WAKIL RESMI SYI’AH DI MUI


Posted on 14 Januari 2009 by satuislam.wordpress.com

Sudah saatnya sekarang MUI sebagai intitusi ulama yang resmi di negri ini menempatkan satu atau dua orang dari wakil mazhab syi’ah Imamiyah agar umat Islam Indonesia memiliki kesamaan sikap atau minimal punya toleransi bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum sunni tetap menjadi sunni dan kaum syi’ah tetap menjadi syi’ah karena Sunnah dan syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari rahim islam yang satu, kalupun ada perbedaan lebih kepada masalah furu’iyah bukan pokok lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada termakan isyu propoganda perbedaan dari kaum zionis, salibis, dan kaum fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik sunnah maupun syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama.

Keluarkan Fatwa bahwa Syi’ah itu Kufur

Sebenarnya persoalannya sederhana. Keluarkan dulu fatwa oleh ulama yang mewakili umat Islam bahwa Syi’ah itu kufur atau tersesat. Saya ingin bertanya, dapatkah pengikut seminar atau MUI mengeluarkan fatwa yang mengkufurkan Syi’ah? Keluarkan dulu fatwa dan marilah kita sebarkan fatwa ini ke masyarakat luas.

Tetapi, bagaimana mungkin saudara dapat mengeluarkan fatwa seperti itu? Saudara-saudara tidak memahami Syi’ah, sebagaimana dapat saya simpulkan dari pemberitaan televisi dan koran.

Memahami Syi’ah memang perlu keberanian untuk membaca dan memahami akidah mereka. Sayang saudara-saudara tidak memilikinya. Kalau mengenal Syi’ah saja tidak maka menjelek-jelekkan mazhab lain, jelas tidak islami.

Bukankah ukhuwah islamiyah wajib hukumnya?

Kesulitan terletak pada alasan pengkufuran tersebut. Sudah sejak zaman Rasulullah SAWW sampai para sahabat, sejak kehadiran Syi’ah, belum pernah ada ‘fatwa’ seperti itu.

Pemerintah kita tidak membutuhkan dukungan ulama secara membabi-buta, yang menjerumuskan, melainkan ulama yang intelek, sopan dan mengenal tatakrama serta memberikan peringatan bila menganggap pemimpin berbuat salah, karena Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

“Dan berilah peringatan. Sungguh peringatan itu memberi manfaat kepada orang beriman.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 55)

Kita harus menolak pikiran orang asing seperti Robert Lacey, penulis The Kingdom (Fontana, 1982) yang melukiskan bahwa perbedaan Sunnah dan Syi’ah, adalah bahwa Sunnah lahir dari kalangan penguasa, dari ulama yang mendukung dan membuat fatwa untuk legitimasi kekuasaan.

Dan kita juga harus menolak anggapan tokoh Islam seperti Fazlur Rahman bahwa kebanyakan ulama Sunni jadi pendukung setiap pemimpin. Fazlur Rahman mengatakan dalam bukunya Membuka Pintu Ijtihad: “Orang-orang Sunni hampir selalu menjadi pendukung setiap pemimpin negara.” (terjemahan Anas Mahyuddin, Pustaka, Bandung, 1984, hal. 137).

Bukankah fatwa ulama Kuffah atas bayaran gubernur Mughirah bin Syu’bah, yang juga sorang sahabat, untuk membenarkan pengangkatan Yazid bin Mu’awiyah sebagai ‘khalifah’? Lupakah betapa dahsyat akibat fatwa tersebut?

Apakah yang dilakukan Yazid pada tahun 61 H. di Karbala? Ia membunuh Husain dengan 72 anggota keluarga dan sahabatnya, memenggal kepala, menginjak-injaknya dengan kaki-kaki kuda serta mengaraknya dari kota ke kota?

Atau penggerayangan kota Madinah pada tahun 63 H? Para sejarahwan mengatakan sekitar 20.000 orang dibunuh, termasuk masing-masing 700 orang Muhajirin dan Anshar. Dan tatkala ia (Yazid) memerintahkan pasukannya agar memperkosa para wanita dan menghamili sekitar 1000 gadis sehingga untuk menjawab pinangan wanita Madinah, orang tua anak-anak gadis itu mengatakan bahwa mereka tidak menjamin bahwa anak gadis mereka masih perawan?

Ia juga menghancurkan Ka’bah dengan ketapel. Sekali lagi, baca dan bacalah! Sebagai ulama, saudara-saudara tidak boleh malas.

Tapi tidak mengherankan kalau kaum Wahabi menulis buku ‘Yazid Amiru’l-Mu’minin’ atau ‘Pemimpin Kaum Mukminin’, dan mengharuskan para siswa membacanya!

Apakah Kerajaan Saudi Kufur? Jangan saudara-saudara mengira bahwa negara sahabat kita Saudi Arabia sebagai negara orang kafir karena membiarkan sekitar 200.000 orang Syi’ah yang saudara anggap kafir, memasuki Ka’bah untuk berhaji atau membiarkan orang Syi’ah hidup dinegaranya.

Dan jumlah orang Syi’ah di Saudi bukan satu dua orang, tapi paling sedikit terdiri dari 6% penduduknya. Bukankah Rasulullah SAWW dalam wasiat terakhirnya, seperti dimuat dalam hadits-hadits shahih, tidak membolehkan orang kafir berada di Jazirah Arab?

Tahun 1994, pemerintah Kerajaan Saudi menyusun Dewan Syura, yang terdiri dari 60 anggota, termasuk 6 orang dari wakil Syi’ah.

Pendapat H. Abubakar Aceh dan H. Abdullah bin Nuh

Selain pendapat HAMKA yang telah disebutkan, H. Abubakar Aceh dalam bukunya “Syi’ah, Rasionalisme Dalam Islam” membenarkan pendapat banyak ulama bahwa mazhab Syafi’i yang kita anut lebih dekat kepada mazhab Syi’ah daripada mazhab Hanafi. (Kata Pendahuluan, Cetakan II, Ramadhani, Semarang).

Demikian pula pendapat H. Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar yang banyak mempelajarai Syi’ah. Penulis buku “Al-Islam fi Indonesia” itu bukan saja sangat menghormati mazhab Syi’ah, tetapi malah berpendapat bahwa penyebar Islam di Indonesia, kebanyakan adalah orang Syi’ah dan banyak orang Iran tinggal di kota-kota di Indonesia. Beliau adalah salah satu dari beberapa orang yang mengenal Syi’ah. Mudah-mudahan Allah SWT merahmatinya.

Setahu saya, pembela Syi’ah belum tentu menganut paham Syi’ah. Mereka membela karena banyak membaca sejarah, punya rasa keadilan serta tidak menyetujui pengkafiran lebih dari 200 juta kaum Syi’ah secara serampangan.

Anak-anak muda justru membaca buku untuk mengetahui apakah benar fatwa MUI atau fatwa-fatwa seperti ini? Jangan menganggap mahasiswa atau anak muda kita bodoh! Fatwa serupa inilah justru yang mendorong mahasiswa dan pemuda kita mempelajari sejarah dan melebihi literatur saudara-saudara.

Rukun Islam dan Rukun Iman Syi’ah

Kaum Syi’ah mempunyai rukun Islam seperti kaum Sunnah, membaca syahadat bahwa Allah itu Esa, ahad, tidak ada tuhan selain Dia, dan Muhammad SAWW adalah Rasul terakhir. Mereka juga mendirikan shalat menghadap ke Baitullah lima kali sehari, mengeluarkan zakat, puasa wajib di bulan Ramadhan, dan berhaji bagi yang mampu.

Juga mereka mempunyai rukun Iman seperti kita. Mereka percaya pada Allah yang esa, para malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah untuk nabi-nabiNya yang mulia, percaya akan Rasul-rasulNya, hari kemudian, dan takdir Allah.

Sikap Terhadap Sahabat

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi’ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim, seperti si munafik ‘Abdullah bin ‘Ubay dengan kelompoknya yang berjumlah 300 orang yang melakukan desersi sebelum perang Uhud. Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti “Riwayat Hidup Rasulullah SAW” karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah” jilid II, hal. 213.

Atau Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat hadits-hadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?

Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.

Syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur’an turun dirumah mereka. Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka?

Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?

Mengapa mereka harus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi’ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim!

Haruslah diakui bahwa pandangan Syi’ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, ‘udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala.

Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap ‘Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar!

Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu’minin ‘Aisyah yang memerangi ‘Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu. Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini.

Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi’ah, tetapi kaum Wahabi!

Sebaliknya kaum Syi’ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin.

Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang ‘kufur’ dan ‘munafik’. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97).

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur’an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut.

Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ’sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin.

Imam Ma’shum

Mengapa saudara-saudara keberatan bila seorang muslim yang salih, yang tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh orang yang tidak berdosa, yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya disebut terjaga dari dosa? Apakah saudar-saudara menganut paham dosa warisan atau ‘original sin’?

Apalagi Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan (segala) kenistaan dari padamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33).

Yang dimaksud Al-Qur’an adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.

Ahlussunah pun percaya bahwa semua sahabat adil, dan semua tindakan mereka adalah ijtihad. Dan tindakan mereka mendapat pahala termasuk diantaranya sahabat yang melaksanakan pembunuhan berdarah dingin, pezinah, pemabuk, pembohong, pembakar orang hidup-hidup atau memerangi Imam zamannya dan perbuatan-perbuatan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata.

Ada juga kisah Khalid bin walid yang memenggal kepala Malik bin Nuwairah 1 dan memperkosa istri Malik yang cantik malam itu juga. Ia menggunakan kepala Malik sebagai tungku.

Ini bukan tuduhan kaum Syi’ah, tetapi catatan sejarawan Sunni! Umar bin Khattab menyebut Khalid bin Walid sebagai pembunuh dan pezinah yang harus dirajam. Abu Bakar menyatakan bahwa Khalid hanya sekedar salah ijtihad, dan menamakannya ’saifullah’ atau pedang Allah. “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.”, kata Abu Bakar.

Khalid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar. Umar mengingatkan Abu Bakar, dengan membawa hadits Rasulullah SAWW bahwa tidak boleh menghukum dengan hukuman yang hanya Allah boleh melakukannya. Dan Abu Bakar mengatakan, seperti diatas “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.” Banyak pula ulah Khalid yang lain, yang oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf dikatakan sebagai perbuatan jahiliyah, yaitu tatkala ia membunuh Bani Jazimah secara berdarah dingin.

Baca buku-buku yang berada dalam lemari saudara-saudara. Sekali lagi, tuduhan ini disampaikan oleh Umar bin Khattab, Ibnu Umar dan Abu Darda’. Kedua sahabat terakhir ini, ikut dalam pasukan Khalid dan membuat penyaksian.

Peristiwa inilah yang melahirkan adagium di kemudian hari bawah semua sahabat itu adil dan tiap tindakan mereka merupakan ijtihad dan kalau benar mereka dapat dua pahala, kalau salah satu pahala.

Pantaslah kalau Mu’awiyah yang meracuni Hasan, cucu Rasulullah, atau ‘Abdullah bin Zubair yang hendak membakar Ahlul Bait di gua ‘Arim atau Yazid yang membantai cucu Rasulullah, Husain dan keluarganya di Karbala, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan ’sunah’ atau contoh para sahabat sebelumnya.

Umar memecat Khalid bin Walid –yang oleh sejarawan disebut sebagai shahibul khumur, pemabuk– tatkala Umar menggantikan Abu Bakar dikemudian hari.

Apakah orang Syi’ah harus mengangkat mereka sebagai Imam? Sebab memiliki Imam, wajib hukumnya? Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: “Barangsiapa tidak mengenal Imam zamannya, ia mati dalam keadaan jahiliyah.”? Dan hadits yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasulullah SAWW ada 12 Imam, yang semuanya dari keturunan Quraisy. Bacalah hadits-hadits shahih enam seperti Bukhari dan Muslim!

Mengkritik akidah mazhab lain tidak boleh berdasarkan prasangka dan sinisme. Hormatilah akidah mereka. Benarlah kata orang, “Jangan melempar rumah orang lain bila rumah Anda terbuat dari kaca.”

Bacalah buku sejarah. Bukan ‘asal ngomonng’. Bukan zamannya lagi berbohong dengan ayat-ayat dan hadits, sebab umat sekarang sudah banyak yang pandai.

1 Malik bin Nuwairah adalah sahabat pengumpul zakat yang ditunjuk Rasulullah SAWW, dan oleh Rasulullah SAWW dikatakan sebagai ahli surga.

Mazhab Ja’fari, Mazhab Resmi Iran

Mengapa saudara-saudara keberatan bila pemerintah Iran menetapkan Ja’fari sebagai mazhab resmi bangsanya? Mengapa mencampuri urusan negara lain? Orang Iran sendiri tidak pernah keberatan Pancasila dijadikan dasar negara yang kita cintai ini.

Apakah saudara-saudara ingin agar Iran, yang mayoritas rakyatnya bermazhab Syi’ah, mengganti mazhab resminya dengan mazhab Wahabi? Saudara-saudara boleh mengusulkan kepada pemerintah Iran agar mengganti mazhab mresminya ke mazhab Wahabi atau ‘PERSIS’ atau mazhab ‘Al-Irsyad’. Saya yakin mereka tidak akan marah.

Kalau saudara-saudara bermazhab Syafi’i, beranikah saudara-saudara mengusulkan agar mazhab kerajaan Saudi Arabia yang Wahabi diganti dengan mazhab Syafi’i agar mereka masuk Ahlussunah wa’l Jamaah?

Melaknat Sahabat

Mengenai mencela dan melaknat sahabat, saya belum pernah membaca fatwa ulama yang mengkafirkan mereka. Misalnya, selama 80 tahun dinasti ‘Umayyah, kecuali di zaman khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis yang hanya dua setengah tahun. Muawiyyah dan para pejabatnya serta para ulamanya melaknat dan mencaci Ali bin Abu Thalib dan keluarga beserta pengikutnya diatas mimbar diseluruh dunia Islam termasuk di Makkah dan Madinah, kecuali di Sijistan. Di Sijistan, sebuah kota yang sekarang terletak antara Afghanistan dan Iran, hanya sekali melakukan pelaknatan diatas mimbar.

Ali dilaknat dan dicaci atas perintah sahabat dan ipar Rasulullah SAWW, Mu’awiyyah, serta khalifah-khalifa Bani Umayyah lainnya. Pada masa itu, misalnya, Ali tidak dianggap khalifah yang lurus. Abdullah bin Umar tidak mau membai’at Ali malahan membai’at Mu’awiyyah, Yazid bin Mu’awiyyah dan gubernur Hajjaj bin Yusuf yang terkenal sebagai penjahat yang mebunuh 120 ribu kaum muslimin dan muslimat secara berdarah dingin, shabran. Umar bin Abul Azis mengatakan bahwa Hajjaj pasti akan menjadi juara dunia bila para penjahat dikumpulkan dan ‘diperlombakan’. Ibnu Umar juga mengeluarkan hadits-hadits yang menyingkirkan Ali sebagai salah satu khalifah yang lurus.

Kita tahu, Mu’awiyyah membunuh para sahabat seperti, Hujur bin ‘Adi, Syarik bin Syaddad, Shaifi bin Fasil, Asy-Syabani, Qabisyah bin Dhabi’ah Al-Abbasi, Mahraz bin Syahhab Al-Munqari, Kadam bin Hayyan Al-Anzi dan Abdurrahman bin Hassan Al-Anzi hanya karena tidak mau melaknat Ali. Abdurrahman Al-Anzi dikirim kepada Ziyad bin Abih dan dikuburkan hidup-hidup di Nathif dekat kuffah, ditepi sungai Efrat.

Beranikah saudara-saudara peserta seminar menganggap Mu’awiyyah dan seluruh pejabat, sahabat Rasulullah SAWW yang mendukungnya, serta para ulama telah kafir karena bukan saja memerintahkan kaum muslimin, termasuk para sahabat agar melaknat Ali, tetapi juga membunuh mereka yang menolak untuk melaknat?

Pada masa itu tidak ada yang berani menamakan anaknya Ali. Sampai-sampai pernah seorang ayah melaporkan kepada penguasa karena merasa terhina oleh istrinya karena memanggilnya Ali!

Taqiyyah

Mengenai taqiyyah. Menjalankan taqiyyah adalah suatu permissibility, suatu kebolehan dalam Islam, berdasarkan nash. Seorang muslim yang lemah dan tertindas boleh menyangkal keimanannya bila nyawanya terancam seperti yang dialami oleh Ammar bin Yasir.

Thabathaba’i, misalnya membolehkan seseorang menyangkal keimanannya dalam keadaan terpaksa, untuk menyelamatkan nyawanya, kehormatan perempuan, atau hartanya yang bia dirampas, ia tidak dapat memberi nafkah kepada anak-istrinya. (Bacalah Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, Syi’a, Qum, 1981).

Disamping kasus Ammar bin Yasir, juga ada seorang anggota keluarga Fir’aun yang menyembunyikan imannya (lihat Al-Quran, Surat Al-Mukmin, ayat 28).

Barangkali para anggota seminar punya rumusan lebih baik dari ini. Kalau menyumbangkan pikiran saja tidak, bagaimana para anggota seminar berani mengatakan bahwa anggota Syi’ah sukar ditemukan karena bertaqiyyah dan karena mereka masih lemah?

Tetapi mengapa menyuruh menutup Yayasan Muthahhari (Bandung), Yayasan Al-Muntazhar (Jakarta), Yayasan Al-Jawad (Bandung), Yayasan Mulla Sadra (Bogor), Pesantren YAPI (Bangil), Yayasan Al-Muhibbin (Probolinggo) dan Yayasan pesantren Al-Hadi (Pekalongan)? Bukankah peserta seminar mengenal pimpinan yayasan-yayasan tersebut sebagai Syi’ah? Kenapa tidak mengajak mereka bermujadalah seperti yang dianjurkan Al-Quran?

Iklan

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: