarah adalah untuk orang-orang awam, Isyarah untuk orang-orang pilihan, latha’if untuk awliya dan haqa’iq untuk para Nabi” dan Imam Muhammad al Baqir mengatakan :” “Al Qur’an mempunyai bathn (aspek esoteris) dan bahwa bathn itu pada giliranya mempunyai bathn juga. dan Al Qur’an juga mempunyai zahr (aspek eksoteris) dan zahr itu juga mempunyai zahr lagi. Dan tidak sesuatu  yang lebih jauh dari intelek manusia ketimbang tafsir Al Qur’an ini. Awal suatu ayat berkenaan dengan sesuatu dan akhirnya suatu ayat berkenaan dengan sesuatu yang lainya dan ia adalah kalam atau perkataan berkesinambungan yang dapat ditafsirkan secara berbeda-beda”
Nah tentu saja Rasulullah adalah yang paling paham terhadap Al Qur’an. Para ahli Tafsir  diantaranya Alamah Husain Thobaththaba’i yang memiliki magnum opus tafsir berjudul Tafsir Al Mizan  menyebutkan bahwa metodologi penafsiran itu diantaranya terdiri adalah Tafsir Bil Ma’tsur yakni  upaya menjelaskan Al Qur’an dengan mengutip penjelasan yang sudah ada, jenisnya diantaranya : Tafsir Al Qur’an bi Al Qur’an, yakni menafsirkan  Al Qur’an dengan  Al Qur’an sendiri ; Tafsir Al Qur’an bi Sunnah, yakni  menafsirkan Al Qur’an dengan  sunnah Nabi;  . Tafsir Al Qur’an bihwalis Shahabah, yakni menafsirkan Al Qur’an  dengan ucapan shahabat; dan  Tafsir Al Qur’an bi akwail ‘ulama, yakni menafsirkan Al Qur’an dengan ucapan ulama selain shahabat. [8]
Ketika disodorkan ayat  “orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka berkata, innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un” (QS. Al Baqarah: 156). Muslim syiah hanya mencontoh sunnah Rasulullah bagaimana beliau SAW menyikapi Trageidi tersebut, dan tentu saja beliau SAW sangat mengetahui makna lahir dan bathn ayat tersebut dan prilaku beliau SAW adalah prilaku Al Qur’an jadi kami mencontoh prilaku Rasulullah SAW yang Qur’ani tersebut. Kalau kemudian ada manusia yang lebih pintar dan lebih memahami soal tafsir dari rasulullah SAW beserta Imam Ahlul Ba’it ya silahkan saja mengklaim, tetapi dipastikan tafsiranya keliru dan bila merasa tafsirannya terhadap Al Qur’an lebih unggul pemahamanya daripara Imam Ahlul ba’it dipastikan keliru juga karena Rasulullah telah menyebutkan : ” janganlah kamu mendahului keduanya nanti kamu binasa, jangan pula kamu tertinggal dari mereka, nanti kamu celaka, dan  jangan kamu mengajari mereka ia lebih mengetahui dari kamu”

Wallahu alam bhi showab

[1].  Muslim, Shahih, juz 1hlm 359
[2]. Sayyid Muhammad al Musawi, Madzhab Syiah, hal 414
[3]  Ulama ahlu sunnah yang meriwayatkan ini diantaranya : al Khawarizmi, maqtal al Husain; Hamwaini, Faraid al Simthin, juz 2 h 103, Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq  hadis ke 13 dan 14 tentang biografi Husain, Samhudi , Jawahir al Aqdaini.dll
[4] Ulama ahlu sunnah yang meriwayatkan ini diantaranya : Hakim Naishaburi, al Mustadrak, juz 3 h 176, Baihaqi, Dalail al Nubuwwah, juz 6 h 468, Ibnu Katsir, Bidayah wa al Nihayah, Juz 6 hlm 230 dll
[5]  Lihat di al Thabaqat al Kubra, Juz 8 h 45;  Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq,  hadis No 229, Ibnu hajar, al Shawa’iq al Muhriqah, Qanduzi, Yanabi’ al Mawaddah, Ibnu ’Adim, Bughyah al Thalib fi Tarikh Halb, Juz 7 h 78 dan Daruqutni, alI’lal, juz 5 h 83.

[6]  Dikalangan ahlu sunnah hadis ini begitu banyak diriwayatkan oleh para ulama sunni diantaranya  : Ibnu Sa’ad, Thabaqat, juz 8  hadis no 79.  Thabari, Dakhair al ’Uqba hlm 147. Abu Bakar bin Abu Sya’ibah, al Mushannaf, Juz 15 hlm 14 hadis no 19213. Ibnu Hajar, al Mathalib al ’aliyah, juz 4 h 73. Thabari, al Mu’jam al Kabir, juz 3 h 114, Ibnu Asakir, Tarikh, hadis  No 223, Al Maziyyi, Tahdzib Halb, Juz 7 h 56 hadis No 8, Haitsami,  Majma’ al Zawaid, Juz 9 h 192, Hakim, Al Mustadrak, juz 4 h 389,  baihaqi, Dalail al Nubuwah, Juz 6 h 468, Ibnu katsir,  al Bidayah w al Nihayah, Juz 3 h 230 dan masih banyak lagi

[7] Hadis ini  diantaranya diriwayatkan oleh Imam Muslim, Kitab Shahih, Juz VII, hlm 122 Al Tirmidzi, juz 2, hlm  307 . Al Nasai, Kitab Kasha’ish, hlm 30. Imam Ahmad bin Hambal, Kitab Musnad, Juz 3 hlm 13 & 17; Juz 4 hlm 26 & 59; Juz 5 hlm 182    & 189 5. Muhammad bin Habib al-Baghdadi, Kitab Al-Munamaq juz 9.  Abu Dawud, Kitab Tadzkirah Khawash al-Ummah, hlm 222. Ibnu Atsir, Kitab Jami’ al-Ushul, juz 1 hlm 178. Ibn Katsir, Kitab Tarikh, Juz 5 hlm 208 & 457. Al Fakhr al razi, Kitab tafsirnya.  al Kunuji al-Syafi’i, Kitab Kifayah al Thalib, pada Bab I  kami mencatat tidak kurang 160 an kitab sunnah meriwayatkan hadis ini.

[8] Lihat Ulumul Quran,  Penerbit Lentera.

Tanggapan Ibnu Jakfari
Nabi Muhammad Saw. Penggagas Ritual Ratapan Atas Kesyahidan Imam Husain As.

Setiap kali bulan Muharram tiba, para pecinta Rasulullah saw. dan pengikut setia Ahlulbait as. di seluruh penjuru dunia memperingati kesyahidan Imam Husain as.; cucu terkasih Nabi Muhammad saw. Mereka meperingatinya dengan membaca kembali sejarah tragedi Karbala yang sangat memilukan dan menyayat hati setiap yang orang yang memliki nurani sehat… Mereka mencucurkan air mata kesedihan, meratapi kesyahidan Imam Husain as. dan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan munafik yang biadab terhadap keluarga dan keturunan Nabi saw.!
Namun di balik sana, ada sekelompok yang menamakan dirinya sebagai umat Nabi Muhammad saw. namun mereka merayakannya sebagai hari kejayaan Islam dan kemenangan sang Khalifah Amirul Mukminin Yazid putra Mu’awiyah putra Abu Sufyan yang telah membantai keluarga suci Nabi Muhammad saw.!  Hari Asyûrâ’ menjadi hari penuh kebahagiaan bagi bani Umayyah dan pengikut mereka! Lalu sebagian kaum Muslimin tertipu oleh kepalsuan propaganda sesat bani Umayyah.
Dalamkesempatan ini, kami hanya akan mencari tau akar dan asal muasslam tradisi masyrû’iyyah menangisi kesyahidan Imam Husain as.? hanya itu sementara yang saya ningin terlusuri… mengingat ada sebagian anggapan yang salah dengan menuduuhnya sebagai tradisi buruk yang dilarang dalam Islam!

Nabi saw. lah yang Mencontohkan Dan Mengajarkan Kepada Umat Islam Dimasyrû’kannya Menangisi Imam Husain as.!
Dalam banyak hadis shshih disebutkan bahwa sesaat setelah Imam Husain as. lahir dan dibawakan kepangkuan suci Nabi saw. beliau menggendongnya dan mengumandangkan adzan di telinga kanan Husain dan iqamah di telinga kirinya… Setelahnya beliau saw. meneteskan air meta kesedihan atas cucu tercintanya tersebut.. ketika ditanya mengapa beliau menangis, beliau menjawab bahwa Malaikat Jibril as. baru saja mengabarkan kepada beliau bahwa cucu tercintanya ini krlak akan dibantai oleh sekawanan orang yang mengaku sebagai umatnya… beliau bersabda bahwa mereka tidak akan mendapakan syafa’at beliau. Hadis-hadis tentang masalah ini sangat banyak jadi tidak mungkin disebutkan seluruhnya di sini. Tetapi paling tidak satu hadis dapat meyakinkan kita jika kita memang beriman kepada kesucian sunnah Nabi saw.
Para ulama meriwayatkan bahwa: Ketika Husain as. lahir, Nabi saw. berkata kepaqda Asmâ’, “Hai Asmâ’, bawakan kemari putraku!” Lalu aku bawakan dia kepada beliau dalam kain selimut berwarna putih, beliau mengumandangkan adzan di telinga kanan Husain dan iqamah di telinga kirinya, setelahnya beliau meletakkannya di pangkuannya dan beliau menangis.
Asmâ’ berkata, “Semoga ayah dan ibuku sebagai tebusan bagi Anda, mengapa Anda menangis?”
Beliau saw. bersabda, “Aku menangisi putraku ini.”
Aku berkata, “Bukankah ia baru saja lahir. Ini adalah saat gembira, lalu bagaimana ANda menangis?”
Beliau saw. bersabda, “Hai Asmâ’ ia akan dibunuh oleh Fi’atun bâghiyah (kelompok pembangkang). Semoga Allah tidak memberi mereka syafa’atku.”
Lalu beliau bersabda kepada Asmâ’, “Hai Asmâ’ jangan engkau kabarkan berita ini kepada putriku Fatimah, ia baru saja melahirkannya.”[1]
[1] Banyak sekali rujukan yang menjadi sumber hadis di atas, di antaranya Jawâhir al Aqdain; as Samhudi.

Iklan