Fatwa-Fatwa Ulama Syiah Mengenai Tradisi Melukai Diri di Hari Asyura

Levant Report Ungkap Dokumen Rahasia “ISIS Ciptaan Amerika”

Salafynews.com, DAMASKUS – Sebuah dokumen rahasia Pentagon yang baru-baru ini diungkap ke publik menyatakankan dukungan intellijen-intellijen AS menciptakan kelompok teror ISIS, yang sebagian besar beroperasi di Suriah dan Irak.

Amerika Pencipta ISISPengungkapan yang dibuat oleh situs digital Levant Report, bekerjasama dengan Organisasi Pengawasan Keadilan (Organization Judicial Watch) ini menunjukkan sebuah laporan Badan Pertahanan Intellijen (DIA), tertanggal 12 Agustus 2012.

Dokumen yang diungkap baru-baru ini dan diunggah ke jejaring sosial itu menunjukkan bahwa ISIS diciptakan oleh AS dibantu Turki, Israel dan negara-negara Teluk.

Catatan yang diterbitkan oleh Levant Report  menekankan bahwa intellijen AS memprediksi pentingnya pendirian sebuah sebuah kekhalifahan Islam yang dijalankan oleh negara islam (IS) di Irak dan Suriah, sebagai sebuah elemen strategis dalam kebijakan politik di Timur Tengah.
Ketujuh halaman dokumen yang ditulis oleh pegawai DIA itu menekankan bahwa pendirian sebuah gerakan fundamental di Suriah sangat penting untuk menyingkirkan dan menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad.

Menurut sumber tersebut, hal ini kemudian didiskusikan oleh Komando Pusat AS (CentCom), Badan Intellijen Pusat(CIA), Biro Investigasi Federal (FBI), Departemen Keamanan Tanah Air (DHS), Badan Intellijen Geospasial Nasional (NGIA), dan Departemen Luar Negeri.

Levant Report itu juga menyatakan adanya bukti fisik, video-video dan pengakuan-pengakuan pejabat-pejabat senior seperti, pengakuan mantan Dubes AS di Damaskus, Robert Ford yang menunjukkan bahwa dukungan material telah diberikan Departemen Luar Negeri dan CIA kepada Kelompok ISIS, di tahun 2012.

Sumber-sumber yang mengkaji hal ini menjelaskan, bahwa laporan DIA mengkonfirmasi bahwa kelompok teror al-Qaeda akan mengambil alih kepemimpinan kelompok oposisi Suriah dengan bantuan kekuatan dari Barat. Dan pembentukan ISIS akan dimulai setelah konflik bersenjata merebak di Suriah.

Dokumen itu juga menambahkan bahwa pembentukan ISIS dukungan negara-negara teluk dan Turki ini, akan  menjadi elemen destabilisasi guna melemahkan posisi Bashar al-Assad.

Laporan ini juga berisi saran untuk pembentukan “safe heavens” di area yang akan dikalahkan oleh para pemberontak fundamentalis seperti yang telah terjadi di Libya, dengan memberlakukan zona larangan terbang.

Tujuan lainnya adalah bahwa, dengan terbentuknya kekhalifahan Sunni di Irak, keberadaan Syiah di Irak akan bisa dikurangi, dan persatuan Irak bisa dicegah, dimana hal ini bisa menjadi sarana masuknya prajurit teroris bayaran kedalam wilayah konflik.

Dokumen itu juga menyatakan pentingnya mendukung elemen-elemen Salafi (wahabi), anggota-anggota Ikhwanul Muslimin, dan kelompok teror Al-Qaeda, sebagai tentara tentara utama dalam agresi terhadap negara Mediterania itu.(lm/prensalatina)

 

Sumber :

http://www.salafynews.com/2015/05/levant-report-ungkap-dokumen-rahasia-isis-ciptaan-amerika/

Sepuluh Andalan Takfiri yang Anti Syiah

Ismail Amin

Kelompok takfiri semakin brutal, mencoba segala cara dengan mengarang cerita fitnah untuk memecah belah umat Islam, khususnya Sunnah Syiah. Mereka juga membuat seminar dimana-mana, membentuk organisasi takfiri seperti LPAS yang menggunakan seragam loreng. Tak lupa membuat aliansi yang orangnya itu-itu juga, menyebutnya Aliansi Nasional Anti Syiah, yang paling tepat disingkat NA’AS. Berikut ini jawaban atas 10 Andalan kelompok takfiri ini [lppimakassar.net]


Kita bisa adu argumen, kelompok anti syiah itu mengandalkan apa untuk menyebut syiah itu sesat bahkan bukan Islam?

Ini sepuluh diantaranya yang menjadi andalan mereka.

Pertama, mengandalkan buku Panduan MUI Pusat “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di indonesia.” Buku tipis yang tidak berstempel MUI dan tidak pula ditandatangani pejabat MUI Pusat, sebagaimana buku-buku resmi MUI lainnya.

Kedua, mengandalkan fatwa MUI Jatim. Fatwa bersifat lokal tapi dipaksakan untuk diberlakukan diseluruh Indonesia.

Ketiga, mengandalkan ucapan Imam Syafi’i rahimahullah dan Imam-imam mazhab lainnya, yang menyebutkan syiah sesat, pendusta bahkan kafir. Padahal di teks aslinya adalah rafidah, bukan syiah. Bahkan sebagian ulama Syiah sendiri menganggap sesat kelompok rafidah.  Mengandalkan ayat-ayat al-Qur’an yang mereka tafsirkan sesuai dengan kepentingan mereka, dan menafikan adanya penafsiran lain yang juga absah. Mengandalkan hadits-hadits dan riwayat yang lemah, padahal tidak sedikit hadits dan riwayat shahih yang justru terdapat dalam literature muktabar  Ahlus Sunnah sendiri yang menjustifikasi kebenaran mazhab Syiah. Seperti hadits 12 khalifah, hadits Gadir Khum, hadist Ashab al Kisa, hadits sujud diatas tanah dan seterusnya.

Keempat, mengandalkan fatwa ulama-ulama Saudi atau ulama-ulama yang berafiliasi pada mazhab yang berkembang di Saudi. Padahal ulama-ulama lain juga punya fatwa, utamanya ulama-ulama al Azhar Mesir yang menyebutkan Syiah adalah mazhab sah dalam Islam.

Kelima, mengandalkan kesepakatan 200 orang yang berkumpul di Bandung dan kota lainnya, yang katanya kesemuanya adalah ulama yang telah mendeklarasikan ANAS, Aliansi Nasional Anti Syiah dan menyerukan kesesatan dan kekafiran Syiah. Sementara Risalah Amman di Yordania ditandatangani kurang lebih 500 ulama Sunni dan Syiah dan menyepakati mazhab-mazhab yang sah dalam Islam termasuk Syiah.

Keenam, mengandalkan ucapan ulama-ulama dan tokoh-tokoh Indonesia yang anti Syiah termasuk tokoh NU dan Muhammadiyah. Padahal ulama dan tokoh-tokoh Indonesia yang mengakui keberadaan Syiah sebagai mazhab Islam jauh lebih banyak, lebih populer dan lebih tinggi dari sisi keilmuan, ketawadhuan, pengalaman, kharismatik dan posisi jabatan strukturalnya, bahkan lebih banyak karya-karyanya. Diantara mereka ada Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ketua Umum MUI Pusat, Ketua Umum PB Nahdatul Ulama, pejabat Kementerian Agama, Rektor dan guru-guru besar UIN se Indonesia dan seterusnya, bahkan mereka telah berkali-kali mengunjungi Iran yang dikenal sebagai pusat pendidikan mazhab Syiah dan berdialog dengan ulama-ulama besar Syiah.

Sementara yang anti Syiah, mengandalkan buku-buku anti Syiah yang ditulis oleh penulis-penulis Indonesia yang tidak pernah mengunjungi langsung pusat pendidikan Syiah di Qom dan di Najaf, tidak pernah menghadiri majelis ulama-ulama Syiah dan tidak pernah pula melakukan dialog langsung dengan satupun ulama marja Syiah. Jadi wajar kalau kesimpulan yang diambil malah bias, dan tidak obyektif.

Ketujuh, mengandalkan konflik di Suriah, bahwa rezim Bashar Asad yang Syiah telah melakukan pembantaian dan pembunuhan keji kepada rakyatnya yang Ahlus Sunnah. Padahal kenyataannya, Suriah malah memberikan pengungsian kepada warga Palestina yang Ahlus Sunnah di camp Yarmouk, mengizinkan pendirian kantor HAMAS di Damaskus yang di Indonesia saja dilarang dan berkali-kali melakukan kontak senjata langsung dengan militer Israel. Dan terbukti pula, bahwa kelompok-kelompok militan yang melakukan agresi ke Suriah dan hendak menjatuhkan Bashar Asad adalah kelompok-kelompok teroris, yang bahkan dengan bangga memamerkan aksi-aksi kekejiannya lewat video-video amatir. ISIS telah difatwakan oleh ulama bahkan termasuk ulama Arab Saudi sendiri sebagai kelompok yang telah keluar dari Islam.

Kedelapan, mengandalkan buku, mengapa saya keluar dari Syiah karya Sayyid Husain Musawi. Katanya penulisnya adalah ulama Syiah dan keturunan Ahlulbait, tapi tidak disebutkan silsilahnya, orangtuanya, guru-muridnya, murid-muridnya, bahkan karya-karyanya kecuali buku tipis 153 halaman tersebut. Padahal sudah menjadi kelaziman kesemuanya itu harus disebutkan dalam catatan biografi seorang ulama. Bahkan pada  penjelasan dalam bukunya dia memperkenalkan diri sebagai seseorang yang memiliki kedudukan istimewa disisi Imam Khomeini, dan juga pernah ketemu dengan Sayid Daldar Ali penulis kitab Asas al-ushul, ulama Syiah abad 19 yang 100 tahun sebelumnya telah wafat sebelum penulis buku ini lahir.

Buku ini edisi terjemahan bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan tahun 2002, dan masih juga diandalkan sampai sekarang [sudah 12 tahun, mestinya ada ulama Syiah lain yang juga terpengaruh dan keluar dari Syiah, atau minimal mantan murid-muridnya], meski telah mendapatkan bantahan dan telah dibuktikan kedustaannya. Di Timur Tengah sendiri buku ini tidak laku, dan tidak lagi mengalami proses naik cetak secara resmi, kecuali dicetak secara indie, untuk mengelabui masyarakat awam.

Kesembilan, mengandalkan foto-foto editan, kisah-kisah palsu dan berita-berita bohong. Diantara foto editan yang paling sering diandalkan adalah foto prosesi pemakaman Imam Khomeini yang katanya kain kafan dan mayatnya sampai tercabik-cabik dan dipermalukan. Foto ini dibantah dengan video prosesi pemakaman jenazah Imam Khomeini, yang bahkan pada hari Hnya disiarkan secara live di seluruh dunia. Kisah palsu yang diandalkan adalah kisah pertemuan Syaikh Ahmad Deedat dengan ulama-ulama Syiah di Iran, setelah Kisah Pasien Terakhir tidak lagi bisa diandalkan karena telalu vulgar kepalsuannya.

Syaikh Ahmad Deedat tidak tanggung-tanggung dibawa-bawa untuk menjadi aktor sebuah drama palsu. Padahal kisah tersebut, caplokan dari kitab “Munazharat fil-Imamah” Juz ke-3, karya Syaikh Abdullah Al-Hasan. Adapun judul asli dari kisah itu adalah, “Munazharat Ats-Tsaminah wa Khamsun: Munazharat Al-‘Allamah Hilli Ma’al ‘Ulama Al-Madzahib Al-Arba’ah bi Mahdhar-i Syah Khuda Bandeh” yang artinya Perdebatan yang ke-58: Perdebatan Allamah Hilli bersama Para Ulama Empat Mazhab dengan Kehadiran Syah Khuda Bandeh. Tapi kemudian, dengan mengatasnamakan Syaikh Ahmad Deedat rahimahullah, kisah itu diputar balikkan. Syaikh sendiri pernah ke Iran tanggal 3 Maret 1982, justru bukan untuk berdebat tapi menyampaikan pidato yang menegaskan pentingnya persatuan Islam, begini diantara kutipannya:

“Saya katakan kenapa Anda tidak bisa menerima saudara Syiah sebagai mazhab kelima? Hal yang mengherankan adalah dia (Syiah) mengatakan kepada Anda bahwa dia ingin bersatu dengan Anda. Dia tidak mengatakan tentang menjadi Syiah. Dia berteriak “Tidak ada Sunni atau Syiah, hanya ada satu hal, Islam.” Tapi kita mengatakan kepada mereka “Tidak, Anda berbeda. Anda Syiah”. Sikap seperti ini adalah penyakit dari setan yang ingin memecah kita. Bisakah Anda membayangkan, kita Sunni adalah 90% dari muslim dunia dan 10% adalah Syiah yang ingin menjadi rekan saudara satu iman tapi yang 90% ketakutan. Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan. Mereka yang seharusnya ketakutan.”

[Download Pidato: http://www.inminds.com/ra/deedat.ra Cuplikan Video Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=6kJB72972Q8 ]

Kalau berita-berita bohong, terlalu banyak yang harus diklarifikasi. Mereka membuat-buat dan menyebarkannya dengan begitu ringannya seakan-akan kelak tidak dimintai pertanggungjawaban. Wallahu al Mustaan.

Kesepuluh, mengandalkan , fitnah, prasangkaan, kecurigaan, kebencian, fanatisme buta, umpatan, kata-kata kasar dan ancaman bunuh. Ketika semua fakta telah diajukan, argumentasi telah diberikan, hujjah telah dipaparkan, dan bukti-bukti tidak lagi bisa mereka bantah, maka mereka akan mengandalkan kebencian untuk tetap menunjukkan permusuhan.

Kata-kata laknat, makian, umpatan dan ancaman mati menjadi santapan sehari-hari bagi mereka yang diklaim Syiah. Argumentasi apapun yang diberikan, mental dihadapan mereka, dengan alasan Syiah itu pendusta, pembohong dan tidak layak untuk dipercaya dan didengar kata-katanya. Buku-buku penulis Syiah, hatta itu bukan tema keagamaan tetap harus diwaspadai, dicurigai dan sangat membahayakan bagi mereka. Mereka bahkan sampai repot-repot untuk membuat list daftar buku-buku Syiah yang harus dijauhi dan terlarang untuk dibaca.

Mereka menyebar fitnah, Syiah al-Qur’annya beda, melakukan praktik nikah mut’ah meskipun dengan istri orang lain, meski tanpa izin wali dan tanpa membutuhkan masa iddah, melaknat dan mencaci maki sahabat dan istri-istri Nabi, pendusta dan melukai diri dengan berdarah-darah di hari Asyura. Ini semua sudah saya bantah, dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya.

Intinya, kalau bukan muslim, mengapa mereka yang Syiah tetap dibolehkan memasuki Haramain?, sementara konsideran agama kita jelas, bahwa orang-orang kafir dan musyrik diharamkan untuk memasuki Haramain. Syiah bahkan diberikan izin dan perlakuan khusus untuk bisa menjalankan tradisi-trasisi khas mereka di tanah haram pada musim haji dan umrah.

Sumber mereka buku-buku anti Syiah, akun-akun palsu di Twiter dan Fesbuk, video-video yang tidak jelas sumbernya di Youtube, ceramah-ceramah ulama Syiah yang tidak muktabar dan mengorek-ngorek fatwa-fatwa ulama Syiah tempo dulu yang sudah tidak berlaku.

Sumber mereka buku-buku anti Syiah, akun-akun palsu di Twiter dan Fesbuk, video-video yang tidak jelas sumbernya di Youtube, ceramah-ceramah ulama Syiah yang tidak muktabar dan mengorek-ngorek fatwa-fatwa ulama Syiah tempo dulu yang sudah tidak berlaku.

Ini sepuluh andalan mereka yang anti Syiah untuk mempropagandakan kepada masyarakat muslim Indonesia, bahwa Syiah itu sesat, kafir dan sangat membahayakan eksistensi NKRI. Sesuatu yang tidak terbukti, sebab Syiah sudah ada di nusantara ini, jauh sebelum republik ini terbentuk.

Wallahu’alam Bishshawwab

[Ismail Amin, sementara menetap di Qom-Iran]

 

Sumber :

http://www.lppimakassar.net/takfiri/sepuluh-andalan-takfiri-yang-anti-syiah

Situs Takfiri Khawarij “Islam”pos Sebarkan Cerita Palsu Tentang : Orang Syiah Suka Curi Sandal di Zaman Nabi Saw Adalah Kisah Palsu!

Menjawab Felix Siauw: Nasionalisme Tidak Ada Dalilnya?

kicauan felix siauw

LiputanIslam.com — Kicauan Ustadz Felix Siauw, seorang tokoh Hizbut Tahrir Indonesia kembali menjadi perbincangan hangat. Bagaimana tidak, ia menyatakan bahwa nasionalisme itu tidak memiliki dalil. (Baca juga: Membongkar Kepalsuan Hizbut Tahrir)

“Membela nasionalisme, ngga ada dalilnya, ngga ada panduannya. Membela Islam, jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya,” demikian tulis Felix di akun Twitter-nya @felixsiauw. (Baca juga: Menjawab Felix Siauw: Perang Suriah Mengamankan Eksistensi Israel)

Tak ayal, kicauan ini memancing emosi dari netizen yang mencintai NKRI. Apalagi, kemerdekaan Indonesia diperjuangkan dengan mengorbankan darah para pahlawan. Akhmad Sahal, seorang cendekiawan Nahdliyin juga mengungkapkan kegusarannya terkait pernyataan Felix Siauw.

“Dulu, yang memusuhi kebangsaan kita adalah kaum penjajah. Kini, yang memusuhi kebangsaan kita adalah HTI dan Ustadz Felix Siauw,” tulisnya. (Baca juga: Menjawab Felix Siauw: Wajib Tabayun)

Benarkah nasionalisme tidak ada dalilnya?

Akhmad Sahal, yang saat ini aktif sebagai pengurus PCINU Amerika Serikat, mengungkapkan dalam kultwitnya keterkaitan antara Islam dan nasionalisme.

Syeikh Rasyid Rida, seorang ulama, pernah berfatwa pada tahun yang dimuat di majalah Al-Manar pada tahu 1933. Saat itu, ada ulama asal Indonesia yang bertanya.

“Betulkah ada hadits yang melarang ide tentang nasionalisme (al fikrah al wathaniyyah)? Bagaimana sikap Islam terhadap nasionalisme bila dikaitkan dengan ukhwuwah Islamiyah dan persatuan Islam? Apakah hadits ‘tak boleh ada ashabiyah dalam Islam, tak  boleh ada di antara kita yang menyerukan ide jahiliyyah’ merupakan larangan terhadap nasionalisme?” (Baca juga: Menjawab felix Siauw: Proxy War di Suriah)

Dan jawaban Syeikh Ridha:

Ashabiyah dari kata “isba”, kaum di mana seseorang tumbuh dan berkelompok, yang melindungi & membelanya, apapun alasannya. Islam melarang ta’ashub (fanatisme kelompok) ketika mereka menjadi penindas  terhadap individu/kelompok lain.

Ashabiyah yang dilarang Nabi adalah ta’ashub, yaitu membela kelompoknya sendiri yang melakukan penindasan. Contohnya, ashabiyah kaum Aus dan Khazraj. Namun jika satu kelompok ditindas atau diserang kelompok lain, maka mereka wajib membela diri (jihad). Hal itu bukan termasuk ashabiyah.

Lantas bagaimana dengan nasionalisme?

Menurut Syeikh Ridha, ide tentang nasionalisme berasal dari persatuan penduduk suatu tanah air tertentu. Mungkin mereka berbeda agama, yang bekerjasama mempertahankan kemerdekaan negeri, dan memajukan kemakmuran bersama. Hal semacam itu muncul di Mesir dan Indonesia, dan menurut Islam, merupakan kawajiban kaum Muslimin untuk membela sesama manusia, siapapun dia. Jadi, baik Muslim ataupun non-Muslim yang hidup di wilayah tersebut, wajib diperlakukan secara adil. (Baca juga: Menteri Hingga Mufti Suriah, Adalah Muslim Sunni)

Bagaimana mungkin Islam dianggap melarang bekerja sama dengan non-Muslim untuk membela negerinya, atau bahu membahu mencapai kemakmuran bersama – sedangkan Khalifah Umar ra bahkan memberikan kesempatan bagi non-Muslim untuk turut berperang bersama melawan agresor, dan non-Muslim tersebut dibebaskan dari jizyah?

Sehingga, menurut Syeikh Ridha, nasionalisme dianggap sah dalam Islam, dan ia menyerukan agar kaum Muslimin bisa menjadi teladan bagi warga lain, apapun agamanya. Nasionalisme bisa berjalan beriringan dengan ukhuwah Islamiyah, karena kemajuan bangsa merupakan tombak bagi kemajuan umat. (ba)

 

 

 

 

sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-felix-siauw-nasionalisme-tidak-ada-dalilnya/

Takfiri, Wajah Panjimas Hari ini

panjimasLiputanIslam.com — Panjimas, atau Panji Masyarakat, adalah majalah lama terbitan Muhammadiyah. Salah satu owner-nya adalah Rusdi Hamka, putra dari Buya Hamka. Majalah ini pernah ditutup pada era Soekarno. Lalu terbit kembali ketika situasi politik berubah.

Kini, Panjimas hadir kembali memberi informasi dengan citarasa Takfiri. Tidak lagi berbentuk majalah, melainkan dalam bentuk portal media online. Tak tanggung-tanggung, wajah baru Panjimas, tak ubahnya dengan situs-situs Islam Radikal pendukung teroris – seperti Arrahmah, Voa-Islam, Shotussalam, Kiblatnet, ataupun Al-Mustaqbal.

Mengapa Liputan Islam bisa menyimpulkan demikian?

Pertama, Panjimas menyebut teroris Boko Haram, sebagai “pejuang”. Bukankah Boko Haram cabang Al-Qaeda di Nigeria, yang aktif menebar teror? Mereka membunuh dan membakar rumah-rumah penduduk, meledakkan bom, dan yang paling menggemparkan, mereka menculik ratusan pelajar putri dari sekolahnya. Siapa lagi yang memberikan predikat ‘pejuang’ atau ‘mujahidin’ kepada gerombolan teroris ini kalau bukan kelompok pengusung ideologi Takfiri? (Baca: Arrahmah Sebut Boko Haram Sebagai Mujahidin, Ini Tanggapan Tifatul)

Berikut ini, cuplikan berita dari Panjimas:

Pejuang Islam Boko Haram berhasil menguasai akademi pelatihan kepolisian wilayah utara Nigeria. Dalam bulan Agustus ini, pejuang Boko Haram juga telah berhasil menguasai Akademi kepolisian Liman Kara dekat dengan kota Gwoza.

Pejuang Islam Boko Haram telah bergerak dari kamp-kamp militer mereka dan berhasil merebut kota-kota penting di Nigeria.

Pejuang Islam Boko Haram berkeyakinan bahwa Pemerintah Nigeria telah menganiaya umat Islam dengan membiarkan  orang kafir membunuh umat Islam dengan bebasnya dan mengusir umat islam dari rumahnya dan tanah kelahirannya.

Kedua, anti-NKRI. Dalam artikelnya, Panjimas melansir fatwa dari Ahmad Cholil Ridwan Lc, yang mengharamkan umat Islam untuk memberi hormat kepada bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan. Tentunya, kita memang menjumpai banyak kelompok-kelompok ‘Islam’ di Indonesia yang anti NKRI, anti demokrasi, dan bercita-cita menegakkan Khilafah dan Syariah Islam.

Dan siapa lagi yang begitu getol mengharamkan hal-hal yang berkaitan dengan kebangsaan dan nasionalisme, kalau bukan kelompok Wahabi Takfiri? Berikut ini, cuplikan artikel dari Panjimas:

KH Cholil menyatakan bahwa dalam Islam, menghormati bendera memang tidak diizinkan. KH Cholil merujuk pada fatwa Saudi Arabia yang bernaung dalam Lembaga Tetap Pengkajian dan Riset Fatwa pada Desember 2003 yang mengharamkan bagi seorang Muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan.

Ada sejumlah argumen yang dikemukakan. Pertama, memberi hormat kepada bendera termasuk perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ataupun pada Khulafa’ ar-Rasyidun radhiyallahu ‘anhu ajma’in (masa kepemimpinan empat sahabat Nabi; Abu Bakar ash-Shidiq, ‘Umar bin Khoththob, ‘Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib).

Ketiga, dukungan terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS. Panjimas menyebut ISIS sebagai ‘mujahidin’ dan antipati terhadap BNPT. Berikut ini cuplikan artikel Panjimas:

Menurut Nu’im, invasi Amerika Serikat kedua kalinya yang menyasar mujahidin ISIS, pada prinsipnya sama seperti dulu. Kepentingan Amerika tak lain hanya untuk menguasai ladang minyak di Iraq. Namun, anehnya mengapa pemerintah Indonesai justru ikut-ikutan memusuhi ISIS.

“Saya kira ini sama dengan Amerika kemarin menyerang Iraq. Dengan tiba-tiba SBY, kemudian BNPT, Djoko Suyanto dan seterusnya melakukan press coference ISIS. Kemudian Ormas Islam dikumpulkan, seperti MUI dan lainnya. Dan itu terjadi sebelum tanggal 8 Agustus. Sehingga setelah tanggal 8 Agustus itu Amerika mulai menyerang ISIS,” ungkapnya.

Di sisi lain, Nu’im pun bingung dengan sikap ormas-ormas Islam yang menuruti ajakan BNPT. Padahal BNPT selama ini menjalankan agenda Amerika Serikat.

Satu hal yang berkali-kali LI pertanyakan, apakah pemerintah serius melakukan gerakan tangkal ISIS? Di satu sisi, aparat terlihat aktif menangkapi orang-orang yang disinyalir sebagai pendukung ISIS, namun di pihak lain, pemerintah membiarkan saja media-media pro-ISIS menyebarkan ideologinya di masyarakat. Paradoks. (ba)
 

 

 

sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/takfiri-wajah-panjimas-hari-ini/

16 Pertanyaan untuk Pendukung ISIS

Foto: facebook

LiputanIslam.com – Abu Bakar al-Baghdadi memang tidak biasa. Namanya tiba-tiba saja meroket, dibai’at oleh kelompok-kelompok pendukungnya dari berbagai belahan dunia, dan tanpa sungkan-sungkan, dia diberi gelar “Amirul Mukminin”. Media massa di seluruh dunia, tanpa henti mengekspos sepak terjang ISIS, yang berada dibawah kepemimpinannya.

Tak ayal, gelar yang begitu prestisius ini tentu layak untuk dipertanyakan kembali. Bukankah Amirul Mukminin adalah predikat yang disematkan kaum Muslimin kepada Khulafaur Rasyidin? Apakah Al-Bahgdadi ini sudah bisa disejajarkan dengan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Ustman dan Sayyidina Ali?

Apakah keberanian, kecerdasan, ketinggian ilmu, kerendahan hati, ketaqwa-an, ataupun akhlak  Al-Baghdadi, sudah setara dengan empat Khalifah diatas?

Liputan Islam menemukan berbagai pertanyaan kritis yang diajukan oleh Ahmed Zain-Oul Mottaqin terkait asal usul Al-Baghdadi. Sepertinya sah-sah saja, jika kita mempertanyakan jati dirinya. Ini sama halnya dengan pencari kerja, yang harus menyertakan CV ketika melamar kerja di sebuah perusahaan. Sehingga tentunya, ketika hendak berbai’at kepada seorang “Khalifah Islam”, CV si khalifah juga layak untuk diselidiki.

Dan bisakah pengikut Al-Baghdadi menjawab bertanyaan-pertanyaan berikut ini?

Tentang Al-Baghdadi,
1. Lulusan Ma’had/ Hauzah/ Universitas mana ?
2. Siapa saja ulama yang pernah jadi gurunya dan dari mazhab apa saja ?
3. Sudah berapa juz Al-Qur’an yang dihafal olehnya?
4. Berapa hadits beserta sanad dan takhrij yang dihafal olehnya?
5. Bagaimana penguasaannya soal fiqh-fiqh antar mazhab Islam ?
6. Berapa kitab tafsir yang sudah dia susun, dan bisa didapatkan dimana?
7. Berapa kitab fatwa yang sudah dia buat dan bisa didapatkan dimana?
8. Berapa kitab tarikh yang dia kuasai?
9. Seberapa besar penguasaannya soal Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Ijtihad dan Qiyas?
10. Seberapa besar penguasaannya soal fiqh, politik dan akhlak ?
11. Di Ma’had/ Pesantren mana saja dia pernah mengajar ?
12. Bagaimana sejarah keulamaan keluarganya ?
13. Karya-karya apa saja yg sudah dihasilkannya dan keluarganya untuk Islam?
14. Lembaga Nasab/ Rabithah mana yang sudah mengesahkan nasabnya sebagai seorang Sayyid (Dzurriyat Nabi) ?
15. Siapa saja ulama yang telah membai’at dia sebagai Amirul Mu’minin, siapa yang bermusyawarah dan dari mazhab mana saja ulama-ulama tersebut?
16. Sebelum dia dibaiat oleh pengikutnya sebagai Khalifah,  apa pekerjaannya?

Kenapa hal ini harus dipertanyakan? Karena sanad ilmu atau sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits. Sanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan atau redaksi hadits dari lisan Rasulullah, sedangkan sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan, baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah, dari lisan Rasulullah.

Jadi, bagaimana mungkin kita bisa meyakini bahwa segala sepak terjang Al-Bahgdadi dan pengikutnya, sudah sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana yang diteladani oleh Rasulullah – tanpa mengetahui terlebih dahulu kepada siapa ia berguru, dimana ia belajar ataupun mengajar, dan karya-karya apa saja yang telah ia sumbangkan untuk kejayaan peradaban Islam? (ba)

 

 

 

sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/16-pertanyaan-untuk-pendukung-isis/

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.