Tahrif Al Qur’an Dalam Riwayat-riwayat Ahlusunnah

sumber : jakfari.wordpress.com

Tak henti-hentinya musuh-musuh Syi’ah Ahlulbait as. Menebar fitnah demi fitnah untuk memecah belah kesatuan umat Islam dan untuk menjauhkan mereka dari kesadaran akan pentingnya peran perjuangan.

Di antara fitnah yang mereka sebar luaskan adalah bahwa Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah Istâ’asyariyah meyakini perubahan, tahrîf Al Qur’an dan sebenarnya dalam keyanikan mereka Al Qur’an yang lengkap berada di tangan Imam mahdi as.; imam kedua belas mereka!

Yang menarik dari semua usaha “ngotot” penyebaran fitnah itu, kita menyaksikan bahwa yang paling berperang penting dan menjadi ujung tombak adalah para sarjana dan penulis bayaran Wahhabi, seperti Ihsan Ilâhi Dzahîr, Mâlullah, al Qifari dll. Mereka menulis dan terus menulis derngan satu tujuan agar umat Islam terpengaruh dengan fitnah murahan mereka dan kemudian membangun vonis kafir atas Syi’ah Imamiyah.

Terlepas dari itu semua, yang perlu kita soroti adalah apa yang menjadi landasan mereka dalam menjatuhkan vonis fitnahan itu?

Ada dua hal paling tidak yang dapat Anda saksikan, pertama, adanya riwayat-riwayat dalam kitab-kitab Syi’ah yang menhgesankan atau bahkan tmenyebautkan telah terjadinya tahrîr pada Al Qur’an; pengurangan ayat dan atau penambahan. Kedua, adanya ulama Syi’ah (yang dalam pandangan mereka/para penyebar fitnah itu) yang meyakini telah terjadinya tahrîf.

Maka atas dasar dua poin ini, kaum Wahhabiyah berusaha mengajak umat Islam Sunni untuk menvonis kafir Syi’ah.

Apakah dua alasan di atas sudah cukup sebagai bukti atas kekafiran Syi’ah?

Apakah sekedar adanya riwayat dalam kitab-kitab Syi’ah sudah cukup alasan bagi kaum Wahhabiyah untuk menvonis sesat dan kafir penulisnya dan umat yang bergabung dalam payng kelompok mereka?

Apakah adanya satu atau dua atau bahkan sekelpmpok ulama dari kelompok tertentu yang meyakini terjadinya tahrîf sudah cukup alasan untuk menghukum semua pengikut kelompok tersebut?

Dan yang penting ialah bukankah riwayat-riwayat tahrîf juga tersebar luas dalam kitab-kita standar Ahlusunnah dan meraka akui kesahihannya?

Lalu apakah vonis yang sama akan dijatuhkan atas mereka juga?

Anda mungkin mengira, bahwa kami mengada-ngada dusta bahwa di dalam kitab-kitab stantar kelas satu Ahlusunnah terdapat riwayat-riwayat tahrîf dalam jumlah yang tidak kalah banyaknya kalau tidak lebih banyak dan lebih kronis kondisinya, serta lebih jelas petunjuk tahrîfnya!

Maka untuk itu, kami menulis beberapa artikel ini untuk membuka mata hati dan akal pikiran saudara-saudara kami Ahlusunnah agar tidak gegabah menuduh Syi’ah meyakini tahrîf karena propaganda kaum Wahhabiyah dan antek-antek musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya!! Kami tidak bermaksud menyudutkan saudara-saudara kami Ahlusunnah atau memperkeruh masalah, atau menuduh mereka berkeyakinan adanya tahrîf. Hanya satu yang menajdi tujuan kami, agar tumbuh kesadaran kolektif di tengah-tengah umat Islam akan jahatnya fitnah yang dilakonkan sebagian penulis dan atau penceramah bayaran atau yang lalai akan tanggung jawabnya dalam membina umat, agar semuan fitnah ini cepat berlalu dan umat Islam dapat meraih kejayaan mereka. Amin Ya Rabbal Alamin.

Kami akan menyajikan kepada pembaca beberapa catatan yang sempat kami himpun dari berbagai kitab standar Ahlulsunnah tentang adanya tahrîf.

Sebelumnya saya tertarik menyebutkan pernyataan Syeikh Abdul Wahhâb asy Sya’râni –seorang ahli fikih bermazhab Hanafi daan tokoh sufi terkemuka- yang menegeskan bahwa benar-benar telah terjadi perubahan Al Qur’an. Beliau berkata, “Andai bukan karena pengaruh yang akan dialami oleh hati yang lemah dan tergolong meletakkan hikmah bukan pada tempatnya yang layak, pastilah saya akan terangkan seluruh ayat/surah yang gugur, saqatha dari mush-hafnya Utsman.” [1]

Penambahan Dua Surah Al Qur’an

Ada dua surah yang diyakini telah difirmankan Tuhan kepada Muhammad akan tetepi kita sekarang tidak akan pernah dapat menemukan dan membacanya lagi dalam Al Qur’an. Dua surah itu dinamai surah al Hifd dan surah al Khulu’.

Teks Surah al Khulu’: :

أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ و نَسْتَغْفِرُكَ و نُثْنِيْ عليكَ الخيرَ ، ولا نَكْفُرُكَ، و نَخْلَعُ و نَتْرُكَ مَنْ يَفْجُرُكَ.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sesungguhnya kami minta pertolongan-Mu, meminta ampunan-Mu, memuja-Mu dengan kebaikan, dan tidak mengingkari-Mu serta meninggalkan orang yang meninggalkan-Mu.

Teks Surah al Hifd:

أللَّهُمَِّ إيَّاكَ نَعْبُدُ، و لَكَ نُصَلِّيْ وَ نَسْجُدُ، وَ إليكَ نَسْعَى و نَحْفُدُ، نرجُو رَحْمتَكَ، و نَخْشَى عذَابَكَ الجَدَّ، إنَّ عذابَكَ بتالكُفارِ مُلْحَقٌ.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya untuk-Mu kami salat dan bersujud, dan kepada-Mu kami menuju, kami mengharap rahmat-Mu, dan takut akan siksa-Mu, sesungguhnya siksa-Mu akan menimpa kepada orang-orang kafir.[2]

Para ulama Ahlusunnah telah meriwayatkan adanya dua surah tersebut sebagai bagian dari firman Allah SWT yang diterima Nabi Muhammad saw., seperti surah-surah lain, dan sebagian sahabat Nabi saw. telah membacanya dalam shalat dan di antara mereka ada yang bersumpah bahwa keduanya adalah bagian dari Al Qur’an yang turun dari langit! Sementara sebagian lainnya menuliskannya dalam mush-haf mereka!

  • Para Sahabat Membacanya!

1)      Sahabat Umar bin al Khaththab membacanya dalam Qunut. Demikian diriwayatkan ath Thahâwi dari sahabat Ibnu Abbas ra., Sufyan, Hasan, dan Abdur Rahman bin Abi Lailâ. Ibnu Abi Syaibah dari Abdul Malik bin Suwaid al Kâhili.[3]

Tentang keagungan Umar dan  ketepatannya dalam seluruh sikap dan pandangannya, telah diriwayatkan Nabi pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan haq/kebenaran atas lisan dan hati Umar.” (HR. Turmudzi, dan dia mengatakan hadis ini hasan shahih). Jadi sepertinya kita tidak perlu meragukan beliau.

2)      Ubay bin Ka’ab meyakininya sebagai dua surah Al Qur’an dan ia juga membacanya dalam qunut. Demikian diriwayatkan oleh ath Thahâwi dan Ibnu Abi Syaibah dari Maimûn bin Mahrân.[4].

Tentang Ubay pun kita tidak perlu khawatir, sebab Nabi telah memerintah kita merujuk bacaan Ubay. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Turmudzi dll telah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Ambillah/belajarlah Al Qur’an dari empat orang; Abdullah bin Mas’ud, Sâlim, Mu’adz dan Ubay bin Ka’ab.” (HR. Bukhari&Muslim)[5]

3)      Anas meyakininya sebagai bagian dari Al Qur’an. Demikian diriwayatkan al Qaththân dalam al Muthawwalât dari Abân bin Ayyâsy dari Anas bin Malik.[6]

Adapun Anas bin Malik, beliau sendiri telah meyakinkan kita semua bahwa apa yang ia sampaikan adalah dari Allah melalui Rasul-Nya. At Turmudzi meriwayatkan dari Tsâbit al Bunnâni, ia berkata, “Anas bin Malik berkata kepadaku, ‘Hai Tsâbit, ambillah dariku,[ilmu Al Qur’an daan Sunnah] karena engkau tidak akan mendapati oraang yang lebih terpercaya dariku. Sesungguhnya aku menggambil darii Rasulullah, dan Rasululllah mengambil dari Jibril dan Jibril mengambil dari Allah –Azza wa Jalla-.’[7]

4)      Diriwayatkan dari Abu Ishaq, ia berkata, “Umayyah ibn Abdullah ibn Khalid ibn Usaid memimpin kami dalam shalat di kota Khurasân, maka ia membaca dua surah ini: أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ dan نَسْتَغْفِرُكَ.[8]

Dan adalah jalas bahwa dalam shalat tidak idbolehkan membaca selain Al Qur’an

5)      Muhammad ibn Nashr meriwyatkan dari ‘Atha’ ibn as Sâib, ia berkata, “Adalah Abu Abdur Rahman mengajarkan kepada kita bacaan surah أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ dan ia mengaku bahwa Ibnu Mas’ud mengarakan surah itu kepadanya, dan ia (Ibnu Mas’ud) mengaku bahwa Rasulullah saw. mengajarkan surah itu kapadanya.”

  • Para Sahabat Menuliskannya dalam Mush-haf-mush-haf Mereka!

1)      Ubay bin Ka’ab menuliskannya dalam Mush-hafnya dengan keyakinan bahwa keduanya adalah surah Al Qur’an. Demikian diriwayatkan Ibnu Dharîs dalam Fadhâil-nya dari Musa bin Ismail dari Hammâd bahwa ia membacanya dalam mush-haf Ubay.[9]

2)      Ibnu Abbas juga menetapkan kedua surah tersebut dalam mush-hafnya dan mengatakan bahwa ia sesuai dengan keyakinan Ubay dan Abu Musa.[10]

3)      Nashr ibn Muhammad al marwazi meriwayatkan dalam kitab ash Shalah dari Ubay bahwa ia membaca kedua surah itu dalam qunut, dan ia menyebutkan bahwa teks kedua surah itu, dan ia menulsi keduanya dalam mush-hafnya.[11]

4)      Al Baihaqi meriwyatkan bahwa Umar membaca keduanya dalam qunut setelah ruku’:

بسمِ اللهِ الرحمن الرحيم أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ

Ibnu Juraij berkata, “Hikmah membaca basmalah sebelum membaca surah tesebut ialah dikarenakan ia adalah terhitung sebagai surah Al Qur’an dalam mush-haf sebagian sahabat.”

5)      Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannaf-nya, Muhammad ibn Nashr dan al Baihaqi dalam Sunan-nya dari Ubaid ibn Umair bahwa Umar ibn al Khaththab membaca qunut setelah ruku’, ia membaca:

بسمِ اللهِ الرحمن الرحيم أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ

Dan Ubaid menganggap bahwa telah sampai kepadanya bahwa keduanya adalah dua surah dari Al Qur’an dalam mush-haf Ibnu Mas’ud.[12]

Jadi dalam mush-haf Ubay jumlah surah Al Qur’an adalah 116 surah dengan tambahan dua surah di atas, sementara dalam mush-haf Ibnu Mas’ud hanya 112 surah sebab ia tidak meyakini dua surah terakhir Al Qur’an; al Falaq dan an Nâs sebagai bagaian dari Al Qur’an, seperti akan diketahui nanti.

Dari data-data riwayat di atas, dan selainnya yang tidak sayaa singgung dapat ditemukan bukti nyata adanya kekurangan pada Al Qur’an sekarang, sebab kedua surah tersebut tidak tercantum dalam mush-haf kaum Muslim.

Anggapan Tidak Berdasar!

Mungkin ada sementara orang mengatakan bahwa ditulisnya dua surah tersebut dalam Mush-haf sebagian sahabat Nabi Muhammad saw. belum cukup sebagai bukti bahwa keduanya adalah surah Al Qur’an, sebab bisa jadi keduanya ditulis sebagai dzikr dan do’a yang diletakkan di akhir mush-haf sekedar untuk memudahkan untuk dibaca sewaktu-waktu!

Akan tetapi anggapan ini tidak berdasar, sebab riwayat-riwayat yang ada telah dengan tegas menyebut keduanya sebagai surah Al Qur’an, dan belum pernah dilakukan menyebut do’a atau dzikir dengan istilah surah!

Selain itu riwayat-riwayat yang ada juga telah menjelaskan letak dan posisi kedua surah tersebut, seperti apa yang dituliskan oleh Jalaluddin as Suyuthi dari riwayat Ibnu Asytah dalam kitab Mashâhif-nya dengan sanad berambung kepada Abu Ja’far al Kufi, ia berkata, “Ini adalah urutan mush-haf Ubay: Al Hamdu (Al Fatihah) kemudian Al Baqarah, kemudian an Nisâ’ kemudian Âlu ‘Imrân, kemudian al An’âm kemudian al A’râf kemudian al Mâidah kemudian Yunus kemudian al Anfâl (kemudian ia lanjutkan hingga): kemudian wa adh Dhuhâ kemudian Alam Nasyrah kemudian al Qâri’ah kemudian at Takâtsur kemudian surah al Khulu’ kemudian surah al Hifd kemudian surah Likulli Humazah …. .”[13]

Ibnu Nadîm dalam kitab al Fahrasat-nya juga menyebutkan tertib surah-surah Al Qur’an dalam mush-haf Ubay seperti yang disebutkan Ibnu Asytah, dengan memasukan dua surah tersebut.[14]

Maka atas dasar ini semua dapat dipastian bahwa kedua surah itu memang benar-benar surah Al Qur’an, paling tidak dalam keyakinan para sahabat besar tersebut. Hal itu terlihat jelas dari penempatannya dalam mush-haf para sahabat itu.

Selain itu, data-data yang ada telah menyajikan kepada kita nama-nama sahabat dan pembesar tabi’în yang menghitung keduanya sebagai surah Al Qur’an, di antara mereka ialah: Ubay ibn Ka’ab, Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, Anas ibn Malik, Abu Musa al ‘Asy’ari, Ibrahim an Nakha’i, Sufyan ats Tsauri, Hasan al Bashri, Athâ’ ibn Rabâh, Abu Abdirrahman.

Dan akhirnya sebagai bukti tambahan bahwa Jalaluddin as Suyuthi, seorang ulama besar Islam dan mufassir ulung Al Qur’an telah menyebut kedua surah itu dalam kitab tafsir terkenal beliau ad Durr al Mantsûr setelah surah an Nâs sebagai bukti keyakinannya bahwa keduanya adalah bagian dari surah Al Qur’an!

Kemana Raipnya Dua Surah Tersebut?

Ini adalah pertanyaan penting yang harus segera ditemukan jawabannya! Kemanakah raipnya dua surah tersebut? Mengapa keduanya tidak ditulis dalam mush-haf umat Islam pada zaman Khalifah Utsman? Sebab para sahabat yang menulis dan  membaca kedua surah tersebut, mereka menulis dan membacanya sepeninggal Nabi juga dalam waktu yang cukup panjang, bahkan setelah zaman Utsman juga. Dan seperti diketahui sebelumnya bahwa Khalifah Umar bin al Khaththab juga membacanya dalam qunut shalat berjamaah ketika ia memimpin mereka dalam shalat.

Apakah umat Islam harus selamanya kehilangan dua surah tersebut?

Mengapakah tidak dilakukan pendataan ulang surah-surah Al Qur’an sehingga ditemukan secara lengkap agar umat Islam dapat membacanya dalam mush-haf-mush-haf mereka?!

Sampai kapankah umat Islam mendiamkan pengurangan teks suci Tuhan; Al Qur’an, kitab suci mereka?


[1] Al Kibrît al Ahmar-dicetak dipinggir kitab al Yawâqit wa Jawâhir-:143.

[2]. As Suyuthi, Al-Itqan,1/l.67, Ath Thabarâni, al Baihaqi, Ibn Adh Dharis.

[3] Ad Durr al Mantsûr,6/420. Mungkin ada sementara dugaan bahwa karena ia dibaca dalam qunut maka ia bukan Al Qur’an, ia adalah doa! Akan tetapi dugaan ini salah sebab ayat-ayat Al Qur’an itu boleh dibaca dalam qunut.

[4] Ad Durr al Mantsûr,6/422.

[5] Baca al Itqân, naw/macam ke 20 tentang para penghafal dan periwayat Al Qur’an,1/93.

[6] Ad Durr al Mantsûr,6/420.

[7] Sunan at Turmudzi (dengan syarah Tuhfah al Ahwadzi), Bab Manâqib Anas bin Mâlik,10/332 hadis no..3919 dan 3920.

[8] Majma’ az Zawâid,7/157 dari riwayat ath Thabarâni, dan para parawinya adalah perawi kitab Shahih, dan al Itqân,1/65.

[9] Ad Durr al Mantsûr,6/420 dan al Itqân,1/65.

[10] Ad Durr al Mantsûr, 6/420.

[11] Al Itqân,1/65.

[12] Ad Durr al Mantsûr,6/421.

[13] Al Itqân,1/64.

[14] al Fahrasat,1/40.

Dalam artikel ini kami akan menyajikan kepada pembaca beberapa riwayat adanya perubahan pada Al Qur’an yang terdapat dalam kitab Shahih karangan Imam Bukhari. Dan dalam kesempatan lain, insyaallah, dengan seizin Allah, kami akan menyebut riwayat-riwayat tahrîf Al Qur’an dalam kitab-kitab lain.

(1) Surah Wal laili Idzâ Yaghsyâ.[92]

Dalam Al Qur’an umat Islam yang turun kepada Nabi Muhammad, ayat itu berbunyi demikian:

وَ ما خَلَقَ الذَّكَرَ وَ الْأُنْثى‏ (3)

Dan  penciptaan laki- laki dan perempuan,(3(

Akan tetapi dalam Al Qur’an versi Imam Bukhari ayat itu berbunyi demikian:

وَ الذَكَرِ و الأُنْثَى.

Dan demi laki-lak dan perempuan.

Pada ayat versi Imam Bukhari mengalami pengurangan kalimat: وَ ما خَلَقَ dan kemudian harakat kata الذَّكَر dibaca karsah bukan fathah, seperti dalam Al Qur’an yang ada.

Dalam riwayat itu disebutkan bahwa sahabat Abu Darda’ menyatakan bahwa demikianlah sebenarnya ayat itu turun kepada Nabi dan yang beliau ajarkan. Jusrtu bunyi ayat seperti yang tertera dalam Al Qur’an sekarang itu dikatakan oleh riwayat Imam Bukhari sebagai hasil paksaan dan rekayasa para penguasa.

Untuk melihat langsung hadis tersebut baca Shahih Bukhari, Kitab at tafsir, tafsir wal laili idâ Yaghsyâ: 6/210.

(2) Surah Tabbat Yadâ

Dalam Al Qur’an umat Islam yang turun kepada Nabi Muhammad ayat itu berbunyi demikian:

تَبَّتْ يَدا أَبي‏ لَهَبٍ وَ تَبَّ (1)

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.”(1)

Sementara dalam Al Qur’an versi riwayat Imam Bukhari ayat tersebut berbunyi demikian:

تَبَّتْ يَدا أَبي‏ لَهَبٍ وَقَدْ تَبَّ

Jika pada kasus pertama terjadi pengguguran beberapa kata, di sini justru mengalami penambahan sebuah hurufقد yang berfungsi sebagai huruf tahqiq/penguat dalam istilah kaidah bahasa Arab.

Ayat Al Qur’an versi Imam Bukhari ini dapat dijumpai dalam Shahih Bukhari, kitab at tafsir, tafsir Tabat Yadâ Abi Lahabin wa Tabb: 6/221.

(3) Surah asy Syu’arâ’ [26] Ayat 214.

Bunyi ayat tersebut dalam Al Qur’an yang ada di kalangan umat Islam demikian:

وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat- kerabatmu yang terdekat,(214 (

Sementara redaksi ayat itu sesuai versi Imam Bukahri adalah sebagai berikut:

وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ، وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ.

Dan berilah peringatan kepada kerabat- kerabatmu yang terdekat dan kabilahmu yang terpilih.”

Hadis yang memuat ayat tersebut adalah dari riwayat sahabat Ibnu Abbas, beliau mengatakan, “Ketika turun ayat:

وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ، وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ.

Rasulullah keluar sehingga menaiki bukit gunung Shafâ, lalu beliau menjerit wâ shabâhâh (sebagai tanda panggilan untuk berkumul) … .”

Jadi demikianlah sebenarnya ayat tersebut turun kepada Nabi, bukan seperti yang beredar dalam Al Qur’an yang dibaca umat Islam. Dalam Al Qur’an yang beradar di kalangan kita ayat tersebut mengalami pengurangan satu bagian yaitu kalimat: وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ..

Ayat Al Qur’an versi Imam Bukhari ini dapat dijumpai dalam Shahih Bukhari, Kitab at Tafsir, tafsir Tabbat Yadâ Abi Lahabin wa Tabb, 6/221.

(4) Surah al Kahfi ayat 79.

Bunyi ayat tersebut dalam Al Qur’an demikian:

أمَّا السَفِيْنَةُ فكانَتْ لِمَساكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ في البَحْرِ …. و كانَ وَراءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كَلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا.

“Adapun behtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap behtera.”

Sementara itu dalam Al Qur’an versi Imam Bukhari terjadi perubahan kata warâhu dengan kata amâmahum, seperti di bawah ini:

أمَّا السَفِيْنَةُ فكانَتْ لِمَساكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ في البَحْرِ …. و كانَ أَمامَهُُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كَلَّ سَفِيْنَةٍ صالِحَةٍ غَصْبًا.

Kata وَراءَهُم diganti dengan kata أَمامَهُُمْ sementara kata سَفِيْنَةٍ disifati dengan kata صالِحَةٍ.

Ayat Al Qur’an versi Imam Bukhari itu dapat Anda baca dalam Shahih Bukhari, Kitab at Tafsir, tafsir Surah al Kahfi,6/112.

(5) Surah al Kahfi ayat 80

Ayat ke 80 surah al Kahfi juga dalam Al Qur’an versi Bukhari berbeda dengan Al Quran yang beredar di kalangan umat Islam.

Dalam Al Qur’an yang beredar ayat tersebut berbunyi demikian:

وَ أََمَّا الغُلاَمُ فَكانَ أَبَواهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِيْنَا أَنْ يُرْهِقَهُما تُغْيانًا و كُفْرًأ

“Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada keseatan dan kekafirann.”

Sementara dalam Al Qur’an versi Bukhari berbunyi demikian:

وَ أََمَّا الغُلاَمُ فَكانَ كافِرًا وكان أَبَواهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِيْنَا أَنْ يُرْهِقَهُما تُغْيانًا و كُفْرًأ

“Dan adapun anak muda itu, maka [ia  adalah kafir dan] kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada keseatan dan kekafirann.”

(6) Ayat Yang Beredar adalah Salah!

Dalam pandangan Khalifah Umar, bahwa ayat 9 surah al Jumu’ah adalah salah. Ia adalah redaksi yang telah diralat Allah! Sementara redaksi yang benar adalah seperti yang dibaca Khalifah Umar!

Bagaimana redaksi yang benar  ayat tersebut?

Para ulama meriwayatkan banyak riwayat yang mengatakan bahwa Khalifah Umar tidak membaca ayat 9 surah al Jumu’ah keuali dengan redaksi:

فَاسْعَوْا إلى ذكْرِ اللهِ

Sementara bunyi ayat tersebut dalam Al Qur’aan yang beredar adalah demikian:

فَامْضُوا إلى ذكر اللهِ

Para ulama, di antaranya Abu Ubaid dalam Fadhâil-nya, Sa’id bin Manshûr, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Mundzir, dan Ibnu al Anbâri dalam al Mashâhif-nya meriwayatkan dari Kharsyah bin al Hurr, ia berkata, “Umar melihat padaku sebuah lembaran bertuliskan ayat:

فَاسْعَوْا إلى ذكْرِ اللهِ

Lalu ia bertanya, ‘Siapakah yang mendektekan ayat kepadamu?’

Aku berkata, ‘Ubay bin Ka’ab.’

Ia berkata lagi, ‘Ubay adalaah orang yang paling banyaak tau tentang ayat-ayat yang btelah diralat. Bacalah dengan redaksi:

فَامْضُوا إلى ذكر اللهِ

Jadi apa yang sekarang tertera dalam Al Qur’an yang beredar adalah redaksi yang salah dalam pandangan Khalifah Umar!

Abdu bin Humaid juga meriwayatkan dari Ibrahim, ia berkata, “Dikatakan kepada Umar bahwa Ubay membaca tersebut dengan:

فَاسْعَوْا إلى ذكْرِ اللهِ

Maka Umar, ‘Ubay paling banyak tau tentang yang mansûkh/ telah diralat/dihapus.

Dan Umar membaca:

فَامْضُوا إلى ذكر اللهِ

Imam Syafi’i, dalam al Umm-nya, Abdurrazzâq, al Faryâbi, Sa’id bin Manshûr, Ibnu Abi Syaibah, Abdu bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Abu Hâtim, Ibnu al Anbâri dalam al Mashâhif-nya dan al Baihaqi dalam Sunan-nya telah meriwayatkan dari Abdullah putra Umar, ia berkata, “Aku tidak pernah mendengar Umar membaca ayat itu melainkan dengan redaksi:

فَامْضُوا إلى ذكر اللهِ

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Ibnu Umar berkata, “Umar wafat sementara ia tidak pernah membaca ayat itu kecuali dengan redaksi:

فَامْضُوا إلى ذكر اللهِ

Ibnu Mas’ud pun mendukung Bacaan Khalifah Umar

Para ulama seperti Abdurrazzâq, al Faryâbi, Abu Ubaid, Sa’id bin Manshûr, Ibnu Abi Syaibah, Abdu bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Abu Hâtim, Ibnu al Anbâri dalam al Mashâhif-nya dan ath Thabarâni telah meriwayatkan dari banyak jalur dari Ibnu Mas’ud bahwa ia membaca ayat tersebut seperti bacaan Umar. Dan ia menyalahkan redaksi yang ada sekarang.

Abdullah bin Zubair telah mengikuti Umar dalam membaca ayat tersebut.[1]

Dalam kitab Tamhîd-nya, Ibnu Abdil Barr menerangkan demikian, “Adapun ayat dengan redaksi (فَامْضُوا) ia telah dipilih sebagai bacaan oleh Umar in al Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud,Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Abu al Âliyah, Abu Abdirrahman as Sulami, Masrûq, Thâwûs, Sâlim bin Abdillah dan Thalhah bin Mashraf.”[2]

Dari uraian Ibnu Abdil Barr di atas dapat dimengerti bahwa ayat dengan redaksi yang dipilih Umar  adalah telah diakui kebenarannya oleh sekelompok sahabat besar dan tabi’în. Maka dengan demikian tidakkah terlalu salah jika ada yang mengikuti mereka dalam bacaan tersebut!

Bahkan mungkin bacaan itu yang seharusnya ditetpkan dalam Al Qur’an kita sekarang, mengingat, dalam pandangan Umar bahwa yang sekarang tercantum itu adalah telah dimansukhkan tilâwahnya. Dan dalam pandangan para ulama Islam, teks Al Qur’an telah dimansukhkan tilâwahnya tidak lagi boleh disebut dan diyakini sebagai Al Qur’an. Al Qurthubi menegaskan, “Ayat yang telah dimansukhkan lafadz/tilâwah dan hukumnya, atau lafadz/tilâwahnya saja tanpa hukumnya tidak lagi sebagai Al Qur’an, seperti akan diterangkan nanti.”[3]

Karena kemasyhuran dan kebenaran bacaan Khalifah Umar ini tidak perlu lagi dipertaanyakan apalagi diragukan, maka Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya[4] menyebutkannya tanpa harus perlu menyebut sanad/jalur meriwayatannya. Beliau berkata, “Umar membaca: فَامْضُوا .

Ibnu Hajar membenarkan Adanya Perubahan Itu!

Dalam Fathu al Bâri-nya[5], ketika menerangkan, bab as Sa’yu Ila al Jumu’ah, berangkat menuju shalat Jum’at, pada Kitabul Jumu’ah, Ibnu Hajar mengatakan, “Umar membacanya: فَامْضُوا.”

Dan ia berjanji akan membicarakaan tentang bacaan Umar pada Kitab at Tafsir. Kemudian ia menepati janjinya dengan membicarakannya. Ia berkata, “Kata-kata Bukahri, ‘Umar membaca: فَامْضُوا‘ ini telah tatap dalam riwayat al Kasymîhani seoraang. Ath Thabari dari Abdul hamîd bin Bayân dari Sufyan dari Zuhri dari Sâlim bin Abdillah dari ayahnya (Abdullah bin Umar), ia berkata, ‘Aku tidak mendengar Umar melainkan membaca dengan radaksi: فَامْضُوا.

Dan dari jalur Mughîrah dari Ibrahim, ia berkata, “Dikatakan kepada Umar bahwa Ubay membaca tersebut dengan:

فَاسْعَوْا إلى ذكْرِ اللهِ

Maka Umar, ‘Ubay paling banyak tau tentang yang mansûkh/yang telah diralat/dihapus.

Sesungguhnya yang benar adalah: فَامْضُوا.

Hadis ini juga diriwayatkan Sa’id bin Manshûr dan iaa menerangkan perntara penukilan hadis itu antara Ibrahim dan Umar yaitu Kharsyah bin al Hurr. Maka dengaan demikian shahihlah sanad ini.”

Ringkas Kata:

Dari paparan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa hanya ada dua opsi, pertama, bacaan yang benar adalah apa yang dinyatakan Umar dan para sahabat lainnya, atau kedua, Umar dan teman-temannya salah dan yang benar adalah apa yang sekarang tertera dalam Al  Qur’an kita.

Manapun opsi yang kita pilih itu artinya bahwa Al Qur’an kita telah mengalami perubahan.

Jika yang Umar yang benar, maka konsekuensi darinya adalah bahwa kita kaum Muslimin sekarang ini sebenarnya sedang membaca teks ayat Al Qur’an yang salah. Ia bukan Al Qur’an sebab telah dimansûkh lafadznya kendati dahulu pernah berstatus sebagai Al Qur’an.

Jika yang benar adalah apa yang tercantum dalam Al Qur’an kaum Muslimin, dan Umar serta para sahabat lainnya salah maka kita harus mengakui bahwa mereka telah melakukan perubahan Al Qur’an dengan mengganti redaksi wahyu kudus yang Allah wahyukan kepada nabi-Nya.

Dalam pandangan mereka Al Qur’an yang ada telah mengalami perubahan redaksi, sementara itu dalam pandangan mereka yang mendukung apa yang ada dalam Al Qur’an yang sakarang justru merekalah yang melakukan peerubahan!

Sebagai seorang awam pantaslah bila ia kebingungan menentukan teks mana yang sebenarnya harus ditetapkan dalam Al Qur’an sekarang? Teks Umar dan para sahabat lainnya atau teks Ubay bin Ka’ab?

Selin itu, mungkin akan muncul anggapan bahwa Imam Bukhari sebenarnya meyakini adanya perubahan pada Al Qur’an, karenanya ia memasukkannya dalam koleksi kitab Shahih-nya yang ia yakini keshahihan seluruh hadis dan riwayat yang dinukilnya. Dan sepertinya anggapan itu tidak dapat begitu saja diabaikan.


[1] Ad Durr al Mantsûr,6/219.

[2] At Tamhîd,8/298.

[3] Tafsir Al Qurthubi,1/86.

[4] Shahih Bukhari, Kitab at Tafsir, pada tafsir surah al Jumu’ah.

[5] Fathu al Bâri,5/48.

Tahrif Al-Qur’an Dalam Riwayat-riwayat Ahlussunnah (3)

Pengurangan Dua Surah Al Qur’an

Ada perubahan bentuk lain yang juga dialami Al Qur’an yaitu mengingkari teks pasti Al Qur’an yang telah disepakati umat Islam, sebagai bagian dari Al Qur’an! sebagian pembesar sahabat telah mengingkari kequr’anan dua surah al Mu’awwidzatain (Al Falaq dan an Nâs) sebagai dua surah Al Qur’an!

Ibnu Mas’ud sebagai salah seorang sahabat besar yang diakui keahliannya dalam bidang Al Qur’an dan telah datang banyak sabda Nabi agar para sahabat belajar Al Qur’an darinya, seperti diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab Shahih-nya. Dan beliau adalah satu-satunya sahabat yang mengatahui data terakhir Al Qur’an, ia mengetahui mana yang termasuk Al Qur’an dan mana yang bukan darinya!

Ibnu Mas’ud tersebut telah menolak bahwa dua surah al Mu’awwidzatain (Al Falaq dan an Nâs) adalah bagian dari Al Qur’an! dan data penolakannya dua surah al Mu’awwidzatain adalah berita masyhur yang tak perlu diperpanjang lagi di sini. Ia adalah berita pasti.

Ibnu Mas’ud bersikeras bahwa kedua surah tersebut bukan Al Qur’an, ia hanya doa azimat yang dibaca Nabi untuk kedua cucunya; Hasan dan Husain.. ia menghapusnya dari lembaran-lembaran mush-haf dan mengatakan, “Jangan campur adukkan Al Qur’an dengan selainnya!” Demikian diriwayatkan para ulama. [1]

Imam Bukhari Menyebutkan Pengingkaran Ibnu Mas’ud Dua Surah al Mu’awwidzatain

Dalam kitab Shahih-nya, Imam Bukhari menyebutkan pengingkaran Ibnu Mas’ud bahwa dua surah al Mu’awwidzatain adalah bagian dari Al-Qur’an yang difirmankan Tuhan kepada Muhammad!

Ia meriwayatkan dari Zirr bin Hubaisy, “Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, ‘Hai Abu al Munzdir, sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud berkata begini dan begitu.’ Maka Ubay berkata, ‘ Aku bertanya kepada Rasulullah saw. (tentang masalah itu) lalu beliau berkata kepadaku, ‘Telah dikatakan kepadaku begitu ya aku katakan begitu.’ Ubay berkata, Jadi kami berkata seperti kata Rasulullah saw.” [2]

Kendati dalam riwayat Imam Bukhari ada upaya untuk menyembunyikan keyakinan Ibnu Mas’ud itu, namun para ulama hadis lain seperti Al- Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ-nya, al Haitsami dalam Majma’ az Zawâid-nya dan para pensyarah Shahih Bukhari bahwa apa yang dirahasiakan itu adalah sikap dan keyakinan Ibnu Mas’ud yang tidak mengimani bahwa dua surah itu adalah bagian dari Al Qur’an!

Al Baihaqi meriwayatkan, “…Hai Abu al Munzdir, sesungguihnya saudaramu Ibnu Mas’ud telah menghapus kedua surah itu dari Mush-hafnya!… “ Setelahnya ia mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya dari Qutaibah dan Ali bin Abdullah dari Sufyan. [3]

Pakar hadis Habiburrahman al A’dzumi dalam komentarnya atas Musnad al Humaidi mengatakan setelah meriwayatkannya, “Hadis ini diriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya dari jalur Qutaibah dan Ali bin al Madini dari Sufyan (8/523) dan ia tidak menjelaskan apa yang diperbuat oleh Ibnu Mas’ud. [4]

Ibnu Hajar telah mengakui bahwa telah terjadi perahasiaan terhadap apa yang dilakukan Ibnu Mas’ud karena menganggapnya sebagai sikap yang besar! Walaupun ia menuduh Sufyan sebagai yang melakukan perahasian itu! [5]

Sikap Ulama Ahlusunnah

Terjadi perbedaan sikap di kalangan para ulama Islam Ahlusunnah dalam menyikapi sikap dan pendapat Ibnu Ma’sud, di antara mereka ada yang menolak kebenaran berita pengingkaran Ibnu Mas’ud tersebut kendati ia telah datang dalam riwayat-riwayat yang sangat berkualitas. Penolakan itu memang tidak berdasar dan hanya mengandalkan alasan, ‘Mana mungkin itu terjadi pada Ibnu Mas’ud, itu tidak masuk akal!’. Sementara sebagian ulama Islam lainnya menerima kebenaran berita itu. Mereka yang membenarkannya berpecah menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama, berusaha menta’wilkan sikap Ibnu Mas’ud agar tidak membingungkan mereka!

Kelompok kedua, menerima apa adanya kebenaran riwayat tersebut dan hanya terdiam kebingungan. Sebab hanya ada dua opsi:

Pertama, Dua surah itu telah tetap sebagai bagian dari Al Qur’an dengan dasar kemutawâtiran, artinya tidak mungkin ia tidak menyebar di kalangan para sahabat Nabi… dan barang siapa mengingkari sesuatu teks yang telah tetap berdasarkan ke-mutawâti-ran sebagai Al Qur’an maka dihukumi kafir!

Kedua, Ketika kita menerima berita bahwa ada seorang sekelas Ibnu Mas’ud -yang telah kita kenal kedekatannya dengan Nabi dan keafirannya terhadap Al Qur’an- tidak mengenalnya maka secara pasti akan merusak klaim kemutawâtiran tersebut.

Kalau dua surah itu tidak mutawâtir penukilannya di masa Ibnu Mas’ud, maka kita harus mengakui bahwa ada bagian dalam Al Qur’an sekarang yang pernah pada suatu masa mengalami ketidak-mutawâtiran! Lalu apakah akan berguna sebagai bukti kequr’anannya adanya kemutawâtirannya di masa akan datang?

Dan apabila kita menyakini ia mutawâtir sejak masa Ibnu Mas’ud, tetapi ia mengingkarinya, maka tidak syak lagi ia dihukumi kafir!

Menghadapi kenyataan pelik di atas sebagian mengambil jalan pintas dengan tanpa merasa harus mengajukan dalil apapun bahwa berita pengingkaran Ibnu Mas’ud itu adalah palsu! Sebagaimana yang dilakukan sebagian ulama Islam seperti an Nawawi, Ibnu Hazm dan ar Râzi. An Nawawi berkata, “Kaum Muslim telah bersepakat/terjadi ijma’ bahwa dua surah al Mu’awwidzatain dan surah al Fatihah adalah bagian dari Al Qur’an, dan barang siapa menginkarinya maka ia telah kafir. Dan apa yang dinukil dari Ibnu Mas’ud adalah batil, tidak shahih.”

Akan tetapi seperti telah disinggung bahwa riwayat pengingkaran Ibnu Mas’ud itu adalah sangat shahih. Ketika menyoroti komentar an Nawawi di atas, Ibnu Hajar berkata, “Menolak riwayat-riwayat shahih tanpa dasar tidak dapat diterima. Riwayat itu shahih, dan usaha menta’wilnya masih bisa diterima, sedangkan ijma’ yang ia nukil jika yang dimaksud adalah ijma yang meliputi seluruh masa, maka ia masih cacat, adapun jika maksudnya bahwa pada masa akhir telah ditetapkan demikian, maka itu benar.” [6]

Dari komentar Ibnu Hajar dan an Nawawi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa belum ada ijma’ pada masa sahabat bahwa dua surah al Mu’awwidzatain adalah bagian dari Al Qur’an, terbutki bahwa sahabat Ibnu Mas’ud mengingkarinya!

Kesimpulan di atas ditolak oleh Ibnu Hajar dengan mengatakan, “Kemungkinan bahwa ia mutawâtir di masa hidup Ibnu Mas’ud walaupun tidak mutawâtir menurut Ibnu Mas’ud!” [7]

Akan tetapi apa yang dikatakan Ibnu Hajar tidak lebih dari sebuah kemungkinan belaka, yang ia sendiri tidak mampu membawakan bukti pendukungnya! Selain itu, adalah hal naïf apabila kita mengatakan bahwa dua surah itu telah mutawâtir di kalangan para sahabat, namun tidak mutawâtir pada sahabat senior seperti Ibnu Mas’ud! sebab:

Pertama, sebagaimana diketahui bersama bahwa Ibnu Mas’ud adalah sahabat besar lagi agung dan mendalami banyak ayat-ayat Al Qur’an, sampai-sampai Nabi memerintah para sahabat agar menimba ilmu Al Qur’an darinya!

Para ulama hadis, diantaranya Bukhari, Muslim, Nasa’i, Turmudzi dll telah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Ambillah/belajarlah Al Qur’an dari empat orang; Abdullah bin Mas’ud, Sâlim, Mu’adz dan Ubay bin Ka’ab.” (HR. Bukhari&Muslim) [8]

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh at Turmudzi dalam Sunan-nya [9] dan ia menggolongkannya sebagai hadis hasan shahih. Al Mubârkfûri –komentator kitab Sunan tersebut- menerangkan, “Dalam hadis di atas terdapat penjelasan bahwa dikhususkannya keempat orang sahabat untuk dijadikan rujukan dalam pengambillan Al Qur’an karena mereka paling rapi ketepatan hafalannya, atau kerrena merekalah yang meluangkan waktu khusus untuk menimba langsung dari Nabi dan kemudian konsisten mengajarkannnya… “ [10] Keterangan ini sengaja saya sebutkan agar dimengerti bahwa sahabat Ibnu Mas’ud, seperti juga sahabat Ubay bin Ka’ab adalah bukan sahabat sembarangan dalam dunia pergur’anan.

Al hasil, kedudukan istimewa dan kesenioran Ibnu Mas’ud cukup sebagai bukti kelemahan anggapan di atas.

Kedua, Andai dua surah itu belum mutawâtir menurut Ibnu Mas’ud karena keterbatasan informasi yang diperolehnya sa’at hidup Nabi, akan tetapi bukankah Ibnu Ma’sud hidup selama 13 tahun setelah kematian Nabi dan tentunya ia punya banyak kesempatan untuk mendapatkan kepastian akan kemutawâtiran dua surah tersebut?! Dapatkah kita membayangkan waktu sepanjang itu tidak cukup bagi seorang Ibnu Mas’ud untuk mendapatkan kepastian akan kequr’anan dua surah tersebut? Hal itu sulit dibayangkan apalagi diterima!

Ketiga, Sikap Ibnu Mas’ud dalam hal ini bukan mencerminkan sikap seorang yang belum mendapatkan informasi akan kequr’anan dua surah tersebut sehingga ia harus berhenti sejenak untuk menata sikapnya dan bersegera mencari tau dan kepastian. Akan tetapi sikapnya adalah sikap keras yang menolak anggapan kequr’anan dua surah tersebut, ia bangkit untuk menghapusnya dari mush-haf dan mengajak orang lain untuk menghapusnya dan tidak meyakini kequr’anannya… dan keduanya hanya turun sebagai azimat untuk Hasan dan Husan… Jadi mana mungkin kita mengasumsikan keterlambatan Ibnu Mas’ud dalam memperoleh informasi tentangnya!

Senjata Sakti

Menghadapi semua kenyataan dan berbagai konsekuensi yang lahir darinya, sebagain ulama Islam mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud telah menarik pendapatnya tersebut! Dan selesailah polemik dalam masalah ini. Demikian dikatakan Ibnu Katsir [11] dan ar Râzi. Tatapi apa alasan anggapan itu? Tidak jelas, hanya karena husnudzdzn kepada sahabat sekaliber Ibnu Mas’ud semata! Dan itu artinya, secara tidak disadari mengandung pengakuan akan adanya perubahan pada Al Qur’an paling tidak dalam pandangan Ibnu Mas’ud, namun karena berperasangka baik kepadanya, kita yakini ia telah mencabut pendapatnya itu.

Hilangnya Dua Surah Panjang

Selain itu, ada dua surah panjang yang belum diketahui dengan jelas dan pasti identitasnya, hanya saja diketahui bahwa salah satunya menyerupai panjangnya surah Taubah dan yang satu lagi menyerupai surah-surah musabbihât (yang dibuka dengan kalimat sabbaha lillahi, atau yusabbihu lillahu).

Imam Muslim dalam Shahih-nya [12] meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu al Aswad Dzâlim ibn ‘Amr, ia berkata, “Abu Musa al Asy’ari mengutus seorang untuk mengumpulkan para ahli Al Qur’an kota Bashrah, tiga ratus ahli Al Qur’an datang menemuinya, semuanya telah menghafal Al Qur’an. Lalu Abu Musa berkata, ‘Kalian adalah paling baiknya penduduk kota Bashrah dan ahli Al Qur’an di antara mereka. Maka bacalah ia, jangan sampai panjang waktu berlalu atas kalian (tanpa membacanya), karena hati kalian akan mengeras, seperti mengerasnya hati kaum sebelum kalian. Kami dahulu membaca sebuah surah yang kami serupakan dengan surah Barâ’ah dalam panjang dan keras muatannya, tetapi aku dilupakan terhadapnya, hanya yang masih aku hafal adalah ayat:لَوْ كانَ لإبْنِ آدَمَ وادِيانِ مِنْ مالٍ لأبْتَغَى ثالِثًا، ولا يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدمَ إلاَّ الترابُ.

Dan kami dahulu membaca sebuah surah yang kami serupakan dengan salah satu surah musabbihât, hanya saja aku lupa selain satu ayat yang masih aku hafal:

يَا أَيُّها الذينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُوْنَ ما لاَ تَفْعَلُُونَ فَتُكْبُ شهادَةً فِيْ أعْناقِكُمْ فَتُسْأَلُونَ عنها يومَ القيامَةِ.

Dalam ad Durr al Mantsûr, As Suyuthi meriwayatkan dari Abu Ubaid dalam kitab Fadhâil-nya, Ibnu Dharîs dari Abu Musa al Asy’ari, ia berkata, “Telah turun surah yang keras isinya seperti surah Barâ’ah, kemudian ia dianggkat, dan yang masih aku hafal adalah ayat:

إِنَّ اللهَ سَيُؤَيِّدُ هذا الدينَ بِأَقْوامٍ لا خلاَقَ لَهُمْ.

“Sesungguhnya Allah akan membantu agama ini dengan kaum-kaum yang tidak bernilai.” [13]

Riwayat serupa juga dalam Majma’ az Zawâid, 5/302 dan ia komentari, “Hadis ini diriwayatkan ath Thabarâni, dan para periwanya adalah para perawi kitab Shahih selain Ali bin Zaid, ia agak sedikit lemah, tetapi hadisnya baik/hasan dengan bantuan riwayat-riwayat lain yang mendukungnya.”

Tidak diketahui dengan pasti, apakah surah yang menyerupai surah Barâ’ah yang disebut pada dua riwayat terakhir ini adalah surah yang sama dengan yang disebut pada riwayat pertama atau tidak? Tapi paling tidak, umat Islam telah kehilangan dua surah panjang dari mush’haf-mush’haf mereka.

Pertanyaannya ialah, ‘Kemanakah hilangnya dua surah panjang yang dahulu dihafal para sahabat, di antaranya adalah Abu Musa itu?’ Mengapakah tidak seorangpun selain Abu Musa yang menyebutkannya? Bagaimana para ulama Islam menetapkan kequr’anan dua surah panjang hanya berdasar riwayat âhâd?

Kesimpulan:

Dari data-data yang telah kami kemukakan terlihat jelas bahwa ada enam surah Al Qur’an yang mengalami perubahan. Al Qur’an yang sekarang beredar di kalangan umat Islam Ahlusunnah, tidak memuat seluruh yang pernah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, terjadi pengurangan dan penambahan. Sebagaimana ada dua surah asing yang bukan dari firman Tuhan ikut tercampur di dalamnya!

Dengan kenyataan pahit seperti ini, masihkan kita sempat “melempari” kitab-kitab hadis Syi’ah dan menuduh mereka meyakini tahrîf?!

Semua yang mereka lakukan sekedar fitnah yang dilontarkan untuk menipu kaum awam, dengan menutup-nutupi “borok” yang ada dalam riwayat-riwayat yang ada dalam kitab-kitab standar mereka sendiri.

Seperti berkali-kali kami tegaskan, ini semua adalah kerjaan musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin.

(Bersambung)

_________________________

[1] Baca Majma’ az Zawâid,7/149 dari Abdur Rahman bin Yazid an Nakha’i dengan sanad shahih, Mushannaf; Ibnu Abi Syaibah,10/538 hadis dengan nomer10254, dan Fathu al Bâri,8/743 dll.

[2] Shahih Bukhari, Kitab at Tafsîr, bab Tafsir Surah Qul A’ûdzu Birabbin Nâs,6/223.

[3] As Sunan al Kubrâ,2/394 hadis nomer3851.

[4] Musnad al Humaidi,1/185 hadis nomer 374.

[5] Fathu al Bâri,8/742 hadis nomer4693.

[6] Fathu al Bâri,8/742 hadis nomer4693.

[7] Ibid.

[8] Baca al Itqân, naw/macam ke 20 tentang para penghafal dan periwayat Al Qur’an,1/93.

[9] Sunan at Turmudzi,10/312-313 hadis no.3898, bab Man6aqib Abdillah bin Mas’ud.

[10] Tuhfah al Ahwadzi,10/312-313.

[11] Tafsir Ibnu katsir,4/571.

[12] Shahih Muslim,3/100, Kitab az Zakâh, Bab Karâhiyatu al Hirshi ‘Ala ad Dunya. Dan dengan syarah An Nawawi pada,7/139-140 dan al Itqân,2/25 dengan hanya menyebut bagian akhir hadis saja.

[13] Ad Durr al Mantsûr,1/105.

Surah Bara’ah Banyak Yang Hilang Ayatnya!

Dalam beberapa riwayat ulama Ahlusunnah, disebutkan bahwa sahabat Hudzaifah ibn al Yamân menyalahkan penamaan surah Barâ’ah dengan nama surah at Taubah, sebab pada kenyataannya surah itu mengandung siksa dan membongkar kedok kaum munafikin… kesalahan penamaan itu dikarenakan manusia hanya membaca seperempatnya saja, sementara tiga perempatnya telah musnah. Andai mereka membacanya dengan lengkap pastilah tidak akan menamakannya dengan nama surah at Taubah!

Sebenarnya ayat-ayat surah tersebut yang duturunkan Jibril kepada Muhammad jauh lebih banyak dari yang sekarang ini. Ibnu Abi Syaibah, ath Thabarâni, Abu Syeikh, al Hakim dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada sahabat Hudzaifah, ia berkata, “Yang kalian namakan surah at Taubah itu sebenarnya adalah surah adzab/siksa. Demi Allah surah itu tidak menyisakan seorangpun melainkan ia sebut (keburukannya), dan kalian sekaran tidak membacanya kecuali hanya seperempatnya saja.” [1]


Al Hakim dalam kesempatan lain meriwayatkan dari Hudzaifah, “Yang kalian baca itu hanya seperempatnya saja, dan dia itu surah adzab.” [2]

Dalam kesempatan lain, Al Haitsami juga meriwayatkan dari Hudzaifah, “Kalian menamianya surah at Taubah, itu sebanarnya adalah surah adzab. Dan kalian hanya membaca seperempat dari yang dahulu kami baca.” [3]

Imam Malik Menyakini Adanya Kekurangan Pada Al Qur’an Sekarang!

Imam Malik –salah seorang ulama besar Islam, pendiri mazhab Malikiyah- meyakini bahwa beran-benar telah terjadi kekurangan pada surah Bara’ah… telah gugur banyak bagian darinya entah kemana dan entah siapa yang bertanggung jawab atas kemusnahan itu! Pasalnya, ketika bagian awalnya gugur/hilang maka gugurlah pulalah basmalah-nya.

Demikian dilaporkan para ulama dan pakar ahli Al Qur’an seperti Burhanuddin az Zarkasyi dalam al Burhân-nya dan Jalaluddin as Suyuthi dalam al Itqân-nya.

Imam Malik berkata tentang sebab gugurnya basmalah pada pembukaan surah Barâ’ah, “Sesungguhnya ketika bagian awalnya gugur/hilang maka gugurlah pulalah basmalahnya. Dan telah tetap bahwa ia sebenarnya menandingi surah al Baqarah (dalam panjangnya)” [4]

Selain Imam Malik, Ibnu ‘Ajlân juga meyakininya demikian.

Dan seperti kita ketahui bersama bahwa ayat-ayat surah Barâ’ah sekarang hanya berjumlah129 ayat sementara ayat-ayat surah al Baqarah berjumlah 286, jadi yang hilang sekitar 157 ayat.

Dari dokumen-dokumen yang diriwayatkan ulama Islam dapat diketahui bahwa telah terjadi berubahan dalam Al Qur’an dalam bentuk pengurangan banyak bagian Al Qur’an dimana sekarang tidak lagi dapat dibaca umat Islam, sebab ia telah musnah ditelan masa.

(Bersambung)

_____________________

[1] Baca ad Durr al Mantsûr, 3/208, Mustadrak; al Hakim,3/208 dan ia komentari, “Ini adalah hadis shahih sanadnya, akan tetapi Buhari&Muslim tidak meriwayatkannya.”, Mushannaf; Ibnu ABi Syaibah,10/509 hadis no.10143, Majma’ az Zawâid,7/28 dan ia komentari, “Hadis ini diriwayatkan ath Thabarâni dalam al Awsath dan rijâl (perawi)nya tsiqât/jujur terpercaya.”.

[2] Mustadrak; al Hakim,2/330, dan ia komentari, “Ini adalah hadis shahih sanadnya, akan tetapi Buhari&Muslim tidak meriwayatkannya.”,

[3] Majma’ az Zawâid,7/28 dan ia komentari, “Hadis ini diriwayatkan ath Thabarâni dalam al Awsath dan rijâl (perawi)nya tsiqât/jujur terpercaya.”.

[4] Al Itqân,1/86, baca juga al Burân,1/263.

Sekali lagi kami tegaskan bahwa, keyakinan kami tentang Al Qur’an adalah apa yang kami warisi dari para ulama dan tokoh-tokoh mazhab Syi’ah berdasarkan hadis-hadis shahih dari para imam suci Ahlulbait Nabi saw., yaitu bahwa Al Qur’an adalah terjaga dari perubahan.

Dan ketika menyebut beberapa riwayat yang mengesankan adanya perubahan dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah, kami tidak bermaksud menuduh Ahlusunnah meyakini tahrif dalam Al Qur’an seperti yang tertera dalam riwayat-riwayat mereka itu! Hanya saja kami ingin memelekkan sebagian pengacau yang selalu menuduh Syi’ah meyakini tahrif karena adanya riwayat dalam kitab-kitab Syi’ah…. Atau menuduh ulama tertentu meyakini tahrif dikarenakan ia memuat riwayat yang dianggap menunjukkan adanya tahrif. Sementara, riwayat-riwayat seperti itu, atau bahkan lebih parah juga ada dalam kitab-kitab standar yang ditulis oleh ulama besar Ahlusunnah. Jadi kami hanya bermaksud menunjukkan semata! Harap tidak disalah artikan ulasan kami ini.

Setelah Anda ketahui bersama riwayat-riwayat yang menyebut adanya tahrîf yang meninpa Al Qur’an dengan hilangnya ayat-ayat dalam jumlah yang tidak sedikit… mari kita teliti riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa ada ayat-ayat Al Qur’an yang pernah turun kepada Nabi Muhammad dan dihafal serta dibaca para sahabatnya, akan tetapi sekarang tidak terjaring dalam mush-haf umat Islam.

Ayat-ayat yang telah diketahui identitas teksnya namun sekarang lenyap dari mush-haf kaum Muslimin itu sebenarnya dapat kita temukan dalam laporan para sahabat Nabi Muhammad, sehingga apabila kita bermaksud untuk mengembalikannya lagi dalam Al Qur’an, semestinya bisa-bisa saja, walaupun diakui akan ada kesulitan dalam penempatannya, sebab sebagiannya tidak diketahui persis posisinya di mana?

Kami akan awali dengan ayat Rajm.
1) Ayat Rajam

Ayat Rajam adalah ayat yang memuat hukum rajam atas pelaku perzinahan yang telah berusia lanjut, baik ia laki-laki maupun perempuan, baik sudah bersuami/beristri ataupun belum.

Redaksi ayat tersebut seperti yang dilaporkan adalah demikian:

الشَّيْخُ و الشيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجَمُوهُمَا البَتَّةَ نَكالاً مِنَ اللهِ و اللهُ عليمٌ حَكِيْمٌ.

Orang laki-laki yang telah tua dan orang perempuan yang telah tua jika keduanya berzina, maka keduanya mutlak harus dirajam, sebagai balasan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.

Redaksi ini telah diyakini kequr’anannya oleh banyak sahabat dan ulama Islam, sebagaimana diriwayatkan dan dishahihkan kebenarannya oleh para ulama itu. Ia telah diabadikan dalam koleksi hadis-hadis riwayat para pembesar ulama Islam seperti Imam Bukhari, Imam Musli, Imam Ahmad Imam Malik daln selain mereka masih banyak lagi.

Khalifah Umar ibn al Khaththab-lah yang peling bersemangat menyelamatkan ayat Al Qur’an dari kepunhan. Laits ibn Sa’ad melaporkan, “Orang pertama yang mengumpulkan Al Qur’an adalah Abu Bakar dengan bantuan Zaid… dan Umar datang membawa ayat rajam tetapi Zaid tidak menulisnya, sebab ia datang sendiri (tanpa seorang saksi).”[1]

Tidak berhenti di sini, Khalifah Umar bersikeras bahwa ayat tersebut adalah bagian dari Al Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad saw.. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., “Ia berkata, ‘Umar  berkata dari atas mimbar, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dengan kebenaran dan menurunkan kepadanya sebuah kitab. Salah satu ayat yang diturunkan adalah ayat rajam, lalu kami menyadari sepenuhnya. Itulah sebabnya Rasulullah saw. malakukan perajaman, dan setelah beliau wafat kami melakukan hal yang sama. Lalu aku khawatir jika berlalu beberapa masa orang-orang akan mengatakan: ‘Demi Allah, kami tidak menemukan ayat rajam dalam kitab Allah.’ Kemudian dia menjadi sesat dengan tindakannya meninggalkan hukum wajib, farîdah yang diturunkan oleh Allah… Rajam itu ada di Kitabullah, ia adalah haq/wajib diberlakukan atas seorang baik laki-laki maupun wanita yang berzina jika ia telah menikah apabila telah tegak bukti atasnya…. Kemudian kami pernah membaca dalam sebuah ayat yang berbunyi:

لاَ تَرْغَبُوا عَنْ آبائِكُمْ فَإِنَهُ كُفْرٌ بكُمْ أنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبائِكُمْ .

“Jangan kamu menisbatkan dirimu kepada selain ayah-ayah kandungmu, karena kafirlah apabila kamu menisbatkan kepada selain ayah-ayahmu.”[2]

Syaikhul Islam mengomentari dengan keterangan bahwa ayat rajam itu berbunyi:

الشَّيْخُ و الشيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجَمُوهُمَا البَتَّةَ.

Orang yang bersuami dan orang yang beristri jika keduanya berzina, maka keduanya mutlak harus dirajam.

Umar membatalkan mencantumkan ayat rajam dalam Al Qur’an bukan karena ia ragu bahwa ia benar-benar bagian dari Al Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad saw., akan tetapi karena kekhawatirannya akan tuduhan manusia bahwa ia telah menambah-nambah Al Qur’an, sebab orang-orang tidak mengetahui dengan baik kalau ayat itu adalah bagian dari Al Qur’an. Maka demi menjaga diri dari tuduhan itu beliau merelakan untuk tidak memasukkannya.

Dalam beberapa riwayat lain yang melaporkan pidato Khalifah Umar di atas terdapat redaksi tambahan yang mengatakan:

وَ ايْمُ اللهِ! لَوْ لا أَنْ يقولَ الناسُ زادَ عُمَرُ في كتابِ اللهِ عزَّ و جَلَّ لَكَتَبْتُها.

“Andai bukan karena takut manusia berkata, ‘Umar menambah dalam Kitab Allah- Azza wa Jalla- pastilah aku tulis ayat itu.” [3]

Imam an Nasa’i juga meriwayatkan dalam kitab as Sunan al Kubrâ-nya dengan sanad shahih dari Abdurrahman ibn ‘Auf, ia berkata, “Umar berpidato, lalu berkata, ‘….. . Mereka juga berkata Rajam? Sungguh Rasulullah saw. telah merajam dan kamipun merajam. Dan Allah telah menurunkan (ayat Rajam) dalam Kitab-Nya.

وَ لَوْ لا أَنْ الناسُ يقولُونَ زادَ عُمَرُ في كتابِ اللهِ عزَّ و جَلَّ لَكَتَبْتُهُ بِخَطِّيْ حَتَّى أُلْحِقُهُ بالكتابِ.

“Andai bukan karena manusia mengatakan Umar menambah-nambah dalam Kitab Allah pasti aku telah menulisnya dengan tulisanku sendiri sehingga aku gabungkan dengan Kitabullah.”[4]

Dalam riwayat lain, juga dalam as Sunan al Kubrâ dengan redaksi:

لولا أنْ يقولوا أثْبَتَ في كِتابِ اللهِ ما لَيْسَ فِيْهِ لأُثْبِتُها كما أُنزِلَتْ

“Andai bukan karena manusia akan berkata, ‘ia menetapkan dalam Kitab Allah sesuatu yang bukan darinya, pastilah aku akan tetapkan sebagaimana ia diturunkan.”[5]

Dan seperti telah lewat disebutkan bahwa Umar meyakininya termasuk dari ayat Al Qur’an yang hilang bersama kematian Nabi Muhammad saw.

Umar berkata:

أَيُّها الناس! لا يَجْزِعَن مِنْ آيَةِ الرَجْمِ، فَإِنَها أيَةٌ نزلَتْ في كتابِ اللهِ و قَرَأْناها، و لَكِنَّها ذَهَبَتْ في قُرْآنٍ كَثِيْرٍ ذهَبَ معَ محَمَّدٍ.

“Hai sekalian manusia! Jangan ada orang yang sedih atas ayat Rajam. Sesungguhnya ia adalah ayat yang diturunkan dalam Kitab Allah, kami semua membacanya, akan tetapi ia hilang bersama banyak ayat Al Qur’an yang hilang bersama (kematian) Muhammad.”[6]

Dari riwayat-riwayat di atas jelaslah bagi kita bahwa Al Qur’an kaum Muslimin yang beredar sekarang ini dalam pandangan Khalifah Umar ibn al Khaththab adalah kurang sebab ayat jaram yang pernah turun kepada Nabi Muhammad tidak lagi tertera di dalamnya. Dan sebenarnya ia sangat bersemangat untuk tetap menyantumkannya dalam Al Qur’an, sebab ai adalah ayat Al Qur’an, dan andai bukan karena takut dari cercaan dan tuduhan manusia bahwa ia menambah dalam Al Qur’an sesuatu yang bukan dari Al Qur’an pastilah beliau telah menyantumkannya dan umat Islam-pun dapat menemukan dan membacanya dalam Mush-haf-mush-haf mereka! Tetapi sayang, Khalifah Umar harus merelakan –walau dengan berat hati- kepergian ayat itu untuk selamanya demi memelihara kemapaman anggapan Umat Islam dewasa itu yang belum menyadari bahwa ia adalah bagian dari firman kudus Tuhan dalam Al Qur’an!

Riwayat ini membuat repot para ulama Islam, khususnya ucapan Khalifah Umar –sebagai pemimpin tertinggi sepeninggal Nabi Muhammad-:“Andai bukan karena takut manusia berkata, ‘Umar menambah dalam Kitab Allah- Azza wa Jalla- pastilah aku tulis ayat itu.”, As Subki dalam kitab al Ibhâj-nya merasa kebingungan dengan data itu, dan ia mengatakan tidak tau harus memaknainya bagaimana? Sebab ucapan Umar itu artinya, ayat tersebut pada dasarnya boleh dan sah untuk dituliskan dalam Mush-haf dan itu artinya ia boleh dibaca dalam shalat… tetapi, masih kata as Subki, ‘Kami tidak ragu sedikitpun bahwa Umar telah berucap yang benar.”[7] bahwa ayat itu adalah bagian dari Al Qur’an!

Nabi Muhammad-lah Yang Tidak Suka Menetapkan Ayat Rajam

Ada sebuah riwayat dalam Musnad Imam Ahmad dengan sanad shahih yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad-lah yang kariha, tidak suka untuk menuliskan ayat Rajam tersebut, sebab sepertinya syari’at tentang hukum rajam tidak tepat.

Dengan sanad bersambung kepada Katsîr ibn Shalt, ia berkata, “… Maka Umar berkata, ‘Ketika ayat tersebut (Rajam) turun, aklu datang menemui Rasulullah saw. dan berkata, ‘Apakah Anda sudi menuliskannya untukku?’ Syu’bah berkata, ‘Sepertinya beliau tidak suka-. Umar berkata, ‘Tidakah Anda memperhatikan bahwa seorang syeikh, tua jika ia belum menikah hanya dikenai hukuman dera saja dan seorang pemuda-pun jika sudah menikah akan dirajam?!’”[8]

Riwayat di atas jelas sekali bahwa menurut Khalifah Umar bahwa ayat itu adalah bagian dari wahyu Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, hanya saja ketika ia turun, Umar datang dan meminta izin agar menulisnya, akan tetapi Nabi tidak menyukai apabila ayat tersebut ditulis. Lalu Khalifah Umar berkata kepada Zaid bahwa alasan mengapa Nabi tidak suka menuliskan ayat yang bermuatan bahwa Syeikh dan Syeikhah (pria tuda dan wanita tua) jika berzina maka harus dirajam secara mutlak, baik sudah menikah maupun belum, yaitu disebabkan karena dalam Syari’at Islam pelaku zina itu hanya akan dikenai hukum rajam apabila ia telah menikah, baik masih muda ataupun sudah tua bangka! Tua ataupun mudanya usia tidak menjadi tolok ukur menetapan hukum rajam! Sepertinya ayat itu salah sehingga karenanya, Nabi tidak suka apabila ia ditulis. Demikian yang tampak dari riwayat di atas.

Dari seluruh riwayat di atas dan lainnya, maka tampak jelas sekali bahwa ayat tersebut benar-benar telah diyakini Khalifah Umar sebagai bagian dari Al Qur’an, walaupun sekarang tidak dapat ditemukan dalam Al Qur’an. Menyikapi kenyataan ini ada tiga opsi, dan tidak ada opsi keempat:

(1)   Al Qur’an yang sekarang beredar di tangan kaum Muslimin di seluruh dunia ini adalah telah muharraf, mengalami kerusakan dengan hilangnya ayat Rajam,

(2)   Ayat Rajam ini bukan bagian dari Al Qur’an akan tetapi Khalifah Umar menetapkannya sebagai Al Qur’an, dan hal demikian artinya Umar berniat mau menambah-nambah Al Qur’an dan tentunya ini adalah sebuah kakafiran,

(3) Atau kitab Shahih Bukhari –sebagai kitab hadis paling shahihsetelah Al Qur’an yang seluruh hadis di dalamnya adalah shahih- memuat hadis palsu yang menisbatkan kepada Khalifah Umar kebohongan dan kepalsuan.

Untuk menentukan opsi mana yang akan dipilih, itu tergantung kepada ulama Ahlusunnah!

Siti Aisyah juga Meyakini Ayat Rajam

Jalaluddin as Suyuthi meriwayatkan dari Siti Aisyah –istri Nabi Muhammad- bahwa ia berkata, “Ayat Rajam dan ayat Radhâ’ah (menyusui orang dewasa sepuluh kali susuan) telah turun. Dahulu ia aku simpan di dalam lembaran yang aku letakkan di bawah ranjangku. Lalu ketika Nabi meninggal, kami tersibukkan dengan kematiannya, maka masuklah seorang kambing lalu memakan kembaran itu.”[9]


Ubay ibn Ka’ab Meyakni Ayat Rajam

As Suyuthi juga meriwayatkan dari para ulama dan muhadditsin bahwa Ubay ibn Ka’ab juga meyakini kequr’anan ayat Rajam, seperti juga telah disebutkan ketika membicarakan surah al Ahzâb.[10]


Bibi Abu Umamah Juga Meyakni Ayat Rajam

As Suyuthi juga meriwayatkan dari para ulama dan muhadditsin bahwa khâlah/bibi Abu Umamah meyakini kequr’anan ayat rajam, ia berkata, “Rasulullah saw. menghajarkan kepada kami bacaan ayat rajam:

الشيخُ و الشيخَةُ فارْجُمُوهُما البتَةَ بِما قَضَيَا مِنَ اللَّذَّةِ.

Syaikh dan syeikhah rajamlah keduanya karena mereka berdua telah merasakan kelezatan (berzina).[11]

Maka dari penelusuran sederhana di atas dapat disimpulkan bahwa sekelompok sahabat Nabi Muhammad telah menegaskan kequr’anan ayat rajan dan Nabi telah mengajarkan kepada mereka bacaan ayat tersebut. Mereka antara lain adalah:

  1. 1. Khalifah Umar ibn al Khaththab (pemimpin tertinggi umat Islam, pengganti Nabi setelah Abu Bakar).
  2. 2. Siti Aisyah (istri Nabi yang paling diandalkan dalam ilmu agama).
  3. 3. Ubay ibn Ka’ab (sahabat paling diandalkan Nabi untuk mentranfre ayat-ayat Al Qur’an kepada para sahabat lain).
  4. 4. Bibi Abu Umamah ibn Sahl.

Bahkan jelas dari riwayat siti Aisyah di atas bahwa hilangnya ayat Rajam bersamaan dengan wafatnya Nabi.

Hadis-hadis yang memuat penegasan mereka telah diriwayatkan oleh banyak ulama seperti telah disinggung.

Sekali lagi, apa tanggapan ulama tentang riwayat-riwayat keyakinan Umar  dan sekelompok sahabat lain tentang kequr’anan ayat Rajam itu?


[1] Al Itqân,1/121.

[2] Shahih Bukhari, Kitabul Muhâribîn, Bab Rajmul Hublâ idza ahshanat (merajam orang yang hamil yang berzina jika ia telah menikah),8/208, Shahih Muslim,Kitabul Hudûd, Bab rajmu ats Tsayyib min az Zinâ (merajam janda apabila berzina), 5/116.

[3] Nushbu ar Râyah; az Zaila’I al Hanafi,3/318.

[4] As Sunan al Kubrâ,4/272 hadis no.7151.

[5] Ibid.273 hadis no.7154.

[6] Mushannaf; ash Shan’âni,7/345, hadis no.13329.

[7] Al Ibhâj Fi Syarhi al Minhâj,2/242.

[8] Musnad Ahmad,5/183 hadis no.21636 dan Sunan al Baihaqi,8/211.

[9] Sunan Ibnu Mâjah,1/625 hadis no.1944. cet. Dâr Ihyâ’ at Turâts al Arabi.

[10] Al Itqân,2/32.

[11] Ibid.

Iklan

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: