membongkar kedustaan tentang buku ” mengapa saya keluar dari syiah “

sumber : http://satuislam.wordpress.com/

Allahumma shalli ‘ala muhammad wa aali muhammad

Salah satu buku yg memfitnah syiah adalah buku yg berjudul “Mengapa Saya Keluar dari Syiah”, sebuah buku yg ditulis oleh penulis palsu dan banyak digunakan oleh orang-orang yg membenci mazhab syiah sbg buku “wajib” mereka. Untuk itu, sebagai sikap ilmiah, grup “Inilah Syiah” akan membedah buku ini dan mengurai kepalsuannya…..semoga bermanfaat… SEKILAS SOSOK BUKU DAN PENGARANG Buku ini berjudul asli “Lillahi Tsumma Littarikh”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang cukup propokatif, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?” yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka al-Kaustsar edisi pertama tahun 2002 dan kini telah dicetak edisi kelimanya tahun 2008. lebih lanjut lihat di forum diskusi Inilah Syiah.. http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fnote.php%3Fnote_id%3D194722911086%23%2Fgroup.php%3Fgid%3D175375534670%26ref%3Dts&h=d2b6f1e009e523028a5891bcd9186903 atau http://www.facebook.com/group.php?v=app_2373072738&ref=ts&gid=175375534670#/board.php?uid=175375534670 atau http://www.facebook.com/group.php?v=app_2373072738&ref=ts&gid=175375534670#/topic.php?uid=175375534670&topic=15226 PENDAHULUAN Perbedaan adalah rahmat Allah swt dan dinamika yang berkembang di dalam tradisi intelektual Islam dari zaman klasik hingga abad modern saat ini. Tapi terkadang perbedaan menjadi bencana di tangan manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab. Padahal islam mengajarkan untuk menebarkan kedamaian baik dengan lisan maupun tulisan, dan tentu saja dengan tindakan. Bahkan Tuhan berpesan, “Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil”…dan juga “janganlah kamu menghina suatu kaum karena boleh jadi mereka lebih baik dari kamu”. Namun, Falsafah Islam yang berkeadilan dan falsafah Indonesia yang menghargai kebhinekaan telah tercemari dengan berbagai tindakan atas nama agama. Gerakan islam yang mengandung kekerasan, Konflik keagamaan yang berujung peperangan, terorisme, dan saling menyesatkan telah menjadi konsumsi publik yang membahayakan. Setiap insan berinovatif bukan untuk membangun hal-hal yang positif, tetapi cenderung negatif dan destruktif. Teman saya yang memiliki semangat keislaman yang tidak diragukan lagi berteriak, “Tugas kita adalah menegakkan izzah Islam, agar semua orang tunduk kepada Tuhan, dan orang2 yang menyimpang harus diluruskan”. Tapi teman saya yang satu lagi dengan lemah berkomentar, “mengapa agama yang diturunkan untuk menebar kasih sayang, tetapi malah menyebar kebencian? Saya berkata pula menimpali, “pendapat kamu berdua disatukan dengan terbitnya buku ini, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?” kok bisa begitu?, tanya mereka. Dengan singkat saya menjawab, karena si penulis ingin meluruskan orang2 sesat seperti keinginanmu (teman pertama), tetapi sekaligus menebar kebencian seperti pendapatmu (kpd teman yg kedua). Kehadiran buku ini memberikan beberapa hal penting. Pertama, Pada tahap tertentu buku ini menjelaskan pemikiran-pemikiran mazhab syiah, hanya saja —daripada membahas secara ilmiah—, buku ini secara sengaja mengumpulkan sisi-sisi negatif mazhab syiah. Kedua, Buku ini pada tahap tertentu telah menciptakan sentimen kemazhaban dari kedua belah pihak (sunni dan syiah) yang dapat merusak persatuan kaum muslimin dalam bingkai berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Ketiga, terkait dengan hal yang kedua, buku ini meningkatkan ketegangan hubungan antar umat seagama yang seharusnya dipupuk terlebih disaat Islam dipojokkan dengan beragam isu konflik yang berdampak internasional seperti isu terorisme. Meskipun begitu, pertama, buku ini juga telah menjadi iklan gratis bagi mazhab syiah, sehingga bagi pengkaji yang objektif terpancing untuk memahami mazhab syiah dari sumber-sumber yang kredibel. selain itu, kedua, buku ini mengingatkan orang syiah –dan pada tahap tertentu juga orang-orang sunni— untuk lebih waspada karena masih ada sisa-sisa penghalang bagi pendekatan antar mazhab dan persatuan kekuatan kaum muslimin. dan ketiga, Buku ini menjadi contoh bahwa terkadang penerbit buku tidak mengindahkan keilmiahan dan dampak sosial religius dalam penerbitan buku, tetapi lebih pada keuntungan. Tetapi sebagai sebuah sikap ilmiah saya berusaha untuk sabar dalam membaca dan tentunya menganalisis setiap katanya, utuk mendapatkan misi dan visi pengarangnya. Untuk itu, saya akan tuliskan beberapa hal penting untuk kita dapat mengenal isi buku dan pengarangnya. (Catt. Karena takut tulisannya kepanjangan, maka akan dibuat secara bersambung) SEKILAS SOSOK BUKU DAN PENGARANG Buku ini berjudul asli “Lillahi Tsumma Littarikh”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang cukup propokatif, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?” yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka al-Kaustsar edisi pertama tahun 2002 dan kini telah dicetak edisi kelimanya tahun 2008. Buku ini ditulis oleh seorang yang mengaku bernama Sayid Husain al-Musawi. Dari namanya, ia mengaku keturunan Nabi saaw dan telah menjadi mujtahid dengan menyelesaikan pendidikannya di haujah Najaf Irak dibawah asuhan Sayid (?) Muhamamd Husain Ali Kasyf al-Ghita (lihat hal.4). Ia mengaku lahir di Karbala dari keluarga syiah yang taat beragama, serta mengawali pendidikannya hingga remaja di kota tempat Imam Husain as syahid tersebut (lihat hal. 2). Buku ini terdiri dari 153 halaman yang dimulai dengan kata pengantar oleh Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi yang mengaku pakar aliran syiah. Dengan pengantar tersebut, buku ini semakin kelihatan “prestisiusnya”. Membahas banyak persoalan yang selain pendahuluan dan penutup, buku ini dibagi dalam tujuh pembahasan, sbb : 1. Tentang Abdullah bin Saba’ 2. Hakikat Penisbatan Syiah Kepada Ahlul Bait 3. Nikah Mut’ah dan Hal-Hal yang Berhubungan Dengannya 4. Khumus 5. Kitab-kitab Samawi 6. Pandangan Syiah terhadap Ahlussunnah 7. Pengaruh Kekuatan Asing Dalam Pembentukan Ajaran Syiah. Pada halaman terakhir dilampirkan fatwa yang dikeluarkan oleh Husain Bahrul Ulum, tentang kesesatan buku tersebut. KEJANGGALAN SOSOK PENGARANG Ada pepatah yang terkenal “Sepandai-pandai tupai melompat, sekali-kali jatuh juga” dan “sepandai-pandai menyembunyikan bangkai akhirnya akan tercium juga”. Pepatah ini kelihatannya sesuai untuk penulis buku ini, bahkan bukan hanya sekali-kali saja dia jatuh tetapi seringkali dia jatuh pada berbagai kesalahan dalam tulisannya. Kita akan lihat bahwa buku ini tidak lebih merupakan dongeng imajiner seorang penulis untuk menciptakan propokasi kepada umat Islam. Tapi al-hamdulillah, Allah masih menjaga kaum muslimin dari berbagai perpecahan dan tipu daya setan baik setan yang berbentuk jin maupun setan manusia. Buku ini tidak menuliskan secara jelas siapa sebenarnya Sayid Husain al-Musawi. Tidak diketahui kapan lahir dan silsilah keluarganya, pendidikan dan guru-gurunya baik di Karbala’ maupun di Najaf (Irak). Juga tidak diketahui karya-karya yang ditulisnya selain buku ini. Dari sini kita meragukan keadaan dan kualitas keilmuannya yang mengaku mujtahid syiah. Terlebih setelah kita mendapatkan beberapa kejanggalan yang sangat mencolok dari buku yang ditulisnya ini. Kejanggalan sosok pengarang terlihat saat kita melanjutkan bacaan menelusuri buku ini kata-kata demi kata, paragraf demi paragraf, dan halaman demi halaman. Diantara kejanggalannya adalah sbb: (Catt : Untuk memepermudah, tulisan asli Husain al-Musawi saya beri tanda >; sedangkan tanggapan saya menggunakan tanda # 1. Husain al-Musawi menulis pada halaman 128 : > “Disaat sedang memandikan saya menemukan bahwa sang mayit tidak di khitan. Saya tiak bisa menyebutkan siapa nama mayat tersebut, karena anak-anaknya mengetahui siapa yang memandikan bapaknya. Jika saya menyebutkan, pasti mereka akan mengetahui siapa saya, selanjutnya akan mengetahui penulis buku ini, sehingga terbukalah segala urusan saya dan akan terjadi suatu tindakan yang tidak terpuji.” # Perhatikanlah, bahwa dia mengakui dirinya tidak ingin dikenali. Dia tidak menyebutkan siapa nama mayit yang memandikannya, karena takut dikenali dan dampaknya….. Tetapi dia berani menyebutkan Nama Ayatullah Sayid Khui, Syeikh Kasyf al-Ghita, bahkan Ayatullah Khumaini dengan hinaan dan cercaan yang lebih buruk lagi padahal mereka menurut pengakuannya adalah guru dan marja’nya. 2. Husain musawi menulis pada halaman 94 : > “Diakhir pembahasan tentang khumus ini saya tidak melewatkan perkataan temanku yang mulia, seorang penyair jempolan dan brilian, Ahmad Ash-Shafi an-Najafi Rahimahullah. Saya mengenalnya setelah saya meraih gelar mujtahid. Kami menjadi teman yang sangat kental walaupun terdapat perbedaan umur yang sangat mencolok, dimana dia tiga puluh lima tahun lebih tua dari umurku.” (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, 2008, hal. 94) # Perlu diketahui bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi dilahirkan pada tahun 1895 M/ 1313-14 H dan wafat pada tahun 1397 H. Jika kita bandingkan dengan umur yang disebutkan oleh Husain al-Musawi bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi itu lebih tua 35 tahun dari dirinya, maka kita menemukan tahun kelahirn Husain al-Musawi adalah tahun 1930 M atau 1349 H, dengan perhitungan sbb : – 1895 M + 35 = 1930 M – 1314 H + 35 = 1349 H Kemudian, bandingkan dengan halaman 68 Husain Musawi menyebutkan bahwa ia bertemu dengan Sayid Syarafudin al-Musawi (Pengarang Kitab al-Muraja’at atau Dialog Sunnah Syiah) di Najaf, Irak. Husain Musawi menulis pada halaman 68 : > “Suatu hari di kota Najaf datang berita kepada saya bahwa yang mulia Sayid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi sampai ke Baghdad, dan sampai ke Hauzah (kota ilmu) untuk bertemu dengan yang mulia Imam Ali Kasyif al-Ghita. Sayid Syarafuddin adalah orang yang sangat dihormati dikalangan orang-orang syiah, baik dari kalangan awam maupun orang-orang khusus. Terutama setelah terbitnya kitab-kitab yang dia karang yaitu kitab Muraja’at dan kitab Nash wal Ijtihad.” (lihat hal. 68) # Perlu diketahui bahwa Sayid Syarafuddin al-Musawi datang ke Najaf pada tahun 1355 H (buku al-Muraja’at diterbitkan pertama kali juga tahun 1355 H). Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan kedatangan Sayid syarafuddin al-Musawi maka usianya pada saat itu masih 6 tahun (1349 H – 1355 H = 6 tahun)….sementara pada Bab PENDAHULUAN (halaman 2), Husain al-Musawi menyebutkan bahwa ia datang ke Najaf pada usia remaja setelah menyelesaikan pendidikannya di Karbala….bagaimana mungkin ia ada di Najaf pada saat itu dan menjadi pelajar tingkat tinggi (kelas bahtsul kharij) pada usia 6 tahun…???? Sungguh kebohongan yang nyata Kemudian pada halaman 4 dia menulis : > “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan meendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu Sayid (?) Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita.” # Dengan jelas ia menyebutkan bahwa dia mendapat ijazah mujtahid dari Sayid (?) Kasyf al-Ghita’ tapi tidak disebutkan tahun berapa ijazahnya dikeluarkan. Perlu diketahui bahwa Kasyif Ghita’ bukanlah Sayid (bukan keturunan ahlul bait), tetapi Syeikh. Syeikh Kasyif al-Ghita meninggal pada tahun 1373 H. Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan tahun wafatnya Syeikh Kasyf al-Ghita, maka kita menemukan usia Husain al-Musawi tamat dari belajar dan menjadi mujtahid maksimal adalah 24 tahun (1349 – 1373 H = 24 tahun). Jika kita kurangi bahwa ia mendapat gelar 5 tahun sebelum meninggalnya Syeikh Ali Kasyf al-Ghita, yakni tahun 1368 H, maka berarti usianya menjadi mujtahid adalah 19 tahun (1349 – 1368 H = 19 tahun). Suatu prestasi yang membanggakan dan luar biasa. Tetapi anehnya, selain tidak ada datanya, tidak ada pula satupun ulama dan pelajar serta masyarakat mengetahui ada seorang yang mencapai gelar mujtahid pada usia tersebut dan berasal dari Karbala yang bernama Husain al-Musawi. Dan lebih mengherankan lagi, sehingga kedok si penulis semakin terbuka, adalah bahwa Husain al-Musawi menulis pada halaman 131-132, sbb : > “Ketika saya berkunjung ke India saya bertemu dengan Sayid Daldar Ali. Dia memperlihatkan kepada saya kitabnya yang berjudul Asas al-ushul.” # Ini adalah kebohongan nyata yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh Husain al-Musawi. Ketahuilah bahwa Sayid Daldar Ali adalah ulama abad ke 19 yang wafat pada tahun 1820 M/ 1235 H (lihat kitab ‘Adz-Dzari’ah Ila Tasanif al-Syiah’). Ini berarti, sayid Daldar Ali telah meninggal selama 110-114 tahun sebelum lahirnya Husain al-Musawi yang lahir pada tahun 1930 M (1820 M – 1930 M = 110 tahun) atau (1235 – 1349 H = 114 tahun). Bagaimana mungkin Husain al-Musawi bertemu dengan sayid Daldar Ali padahal ia sendiri belum lahir bahkan ayah dan kakeknya pun mungkin belum lahir…???? Jika dia memang bertemu dengan Sayid Daldar Ali, berarti setidaknya Husain al-Musawi lahir pada tahun 1800 M. Jika dia lahir tahun 1800 M, bagaimana mungkin usianya lebih muda dari Ahmad Ash-Shafi an-Najafi yang lahir pada tahun 1895 M..??? dan bagaimana mungkin dia belajar kepada Syeikh Kasyf Ghita yang lahir pada tahun 1877 M..?? bagaimana dia bertemu dengan Sayid Khui di tahun 1992 (berarti usianya 192 tahun)? bagaimana mungkin dia mengikuti Revolusi Iran pada tahun 1979 (berarti usianya 179 tahun) ..??? dan banyak lagi kisah aneh yang diimajinasikan oleh si penulis buku ini. Dengan beberapa bukti di atas (dan masih banyak lagi lainnya) kita dapat menyimpulkan bahwa pengarang buku ini bukanlah seorang mujtahid syiah, bahkan mungkin bukan pula penganut mazhab syiah. Namanya juga diragukan apakah benar Sayid Husain al-Musawi atau sekedar mencatut nama agar lebih meyakinkan. Bagi saya, penulis buku ini adalah sosok imajiner yang membuat kisah imajinasi dengan berusaha menjadi tokoh utama dalam sandiwara fiktif ini. Buku ini bisa kita anggap sebagai novel dongeng untuk mendiskriditkan Islam seperti The Satanic Verses yang ditulis oleh Salman Rusydi…..mungkin saja, Husain al-Musawi ingin menjadi pelanjut Salman Rusydi. Wallahu a’lam HUSAIN AL-MUSAWI TIDAK MENGENAL ULAMA-ULAMA DAN IMAM-IMAM SYIAH “Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah ini, ternyata tidak mengenal tokoh-tokoh dan ulama-ulama syiah, bahkan ia tidak mengenal imam syiah.” Sebagai buku yang ditulis untuk propokatif, karya Husain al-Musawi, “Mengapa Saya Keluar Dari Syiah?” memang sudah sewajarnya tidak memiliki bobot akademis dan ilmiah. Selain kerancuan dan kejanggalan sosok Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah, dia juga tidak mengenal tokoh-tokoh syiah bahkan gurunya sendiri. Selain itu bahkan dia tidak mengetahui tradisi keilmuan syiah dalam ushul maupun furu’. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Husain al-Musawi adalah sosok fiktif yang mengarang buku dengan khayalan dan imajinasinya. Dia ingin membuat sandiwara dan berusaha menjadi pemain utamanya dan menjadikan yang lain sebagai “bandit-banditnya”. Tapi sayang, ternyata pemeran utama ini tidak tahu naskah skenarionya, dan tidak mengenal dengan baik lawan bermainnya. Pada edisi ketiga ini, kita akan mengungkap lanjutan kepalsuannya dan kebodohannya tentang ulama-ulama dan imam -imam syiah. Untuk tidak berpanjang mari kita cermati beberapa isi buku tersebut. 1). Pada halaman 4 (dan berlanjut dihalaman2 berikutnya), ia menulis : > “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan mendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu SAYID MUHAMMAD HUSAIN ALI KASYIF AL-GHITA”…. # Perhatikanlah, Husain Musawi menyebut “Sayid Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita, padahal Allamah Kasyif al-Ghita bukanlah “SAYID”, karena beliau bukanlah keturunan dari Rasulullah saaw dan Ahlul bait nabi saaw. Sehingga Allamah Kasyf al-Ghita tidak pernah dipanggil dengan Sayid melainkan dengan “SYEIKH”. Kita bisa baca semua buku-buku ulama syiah yang besar maupun yang kecil, semua menyebut dengan “SYEIKH KASYF AL-GHITA”. Bahkan kita bisa lihat sendiri di dalam karya-karyanya misalnya “Ashl Syiah wa Ushuluha” disana disebutkan nama SYEIKH MUHAMMAD HUSAIN ALI KASYF AL-GHITA. Bagaimana mungkin Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid dan menjadi murid Syeikh Kasyif al-Ghita, tidak tahu tentang silsilah gurunya ini…??? Padahal orang awam syiah sekalipun tahu perbedaan antara Sayid dengan Syeikh. 2). Pada halman 12, ia menulis : > “…sebagaimana SAYID MUHAMMAD JAWAD pun mengingkari keberadaannya ketika memberi pengantar buku tersebut”, # Perhatikanlah, dia menyebut Sayid Muhammad Jawad, padahal yang benar adalah “SYEIKH MUHAMMAD JAWAD (MUGHNIYAH)” karena beliau juga bukan keturunan ahlul bait as. # Masih banyak lagi kesalahannya seperti menyebut Sayid Ali Gharwi (lihat halaman 26), padahal seharausnya Mirza Ali Ghuruwi. Begitu juga pada halaman 111 dia menulis “SAYID MUHAMMAD BAQIR ASH-SHADUQ”..??? Siapa orang ini….??? Apakah maksudnya Syeikh Shaduq yang bernama asli Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qummi (gelarnya Syeikh Shaduq)…???? Atau apakah maksudnya adalah Allamah Sayid Muhammad Baqir Ash-Shadr, salah seorang marja’ syiah di Najaf…?? … ini mungkin hanya salah tulis 3. Tidak hanya disitu ia juga tidak bisa membedakan antara ulama sunni dan syiah. Bahkan keliru menyebut buku syiah. Misalnya : Pada halaman 28 dan 29 dia mengutip dari buku “Maqatil ath-Thalibin” padahal buku tersebut bukan buku syiah. “Maqatil ath-Thalibin” adalah buku karya Ulama ahlus sunnah Abul Faraj al-Isfahani al-Umawi. Itu diantara kekeliruan2 nya menyebut ulama-ulama syiah. Tapi hal itu masih lumayan. Sebab, tidak hanya sampai disitu, bahkan Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah ini, tidak bisa membedakan imam2 syiah. Dia kesulitan membedakan Imam-imam syiah karena terkadang memiliki panggilan yang sama. Perhatikan pernyataanya berikut ini : 4. Pada halaman 18, ia menulis : > Amirul mukminin as berkata, “Kalaulah aku bisa membedakan pengikutku, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang yang memisahkan diri. Kalaulah akau menguji mereka, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang murtad. Kalaulah aku menyeleksi mereka, maka tidak ada yang akan lolos seorang pun dari seribu orang.” (Al-Kafi/Ar-Raudhah, 8/338) # Ternyata Husain al-Musawi tidak mengenal Imam-imam Syiah. Diatas ia menulis “AMIRUL MUKMININ as berkata”. Perlu diketahui, gelar AMIRUL MUKMININ itu diperuntukkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib as (imam pertama syiah). Setelah kita periksa ke kitab ar-Raudhah al-Kafi, ternyata tidak terdapat kata “Amirul Mukminin”, tetapi yang ada adalah “ABUL HASAN”. Di bawah ini saya tuliskan riwayatnya sbb : وَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الصُّوفِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ قَالَ قَالَ لِي أَبُو الْحَسَنِ ( عليه السلام ) لَوْ مَيَّزْتُ شِيعَتِي لَمْ أَجِدْهُمْ إِلَّا وَاصِفَةً وَ لَوِ امْتَحَنْتُهُمْ لَمَا وَجَدْتُهُمْ إِلَّا مُرْتَدِّينَ وَ لَوْ تَمَحَّصْتُهُمْ لَمَا خَلَصَ مِنَ الْأَلْفِ وَاحِدٌ وَ لَوْ غَرْبَلْتُهُمْ غَرْبَلَةً لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا مَا كَانَ لِي إِنَّهُمْ طَالَ مَا اتَّكَوْا عَلَى الْأَرَائِكِ فَقَالُوا نَحْنُ شِيعَةُ عَلِيٍّ إِنَّمَا شِيعَةُ عَلِيٍّ مَنْ صَدَّقَ قَوْلَهُ فِعْلُهُ . “Dengan sanad-sanad ini, dari Muhammad bin Sulaiman, dari Ibrahim bin Abdillah al-Sufi berkata: meyampaikan kepadaku Musa bin Bakr al-Wasiti berkata : “Abu al-Hasan a.s berkata kepadaku (Qala li Abul Hasan) : ‘Jika aku menilai syi‘ahku, aku tidak mendapati mereka melainkan pada namanya/sifatnya saja. Jika aku menguji mereka, nescaya aku tidak mendapati mereka kecuali orang-orang yang murtad (murtaddiin). Jika aku periksa mereka dengan cermat, maka tidak seorangpun yang lulus dari seribu orang. Jika aku seleksi mereka, maka tidak ada seorangpun yang tersisisa dari mereka selain dari apa yang ada padaku, sesungguhnya mereka masih duduk di atas bangku-bangku, mereka berkata : Kami adalah Syi‘ah Ali. Sesungguhnya Syi‘ah Ali adalah orang yang amalannya membenarkan kata-katanya. (ar-Raudhat al-Kafi hadis no 290) # Perhatikan, hadits di atas menyebutkan ABUL HASAN as, bukan Amirul Mukminin. Ketahuilah Abul Hasan as adalah panggilan utk beberapa imam syiah diantaranya adalah Imam Ali bin Abi Thalib as (imam pertama), Imam Ali Zainal Abidin as (imam keempat), Imam Musa al-Kadzhim (imam ketujuh), Imam Ali ar-Ridha (imam kedelapan), dan Imam Ali al-Hadi (imam kesepuluh). Sekarang siapakah Abul Hasan yang dimaksud oleh hadits di atas..??? Jawabnya adalah bahwa hadits diatas berasal dari Imam Musa al-Kadzhim bukan dari Amirul mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as. Sebab, hadits tersebut diriwayatkan oleh Musa bin Bakr al-Wasithi, dan beliau adalah sahabat Imam Musa al-Kadzhim as (imam ketujuh syiah). Bagaimana mungkin, Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid ini, tidak mengenal imamnya sendiri..???? Ini mujtahid yag salah kaprah…. # Selain itu, perhatikan bagaimana ia memotong bagian akhir dari riwayat tersebut yang menegaskan, “Kami adalah Syi‘ah Ali. Sesungguhnya Syi‘ah Ali adalah orang yang amalannya membenarkan kata-katanya”. Jika kita perhatikan akhir dari riwayat tersebut, maka jelaslah bagaimana Imam Musa al-Kadzim menyipati orang2 syiah yg sejati….. Dimanakah posisi Husain al-Musawi…??? mungkin termasuk yag bagian pertama dari hadits di atas….yaitu ngaku syiah dan murtaddin yang tidak lolos seleksi para imam KESALAHAN KESIMPULAN TENTANG ABDULLAH BIN SABA’ Salah satu sebab terjadinya kesalahan berpikir adalah terlalu cepat mengambil kesimpulan saat belum memahami sebuah persoalan secara utuh. Banyak orang bisa membaca berita, tetapi sedikit yang bisa menafsirkan dan menganalisis berita. Pembahasan tentang Abdullah bin saba’ bisa dinilai dari dua hal yaitu keberadaan Abdullah bin Saba’ dan pendapat para ulama syiah tentang sosok Abdullah bin Saba’. 1. Keberadaan Abdullah bin Saba’ Para ulama dan ilmuwan muslim baik dari sunni maupun syiah berbeda pendapat tentang keberadaan sosok Abdullah bin Saba’. Sebagian menganggapnya ada dan sebagian lagi menganggapnya sosok dongeng dan fiktif. Keberadaan Abdullah bin Saba’ disebutkan baik oleh buku2 syiah maupun buku2 sunni. Jika ditelusuri sumber buku2 syiah ttg Abdulah bin Saba’ terdapat pada karya An-Naubakhti, Firaq al-Syiah dan al-Asyari al-Qumi, al-Maqqalat wal Firaq. Dan setelah kita periksa maka ternyata karya an-Naubakhti dan al-Qummi ini tidak menyebutkan sanadnya dan sumber pengambilannya…shg dianggap bahwa mereka hanya menuliskan cerita populer tersebut yg beredar dikalangan sunni. Adapun yg pertama melakukan studi ilmiah dan istematis ttg Abdullah bin Saba’ adalah Sayid Murtadha al-Askari. Dan dari hasil penelususrannya tersebut, ia menganggap bahwa cerita ttg Abdullah bin Saba’ adalah fiktif. Sehingga, ia menolak keberadaan Abdullah bin saba’. Adapun dari sunni yang menegaskan bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dan dongeng adalah Thaha Husain dalam bukunya Fitnah al-Kubra dan Ali wa Banuhu, Dr. Hamid Hafna Daud dalam kitabnya Nadzharat fi al-Kitab al-Khalidah, Muhammad Imarah dalam kitab Tiyarat al-Fikr al-Islami, Hasan Farhan al-Maliki dalam Nahu Inqadzu al-Tarikh al-Islami, Abdul Aziz al-Halabi dlm kitabnya Abdullah bin Saba’, Ahmad Abbas Shalih dalam kitabnya al-Yamin wa al-Yasar fil Islami. 2. Pendapat para ulama Syiah tentang Abdullah bin Saba’ Para ulama syiah dari dulu hingga sekarang tidak menganggap Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh syiah dan sahabat Imam Ali dan Imam-imam lainnya. Bahkan seluruh ulama syiah mengecam dan melaknat serta berlepas diri (tabarri) dari pendapat dan diri Abdullah bin Saba’. Bahkan buku-buku dan pendapat-pendapat yang dikutip oleh Husain al-Musawi dalam bukunya ini sudah cukup memnunjukkan sikap para Imam syiah dan ulama syiah tentang Abdullah bin saba’. Dengan dua catatan di atas, maka jelaslah persoalan Ibnu Saba’ yang tidak kaitannya dengan mazhab syiah. Mungkinkah org ditolak keberadaanya atau yang dihina dan dikafirkan oleh seluruh imam2 syiah dan ulama-ulama syiah dijadikan tokoh panutan dalam syiah..??? sungguh kesimpulan yang gegabah dan tentu saja salah kaprah. … Pada halaman 12, Husain al-Musawi menulis : > “Abdullah bin Saba’adalah salah satu sebab, bahkan sebab yang paling utama kebencian sebagian besar orang syiah kepada ahlus sunnah. # Darimana sumber kesimpulan Husain al-Musawi ini muncul..??? Sumber satu2nya adalah imajinasinya yang tak pernah kering. Coba perhatikan, Husain al-Musawi berusaha mempropokasi pembacanya. Pertanyaan kita apa hubungan antara Abdullah bin Saba’ dan kebencian kepada ahlu sunnah. Padahal kalau kita perhatikan seluruh buku2 syiah dan juga buku2 sunni dari yang besar sampai yang kecil tidak ada satupun yang memuji Abdulah bin Saba’. Semua buku itu mencela dan menyatakan kesesatan dan kekafiran Abdulah bin Saba’. Jadi sunni dan syiah sepakat akan kekafiran Abdulah bin Saba’. Seharusnya kesimpulan yang rasional dari hal itu adalah bahwa ahlussunnah dan syiah sama2 membenci Abdullah bin Saba’. Coba perhatikan enam kutipan kitab syiah yang ditulisnya dari mulai halaman 12 sampai halaman 15, bukankah semua isinya menghujat Abdullah bin Saba’..??? Seharusnya, jika dia menyatakan bahwa syiah adalah pengikut Ibnu Saba’, maka dia harus menyebutkan hadits2 syiah yg memuji Ibnu Saba’..??? tapi sayang dia takkan menemukannya SYIAH DAN PENAMAAN RAFIDHAH Seperti kita lihat dalam bukunya yg saya bedah di froum diskusi ini, salah satu kebiasaan Husain al-Musawi adalah menciptakan riwayat palsu atau riwayat lemah dan juga memotong2 riwayat hadits2 syiah sesuka hatinya utk menciptakan citra buruk syiah. Tapi propagandanya memang sudah bisa ditebak bagi org2 yg mau menggunakan sedikit tenaga dan pikirannya. Diantara yg dipotongnya adalah riwayat ttg penamaan Rafidhah kepada syiah…. – Pada halaman 22 poin 4, Husain al-Musawi menuliskan sbb : > Sesunguhnya Ahlu Bait menyebut dan menyifati para pengikut mereka sebagai thagut umat ini, kelompok sempalan dan pelempar kitab. Kemudian mereka menambahkan atas hal itu dengan ucapannya, ‘Ingat sesungguhnya laknat Allah atas orang2 yg zahalim’. Oleh karena itu mereka datang kepada Abu Abdillah as, lalu berkata kepadanya : ‘Sesungguhnya kami telah dicela dengan celaan yang sangat berat di atas punggung-punggung kami, matilah terhadapnya hati-hati kami, para pemimpin menghalalkan darah-darah kami dalam hadits yang diriwayatkan oleh para ahli fikih mereka. Maka Abu Abdullah berkata, “Rafidhah”? Mereka menjawab “Ya”. Maka dia berkata, “tidak! demi Allah bukanlah mereka yang menamai kamu sekalian dengan nama tersebut, tetapi Allah lah yg menamai kamu sekalian dengan nama tersebut.” (Al-Kafi, 3/34) Husain al-Musawi kemudian mengomentari riwayat tersebut dgn mengatakan, “Abu Abdullah menjelaskan bahwa yg menamai mereka dengan sebutan rafidhah adalah Allah dan bukan ahlus sunnah. ——————- # Perhatikanlah bagaimana ia memgutip sebagian riwayat dan menyembunyikan riwayat lanjutannya. Setelah saya periksa teks aslinya ternyata sangat panjang (sampai dua halaman) dan Husain al-Musawi memotong teksnya sesuka hatinya untuk menunjukkan sisi negatifnya saja. Padahal hadits ini merupakan pujian bagi orang-orang syiah. Hadits tersebut terdapat dalam Kitab Raudhat al-Kafi bab Khutbah Thalutiyah yg merupakan pujian2 dan kelebihan2 org2 syiah. Perhatikan teks lengkap berikut ini dari“Kitab Raudhat al-Kafi Bab Khutbah Thalutiyyah hdits no 6 sbb : “Sejumlah sahabat kami, dari Sahal bin Ziad, dari Muhammad bin Sulaiman, dari ayahnya berkata: Aku berada di sisi Abu Abdillah as, mendadak Abu Basir datang. Beliau kelihatan gelisah dengan nafasnya yg sesak. Setelah dia duduk, maka Abu Abdillah as berkata kepadanya: Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau resah seperti ini? Maka dia menjawab : Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, wahai putra Rasulullah, umurku telah tua, tulangku lemah dan ajalku semkain dekat, tetapi aku belum tahu bagaimana keadaanku di akhirat kelak.? Abu Abdillah as berkata: Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau berkata seperti itu? Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, mengapa aku tidak boleh berkata demikian? Maka Imam as berkata: Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah memuliakan para pemuda dan malu kepada golongan tua diantara kamu? Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sebagai tebusan utkmu, bagaimana Dia memuliakan para pemuda di kalangan kita dan malu kepada yang tua? Abu Abdilah as. berkata: “Dia memuliakan para pemuda diantara kamu supaya Dia tidak menyiksa mereka dan Dia malu kepada kelompok tua diantara kamu supaya Dia tidak menghisab mereka. Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sbg tebusanmu, adakah hal ini hanya khusus untuk kita atau untuk semua ahli tauhid? Abu Abdillah as berkata: “Tidak, demi Allah hal ini khusus untuk kamu dan tidak untuk yg lain. Abu Basir berkata: “Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, kami telah buruk, punggung kami patah, hati kami mati, penguasa menghalalkan darah kami dengan hadis2 yang diriwayatkan oleh para fukaha mereka. Abu Abdillah as. berkata : Rafidhah? Abu Basir berkata: Ya!. Beliau as. berkata : “Bukan mereka yang menamai kamu demikain, tetapi Allah swt yang telah menamai kamu dengan nama tersebut. TIDAKKAH ENGKAU TAHU WAHAI ABU MUHAMMAD, BAHWA ADA 70 LAKI-LAKI BANI ISRAEL BERSAMA FIRA’UN YANG MENGIKUTINYA. KETIKA MEREKA MELIHAT KESESATAN FIR’AUN DAN PETUNJUK DARI MUSA AS, MAKA MEREKA MENOLAK (RAFADHU) FIR’AUN. KEMUDIAN MEREKA MENGIKUTI MUSA DAN BERADA DALAM NAUNGAN MUSA AS, DAN MEEKA DIKENAL SEBAGAI ORG2 YANG RAJIN BERIBADAH. MEREKA MENOLAK FIRA’UN. MAKA ALLAH MEWAHYUKAN KEPADA MUSA AS AGAR MENJADIKAN NAMA ITU UNTUK MEREKA DI DALAM TAURAT. SESUNGGUHNYA AKU MENJADIKAN NAMA MEREKA, KEMUDIAN ALLAH MENYIMPAN NAMA TERSEBUT SEHINGGA MEMBERIKAN NAMA TERSEBUT KEPADA KAMU SEKALIAN. WAHAI ABU MUHAMMAD, MEREKA TELAH MENOLAK KEBAIKAN SEDANGKAN KAMU SEDANG MENOLAK KEJAHATAN. MANUSIA TERPECAH MENJADI BEBERAPA GOLONGAN DAN SYIAH, TETAPI KAMU TELAH MENJADI SYIAH AHLUL BAIT NABIMU. KARENA ITU, KAMU TELAH BERPEGANG DENGAN APA YANG TELAH DIPERINTAHKAN ALLAH DAN KAMU TELAH MEMILIH APA2 YANG TELAH DIPILIH ALLAH. MAKA BERGEMBIRALAH KAMU DAN BERITAKAN KABAR GEMBIRA INI KEPADA MEREKA. Kemudian, selanjutnya Abu Abdilah as memberikan kabar gembira dan keutamaan serta kelebihan2 syiah mereka……silahkan anda baca riwayat di atas…maaf sy gak terjemahkan seluruhnya… takut kepanjangan.. # Perhatikanlah…bahwa dengan membaca keseluruhan hadits ini, maka akan dengan jelas terlihat bahwa Husain al-Musawi berusaha membalikkan fakta yg sebenarnya dengan memotong2 riwayat sesuka hatinya… Apakah Husain al-Musawi ingin mengatakan bahwa org2 yg menolak (rafadhu) Firuan adalah org2 sesat dan yg mengikuti Fira’aun adalah org2 soleh yg selamat….??? Begitulah org2 syiah menolak pemerintahan2 zalim yg meniru pemerintahan Fira’un. Jika Fir’aun dahulu kala memeriksa semua rumah utk mencari dan membunuh anak lelaki yg akan meruntuhkan kekuasaanya… maka penguasa2 masa itu…membunuh para ahlul bait Rasul saaw. Mereka meracun Hasan as dan membunuh Husain as dan keluarganya serta sahabat2nya di Karbala…Tidak hanya sampai disitu, mereka mengawasi setiap Keturunan Rasulullah saaw berikutnya dan mengawasi para pengiktunya. Mencaci maki ahlul bait dan pengikutnya…membunuh org2 yg tidak mau mencaci keluarga Nabi saaw. Sampai2..seperti Firaun di zaman Musa as, mereka juga mengawasi rumah Imam Hasan al-Askari (Imam kesebelas syiah) utk mencari tahu kelahiran bayinya al-Imam Muhammad al-Mahdi afs dan membunuhnya, karena mereka tahu Imam Mahdi dan para pengikutnya akan meruntuhkan kekuasaan mereka…..org2 syiah inilah yg disebut hadits tersebut sbg yg menolak (rafadhu) penguasa zalim….apakah org yg menolak pemimpin2 zalim seperti Firaun itu sesat..??? silahkan anda jawab sendiri….karena sy rasa tidak perlu diajari lagi. (Candiki Repantu)

Iklan

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: