BANTAHAN BAHWA ORANG TUA RASULULLAH MUSYRIK


Posted on 27 April 2008 by satuislam.wordpress.com

Mungkin bagi sebagian pembaca heran dengan tema yang kami sajikan dalam kesempatan kali ini, masak sih orang tua nabi mati musyrik?! Tentunya yang namanya mati musyrik pasti tempatnya di neraka. Terasa berat kami untuk menjawabnya, akan tetapi inilah kenyataan yang harus kami jelaskan, agar kaum muslimin paham dan tidak tertipu dengan syubuhat-syubuhat yang dilontarkan oleh para pengusung paham sesat. Dengan slogan “membela ahlu baitin nabi shalallahu ‘alaihi wasallam” segala carapun dihalalkan, dari menafsirkan ayat seenak perutnya, memahami hadits dengan hawa nafsu bahkan membuat hadits-hadits palsu atau dengan melontarkan syubuhat-syubuhat dan memolesnya dengan kata-kata indah agar para awam tertipu.Bi’sa ma kaanu yaf’aluun.
Akan tetapi, bagaimana sih sikap islam sebenarnya? Bukankah agama ini telah sempurna? Nah bagi para pencari kebenaran yang hakiki berikut ini kami hadirkan beberapa hadits yang berkaitan dengan pembahasan kita kali ini. Selamat membaca dengan mata dan hati yang terbuka
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam beberapa haditsnya yang shahih tentang keadaan kedua orang tua beliau sendiri, diantaranya adalah:
Hadits yang diriwayatkan Al Imam Muslim di dalam “Shahihnya” (203), Abu Daud “As Sunan” (4718), Ibnu Hibban “As Shahih” (578), Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (13856), Ahmad “Al Musnad” (7/13861), Abu ‘Awanah “Al Musnad” (289), Abu Ya’la Al Mushili “Al Musnad” (3516), dari Anas bin Malik radhiallahu anhu:
أن رجلا قال: يا رسول الله! أين أبي؟ قال: “في النار” فلما قفي دعاه فقال: “إن أبي وأباك في النار”.
“Bahwasanya seseorang bertanya: “wahai Rasulullah! Dimana ayahku? Beliau menjawab: “di neraka” ketika orang tersebut beranjak pergi, beliau memanggilnya dan berkata: “Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.”
<!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>2. Hadits yang diriwayatkan Al Bazzar di dalam “Al Musnad” (2/1089), At Thabarani “Al Mu’jamul Kabir” (1/326), Ibnu Qudamah Al Maqdisi “Al Ahadits Al Mukhtarah” (1005) dari Sa’ad bin Abi Waqqash:
أن أعرابيا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله أين أبي قال في النار قال فأين أبوك قال حيث ما مررت بقبر كافر فبشره بالنار
“Bahwasanya Seorang badui mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bertanya: Wahai Rasulullah! Dimana ayahku? Beliau menjawab: “di neraka”, kemudian dia bertanya lagi: dimana ayahmu? Beliau menjawab: “Setiap kali kamu melewati kuburan orang kafir maka berilah kabar gembira dia dengan neraka.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam “As Sunan” (1/1573) dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dengan tambahan: “Wahai Rasulullah! Dahulu ayahku penyambung silaturahmi dan dia…dan dia…(kemudian dia menyebutkan beberapa kebaikannnya), dimana dia? (kemudian Rasulullah menjawab dengan jawaban diatas…..”
Berkata Abu Bakr Al Haitsami di dalam kitabnya “Majmu’ Az Zawa’id” setelah menyebutkan hadits diatas: “para perowinya, perowi Shahih Bukhari.”
Hadits yang diriwayatkan Muslim di dalam “Shahihnya” “Kitabul Janaiz bab Isti’dzanun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam Rabbahu ‘azza wajalla Fii Ziyaroti Qabri Ummihi” (976), Ibnu Hibban “As Shahih” (3169, Ibnu Majah “As Sunan” (1572) Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (6949,6984,13857), Abu Bakr bin Abi Syaibah “Al Mushannaf” (11807) dan Abu Ya’la “Al Musnad” (6193), dari Abu Hurairah radhiallahu anhu:
استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي
“Aku meminta ijin kepada Rabbku (Allah) untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengijinkanku, dan aku meminta ijin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengijinkanku.”.
Didalam riwayat lain disebutkan: “Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kuburan ibunya kemudian beliau menangis maka menangislah para shahabat seluruhnya, beliau berkata:… (kemudian beliau menyebutkan lafadz diatas) dan melanjutkan: “Hendaklah kalian berziarah kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kematian.”
Berkata Syamsul Haq Al ‘Adzim Abadi di dalam kitabnya “‘Aunul Ma’bud” (9/Bab Fii Ziyarotil Qubur): “(perkataan nabi) “akan tetapi Dia tidak mengijinkanku” ini disebabkan dia (Aminah) mati dalam keadaan kafir, maka tidak boleh memintakan ampun untuk orang kafir (yang sudah mati).”
PERNYATAAN PARA ULAMA’
Al Imam Al Baihaqi berkata di dalam kitab beliau “Dalailun Nubuwah” (1/192-193) setelah menyebutkan sejumlah hadits-hadits yang menunjukan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka:
“Bagaimana keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah patung-patung sampai mereka mati, dan mereka tidak beragama dengan agamanya Nabi Isa alaihis salam, …………”.
Dan di dalam “As Sunanul Kubro” (7/190) beliau berkata: “Kedua orang tua beliau adalah Musyrik” kemudian beliau menyebutkan dalil-dalilnya.
Al Imam Ath Thabari menyebutkan di dalam “Tafsirnya” ketika menjelaskan firman Allah subhanahu wata’ala: {ولا تسأل عن أصحاب الجحيم} “kamu tidak akan ditanya tentang para penghuni jahannam”(Al Baqarah:119). Dan kedua orang tua beliau termasuk diantaranya (Tafsir Ath Thabari 1/516).
Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i berkata ketika menjelaskan hadits “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. Hadits ini mengandung faidah bahwa siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia termasuk dari penduduk neraka, tidak akan bermanfaat pembelaan orang yang membela, dan barang siapa yang mati pada masa fathrah (kosongnya masa kenabian) dari para penyembah berhala, maka dia termasuk dari penghuni neraka, ini bukan dikarenakan belum sampai kepada mereka dakwah akan tetapi telah sampai kepada mereka da’wah Ibrahim dan Nabi-Nabi setelahnya shalatullah wa salamullahu alaihim. (Syarhun Nawawi:1/79).
Berkata Al ‘Adzim Abadi di dalam “Aunul Ma’bud” ketika menjelaskan hadits”فلم يأذن لي ” “Allah tidak mengijinkanku untuk memintakan ampunan untuk ibuku”: “Karena ibunya adalah kafir, dan memintakan ampunan untuk orang kafir (yang sudah mati) adalah dilarang…dan di dalam hadits ini terdapat faidah bolehnya ziarah kekuburan orang musyrikin dan larangan untuk memintakan ampunan untuk orang kafir (yang sudah mati).”
Al Imam Al Qori’ menukilkan Ijma’ para Ulama’ salaf (yang terdahulu dari kalangan shahabat,tabiin dan tabiut tabiin) dan khalaf (setelah shahabat,tabi’in dan tabi’ut tabi’in) bahwa kedua orang tua Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam termasuk dari penghuni neraka, dia berkata: “Telah bersepakat para Ulama’ salaf dan khalaf, imam yang empat (Imam Malik, Ahmad, syafi’I, Abu Hanifah) dan seluruh mujtahidiin bahwa kedua orang tua Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan masuk neraka……..
Al Imam Al Baidhawi ketika menafsirkan ayatولا تسأل berkata: “Al Imam Nafi’ dan Ya’qub membacanya dengan huruf ta’ berharokat fathah yang artinya: “Janganlah kamu bertanya tentang penghuni neraka”. Ini adalah larangan terhadap beliau shalallahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya tentang keadaan kedua orang tua beliau”. (Tafsir Al Baidhawi 1/185)
Masih banyak lagi hujjah-hujjah yang lainnya yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mati kafir dan termasuk penghuni neraka kekal di dalamnya. Akan tetapi kita cukupkan sampai disini dulu.
Mungkin ada yang menyatakan: bahwa orang-orang yang mengatakan kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam neraka adalah orang-orang yang tidak memiliki adab kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam !!! Untuk syubuhat yang satu ini Insya Allah akan kita kupas pada pembahasan yang akan datang,. Wallahu a’lam

PENUTUP
Diantara akhlak seorang mukmin dan mukminah adalah menerima terhadap ketentuan Allah dan rasul-Nya dengan sepenuhnya. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً
“Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin dan mukminah apabila Allah dan rasul—-Nya telah menetapkan suatu ketetapan untuk memilih yang lain dari urusan mereka. Barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS Al Ahdzab:36)
Dan diantara yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah apa yang telah kami sebutkan di atas berupa hadits-hadits shahih dengan penjelasan para ulama’ bahwa kedua orang tua beliau mati musyrik. Inilah adab seorang mukmin. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam bish shawab

JAWABAN

Keyakinan Syi’ah
Termasuk keyakinan pasti yang disepakati dalam ajaran Syi’ah adalah bahwa ayah bunda mulia Rasulullah Muhammad saw.adalah mu’min/beriman kepada Allah SWT, tidak musyrik/ menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Demikian juga dengan ayah-ayah dan moyang beliau hingga Nabi Adam as. tidak seorang pun dari moyang Nabi saw. yang musyrik… Demikian ditegaskan para tokoh dan pemuka Syi’ah di bergadai masa… keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar!
kesempatan ini saya tidak sedang bermaksud membuktikan kebenaran keyakinan kami (Syi’ah) dalam masalah ini, akan tetapi hanya sekedar membandingkan I’tiqâd yang bertolak belakang antara Syi’ah dan Ahlusunnah dalam masalah ini. Karenanya kami tidak akan mengutarakan dalil-dalil kami! Yang akan kami sebutkan hanya komentar ulama dan tokoh mazhab Syi’ah..
Syeikh Shadûq (pemimpin tertinggi Ulama Syi’ah Imamiyyah di masanya) menegaskan keyakinan tersebut dalam kitab al I’tiqadât-nya ketika menerangkan keyakinan Syi’ah tentang ayah-ayah Nabi saw.:
إعتقادُنا فيهِم أنَّهم مسلِمون.
“Keyakinan kami (Syi’ah) tentang mereka (ayah-ayah Nabi saw.) bahwa mereka itu semuanya muslimun.”
Penegasan Syeikh ash Shadûq tersebut diterjelas/disyarakan oleh Syeikh Mufid (pemimpin Ulama Syi’ah setelah ash Shadûq) dalam kitab Tash-hîhul I’tiqâd Bi Shawâbi al intiqâd atau yang juga dikenal dengan nama Syarah ‘Aqâid ash Shadûq:
“Ayah-ayah Nabi saw. hingga Adam as. adalah muwahhid/mengesakan Allah, di atas keimanan kepada Allah sesuai dengan apa yang disebutkan Abu Ja’far/ash Shadûq (Rahimahullah).” Kemudian beliau memaparkan dalil dan bukti atasnya.
Dalam kitab Awâil al Maqâlât-nya, Syeikh Mufîd kembali mempertegas keyakinan tersebut. Beliau berkata dalam bab al Qaulu Fî Âbâi Rasulillah shallallahu ‘Alaihi wa Âlihi wa ummihi wa ‘Ammihi Abi Thalib (rahmatullahi ta’âla‘Alaihim) /pendapat tentang ayah-ayah Rasulullah saw., Ibu dan Paman beliau Abu Thalib semoga -rahmat Allah atas mereka-:
و اتفقت الإمامية على أنَّ آباءَ رسولِ اللهِ (ص) من لدن آدمَ إلى عبد الله بن عبد المطلب مؤمنون بالله عز و جلَّ و موحَّدون له. و احتجوا في ذلكَ بالقرآن و الأخبار….
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa ayah-ayah Rasulullah saw. sejak Adam hingga Abdullah ibn Abdul Muththalib adalah orang-oraang yang beriman dan mengesakan Allah. Syi’ah berdalil dengan Al Qur’an dan Hadis-hadis….“
Keyakinan Ahlusunnah
Adapun keyakinan Ahlusunnah dalam masalah ini adalah bertolak belakang total dengan apa yang diyakini kaum Syi’ah. Ahlusunnah meyakini bahwa kedua orang tua mulia Nabi saw.;Sayyiduna Abdullah ibn Abdul Muththalib dan ibunda suci Aminah binti Wahb az Zuhriyah adalah kafir/musyrik menyekutukan Allah dan menyembah berhala dan kelak di hari kiamat nereka tempatnya, wal Iyâdzu billah, semoga Allah melindungi kami dari keyakinan seperti itu.
Apa yang menjadi keyakinan mereka telah diterangkan dan dikukuhkan para ulama besar dan tokoh terkemuka Ahlusunnah wal Jama’ah serta didukung oleh hadis-hadis shahih dalam kitab-kitab standar utama mereka.
Keyakinan demikian adalah kayakinan yang diwariskan turun temurun dan ditegaskan sebagai keyakinan pasti dalam mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah. Kendati belakangan, Ahhlusunnah “kontemporer” (meminjam istilah sebagian penulis Ahlusunnah) berusaha menghilangkan kesan kental itu dari mazhab dengan mengelindingkan pendapat lain yang menyalahi keyakinan para pendahulu mereka yang dibangun di atas hadis shahih! Tetapi tetap saja usaha itu tidak akan mampu menghilangkan kesan kental keidentikan mazbah Ahlusunnah dengan keyakinan tersebut.
Di bawah ini akan saya sebutkan beberap kutipan pernyataan ulama besar Ahlusunnah:
Imam an Nawawi:
Ketika menjelaskan hadis Nabi saw.:
إنّ أبي و أباكَ في النار.
“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka.”
Imam An Nawawi (yang digelari Muhyi as Sunnah/penyegar Sunnah) menegaskan, “Di dalam hadits ini terdapat faidah bahwa siapa yang mati di atas kekafiran maka dia di neraka dan tidak akan bermanfaat baginya kerabat dekat.”
Al Imam Al Baihaqi:
Dalam kitab Dalâil an Nubuwah, Al Imam Al Baihaqi berkata setelah menyebutkan sejumlah hadits yang menjelaskan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka,“Bagaimana mungkin keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah berhala-berhala sampai mereka mati,dan tidak beragama dengan aagam yang dibawa oleh Nabi Isa as.”.
Dan kitab as Sunan al Kubrâ, ia kembali menegaskan keyakinan Ahlusunnah tentang ayah-bunda Nabi saw., ia berkata, “Kedua orang tua beliau adalah Musyrik” Kemudian setelahnya, ia mengobral dalil-dalil yang mendukung keyakian tersebut!
Selain mereka tentunya masih banyak keterangan dan pernyataan ulama Ahlusunnah yang secara tegas menyatakan keyakinan tersebut, bahkan Al Imam ‘Ali Al Qâri menukil adanya ijma’/kesepakatan ulama atas keyakinan tersebut.
Menurut sebagian ulama Ahlusunnah, keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi saw. mu’min/tidak musyrik adalah keyakinan yang identik dengan mazhab Syi’ah yang dibangun atas dasar kultus Ahlulbait/keluarga dan kerabat Nabi saw.
Dasar Keyakian Ahlusunnah wal Jama’ah
Keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi saw. adalah mati dalam keadaan musyrik dan kelak akan ditempatkan dalam neraka telah dibangun di atas pondasi kokoh; hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dalam kitab-kitab standar mu’tabarah, seperti Shahih Muslim, as Sunan al Kubrâ, Sunan Abu Daud, Shahih Ibnu Hibban, as Sunan al Kubrâ, Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu ‘Awânah, Musnad Abu Ya’lâ Al Mûshili dan lain-lain.
Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa hadis darinya:
Hadis Bahwa Ayah Nabi saw. Musyrik Dan ia Di Neraka
Dengan sanad bersambung kepada sahabat Anas ibn Malik, ia berkata:
أن رجلا قال: يا رسول الله! أين أبي؟ قال: “في النار” فلما قفي دعاه فقال: “إن أبي وأباك في النار”.
“Sesungguhnya ada seorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dimana ayahku?’ Beliau menjawab, ‘Di neraka.’ Lalu ketika orang tersebut berpaling/pergi, beliau memanggilnya dan berkata, ‘Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.’”
Sumber Hadis
Hadis tersebut telah diriwyatkan oleh banyak ulama hadis ternama Ahlusunnah di antaranya adalah:
Imam Muslim di dalam Shahih-nya, bab Bayân Anna Man Mâta ‘Ala al Kufri Fahuwa Fî an Nâr, Lâ Tanâluhu Syafâ’atun walâ Ta’fa’uhu Qarâbatul Muqarrabîn/Barang siapa mati dalam keadaan kafir maka ia di neraka, syafa’at tidak akan mengenainya dan juga kekerabatan kaum yang didekatkan (kepada Allah) tidak berguna baginya,3/79 dengan syarah an Nawawwi. Dan kemudian dinukil oleh banyak ulama dalam buku-buku mereka, seperti dalam Shafwah ash Shaffah,1/172 dan al Bidâyah wa an Nihâyah,2/12-15 dll.
Abu Daud dalam Sunan-nya.
Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.
Al Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ-nya.
Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Abu ‘Awânah dalam Musnad-nya.
Abu Ya’lâ Al Mûshili dalaam Musnad-nya.

Hadis Bahwa Bunda Nabi saw. Musyrikah Dan Ia Di Neraka
Para ulama hadis kenamaan Ahlusunah juga meriwayat hadis-hadis yang menegaskan dan mendukung keyakian mereka bahwa bunda Nabi saw. adalah seorang wanita musyrikah yang mati dalam kemusyrikan dan neraka adalah tempatnya. Bahkan ketika Nabi saw. meminta izin dari Allah untuk menziarahi kuburan ibunya dan memohonkan ampunan, istighfâr untuknya, Allah hanya mengizinkan Nabi-nya untuk menziarahi dan tidak mengizinkannya untuk beristighfâr untuk ibunya.
Hadis tentangnya banyak sekali, dalam kesempatan ini saya akan menyebut satu darinya, yaitu hadis yang bersumber dari sahabat kepercayaan Ahlusunnah, “pewaris Sunnah suci Nabi, wadah ilmu dan kepercayan Nabi saw., beliau adalah “Sayyiduna wa Imamuna” Abu Hurairah. Ia berbagi informasi, dengan mengatakan, “Nabi saw. bersabda:
استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي.
“Aku meminta ijin kepada Allah untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengizinkanku, dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku.”
Sumber Hadis
Hadis tersebut telah diriwyatkan oleh banyak ulama hadis ternama Ahlusunnah di antaranya adalah:
Imam Muslim di dalam Shahih-nya pada Kitabul Janaiz bab Isti’dzânu an Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam Rabbahu ‘Azza waJalla Fî Ziyârati Qabri Ummihi/permohonan izin Nabi saw. untuk menziarahi kuburan ibunya,(dengan syarah an Nawawi,7/45).
Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.
Ibnu Majah dalam Sunan-nya.
Al Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ.
Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Al Mushannaf-nya.
Abu Ya’lâ dalam Al Musnad-nya.
Komentar an Nawawi:
Juru bicara resmi Ahlusunnah, Imam an Nawawi berkata, “Dalam hadis di atas terdapat faedah/kesimpulan dibolehkannya menziarahi orang-orang musyrikin di kala hidup, maupun menziarahi kuburan mereka setelah mati… Di dalamnya juga terdapat faedah dilarangnya memohonkan ampunan buat orang-orang kafir.” (Syarah Shahih Muslim,7/ 45).
Dengan demikain jelaslah bagaimana aqidah dan keyakinan Ahlusunnah wal Jama’ah tentang kedua orang tua Nabi saw.
Dan kalaupun ternyata aqidah seperti itu dikemudian hari dirasa memalakuan dan dapat mencoreng nama harum mazhab mereka, lalu ada segelintir orang menyelisihinya, maka sama sekali itu tidak akan mengubah kenyataan akan keyakinan Ahlusunnah yang paten! Apalagi yang disampaikan oleh “Sunni kontemporer” sangat menyalahi hadis-hadis shahih mereka sendiri dan juga menyalahi kesepakatan para pemuka mazhab mereka! Mereka tidak konsisten dengan kayakinan mereka sendiri bahwa kitab Shahih Muslim adalah kitab paling shahih setelah Kitab Allah dan Kitab Shahih Imam Bukhari!
Dan kalaupun kalian (sebagian Ahlusunnah) kebetaran dengan keyakinan tersebut karena dianggap bertentangan dengan dalil dan dengan sopan santun dan sikap hormat kepada Nabi saw., lalu apa sikap yang harus ditegakkan mazhab Ahlusunnah (yang telah dimodifikasi itu) terhadap mereka yang meyakini kekafiran ayah-bunda Nabi saw.?!
Apakah di keluarkan dari keanggotaan sebagai Ahlusunnah? Sementara pilar-pilar mazhab Ahlusunnah itu, mereka yang meneggakkan?
Atau kalian -yang yang berseberangan dengan tokoh-tokoh tersebut- akan keluar dari Ahlusunnah?
Atau kalian mengatakan bahwa pendapat para pemuka mazhab kalian itu tidak mewakili mazhab Ahlusunnah?
Lalu siapa yang mewakili mazhab Ahlusunnah?
Kami menanti jawaban konkretnya kalian.
Walahu A’lam.
Tash-hîhul I’tiqâd:117
Awâil al Maqâlât:51.
Dalâil an Nubuwah,1/192-193.
As Sunan al Kubrâ,7/190.

%d blogger menyukai ini: